Yowis Ben: The Series

Yowis Ben: The Series

Скачать Indonesian субтитры

Сезон 1

Информация о релизе

Yowis Ben The Series S01E10 Episode 10 WEB-DL
Комментарий от Putra14
WeTV Retail.

Теги

Web-DL
web-dl
web
WEB-DL
Опубликовано: 2020-10-16
Загрузки: 25
Для слабослышащих: No

Предпросмотр субтитров (Indonesian)

Первые 200 строк.

Jon. Rini sudah mau berangkat ke Surabaya.

Namun, ternyata dia kembali ke sini, menangis. Ada apa?

Aku mau berangkat ke Surabaya bersama Rini.

Namun, ada masalah di rumah.

Bagaimana bisa? Aku memercayai mereka.

Aku memercayai temanku, tapi mereka semua membohongiku.

- Kau dari mana, Jon? - Aku tadi mencari Bayu, Mbak.

- Rini menunggumu sampai sore. - Rini tadi ke sini?

Itu sebabnya aku ke sini, untuk memberikan kepastian kepadamu.

Kepastian apa?

Aku belum siap, Dik.

- Hati-hati, Bu. - Ya.

Di, nanti setelah dari pasar,...

...antar aku ke toko emas, Di.

Anggota bebas melakukan apa pun. Aku akan mengantarmua ke mana pun. Ya.

Bu, aku akan menunggu di tempat biasa, ya?

Ya, Di.

Hei, Cak.

- Kau sudah bangun? - Sudah, Bay.

Ya. Ibumu menitipkan pecel untuk kau jual...

...sebelum dia berangkat ke pasar.

Baiklah.

Cak.

Aku mau berterima kasih kepadamu.

Karena dari aku kecil hingga sekarang,...

...kau telah menjagaku.

Tak apa, Bay.

Aku memang sudah berjanji.

Bahwa aku akan mendampingimu dari kecil hingga sekarang.

Bagaimana, Bay? Kau masih mencari pacar?

Aku tak terpikir untuk berpacaran dulu.

Kenapa? Karena kau tak tampan?

Karena kau miskin?

Aku akan memberitahumu ini, Bay.

Hal yang penting adalah kau harus merasa percaya diri.

Menjadi diri sendiri.

- Begitu. - Ya, Cak.

Baiklah. Berangkatlah ke sekolah.

Baiklah, aku berpamitan.

- Ya. - Asalamualaikum, Cak.

Wa'alaikumussalam.

- Hati-hati, Bay. - Ya, Cak.

Punya ayam lagi.

Apa?

Benar. Kau bukan ayam. Ini tanganku.

Seperti itu. Kau cerdas.

Dikendarai motornya.

- Ya, Don. - Ini nyala lampu seinnya.

- Luar biasa. - Kenapa kau tersenyum?

Ekspresi wajahmu biasanya cemberut saat diturunkan ayahmu di sini.

Aku sudah berdamai dengan keadaan itu, Bay.

Menurutku, "Sudahlah".

Kau benar.

- Baiklah, ayo berangkat. - Ayo.

Akhirnya, aku bisa mencoba menaiki motor Bayu.

Kenapa kau mematikan mesinnya? Kenapa menuntunnya?

Berhemat BBM, Don. Sekolah kita sudah dekat.

Jika begini, aku seharusnya berjalan saja dari tadi.

- Berhemat, Bung. - Yang benar saja berhemat.

Apa pesananku sudah siap, Pak?

Ya.

- Terima kasih. - Ya.

Hei, di mana Kamidi?

Kamidi!

Di!

Bagaimana ini, Kamidi?

Dia bilang aku anggotanya.

Bahwa aku akan selalu diantar dan dijemput.

Kini, Kamidi menghilang.

Kamidi!

Ke mana kau, Kamidi?

Astaga.

Warung buka, tapi penjualnya tak ada.

Aku sudah berjalan kaki ke sini seperti tikus.

- Memang kenapa kau terburu-buru - Aku kelaparan.

- Carilah warung lain. - Jika begitu, aku harus membayar.

- Bagaimana jika di sini? - Aku bisa berutang.

Kau masih saja berutang.

Keluar dari rumah. Lalu, bertemu dua orang ini.

Aku akan mengalami kesialan hari ini.

- Jon, kakakmu ke mana? - Aku tak tahu.

Kakakku ke pasar, dan belum pulang.

- Aku juga kelaparan. - Teleponlah kakakmu.

- Kakakku tak punya ponsel. - Lihatlah aku.

Aku juga tak punya ponsel.

Aku tadi akan membayar utangku.

Aku sudah menyiapkan banyak uang.

Uangmu banyak. Dari mana itu?

- Apa? - Dari mana itu?

- Diamlah! Aku meminjamnya. - Lalu, untuk apa uang itu?

Untuk membayar utangku di sini.

Itu tutup lubang, lalu gali lubang.

Titipkan uangmu kepadaku. Aku nanti yang akan membayarkannya.

