Brave Blue World: Racing to Solve Our Water Crisis

Brave Blue World: Racing to Solve Our Water Crisis

Скачать Indonesian субтитры

Информация о релизе

Brave Blue World Racing to Solve Our Water Crisis 2020 NF WEB-DL
Комментарий от Putra14
Netflix Retail.

Теги

Web-DL
web-dl
web
WEB-DL
Опубликовано: 2020-10-21
Загрузки: 18
Для слабослышащих: No

Предпросмотр субтитров (Indonesian)

Первые 200 строк.

Tapi tak ada pengganti air.

Air sumber paling berharga.

Kita tak memperlakukannya sebagai krisis seperti seharusnya.

Bayangkan jika esok kita sembuhkan kanker

dan dalam seratus tahun

masih ada sejuta anak yang sekarat akibat kanker.

Itu tak mungkin.

Namun, begitulah situasi kita terhadap air.

Pemerintah telah gagal

memberi tahu penduduk tentang situasi yang kita hadapi.

Sekitar 7,7 miliar orang telah mewarisi Bumi.

Hampir dua miliar dari kita kesulitan bertahan hidup tanpa air minum bersih.

Krisis air masih jauh. Belum membayangi.

Krisis itu hadir. Saat ini.

PBB memperkirakan, pada 2025,

sebanyak 1,8 miliar orang akan hidup di daerah yang langka air.

Orang-orang tak akan kelaparan dan mati seketika.

Mereka akan pindah dan tak akan punya sumber daya di tempat baru.

Berlawanan dengan pemikiran populer,

krisis ini bukan hanya masalah negara berkembang.

Krisis ini sudah mulai berdampak pada semua orang.

Perubahan iklim makin ganas, mengurangi volume air.

Polusi merusak persediaan kita.

Infrastruktur makin cepat roboh dibanding bisa diperbaiki.

Setiap hari pun makin banyak orang di dunia yang kekurangan air.

Lazimnya, krisis air bukanlah akibat alam.

Itu tindakan manusia.

Dengan tak merencanakan, tak memakai teknologi tepat,

dan tak bertindak cepat,

kita menyiapkan diri untuk gagal.

Ini krisis yang menakutkan.

Tapi bagaimana jika solusinya sudah ada?

Saat ini, di seluruh dunia, banyak visioner dan inovator

bekerja untuk menata ulang dan menciptakan kembali sistem air

untuk menghasilkan, memasok, dan membersihkan air

yang merupakan hajat hidup kita.

Masalah air yang dihadapi dunia terbagi dalam tiga kategori.

Pertama, kelangkaan air.

Kedua, membangun infrastruktur yang tahan terhadap perubahan iklim.

Ketiga, melakukan semua itu dengan cara yang terjangkau bagi masyarakat.

Masalah dengan krisis ini adalah

air laik minum akan mulai hilang

dan air tak laik minum akan mulai bermunculan.

Ada banyak solusi.

Tinggal memakainya pada masalah dan bisa kita perbaiki.

Kita tak punya banyak waktu untuk memecahkan masalah ini.

Hatiku hancur karena kita punya solusi

dan tak bisa mengeluarkannya segera.

Permintaan air, untuk menopang bukan hanya penduduk

melainkan gaya hidup kita,

yang telah tumbuh pesat.

Namun, kita masih melakukan hal-hal seperti zaman dahulu.

Pada sekitar pergantian abad,

setiap orang bertanggung jawab atas pembuangan kotoran.

Mereka bertanggung jawab atas air sendiri. Mereka menggali sumur,

atau mengambil air dari sungai.

Lalu mereka menggunakan jamban

atau laguna limbah di belakang rumah.

Hal itu memiliki masalah kesehatan.

Orang-orang jatuh sakit dan pemerintah di seluruh dunia

turun tangan dan berkata bahwa ini tugas pemerintah

yang perlu kita sediakan demi keamanan dan kesejahteraan masyarakat

dan uang bukan masalah.

Mereka akhirnya membuat sistem pembuangan sangat mahal

yaitu satu pipa untuk setiap rumah.

Satu pipa air dan pembuangan untuk setiap rumah.

Jaringan sistem yang sangat kompleks

yang usang dan harus diganti dengan biaya yang sangat besar.

Namun, itu memberi lingkungan yang aman.

Dengan hal itu, masalah kesehatan publik tertangani.

Berusaha merekayasa jalan keluar atas masalah

malah memperdalam masalah.

Saat kita memakai makin banyak sumber daya pada infrastruktur kuno,

tantangannya yaitu beralih dari sistem lawas yang tak efisien

dan mulai memakai cara baru dalam mengelola air.

Tak ada yang memberatkan selain krisis.

Jadi, saat Flint, Michigan, hadapi krisis mengejutkan

yaitu kontaminasi timbal dalam air minumnya,

para aktivis tak hanya menuntut perubahan,

tapi aktif mencari solusi kreatif untuk masalah ini.

Satu pikiran yang begitu kreatif

berasal dari penyanyi rap, aktor, dan wiraswasta, Jaden Smith.

Motivasiku soal air dimulai

saat usiaku 11 tahun.

Itu berasal dari aku belajar tentang lingkungan

dari guruku di sekolah.

Hingga akhirnya aku sangat ingin aktif membuat perubahan.

Aku ingin memberi sumbangsih di dunia.

Aku selalu ingin melampaui batas,

berkeliling dunia, membuat pengaruh dan perubahan.

Aku ingin pasang sistem penyaringan di Afrika.

Aku ingin pasang sistem penyaringan di India.

Saat mulai terpikir ide-ide ini,

aku mulai menyadari, kita punya masalah yang tak berada jauh.

