Loyiso Gola: Unlearning

Loyiso Gola: Unlearning

Скачать Indonesian субтитры

Информация о релизе

Loyiso Gola Unlearning 2021 1080p WEB h264-STOUT
Комментарий от Putra14
Netflix Retail.

Теги

web
1080
Опубликовано: 2021-03-23
Загрузки: 11
Для слабослышащих: No

Предпросмотр субтитров (Indonesian)

Первые 200 строк.

KOMEDI SPESIAL NETFLIX ORIGINAL

MUSEUM ZEITZ UNTUK SENI AFRIKA KONTEMPORER

CAPE TOWN TAHUN 2020 (SAAT COVID)

Terima kasih.

Halo, Sayang.

Hai, kau bisa ada di luar negeri,

tapi kau bersamaku di Cape Town! Ya!

Diam. Kita menjalani lockdown. Apa maksudmu?

Tak bisa ke luar negeri. Kau terjebak di sini.

Tak masalah.

Terima kasih, penonton di samping.

Aku juga akan memperhatikanmu.

Halo, Nyonya. Halo. Tamu VIP.

Di sanalah Lincoln ditembak. Ya.

Di balkon.

Jangan pikir kau aman di sana. Siapa pun bisa ditembak.

Astaga, gilanya,

situasi COVID ini membuatku tak bisa bepergian, dan itu…

Karena aku hidup berpindah-pindah.

Aku telah membangun karier internasional sebelum pandemi ini dimulai.

Satu hal yang sangat sulit bagiku

adalah orang-orang tak punya konteks tentang Afrika Selatan.

Entah apa yang mereka pikirkan, tapi pertanyaan mereka kepadaku aneh.

Di wawancara, seseorang menanyaiku, "Di mana kau berada…

Di mana kau berada saat Nelson Mandela

dibebaskan dari penjara?"

Kubilang, "Jika kau meriset, kau tahu usiaku enam tahun."

Aku baru enam tahun.

Bahkan, aku kesal karena semua tempat tutup.

Misalnya, "Aku ingin bermain sepak bola."

"Ya, tapi lapangannya tutup.

Tempat kau membeli es krim juga tutup."

"Kenapa?" "Nelson Mandela dibebaskan."

"Sialan!"

Itu masalahnya.

Mereka menanyakan pertanyaan itu seolah-olah Nelson Mandela sepupuku.

Seolah-olah aku harus menjawab, "Dahulu kami bersama."

Tidak, aku tak di sana.

Aku tak bermaksud mengatakan kita tak menyadari politik sewaktu kecil.

Kita menyadarinya.

Aku ingat sewaktu muda,

kita selalu diminta membebaskan Nelson Mandela.

Aku ingat itu membuatku stres pada usia empat tahun.

Usiaku empat tahun. "Tapi kita harus bebaskan pria ini."

Hal itu sangat menggangguku.

Jadi, suatu hari di TK,

aku memutuskan untuk mengerahkan anak-anak

dan kami akan mencoba membebaskan Nelson Mandela.

Jadi, kubilang, "Kami menolak tidur."

"Kami tak akan bermain mainan dan Lego ini sampai Nelson Mandela bebas."

Para guru panik. Kami berkata, "Kami tak mau makan…

sampai Nelson Mandela bebas!"

Kami bahkan tak tahu wajah Nelson Mandela,

karena, kau harus ingat, wajahnya dilarang dari tahun 1960-an.

Kami tak tahu wajahnya.

Jadi, para guru membawa sembarang pria dari jalanan

dan berkata, "Ini Nelson Mandela."

Kami berkata, "Kenapa baru bilang? Kami menyia-nyiakan tenaga."

"Pria ini."

Kami tak peduli. Kami tak tahu. Kami masih kecil.

Tahun 2020 sangatlah menarik.

Satu hal yang harus kupelajari atau kuingkari pada tahun 2020

adalah pandangan bahwa Amerika negara terhebat di dunia.

