The Life Ahead

The Life Ahead (La vita davanti a sé)

Скачать Indonesian субтитры

Информация о релизе

The Life Ahead 2020 1080p NF WEB-DL DDP5 1 x264-CMRG
Комментарий от Putra14
Netflix Retail.

Теги

Web-DL
web-dl
web
WEB-DL
x264
1080
Опубликовано: 2020-11-13
Загрузки: 19
Для слабослышащих: No

Предпросмотр субтитров (Indonesian)

Первые 200 строк.

PERSEMBAHAN NETFLIX

Minumlah, Sayang. Cuaca panas dan perjalanan kita panjang.

Kau lelah? Ayo.

Duduk dan minum airnya.

Jangan rewel, Sayang...

Momo?

Sedang apa di sini?

Momo?

Tunggu!

Kau mau ke mana? Momo!

Momo!

Berhenti!

Momo!

Buka pintunya!

Momo! Ayo buka!

Momo!

Konon, semua sudah tertulis dan kita tak bisa ubah apa pun.

Buka!

Aku ingin mengubah semua.

Aku ingin kembali ke awal, ketika tak ada yang tertulis.

ENAM BULAN SEBELUMNYA

Kita bisa lihat-lihat ke sana?

Ya, tetapi jangan berkeliaran.

Hei!

Hei! Kembali!

- Kau terluka, Nyonya? - Dasar anak berengsek!

Sampai jumpa di sana.

- Keren! - Kita bicara nanti.

- Ini baru? - Jangan sentuh!

- Kau mau apa? - Bertemu Ruspa.

- Kenapa? - Aku punya tawaran.

- Tentu, tawaran... - Ya!

Lihat! Ini bernilai tinggi. Barang antik.

Ini sampah.

Kau bermain PlayStation saja.

Ruspa!

- Kataku tak ada. - Minggir.

- Kau mau terluka? - Lepaskan!

Jika kubilang tidak, artinya tidak!

Enyahlah, Berengsek.

Jangan kembali.

Pergi. Jangan motorku!

Dasar... Bajingan!

Usiaku 12. Namaku Mohamed, tetapi panggilanku Momo.

Aku yatim piatu. Saat aku kecil, Pelayanan Sosial menitipkanku ke dr. Coen.

Tempat praktiknya di rumah, selalu dipenuhi pasien.

Menurutnya aku harus berperilaku seperti anak lain

agar tak bernasib buruk.

Namun, aku tak mau seperti anak lain.

Momo, kau dari mana? Aku mencarimu ke mana-mana.

Apa itu?

Menang hadiah.

Beruntung sekali. Kau juga menang ini.

Aku jatuh dari motor.

Kutanya sekali lagi. Barang itu milik siapa?

Tak tahu.

Aku tak mau ada barang curian di rumahku.

Jika kau tak ingat pemiliknya...

aku harus melaporkanmu.

Padahal bisa bayar sewa sebulan dengan kandil itu. Paham?

Sudah 40 tahun di jalanan,

tak pernah ada yang menghajarku atau menolak membayarku!

Lalu saat mencapai usiaku...

dan aku dirampok anak berengsek.

Omong kosong!

Apanya yang lucu, Babu?

Kita jual apa untuk bayar sewa?

Tunggu. Kau lapar, bukan?

Mau kukis? Ini, Sayang.

Ini.

Siapa datang sepagi ini?

Iosif, buka pintu.

Baik.

Sebelum buka, selalu tanya siapa orangnya.

Tunggu, aku datang.

Nyonya Rosa, ada dr. Coen.

- Dokter Coen, sepagi ini? - Ya.

- Rosa. - Hai.

Raut wajahmu sudah cemas. Jangan, kubawa kabar baik.

Kubawakan hadiah.

- Kau temukan di mana? - Pencurinya datang untuk minta maaf.

Benar, Momo?

Kau membuatku jatuh. Andai aku menangkapmu...

Ini, temani Babu.

Giliranmu.

Maaf.

Keraskan suaramu!

Maaf!

"Maaf, Nyonya..."

Bagaimana aku tahu namamu?

Anak-anak selalu memanggilku "Nyonya Rosa".

Aku minta maaf, Nyonya Rosa.

Permintaan maaf kutolak.

Terima kasih kandilnya. Bagaimana bisa kubalas?

Aku perlu bantuan.

Coba katakan.

Kau gila? Langkahi dahulu mayatku!

- Sebentar saja, beberapa pekan. - Tidak.

Maksimal sebulan.

