Первые 200 строк.
Saatnya beraksi. Sayang?
- Sayang, aku pergi. - Aku datang!
- Baik. - Sampai nanti.
Aku mencintaimu.
Saatnya beraksi, Sayang. Ayo.
Saatnya beraksi, Kawan.
- Sampai jumpa di sisi lain, Sayang. - Ayo, Kawan. Lakukan pekerjaanmu.
- Semoga pertunjukanmu bagus, Kev. - Terima kasih, Pak.
Kita akan panggil taksi.
- Bagus. - Ayo, Sayang.
Bu, aku tahu Ibu mengawasiku. Aku akan buat Ibu bangga.
Dalam namamu kami berdoa, amin.
Saatnya beraksi.
Lelucon terakhirku menjadi viral.
Astaga, London, kalian bisa lebih baik daripada itu.
Sebaiknya kalian bersorak-sorai.
Aku akan meminta sekali lagi.
Sebaiknya kalian bersorak satu kali.
Selamat datang di pertunjukan keliling "Irresponsible".
Kita akan bersenang-senang.
Judulnya "Irresponsible" dengan banyak alasan.
Kita akan melihat semua alasan itu seiring acara berlangsung.
Aku tak suka membuang waktu.
Kurasa saat aku di sini, kita sebaiknya langsung mulai.
Mari kita langsung mulai saja. Paham?
Mari kita membahas tindakan pertamaku yang tanpa tanggung jawab tahun ini.
Aku...
Tindakan tak bertanggung jawab pertamaku tahun ini melibatkan anak-anakku.
Anak-anakku memergoki aku dan istriku sedang berhubungan seks. Ayo kita mulai...
Mari kita mulai di sini.
Tak ada cara untuk mulai membahas ini dengan sopan. Jadi, aku langsung saja.
Kedua anakku. Keduanya memergoki kami.
Jika hanya satu, tak seburuk itu. Tapi itu keduanya.
Putraku melihat kami pertama. Aku melihat dia saat dia melihat kami.
Karena dia panggil saudarinya, "Kemari! Lekas!
Kemarilah..."
Gilanya, aku bahkan tak bisa marah.
Aku tak bisa memarahi mereka karena memasuki kamarku,
berdasarkan aturan yang kuterapkan.
Aku tak suka pintu terkunci di rumahku. Jangan kunci pintumu.
Menurutku, hal terburuk di dunia bagi orang tua
adalah tak bisa memasuki kamar anaknya kapan pun dia mau.
Jangan mengunci pintumu!
Terutama putriku.
Kukatakan padanya, "Kunci pintumu lagi, Ayah janji menendangnya.
Jangan kunci pintu itu lagi".
Aku pergi ke kamar putriku, pintunya terkunci.
Kataku, "Apa kata Ayah? Bukankah Ayah akan menendang pintumu?"
Katanya, "Tunggu, aku hampir selesai".
Astaga!
Ya Tuhan!
Dalam benakku, aku memikirkan hal terburuk.
Dalam benakku, dia memasak kokain. Itu yang kuyakini.
Pasti.
Tahu kenapa? Tahu kenapa aku menduga yang terburuk?
Aku menduga itu karena aku tahu kelakuanku di masa kecil di kamar dan pintu tertutup.
Saat aku di kamar dan pintuku tertutup,
aku selalu melakukan hal terburuk di balik pintu itu.
Tiap kali ibuku tiba-tiba masuk kamarku, kisah nyata, Semuanya,
penisku selalu berada di tanganku. Sumpah. Setiap kali.
"Sedang apa kau, Nak?"
Sekali, ibuku masuk, penisku di tangan ini,
serta korek api di tangan ini.
Entah apa yang akan terjadi, tapi dia tiba tepat waktu.
Kukatakan padanya, "Akan ada penis panas di kamar mandi ini.
Aku berniat membakar penis ini".