Mereka mengecewakan.

Setidaknya peringkat 50.

Di atasnya ada Bangladesh dan Sri Lanka.

Malawi. Mereka bersaing.

Maksudku, kini mereka punya Biden, tapi kita tak melupakan Trump.

Seluruh persoalan Trump…

Sejauh ini, Trump adalah ha tergila yang kulihat setelah sekian lama.

Suatu waktu pada tahun 2016,

hari saat Donald Trump terpilih sebagai presiden, aku di New York.

Sudah sepekan di New York. Aku bertemu seorang wanita.

Dia cantik. Auranya fantastis.

Kami saling menyukai. Rasanya…

Kau tahu perasaan itu.

Dia fantastis. Auranya.

Kencan pertama dan kedua lancar. Kau tahu perasaan itu. Menyenangkan.

Lalu pada kencan keempat, dia membawaku ke pesta pemilu.

Entah apakah kau pernah… Mereka sangat serius dalam pemilu.

Mereka mengadakan pesta dengan layar yang melaporkan hasil pemilu.

Di Afrika Selatan, tidak begitu. Kita tahu siapa akan menang.

"Ya, ANC."

Kongres Nasional Afrika akan menang.

Mayoritas atau bukan, kita tak tahu.

Jadi, ya…

Aku berada di pesta pemilu. Kami mesra.

Ini kencan keempat. Kami sangat saling menyukai.

Kupikir aku akan tidur di rumahnya.

Kami berada di pesta. Semuanya luar biasa.

Tak akan ada masalah. "Kau mau tambah anggur?" "Ya."

Kencan semacam itu.

Lalu, pada suatu titik, mereka menyadari

Trump memimpin dalam pemilu.

Suasana di New York menjadi suram.

Seluruh ruangan. Suram.

Aku berpikir, "SIal."

Akhirnya, Trump memenangkan pemilu.

Semua orang di ruangan mulai menangis. Tapi bukan begini…

Menangis kencang…

Teman kencanku juga menangis. Kubilang, "Baik, aku paham pemilunya…

tapi apa kita tetap…"

"Kita tetap ke rumahku?" Dia bilang, "Tidak, antar aku pulang."

Aku berpikir, "Trump sialan menghancurkanku!"

Jadi, aku marah kepada Trump karena dia menggagalkan seksku.

Itu alasan aku tak suka Trump.

Trump mengatakan hal gila. Katanya, dia tak mau orang-orang

dari negara terbelakang datang ke Amerika.

Dia tak mau orang-orang dari negara terbelakang datang.

Dia mau orang dari Norwegia datang ke Amerika.

Aku membatin, "Dia tak pernah pergi ke Norwegia."

Tak ada orang Norwegia berkata, "Aku harus pergi ke Amerika."

Aku pernah ke Norwegia. Mereka menikmati kulit putih mereka.

Saat berjalan di jalanan, mereka bisa merasakan udara.

"Lezat. Salju dan salmon, sempurna."

Salju dan salmon adalah favorit orang Kulit Putih. Sungguh.

Tak ada orang Kulit Putih Norwegia yang memikirkan Amerika.

"Aku tak peduli."

Usiaku 37 tahun.

Aku menyadari pada usia 37, ada hal-hal tentang hidupku yang harus kubongkar.

Semua orang pun begitu, 'kan? Itu seperti saat kau memperbarui ponselmu.

Pada saat itu…

Secara acak pada hari Selesa, tulisannya, "Anda ingin memperbarui iOS?"

Kau bilang, "Tidak perlu. Ponselku baik-baik saja."

Lalu kau mengunduh aplikasi lain.

Aplikasi apa saja.

Tapi aplikasinya tak bisa berfungsi tanpa pembaruan.

"Sial!" Kau harus memperbarui. Kubilang, "Begitulah kehidupan."

Begitulah kehidupan. Kau harus terus memperbarui perangkat lunak.