Tak bisa.

Sampai aku dapat rumah layak untuknya.

Tunggu, kau walinya. Apa kaitannya denganku?

Kurasa dia lebih baik di sini bersamamu.

Sungguh? Kenapa?

Dia butuh figur wanita.

Seorang yang tangguh yang menuntut rasa hormat. Seperti kau.

Aku tak sanggup.

Sudah tua.

Memangnya aku remaja?

Kau dokterku.

Kau tahu soal kondisi jantung dan rasa nyeriku.

- Kuulangi lagi, hanya sampai... - Tidak!

Momo tak seperti dugaanmu.

Aku mengenalnya.

Dia dititipkan kepadaku setelah tragedi itu.

Sudah kucoba carikan, tetapi tak ada yang mau mengadopsinya.

"Tragedi itu"?

Pergi ke ruang tamu.

Aku akan menyusul.

Tidak. Aku sudah selesai.

Tak mau lagi ada anak pelacur di rumahku.

Sudah banyak yang kuurus dan kupertaruhkan selama ini.

Namun, sesama pelacur selalu saling menolong.

Lebih baik aku daripada Pelayanan Sosial.

Makanya kuminta kepadamu!

Tolonglah aku.

Namun, kau bukan pelacur.

Jawabanku jelas. Cukup.

- Iosif bagaimana? - Lupakan dia.

Seharusnya dia hanya sepekan, tetapi ibunya kabur.

Untungnya dia rutin kirim uang kepadaku.

- Jika masalahnya uang... - Tidak, lupakan.

Aku menyayangimu, aku bersyukur kau kembalikan kandilku.

Kini aku bisa bayar sewa, tetapi sudah saatnya kau pergi.

Apa €600 sebulan cukup?

Aku masih punya sisa tabungan.

Pergilah.

Hei.

Hei!

Kau lupa pencurimu!

Kalau €700?

Aku mau €750.

Dua bulan, tak lebih sehari pun.

- Aku tak mau bersama pelacur! - Jaga mulutmu!

- Rosa wanita yang baik. - Kau saja tinggal dengannya!

Momo, pilihanmu dia atau kembali ke Pelayanan Sosial.

Aku tak peduli!

Pelayanan Sosial!

Aku datang!

Hai, anak sok pintar!

Jika kau bicara begitu kepadaku, kurontokkan gigimu.

Aku sedang duduk di kafe dan mendengarmu.

Aku tak akan begitu, khususnya jika kau beri aku pekerjaan.

Kenapa tak tinggal dengan wanita itu?

Pelayanan Sosial tak akan ganggu lagi.

Akan berguna untuk bisnis juga.

Kau paham maksudku?

Saat wanita tua itu berhenti jadi pelacur,

dia mulai merawat anak-anak para pelacur lain agar mendapat uang.

Dia mengasuh banyak anak.

Salah satunya jadi kepala polisi. Dia melindunginya dari inspeksi.

Di pemukiman, tempat ini disebut "pengungsian".

Aku menyebutnya...

"tempat sampah".

Dia akan menjaga sikap.

Hanya butuh disiplin dan kasih sayang.

Baik, Dokter. Pergilah sebelum aku berubah pikiran.

Tolong bangun.

Bangun dari ranjangku!

- Jangan ganggu aku. - Bangun!

Hentikan!

Bangun!

Tak boleh bersepatu di ranjang.

Kau jangan buang waktu, ayo belajar bahasa Ibrani.

Nanti kuberi tes.

Kau ikut aku. Biar kusiapkan tempat lain.

Ini dia.

Apa ini?

Kamarmu.

Ini tempat sampah!

Kau mengharapkan istana? Yang benar saja!

Tempat sampah.

Lepaskan aku! Nyonya!

Cukup!

Hentikan! Kataku cukup!

Iosif, ke kamarmu. Kau ke tempat sampahmu.

Demi Tuhan!

Aku bahkan tak punya foto ibuku,

tetapi ingat hal tertentu tentangnya.

Senyumnya saat aku menaiki kakinya dan kami akan menari.

Dia suka menari.

Aku pernah tak sengaja membuatnya jatuh.

Namun, dia tak marah.

Kami bergulingan di karpet. Dia memelukku dan tertawa.

Dia tertawa terbahak-bahak.

Dia sangat cantik.

Mulailah dengan ini.

Tiap bungkus satu dosis.

Jangan sampai ketahuan.

Yang terpenting, jangan mengkhianatiku.

Комментарии

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left