Hal terburuk dari anak-anakku memergoki kami berhubungan seks
adalah bahwa kami sedang dalam posisi yang tak bisa disamarkan.
Kalian tahu ada posisi seks yang bisa disamarkan.
Ada banyak pasangan di sini malam ini. Kulihat kau bersama istrimu, Pak.
Jika kalian berhubungan seks,
lalu istrimu berbaring menyamping dan anak-anakmu masuk,
kau bisa menyamarkannya.
Kau hanya perlu duduk dan pura-pura menonton TV. "Hei!
Hei!
Keluar dari sini. Jangan kembali sampai kami puas menonton TV...
Jika kalian mahir dan menutupi bagian bawah tubuhmu,
saat kau duduk, kau secara teknis bisa tetap melakukannya sambil bicara.
"Hei!
Keluar dari kamar ini.
Jangan kembali ke kamar ini...
Istrimu akan mencoba bicara, "Jangan masuk kemari.
Ini bagian acara favorit Ibu".
Kita bisa menyamarkannya.
Posisi misionaris bisa disamarkan.
Kalian berhubungan seks dengan posisi misionaris,
lalu anak-anak masuk,
kalian hanya perlu menjatuhkan diri di atas istrimu.
Buatlah seolah-olah kalian tidur. Anak-anak bodoh, mereka akan percaya.
Gaya anjing itu sulit. Itu posisi yang sulit.
Gaya anjing dengan pantat telanjang di tengah ranjang, itu...
Itu sulit disamarkan. Jika tepergok...
Apa yang bisa kita lakukan?
Apa yang kalian lakukan?
"Sialan!"
Kita punya satu tindakan.
Kita punya satu tindakan.
Buatlah tampak seperti bermain football Amerika, katakan saja "Hut!
Hut!
Keluar dari sini. Kami mempelajari para pemain football. Keluar.
Kami akan melawan pasangan lain pekan ini. Keluar dari sini...
Ketakutan terbesarku adalah...
Aku tak mau anak-anakku mencoba bicara padaku tentang yang mereka lihat.
Kumohon, Tuhan.
Jangan biarkan anak-anakku bicara padaku tentang hal yang mereka lihat.
Aku yakin tentang membiarkan informasi mengambang lalu lenyap.
Aku tak suka membicarakannya. Biarkan mengambang dan lenyap.
Aku turun ke lantai bawah. Kulihat putraku di dapur.
Putraku memberiku suatu tatapan
yang berkata bahwa dia ingin bertanya tentang yang baru dia lihat.
Kubalas dia dengan tatapan yang berkata, "Jangan nekat bertanya
tentang apa pun yang baru kau lihat".
Aku tahu dia tak akan menanyaiku
karena dia mendapat masalah di sekolah pekan itu.
Aku harus menyita ponselnya, hal terburuk untuk dilakukan pada anak.
Merampas ponsel anak merugikan gaya hidup anak.
Begitu kuambil ponselnya, dia langsung menjadi pecandu kokain.
Langsung! Kataku, "Berikan ponselmu.
Ini tak kembali sebelum kau memperbaiki diri".
Kurampas ponselnya. Dia menangis.
Katanya, "Ayolah, Ayah, jangan memperlakukanku seperti itu".
Dia mulai bergerak. "Jangan memperlakukanku seperti itu, Yah".
Katanya, "Ambil kakiku saja.
Ambil kakiku".
Apa?
"Beri Ayah ponselmu!
Kau tak akan mendapatkan ponselmu sebelum kau perbaiki dirimu".
Saat kuambil ponselnya, kukatakan pada diriku, "Kau tahu,
aku harus memeriksa ponsel putraku".
Aku harus melihat apa yang dia bicarakan lewat ponselnya".
Itu tindakan tak bertanggung jawab sebagai orang tua
jika tak tahu ada apa di ponsel putraku.
Aku harus memeriksanya. Aku sadar aku tak punya kodenya.
