Первые 173 строк.
TERIMA KASIH KHUSUS
Ayah selalu mengatakan,
"Suatu hari, kereta-kereta ini akan membawaku terbang ke negeri-negeri jauh."
Dua kakakku, Tia dan Eron, percaya.
Dan aku, Rania, meyakininya.
Dan menjadikannya doa!
Rania, tunggu!
Rania!
Kami berlari secepatnya
agar sempat mengisi gerbong-gerbong ini dengan mimpi dan doa-doa kami.
Ayah, Ibu!
Hei! Sayang! Jangan terlalu dekat dengan rel kereta!
Ya, Bu.
Namun, gerbong-gerbong itu sempat meninggalkanku jauh
ketika aku terjatuh dan mengalami gegar otak.
Sakit di kepalaku membuatku gagal melanjutkan kuliah.
Hingga suatu hari Ayah berkata, "Jadilah Ibnu Batutah untuk Ayah,"
seorang Muslim penjelajah yang menjadi rujukan dunia.
Kehebatannya mampu melampaui sejumlah penjelajah Eropa
seperti Christopher Columbus, Vasco de Gama, dan Magellan.
Dia menempuh perjalanan 120.000 mil,
membelah lautan, tanpa bantuan mobil, kapal laut, atau pesawat terbang.
Mataku mulai terbuka.
Aku menyaksikan berbagai ritual kehidupan manusia yang berbeda.
Mengalami berbagai peristiwa yang membuatku ciut,
tapi juga memperkaya batinku.
Menapaki Bumi untuk menafakuri ayat-ayat Allah…
Mendekatkanku kepada kebesaran Allah
yang menciptakan Bumi beserta isinya.
Melakukan berbagai macam pekerjaan halal
untuk memperpanjang rentang langkah kakiku.
Silakan duduk.
Dimulai dari sekadar surat.
Hingga akhirnya aku mengirimkan tulisan-tulisanku ke berbagai media.
Kutemukan peran kecilku dalam berbagi ilmu dan pengalaman
bagi mereka yang membutuhkan.
Hingga kemudian aku mendapatkan kabar dari tanah air
yang membuatku harus kembali.
Permisi.
Asalamualaikum. Ya, Bu?
Alhamdulillah.
Kau telah menjadi mata Ayah untuk melihat dunia, Rania.
Siapa yang menyuruhmu pulang?
Kakakmu?
Atau Ibu?
Tentu saja bukan aku.
Ini kemauan Rania sendiri.
Rania ingin menemani Ayah.
Selama ini, Rania…
Tulisan-tulisanmu itu sudah cukup menemani Ayah selama ini.
Sudah pergilah.
Teruskan penemuan-penemuanmu.
Ayah.
Rania adalah perempuan.
Dia tidak pantas bepergian sendiri tanpa didampingi mahramnya.
Itu memang tidak ideal,
tapi kita tidak boleh menghilangkan kesempatan Rania untuk menambah ilmu.
Ayah,
biarkan Rania tinggal di sini.
Apa kau takut kehilangan Ayah?
Hmm?
Rasa takut muncul karena kau belum menemukan cinta di dalam hatimu.
Rania.
Datangilah tempat Ayah dan Ibu menemukan cinta.
Setuju?
Di mana fotonya, Bu?
Baluran.
Kau tahu dan ingat, 'kan?
Maaf, tapi aku keberatan difoto.
Apa?
Maaf, aku temannya. Kenapa ini? Ada apa?
Tadi dia mengambil fotoku tanpa seizinku.
Temanku bilang justru kau yang masuk ke foto miliknya.
Igob.
"Igob", maksudnya "lihatlah".
Jadi, maksudnya dia hendak memotret gunung dan pemandangan,
dan tiba-tiba kau masuk.
Jadi, dia tidak hendak mengambil fotomu.
Ini hanya kesalahpahaman.
Kau tadi menggodaku.
Menggoda?
Bukan! Bukan menggoda, maksudnya…
Dia baru di Indonesia, jadi kemampuan bahasanya sangat minim.
