Первые 192 строк.
Mas Imam!
Maaf, ya.
Sini.
Kamu itu ke mana saja, kok baru datang?
Kamu 'kan tahu undangan Ibu sama Ayah ada di kamu.
Kenapa dari dulu sampai sekarang tak pernah bisa menghargai waktu,
sedikit saja?
Aduh, Mas, berubah!
Cobalah belajar menjadi lebih dewasa.
Ini undangannya. Langsung masuk saja.
Lho, Imam...
- tak ikut diwisuda? - Sstt. Ayah!
Ayo masuk.
Sepertinya, bakal ada yang kesepian.
Tenang, Bung. Kutemani.
Jadi kamu cuma mau memberi tahu, pacarmu sudah wisuda?
Tidak, Ayah.
Begini saja. Imam janji, tahun ini atau semester ini Imam lulus. Ya?
Sudah dua tahun yang lalu, masih semester ini saja.
Apa? Jangan membohongi Ayah.
Memang Ayah tak tahu kamu bohongi?
- Ayah jambak nanti kamu! - Astaga, Ayah.
Kuliah 'kan memang lama.
- Lagi pula dosennya senewen sama Imam. - Siapa?
Siapa dosenmu? Sini!
Sini, biar Ayah hajar!
Maaf, Mas. Dipanggil Mbak Widya, disuruh masuk.
Ya. Ya, Mbak. Terima kasih, ya.
Kenapa, Yah?
Apa kata Bang Imam?
Abangmu songong. Sedang telepon malah dimatikan.
Ayah kesal.
Anak kok tak bisa diajari yang benar. Dia 'kan sudah kuliah.
Minum dulu, Yah.
Ayah ingin bicara dengan Nak Imam.
Jadi, Nak, biarkan kami berdua di sini.
Ayah, tapi...
Kamu masuk.
Masuk kamar.
Widya.
Ya, Pak.
Nanti kalau abangmu sudah lulus,
barulah kalian berkuliah. Mengerti?
Tapi yang benar, jangan seperti abangmu. Mencari uang itu susah. Mengerti?
- Benar, 'kan? - Semoga,
kalau ada rezeki, kalian semua bisa kuliah.
Ke mana saja kalian mau, ya?
Sudah, Yah. Tenangkan hati dulu. Minumlah lagi.
Apa ini, Ibu? Minum saja dari tadi. Memang Ayah ikan gurami apa?
Om ingin bertanya.
Pasti soal, kapan aku melamar Widya, ya, Om?
Pengangguran kok...
mau melamar.
Apa ini?
Mau bertanya apa, ya, Om?
Kapan kamu putus dengan Widya?
Widya dengar lho, Yah.
Aku permisi, ya, Om.
Namamu Imam, 'kan?
Jadi, sekarang, kamu menjadi imam
di musala keluarga.
Tapi, copot itu anting-anting.
Om mengambil air wudu dulu.
Om tunggu di sana.
Mas Imam.
Kamu mau ke mana, Mas? Kok kabur?
Hah?
Mau...
Mau apa?
Mau membuat skripsi di kos.
Ya, sudah.
Kalau kamu belum berani mengimami Ayah dan keluargaku, tak apa-apa.
Yang penting jangan lupa salat di kos, ya.
Tapi jangan bilang ayahmu, ya.
- Terima kasih, Bu. - Sama-sama.
Ini punyamu.
Aku yakin pasti uang kiriman ayahmu dari Jakarta sudah habis, 'kan?
Sayang, cobalah.
Aku sudah sering ke sini.
Ini beda rasanya.
Hak...
Lebih enak, 'kan?
Soal skripsimu bagaimana?
Lancar.
Soal masalah skripsi saja kamu bisa berbohong ya, Mas?
Bagaimana dengan yang lain?
- Oh. - Aduh!
Aduh, aduh!
Jelalatan saja matanya.
Biasa saja, tak usah diumbar-umbar.
Jangan sok menceramahiku. Kamu salat saja belum benar.
Sayang.
Sayang.
Sayang, tunggu dong.
- Tunggu dong. - Ah, sudah. Dengarkan dulu.
Kamu 'kan tahu. Dengar, kalau kamu begini-begini saja, tak ada perubahan,
Ayah takkan memberi lampu hijau untuk hubungan kita,
untuk ke tahap berikutnya.