Aku tak punya sidik jarinya, identifikasi wajah. Nol.
Aku harus kembali kepada bedebah cilik ini dan memintanya memasukkan kodenya.
"Masukkan kodemu agar Ayah bisa melihat pembicaraanmu".
Dengan wajah datar putraku berkata, "Tidak, aku tak akan melakukannya".
Apa?
"Masukkan kodemu sebelum Ayah meninjumu".
Itu jawabanku.
Aku mengatakan itu.
Dia berlari kabur.
Layaknya dia tak hidup di rumahku dan tak akan ketemu di meja 10 menit lagi.
"Tak ada yang akan mengejarmu.
Beri Ayah kodemu sebelum Ayah tendang pantatmu".
Sumpah, dari lantai bawah,
yang kudengar hanyalah, "Persetan denganmu!"
Akan kubunuh dia.
Aku akan membunuhnya.
Aku berlari ke bawah, kutangkap leher putraku.
Aku mulai mencekik putraku.
"Apa pula yang kau katakan kepada Ayah?"
Dia tak bisa bernapas, hanya...
Dia berkata,
"Itu kodenya! Kodenya adalah 'Persetan denganmu'!"
"Itu kode yang bagus, Nak. Kode yang bagus.
Apakah ejaannya Y-O-U atau U saja? Bagaimana kau mengejanya?
Ayah mencakar lehermu lumayan parah. Ayah minta maaf.
Ayah akan memberimu kaus turtleneck agar tak bersekolah seperti itu. Maaf...
Anak-anakku makin besar.
Putriku berusia 13 tahun, putraku 10 tahun sekarang.
Makin tua mereka, makin banyak argumen memanas.
Kupergoki mereka saling menyumpahi tempo hari.
Itu membuatku tertawa.
Jika kalian orang tua mengira anak-anakmu tak menyumpah, kalian orang tua bodoh.
Kalian bodoh.
Begitu kalian keluar dari rumah, anak-anakmu menyumpah-nyumpah.
"Persetan, keparat, sialan, bedebah, banci, bajingan, jalang".
Kata-katanya bahkan tak cocok, tapi mereka ucapkan sekaligus.
Kudengar putriku menyumpahi putraku, memberinya perlakuan buruk.
Aku sedang tidur, berbaring di sofa.
Putriku meledak.
"Aku muak pada kelakuanmu, Hendricks.
Jika kau terus merecokiku, kutendang bokongmu".
Kupikir, "Astaga, tunggu sebentar.
Apa yang terjadi di sini?"
Aku tak mau membuka samaranku karena ingin mendengar balasan putraku.
Aku ingin dengar bantahan putraku.
Putraku sama seperti aku di masa kecilku.
Kami identik. Tepat sama.
Putraku benar-benar menjengkelkan.
Dia sungguh menyebalkan.
Ini yang dikatakan putraku. Putraku berkata,
"Sejujurnya, sungguh, lalu apa? Tak ada. Jadi, kenapa kita membicarakannya? Baik".
Apa?
Dia pergi seolah-olah dia menang.
"Baiklah".
Tapi sebagai pembelaan untuk putraku, hidupnya dipersulit.
Entah ada apa dengan kakak perempuan dan adik laki-laki.
Kakak perempuan sangat suka menindas adik laki-laki.
Aku tak tahu kenapa. Itu hal yang nyata.
Putriku menyeretnya menuruni tangga tempo hari. Tak kulihat, hanya dengar.
Kudengar putraku berkata, "Astaga, jangan lagi".
Aku hanya dengar langkah kaki.
Tapi putriku tangguh.
Putriku bukan gadis kecil feminin.
Dia gadis tomboi, Kawan, gadis yang tangguh.
Dia mens pertama belum lama ini. Dia melaluinya dengan baik.
Mengabaikannya seolah-olah bukan apa-apa.
Aku gugup karena aku tahu itu akan terjadi.
No comments yet. Be the first to leave one.