Maksudnya adalah mengganggu.
Kau telah mengganggu fotonya.
Maaf telah mengganggu fotomu.
Korea lebih bagus daripada tempat ini.
Apa katamu? Korea lebih bagus daripada tempat ini?
- Ya. Lebih indah. - Lebih indah?
Apa dia pernah ke Kawah Ijen?
Sepertinya belum.
Kau harus mengunjungi Kawah Ijen lebih dulu.
Itu kawah belerang terindah, salah satu yang terindah di dunia.
Korea tidak punya itu.
Bawa kami ke sana.
Maaf, aku tidak bisa. Aku harus pulang.
Kau pembolong!
Salah! Maksudnya pembohong.
Kau tidak berani membawa kami ke sana karena kau Bo…
- Bo… - …Hong.
Begitulah.
Baiklah, ayo.
Baiklah.
- Ayo ke mana? - Kawah Ijen.
- Kita belum berkenalan. - Ya.
Aku Alvin.
Ini temanku dari Korea Selatan, namanya Hyun Geun.
- Dia adalah fotografer perjalanan. -
- Siapa namamu? - Rania Timur Samudra.
Rania Timur Samudra. Kau dipanggil Rania, ya?
- Ya. -
Bepergian sendiri atau…
Ya, sendiri. Lihat!
- -
Kau tidak membawa kamera?
- Tidak. Silakan. - Kau tidak suka memotret?
Aku suka, tapi aku lebih suka difoto.
- Alvin? - Hm?
- Ayo cepat. - Kenapa buru-buru? Kita hendak ke mana?
[musik etnik memuncak, wanita bersenandung]
Inilah negeriku yang indah, Tn. Hyun Geun.
[musik etnik yang memuncak berlanjut, wanita bersenandung]
Bagus!
Alvin.
Ini sudah larut. Aku harus segera pulang.
- Kita pulang? - Ya.
- Ayo. Hei, cukup. - Ayo pergi.
Baiklah.
Sudah, Li. Sudah penuh.
Pak!
Yah.
Pak, angkot berikutnya tidak akan lama, 'kan?
Sudah habis, itu yang terakhir.
Besok ada lagi pagi, pukul lima.
- Pukul lima pagi? - Ya.
Yah.
- Bagaimana dengan yang itu? - Yang itu mogok.
- Apa tak bisa diperbaiki? - Tidak bisa.
Terima kasih. Permisi.
Bagaimana jika malam ini kau tidur denganku?
Astaghfirullah!
Hei!
Begini. Dia bermaksud baik.
Kami tinggal di penginapan.
Ada beberapa kamar yang bisa kau gunakan.
Kau tidur di sana sendirian,
tidak bersama kami, dan terutama tidak bersama dia.
Hanya saja… Ya, kau tahu maksudku.
Kami hanya mengkhawatirkanmu. Kami berdua orang baik.
KATIMOR HOMESTAY, HOTEL DAN RESTORAN
Hmm…
Kau mau?
Untuk merayakan pertemuan kita.
Terima kasih, tapi aku tidak minum alkohol.
Tidak sopan menolak soju dari orang Korea.
- - Hei.
Ini haram. Tidak diperbolehkan.
Maaf, Mbak. Itu tidak diperbolehkan.
Mbak.
Biasanya kau memakai kamera ini saat jalan-jalan? Hanya yang ini?
Ya. Aku tidak butuh kamera bagus untuk menangkap alam yang indah.
Itu benar. Ke mana kau akan pergi selanjutnya?
Ada banyak negara yang ingin kukunjungi, tapi mungkin…
Palestina?
Namun, tidak dalam waktu dekat.
Kau cantik.
Aku menyukaimu.
Aku minta maaf.
Kau tidak boleh melakukan itu. Minta maaflah.
Kenapa aku harus meminta maaf?
Kau tidak sopan.
- Itu tidak sopan. -
Dia cantik.
No comments yet. Be the first to leave one.