Ya, itu dia.
Itu dia. Soalnya lampu merahnya masih terlalu lama.
Mas, kenapa dari dulu, kalau aku bicara tak didengarkan?
- Sudah. - Jahat sekali kamu.
Sayang, dengarkan. Ini serius. Sudah.
- Aku tak suka. - Sst.
Widya.
- Sudah selesai istirahatnya? - Ini, Mas.
Sudah selesai kok. Baru saja mau kembali ke kantor.
Jangan lupa jemput aku pukul 18.30. Teng. Jangan terlambat.
Permisi.
Eh, Pak.
- Mau bimbingan skripsi, Pak. - Ah.
Kamu tak tahu ini sudah jam berapa?
Pukul 14.00 lewat.
Waktu bimbingan sudah selesai. Besok saja.
Siapa yang menyuruh terlambat?
Ya, tetap saja.
Jangan mentang-mentang dosen, membuat peraturan seenaknya.
Kita ini konsumen.
Konsumen itu apa namanya?
Raja!
Sial, mati.
Jangan mengeluh ke aku. Demolah ke kantor dekan.
Halo.
Ya, Yang. Ya, sudah mau berangkat kok.
Dalam perjalanan. Ya.
Baik. Ya, dah.
Ya sudah. Mengojek lagi sana.
Heh, heh, Mam! Sial. Huh.
Widya.
Kamu masih di sini?
Mas Dimas.
Ya, Mas.
Ya, sudah. Pulang bersama aku saja. Ayo.
Tak usah. Sebentar lagi juga dijemput. Mungkin masih di jalan.
Aku tak tega melihat wanita secantik kamu menunggu sendirian di sini malam-malam.
Pulang bersama saya?
Tak usah, Mas. Terima kasih.
Maaf, terlambat.
Apa sih?
Ya sudah. Aku pulang dulu, ya?
Ya, aku juga permisi.
Ya, kalau begitu, selamat ya.
Ke mana saja? Baru datang jam segini, Mas.
- Biasa. - Biasa apa?
Itu namanya siapa tadi?
Dimas.
Kurasa Mas Dimas ini berbakat menjadi ustaz.
Sudah berganti nama saja menjadi Mas Dimas.
Mas, jadi, dia suka mengirimiku ayat-ayat Alquran.
Bagus-bagus, Mas.
Kubacakan yang baru saja dia kirim.
"Dan mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar
dan mengerjakan salat.
Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat,
kecuali bagi orang-orang yang khusyuk."
- Kenapa kamu, Mas? - Tidak. Tak apa-apa.
Kamu tenang saja.
Dia itu hanya kuanggap kakakku saja kok.
Dia lebih dewasa.
Jangan-jangan kalau ke ayahnya, Widya bilang begini tentang kamu,
"Aku cuma menganggapnya tukang ojek kok."
Bicara apa?
Kok malah menertawakanku. Kamu itu bagaimana?
Eh, menertawakanmu adalah tujuan hidupku.
Sepertinya, Widya semakin jauh saja ya, Mam?
- Maksudnya apa? - Sial.
Maksudku itu...
"Masnya" Widya itu dewasa, manajer, religius.
Kalau dia ke rumah Widya pasti bilang ke ayahnya tanpa disuruh,
"Ayo, Om. Kita salat. Aku imamnya."
Memangnya kamu?
Tak bakal. Widya tetap akan memilihku.
"Aku hanya menganggapnya sebagai kakakku saja kok."
Apa sih? Ah.
Aku pulang saja.
Ah, begitu saja mengambek.
Mam, hei. Mam.
Terus aku bermain sendiri? Mam? Imam?
- Ini dia. - Lumayan.
Lumayan? Memang skripsimu? Lumayan?
Aku sudah beberapa kali ke sini tetap kagum.
Besar sekali ya?
- Siapa sih? - Itu Laksamana Cheng Ho.
Salah satu leluhurku.
KELENTENG SAM POO TAY DJIEN
Eh, ayo.
Memang aku boleh masuk?
Kamu tak sedang datang bulan, 'kan?
Ya boleh.
Aku tahu. Aku tahu.
Kamu ke sini pasti mau mencari wangsit, 'kan? Ya, 'kan?
Biar skripsimu lancar, 'kan?
No comments yet. Be the first to leave one.