The Mighty Ducks: Game Changers

The Mighty Ducks: Game Changers

Скачать Indonesian субтитры

Сезон 1

Информация о релизе

The Mighty Ducks Game Changers S01E05 1080p DSNP WEBRip DDP5 1 x264-NOGRP
Комментарий от Putra14
Disney Retail.

Теги

webrip
web
x264
BRip
1080
Опубликовано: 2021-04-23
Загрузки: 14
Для слабослышащих: No

Предпросмотр субтитров (Indonesian)

Первые 200 строк.

Sebelumnya di The Mighty Ducks: Game Changers...

-Kau orang tua tunggal? -Ya, sangat tunggal.

Anak itu tak punya ayah.

Secara teknis, dia punya ayah, tetapi tak pernah terlibat...

Aku Lauren. Di luar, pejuang wanita, dan orang bilang pakaianku aneh.

Pinggul, tangan, tongkat.

Seperti meriam.

Aku mau mampir dan ucapkan selamat untuk Pukul Bola.

Kubawakan pai pecan.

-Kau mau masuk? -Ya, tentu.

-Baiklah. -Ya, terima kasih.

Baiklah, lanjut ke siklus serangan.

Lalu area latihan kecil.

Lalu biarkan mengembang.

Kurasa yang terakhir itu untuk memanggang.

Namun, cukup bagus.

Terima kasih.

Serangan ke Sofi. Penekanan di "oper bola".

Tampak bagus. Tampak seperti tim.

Terima kasih.

Jika kau mau terinspirasi, mungkin kita bisa menonton pertandingan Wild.

Minnesota Wild, mereka bermain hoki.

Kau tahu itu tim favoritku.

Ada pemain itu, Gorgonzola?

Ya.

Mereka melawan Oilers Jumat nanti,

dan aku beli dua tiket, dan kini aku tak punya teman.

Maksudmu, seperti karyawisata? Untuk riset?

-Tepat. -Benar.

Evan Morrow!

-Ayah! -Hai!

-Apa kabar? -Apa kabar?

Aku baru masuk dengan cara tadi di arena Ducks

sebelum tahu kau tak main lagi di sana.

Kenapa kau keluar? Menurutku mereka bagus.

Wah, itu ayah Evan. Kenapa dia di sini?

Pria itu mantanmu?

Tepatnya tidak pernah.

-Hei, Blue. -Hei.

Ayah, lihat yang ini.

Kami sebut ini spiral ganda.

Bagus! Ev!

Dia musisi.

Selalu ikut tur.

Sudah tujuh bulan Evan tak berjumpa dengannya.

Itu berat.

Namun, dia selalu dianggap orang tua yang keren.

Dia mengajak Evan pergi memancing ke Danau Pelican tahun lalu.

Evan sangat gembira.

Pulang-pulang keracunan jelatang.

Rob dipuji karena mengajaknya melakukan perjalanan hebat

dan selama dua minggu aku mengolesi anak 11 tahun pemarah

dengan losion kalamin agar ruamnya tak menyebar.

Lalu malah menyebar kepadaku.

Namun, kucoba bersikap baik.

Aku tak menjelekkannya karena Evan pantas merasa dia punya ayah,

walau sebenarnya tidak.

-Setidaknya tak membuatmu dendam. -Tepat.

Apa kabarmu?

Biasa saja. Kau sendiri?

Ev bilang kau membuat tim ini untuknya?

Ya, itu hanya keputusan mendadak yang gila.

Kita tahu sesuatu soal itu?

Ya, benar.

Kau tak sempat menelepon atau mengirim pesan?

Itu sulit, karena aku tak pernah tahu jadwalku.

Bicara soal "mendadak",

boleh Ev datang ke pertunjukanku malam ini?

Aku tampil di Bar dan Restoran Tito.

Tidak bisa, Rob.

Umurnya 12 tahun. Dia tak boleh ke bar.

-Ada restoran. -Ini masih malam sekolah.

Ada PR. Aku ada pekerjaan. Pekerjaanku banyak...Tidak.

Sial.

Dia akan kecewa.

Kau sudah mengajaknya?

Hebat. Kini aku yang jahat?

-Kenapa... -Aku bisa mengantarnya.

Bisa kubawa pulang pada waktu yang wajar.

Anak itu ada PR, bukan? Tak bisa diganggu gugat.

Semua beres. Orang ini bisa mengantarnya.

Ya, Bu. Bombay bisa mengantarku.

Seperti malam pria.

Aku sudah mengalami malam wanita sejak lahir.

Boleh aku pergi, ya? Kumohon?

Kumohon.

-PR-mu harus selesai... -Ya!

...dan pulang pukul 21.00.

Bagus, aku harus pergi. Tes suara.

Terima kasih, Kawan. Evan, ini akan hebat.