Itu keharusan, 'kan?

Terkadang aku bingung saat berdebat dengan orang-orang.

Kami membahas aborsi, lalu mereka mengutip Alkitab.

Aku bilang, "Itu ditulis 2.000 tahun lalu.

Mereka tak punya roti lapis atau AC."

Kau tak bisa begitu saja mengutip Alkitab pada tahun 2020.

Kau tahu bagaimana keadaan dahulu saat itu ditulis?

Orang-orang pergi ke tukang cukur untuk dicabut giginya.

Dia akan memotong…

Dia akan memotong gigimu…

Kau tahu betapa gilanya mengutip…

Kutipan itu tentang orang-orang yang digantung di salib.

Kau paham betapa gilanya itu?

"Ya, tapi Musa mengatakan…" Musa hidup di zaman yang sangat berbeda.

Alkitab mengatakan hal bodoh, "Cintai tetanggamu."

Kau pernah tinggal di apartemen?

Cintai tetanggaku?

Persetan dengan tetanggaku.

Dia selalu berisik. Persetan dengannya.

Aku tak mencintai tetanggaku. Enyahlah.

Jadi…

Beginilah aku sadar bahwa aku harus mengingkari yang kupelajari.

Perjalanan itu…

cukup rumit. Simaklah.

Jadi, aku menonton Godfather. Kalian pernah menontonnya?

Aku menonton Godfather saat lockdown.

Aku menontonnya. "Astaga, ini luar biasa."

Jika kau belum menontonnya, Marlon Brando memerankan Bapa Baptis Vito Corleone.

Vito Corleone.

Film tiga jam…

Begitulah bos mafia bicara…

Selama tiga jam.

Tak ada adegan seseorang berkata, "Maaf, aku tak dengar yang terakhir.

Ucapanmu tidak jelas, Kawan.

Kau menyuruh kami membunuh satu keluarga. Kami tak tahu alamatnya.

Setidaknya kami butuh alamat. Di jalan kecil atau jalan besar?

Apa?

Letakkan kucingnya dan tuliskan."

Begitulah dia…

Aku sangat menyukai filmnya. Aku menonton ketiga filmnya.

Saat Francis Coppola mencoba membuat film ini,

mafia mencoba menghentikannya, dan dia harus bernegosiasi dengan mereka.

Satu syarat yang mafia katakan kepadanya adalah…

jangan sebut kata "mafia" di film.

Jika kau menonton ketiga filmnya, hanya dua kali kata "mafia" disebutkan.

Akhirnya, film itu dirilis, dan sukses besar.

Saat mafia menonton film itu,

mereka sangat menyukainya.

Mereka berkata, "Kita harus lebih seperti itu."

Aku tercengang.

Aku berpikir, "Astaga, seberapa banyak hidupku yang seperti itu?"

Seberapa banyak hidupmu yang seperti itu, yang hanya

memenuhi harapan orang lain terhadap dirimu?

Kau menjalani imajinasi orang lain.

Saat pengalaman itu terjadi di otakku, aku mulai mempertanyakan semua hal.

Misalnya, temanku bertunangan, dan dia membeli cincin mahal.

Aku turut bahagia, tapi otakku berkata, "Dari mana cincin pertunangan bermula?"

"Dari mana semua ini bermula?"

Ternyata cincin pertunangan adalah ide dari De Beers.

Itu kampanye periklanan De Beers.

Mereka berkata, "Penjualan berlian tidak mulus.

Bagaimana agar orang-orang…"

Seperti kau mencoba membuat orang minum Coca-Cola,

kau membuat kampanye iklan.

Mereka coba menjual berlian.

Seratus tahun kemudian, kita masih membelinya.

Para wanita menatapku dan berkata, "Kami dengar…

tapi aku mau cincinku."

Aku mengerti.

Misalnya, aku di restoran.

Orang-orang makan apa pun. Aku melihat menu.

Комментарии

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left