Kita punya masalah sanitasi yang ada di tempat kita

yang harus ditangani.

Lalu melihat dampak krisis ini

pada warga Flint, Michigan.

Saat melihat anak-anak dan para lansia di sana

yang masih tak bisa memakai air dari pipa saluran,

itu menyayat hati.

Kami ingin membantu masyarakat itu

dan memurnikan air bagi mereka yang kesulitan mengakses air bersih.

Karena itu kami membuat The Water Box di Flint.

Kotak ini menyaring air

dan menghasilkan 37 liter air bersih setiap 60 detik.

Ini dibuat khusus untuk menyaring timbal

dan ada orang di lokasi yang menguji air itu setiap hari.

Seluruh rencana dan tujuannya

yaitu membuatnya berfungsi di sini dahulu,

lalu membawanya ke seluruh dunia

yang punya masalah serupa dan berkata,

"Baik, mungkin masalah di sini bukanlah timbal,

maka kita bisa mengubah konfigurasi mesin ini."

Tujuannya adalah memiliki kotak ini di mana pun diperlukan

dan memodifikasinya untuk tempat-tempat tertentu

agar bisa bekerja secara efisien, seperti di Flint.

Air dianggap sebagai masalah global karena memengaruhi penduduk planet ini,

tapi sebenarnya ini masalah lokal,

karena kita harus menanganinya dari kota ke kota.

Kita melihat orang-orang yang berada di tempat itu,

yang ditimpa kemarau atau menurunnya kualitas air,

mereka yang terpinggirkan dan sangat berinovasi.

Di sanalah letak masa depan.

Salah satu inovator terpinggirkan itu adalah Beth Koji,

yang harus berpikir kreatif saat sumurnya mengering.

Saat sedang berkuliah,

aku merasa lelah terkena penyakit yang ditularkan melalui air.

Jadi, aku mulai membuat filter air di asramaku

yang membunuh atau menghilangkan semua bakteri.

Aku mulai membawanya ke masyarakat,

menunjukkan cara membuat filter sederhana di rumah

karena sebenarnya, filter tidaklah murah di Kenya.

Pada tahun 2016, Kenya menghadapi kemarau besar.

Kau merasa orang-orang tak menganggap filter sebagai solusi

karena tak ada cukup air untuk disaring.

Satu-satunya pilihan yaitu mengambil air dari sungai.

Anak-anak disuruh ke sungai seharian,

sehingga tak bersekolah.

Airnya mengandung kontaminasi kimia tingkat tinggi.

Pada dasarnya, kau tak bisa minum air itu.

Jadi, kami melihat sesuatu yang spesifik

yang bisa memanfaatkan kelembapan di udara.

Frustasi dengan pengalamannya

melihat kelangkaan air merusak negaranya,

Beth pakai alam untuk memecahkan masalah.

Mengambil air dari udara bukan konsep baru di alam.

Ada beberapa kumbang Namibia

yang mengambil air minum dari atmosfer.

Ada enam kali lebih banyak air di atmosfer

dibanding semua sungai di dunia.

Jadi, itu sumber daya besar yang belum dimanfaatkan dengan baik.

Dia mendesain mesin yang mengambil air bersih dari atmosfer

dan dia menyebutnya Majik.

Beth membawa penemuannya ke panti asuhan The Ark,

agar anak-anak bisa fokus pada pendidikan

bukan berjalan jauh mencari air.

Teknologi ini sangat sederhana.

Fungsinya mirip kulkas

dan penyejuk udara.

Udara ditarik oleh kipas

lalu melewati gulungan kondensor.

Di sanalah kondensasi terjadi,

lalu air disalurkan ke tangki pengumpul.

Kami baru saja mengalami musim kemarau,

maka ini satu-satunya sumber air minum bagi anak-anak ini.

Ini kesejahteraan bagi mereka.

Selama ada udara, kau bisa minum air bersih.

Inovasi teknologi tidaklah cukup

di tempat yang rintangan utamanya

untuk mendapat air bersih merupakan hal sederhana

namun sulit didapat.

Uang.

Pada tahun 2019, satu juta anak di bawah lima tahun mati dalam setahun

karena tak mendapat air dan sanitasi yang layak.

Pengumpulan air pertama yang kudatangi

adalah saat kurasakan besarnya masalah itu.

Aku berada di pedesaan di Afrika,

dan bersama seorang gadis 14 tahun.

Dia mengambil jeriken, aku pun mengambil jeriken,

dan kami pergi bersama juru bahasa.

Kami berjalan sekitar satu kilometer ke sumur bor untuk mengisi jeriken.

Kutanya dia, "Kau akan apa saat dewasa?"

"Kau akan tinggal di desa ini?"

Dia melihat sekeliling dan berkata, "Tidak, aku tak tinggal di sini."

Lanjutnya, "Aku akan pergi ke Lusaka, kota besar.

Aku akan jadi perawat."

Itu mengingatkanku saat usiaku 14 tahun bersama Ben Afleck dan berkata,

"Kita akan pergi ke kota besar New York untuk menjadi aktor."

Aku dibawa kembali ke perasaan itu.

Baru saat pergi, aku merasakannya,

seandainya tak ada yang berniat membuat sumur bor ini

berjarak 1 km dari rumah anak ini…

dia tak akan punya harapan untuk masa depan.

Dia akan menghabiskan seharian,

bukan di sekolah, melainkan mengambil air.

Mari sambut Matt Damon dan Gary White.

Kubaca salah satu cerita dari organisasimu

bahwa ada wanita yang membayar 60 dolar sebulan

agar diantarkan air bersih untuk dia minum.

Brave Blue World: Racing to Solve Our Water Crisis subtitles in other languages

Комментарии

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left