Tak bisa.

- Titipkan kepadaku saja. - Tidak!

Kalian berdua adalah belut.

- Kau ular! - Ular!

Kau sudah mengerjakan PR?

- Aku tentu sudah mengerjakannya. - Aku sudah mengerjakannya.

- Bagaimana denganmu, Yan? - Aku sudah mengerjakannya.

Bagaimana denganmu, Don?

Jika Bayu sudah, aku juga sudah mengerjakannya.

- Aku menyontek PR-nya. - Ini dia! Astaga!

Kalian berempat berkumpul.

Kemeja dimasukkan. Dasar culun.

Apa aku bisa bergabung dengan kalian?

Jangan, Roy. Mereka tak keren.

- Ya. - Ya.

- Hanya kau yang keren. - Ya.

Wajahmu kusam!

- Kau sudah mandi atau belum? - Sudah.

Mandi atau tidak, kau tetap jelek.

- Ya! - Ya!

Hanya kau yang tampan, Roy.

Kenapa kalian semua sama jawabannya?

- Ya. - Ya.

Dasar gila!

- Ya! - Ya!

Hanya kau yang waras, Roy.

Bismillah. Aku mau menjual emas.

Aku akan menjual gelang ini.

Hei, di mana dompet gelangku?

Astaga! Bagaimana ini?

Di mana dompet gelangku?

Apa dompet itu terjatuh?

Namun, terjatuh di mana?

- Pak? - Ya?

Apa kalian melihat dompetku?

- Tidak, Bu. - Tidak, Bu.

Dompet kecil berwarna cokelat?

- Tidak, Bu. - Tidak, Bu.

Di mana dompet itu?

Kamidi.

Mas?

- Ada apa, Bu? - Apa kau melihat Kamidi?

- Aku tak melihatnya, Bu. - Astaga.

Mas?

Apa kau melihat dompetku, berukuran kecil dan berwarna cokelat?

Aku tak tahu, Bu. Maaf.

- Bu? - Ya?

- Ya? - Apa kau melihat dompetku?

Tidak, aku tak melihatnya.

Kau tadi meletakkannya di mana?

- Pak? - Kenapa, Bu?

Apa kau melihat dompetku?

Aku tak melihatnya. Kau tadi meletakkannya di mana?

Ini pasar. Berhati-hatilah, Bu.

- Baiklah. - Mungkin di sana.

- Hati-hati, Bu. - Astaga.

Bagaimana ini? Astaga.

Bagaimana ini?

Itu satu-satunya gelang warisan dari bapak Bayu.

Astaga.

Bagaimana aku bisa membayar biaya sewa rumahku?

Ya, Allah. Astaga.

Kau makan apa, Jon?

Berbagilah.

Apakah orang tua menyukainya?

Aku tentu menyukainya. Aku kelaparan, Jon.

Jangan. Kau nanti bisa terkena seriawan. Ini, aromanya saja.

- Dasar pelit. - Aku tak suka makanan itu.

- Asalamualaikum. - Wa'alaikumussalam.

Hei, Cak.

Kenapa tak berjualan? Ke mana Ibu?

- Ibumu belum pulang, Bay. - Apa?

- Belum pulang? Ibu ke mana? - Ibumu ke pasar dari pagi.

- Sampai sekarang, ibumu belum pulang. - Cak Jon tak mencarinya ke pasar?

Ibu sudah pergi hampir sepanjang hari.

Aku sudah menyusulnya ke pasar, Bay.

Aku bertanya kepada orang. Mereka bilang dia sudah pulang.

Jika begitu, Ibu ke mana?

- Asalamualaikum. - Wa'alaikumussalam.

- Ini dia. - Dari mana, Bu?

Mbak?

- Mbak? - Ibu?

Mbak?

Ibu?

Gelangku hilang.

- Astagfirullah. - Astagfirullah.

Bagaimana bisa, Mbak?

Berceritalah, Bu.

Tadi pagi,...

...aku ke pasar.

Seperti biasa, aku diantar Kamidi.

Ya.

Saat ke toko emas,...

...aku mencari dompet gelangku, tapi tak ada.

- Astaga. - Astaga.

Padahal, aku mau menjualnya untuk membayar biaya sewa rumah.

Aku mau bertanya kepada Kamidi. Namun, Kamidi menghilang.

Kamidi tak ada!

- Cak? - Kamidi!

- Ke mana dia? - Ya, Bay.

Kamidi tak ada.

- Dia biasanya ada di sini, Bay. - Ya.

- Ini sepertinya temannya, Cak. - Bukan.

Jika tak dicari, selalu ada. Jika dicari, tak ada.

Ke mana dia?

Kita mencoba ke sana, Cak. Jembatan penyeberangan.

Kita harus mencari ke mana lagi, Cak Jon?

Yowis Ben: The Series subtitles in other languages

More Indonesian subtitles for Yowis Ben: The Series

Комментарии

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left