"Harus pergi."

Terima kasih. Hati-hati.

Terakhir kali ke bar dengan Rob, aku menjadi hamil.

Mungkin itu tak akan terjadi kepadaku.

Hei, kau baik-baik saja?

Tidak! Jubahku diambil!

Jangan salah paham,

tetapi rasanya tak ada yang mau jubahmu.

Tidak ada, dan jubah whispersilk,

dan aku tak bisa keluar tanpa itu.

Sedang segalanya di luar.

Ada di sini, di bawah batu-batu sihirmu.

Baiklah.

Kau panik sekali.

Kenapa jubah ini sangat penting?

Maaf.

Di kelas tiga, aku mengidap skoliosis dan harus pakai penyangga punggung.

Semua mengolokku.

Ayah memberiku jubah ini untuk menutupinya.

Katanya aku pahlawan super.

Kelas tiga memang mimpi buruk.

Itu waktu aku pindah kemari dari New York.

Semua anak mengolok cara bicaraku.

Bagaimana cara bicaramu?

Boleh minta segelas air?

Atau secangkir kopi?

Aksenku seperti sopir truk.

Ya ampun.

Aku berusaha keras membuang aksen itu, agar bisa membaur di sini.

Cukup keren kau tak peduli pendapat orang.

Kau bisa bicara sesukamu denganku.

Hei, ayo buat TikTok.

Lakukan suara New York-mu.

Ya, tetapi bicaramu juga harus aneh.

Aku bisa bahasa Elf.

Aku tak tahu artinya, tetapi ya.

Di New York, kami minum kopi.

Di Bumi Tengah, kami minum mornechui.

-Aku suka! -Akan kuunggah.

Evan, pintu itu rusak.

Kau harus naik dari sisi sopir dan bergeser.

-Berikan kepadaku. -Terima kasih.

Tunggu!

Tongkat itu kupakai agar laci mobilnya tetap tertutup.

Maaf, radionya macet di musik klasik.

Awalnya kau benci,

tetapi akhirnya kau makin benci.

Mereka hebat, ya?

Ya, pada dasarnya, kunci lagunya hanya tiga.

Ya!

Itu keren, Ayah.

Ya? Terima kasih.

Kunci lagunya hanya tiga.

Bagaimana turnya?

Gila. Kami ke mana-mana,

Jonesborough, Springfield, Bloomington.

Setiap malam. Kota baru, motel baru. Bau yang sama.

Keren.

Kami menginap di tempat aneh semalam di Davenport. The Hartley.

Kurasa hotel itu berhantu.

-Tidak! -Suara langkah aneh di luar pintu?

Ya. Tahu dari mana?

Itu Barry, manajer malam mereka yang aneh.

Tak kusangka dia masih di situ. Kupikir dia sudah divonis bersalah.

Jadi, kau pernah menginap di sana?

Ya, dahulu saat bermain hoki liga junior.

Keren. Kau juga pernah tur.

Ya, aku praktis tinggal di bus tim.

-Ya. -Kami lakukan hal gila.

Seperti mengubah WC jadi tong bir.

Jika mau buang air, harus di jendela.

Kami pernah menggantung drumer dari jendela.

Drumer pertama kami.

Kami buat lomba makan gila.

-Ya. -Piza, burger mini,

dan pernah kumakan 50 taco mini.

Sesudahnya aku muntah. Namun, tidak ada kaitannya.

Selamat makan.

Lomba makan sayap?

Aku sudah menang.

Tidak akan.

Dua belas.

-Ini jadi 13. -Ya.

Tambah sayapnya.

Sudah 27.

-Kau pikirkan yang kupikirkan? -Ya.

-Tambah saus pedas. -Wah.

Empat puluh dua?

Hei, ini ibuku.

-Hai, Bu. -Hai! Aku terus menghubungi.

-Kau tahu ini jam berapa? -Jam makan sayap.

-Tidak lucu. -Ya, maaf. Lelucon buruk.

Aku di luar. Kemari sekarang.

Baik. Aku sayang Ibu.

Tolong katakan juga.

-Aku sayang kau. Cepat! -Ya, dah.

Dia menunggu di luar. Aku harus pergi.

-Ayo kuantar, kecuali kau mau. -Tidak.

Dah, Ayah.

Kurasa aku menang.

Terima kasih sudah membuatku bermasalah.

Dia marah sekali sampai nyaris melindas kakiku.

Ya, aku sering mengecewakannya selama ini.

Mengejar mimpiku.

Benar. Baguslah kau masih mengejarnya.

Jika mau saranku untuk berbaikan dengannya,

aku punya satu cara ini. Selalu berhasil.

Hubungan kami tak seperti itu.

-Maaf. Aku berasumsi... -Tak apa-apa.

Tak masalah.

Комментарии

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left