Trevor Noah: Son of Patricia

Trevor Noah: Son of Patricia

Скачать Indonesian субтитры

Информация о релизе

Trevor Noah Son of Patricia 2018 NF WEB-DL
Комментарий от Putra14
Netflix Retail.

Теги

Web-DL
web-dl
web
WEB-DL
Опубликовано: 2018-12-21
Загрузки: 25
Для слабослышащих: No

Предпросмотр субтитров (Indonesian)

Первые 200 строк.

KOMEDI SPESIAL NETFLIX ORIGINAL

LIVE NATION MEMPERSEMBAHKAN TREVOR NOAH

Penonton sekalian, tepuk tangan untuk Trevor Noah.

Apa kabar, Los Angeles?

Selamat datang di acara ini.

Terima kasih sudah datang di sini.

Ini sangat menyenangkan.

Selamat datang.

Lihat kalian semua.

Ini sangat keren.

Aku cinta LA.

Semua yang ada di LA.

Bahkan yang orang benci di LA, aku suka.

Aku suka lalu lintas LA.

Salah satu favoritku.

Jika kau tak tinggal di sana, asik.

Menyenangkan.

Karena dapat merasakan, tapi tak selamanya.

Seperti anak orang lain. Maksudku,

"Ini gila. Silakan ambil kembali."

Begitu rasanya.

Aku suka itu.

Aku suka getarannya.

Aku suka menyetir di sini.

Di sini, aku bisa dengarkan radio,

stasiun radionya asik karena kalian selalu di mobil.

Di New York--

radio tak begitu penting.

Aku bersepeda, berjalan.

Tak bisa dengar musik. Bisa mati.

Di LA, aku selalu.

Selalu dengar musik.

Sekarang selagi nyetir, yang ada cuma musik trap.

Itu yang sering kudengar.

Itu yang baru di radio. Trap.

Aku tak mengerti kata-katanya, tapi aku suka.

Semua lagu sama.

Kedengaran seperti anak kecil mengeluh tentang hidup.

Itu saja yang kudengar di musik trap.

Tiap kali ada musik itu di radio, aku ingat adikku,

main di luar, ada sesuatu, pulang menangis,

persis seperti lagu trap.

Dia masuk rumah berjalan seperti...

Aku tanya, "Isaac, kenapa?"

Aku bilang, "Hei, pelan-pelan."

"Kukira kau main dengan temanmu."

"Ada apa?"

"Temanku mati semua.

Dorong aku ke tebing."

"Sana ke ibu. Aku tak mengerti.

Bilang ke ibu."

Kota Malaikat, aku cinta setiap saat.

Aku menikmatinya.

Aku baru pulang liburan. Makanya aku senang.

Masih dalam gaya liburan.

Masih merasa longgar.

Merasa santai.

Aku liburan ke Bali.

Di Indonesia.

Kalau kalian belum pernah, rencanakanlah. Mengagumkan.

Aku pergi dengan teman-teman,

kusadari beberapa hal tentang diriku.

Yang paling penting adalah

TripAdvisor harus membuat sesuatu

khusus untuk orang kulit hitam.

Karena umumnya,

yang diinginkan orang kulit putih dalam liburan,

itu yang dihindari orang kulit hitam.

Tidak berarti buruk.

Hanya beda selera.

Teman putihku selalu mengajak camping.

Selalu.

Dengan semangat.

"Trevor, ayo camping!"

Aku, "Untuk apa?"

"Apa maksudmu 'untuk apa?' Itu asik.

Tak ada air, tak ada listrik.

Hanya kita dan alam luar biasa,

buang air besar

di lubang di lantai."

Aku bilang, "Itu hidupku.

Waktu aku kecil.

Tau seberapa keras aku kerja untuk tidak camping lagi?"

Setiap hari!

Tiap hari.

Aku bangun di tempat tidur,

"Puji syukur aku tidak camping."

Kalau keluargaku liat foto aku camping, mereka akan sedih,

Kalau nenekku lihat aku di hutan,

beliau akan, "Apa yang terjadi dengan Trevor?

Aku kira dia sudah sukses.

Pasti akibat narkoba."

Aku tak mau camping.

Aku ke Bali dengan teman-teman.

Mereka yang berencana.

Sebelum berangkat, aku tanya,

"Mitch, apa saja rencananya?"

Katanya, "Jangan tanya, Trevor.

Semua akan asik."

Aku bilang, "Aku mau tau apanya yang asik."

Dia bilang, "Tak usah tanya-tanya."

Selayaknyalah aku tanya.

Karena biarpun menyenangkan,

ada beberapa hal aneh yang bukan pilihanku.

Contohnya, di hari ketiga,

yang ditulis di jadwal kami sebagai

pengalaman asli khas Bali.

Begitu katanya.

Kita dibangunkan jam lima pagi,

kita naik bus kecil, selama tiga jam.

Sampai di sana, kita turun,

di tengah kampung tampak terpencil.

Dan seorang pemandu, sangat gembira,

terlalu gembira sepagi itu ,

"Selamat datang semua. Siap bersenang-senang?"

Aku, "Ya."

Dia, "Namaku Dang Basaan. Aku pemandu Anda.

Hari ini Anda akan punya pengalaman asli khas Bali. Sangat asik.

Ikuti aku."

Kami ikuti dia,

ke pintu kecil.

Kupikir, "Mungkin pura atau gua..."

Katanya, "Selamat datang semua ke Bali asli."

Dia buka pintu itu,

ke dalam rumah orang.

Bukan rumah museum,

rumah biasa.

Ada orang tinggal di situ setiap hari.

Dia buka pintunya dan berseru, "Ini rumah orang Bali!

Dia makan di sini.

Dia tidur di sini."

Kupikir, "Dia tau kita di sini?"

Kita tidak ketuk pintu.

Tak ada yang bukakan. Mungkin kita merampok

Mungkin kita anggota gang Bali aneh.

Baru saja aku mau tanya, dia bilang,

"Di sini, anda lihat si pemilik rumah.

Di pojok."

Kita tengok, ada seorang pria duduk di sana.

Seperti patung beku.

"Apakah dia tau rencana ini?"

Aku tak tau kita ini betul atau salah.

Dang Basaan berbahasa Bali ke dia.

Begini...

"Oke, anda boleh sentuh semuanya."

Kupikir, "Wah, kurasa jangan--" Tapi tiba-tiba kudengar,

grup kami berseru, "Yaaa!

Sentuh semuanya.

Ya Tuhan. Sentuh semuanya.

Ya ampun, dia tidur di sini?

Di sini dia makan?

Ya ampun, aku tak bisa hidup begini.

Ya Tuhan.

Maaf.

Terima kasih kami boleh berkunjung.

Ya Tuhan, aku sangat bersyukur atas hidupku sekarang.

Terima kasih banyak.

Ini jelek sekali. Boleh ambil selfie?"

"Bapak di Instagram? Aku tagar " the man " saja.

Terima kasih."

Aku merasa sangat rikuh.

Di budayaku, aku tak bisa melakukan ini.

Sebagai orang Afrika, aku tak boleh masuk, menggeledah rumah orang,

Makanya aku memojok, sangat tak nyaman,

Si pemilik rumah sangat baik kepada kami.

Ramah.

Dia bilang, 'Terima kasih. Selamat menikmati."

Lalu dia lihat aku.

Ini seperti suatu saat yang magis,

karena dia senyum ke yang lainnya

tapi wajahnya berubah

waktu lihat aku.

Masih ramah, tetap, "Ya, terima kasih."

Tapi dengan matanya,

dia bercakap sangat dalam denganku,

Ini bukan hal baru bagiku.

Kita bisa bercakap mata dengan orang yang akrab.

Bisa dengan orang sesama ras di tempat umum, atau suami istri.

Para istri pintar dalam hal ini.

Mereka bisa kejam dalam hal ini. Kalian berdua di tempat umum,

kau salah omong,

bilang sesuatu,

dia langsung, "Eh, kok bilang begitu--"

Hanya dengan mata, "Aku tak percaya ini!

Tunggu sampai--

Mau beber rahasia kita?

Lihat saja akibatnya.

Nikmati ini sekarang karena ini akan berakhir.

"Ya. Harusnya aku tak bilang itu."

Semua dengan mata.

Itu yang bapak itu lakukan. Dia senyum ke semuanya,

lalu dia berputar ke aku.

Hanya dengan matanya,

"Ngapain kamu di sini?"

Aku dengan mataku,

"Maaf, aku tak tau ini rumahmu.

Mereka bilang ini pengalaman khas Bali."

"Asli untuk orang kulit putih.

Kau punya orang miskinmu sendiri. Pulang ke sana."

"Ya. Harusnya aku tak ke sini. Maaf."

Trevor Noah: Son of Patricia subtitles in other languages

Комментарии

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left