Первые 200 строк.
SEBELUMNYA...
Di kaki Gunung Fuji,
di Fuji-Asada, Kiyomi Endou
meminta rekan aliennya, Kousuke Takahashi,
untuk memecahkan masalah-masalah sepele sehari-harinya.
Yang tahu rahasia ini hanya teman masa kecilnya, Hazuki
dan Minami.
Kalian luar biasa!
Takahashi kuat.
- Bagaimana efek sampingnya? - Membaik setelah mandi air panas.
Mineral di pemandian hotel kita cukup unik.
Bisa membantu memulihkan tubuh.
Hari ini, satu kejadian lain menanti.
Ceritanya panjang.
Enak sekali.
Aku bekerja sif malam hari ini. Jadi, aku akan membereskan rumah.
Akhirnya sempat mencuci seragamku setelah sepekan!
Seperti yang pernah kubilang ini sama sekali tak aneh
jika dibandingkan dengan Eri yang mencuci setiap sepuluh hari!
Kami tak sabar untuk menguji kemampuan isapnya di studio.
Biar kuperkenalkan Bodis robot pembersih,
dengan sikat unik yang bisa untuk berbagai lantai,
menyedot sampah hingga rambut
- bahkan debu. - Kami membersihkan dengan tangan.
Jika kau bisa menaruh barang itu sejak awal,
berarti rumahmu sudah cukup luas dan rapi.
Aku butuh robot yang bisa membersihkan semuanya
untuk memberi ruang sejak awal.
Hari ini dingin. Jadi, aku naik mobil ke kantor.
Dingin!
TOFU
Apa kami masih punya saus?
Tidak.
Tidak, kurasa saus kami tinggal sedikit.
Tunggu.
Bukankah terakhir kali aku membelinya karena berpikir seperti ini?
SAUS PERILLA
Tidak. Aku berniat membelinya,
tapi aku bertindak sama, lalu saat sampai di rumah,
ternyata sausnya memang tinggal sedikit.
Tidak, tunggu.
Aku bertindak seperti ini sebelumnya
dan pulang membawa saus, meski aku tak butuh.
Aku yakin masih punya beberapa botol di kulkas.
SAUS PERILLA
Ya, aku yakin kali ini.
Kiichan!
Hei, Aya-nyan!
- Kau libur? - Tidak.
- Aku masuk sif malam pukul 16.00. - Itu berat.
Biar aku saja.
Omong-omong,
kami sengaja mengantre di antrean panjang dan ada alasan untuk itu.
- Itu karena... - Totalnya 2.357 yen.
- Dia ada di sini. - Terima kasih!
Sudah sekitar sepuluh tahun ini, dia bekerja sebagai kasir.
Kecepatan dan akurasinya luar biasa dibanding semua orang di supermarket ini.
Kebetulan,
jika perbedaan jumlah antrean adalah lima atau kurang,
aku selalu memilih dia.
Omong-omong, aku ke toko Nonchan tempo hari.
- Ya? Bagaimana kabarnya? - Kabarnya baik.
Dia mengeluh karena kita tak mengunjunginya.
- Ayo temui dia kapan-kapan. - Ya, boleh.
Terima kasih sudah menunggu.
Selamat datang!
Lain kali aku akan memilihnya jika selisihnya tiga atau kurang.
- Kau ke sini naik mobil? - Ya.
- Kau sendiri naik apa? - Aku bersepeda.
- Benarkah? - Ya.
Suamiku membeli sepeda listrik, tapi tak dia pakai.
- Jadi, kupikir sebaiknya kupakai. - Begitu.
- Yang mana? - Kuparkir di sekitar sini.
Aku mau menambah kursi anak...
- Apa? - Ada apa?
- Hilang. - Apa?
Serius?
Pasti ini lelucon.
Ini parah.
Astaga.
Haruskah kita lapor polisi?
Maaf, kau mau kerja malah repot.
Santai saja. Ini searah ke kantor.
Bisa-bisanya begini. Aku baru naik sepeda itu dua kali.
Aku mengerti rasanya.
Astaga, mencuri barang orang lain.
- Tindakan menyedihkan. - Betul.
Sampah seperti itu hanya membuat penuh dunia saja.
Sudah lama aku tak mendengar
omongan yang sangat kasar.
Omong-omong, aku terakhir mendengarnya juga dari Aya-nyan.
Lidah tajamnya masih tetap mengesankan!
Rasanya mau kurekam dan kudengarkan di saat aku stres.
Aku mau koleksi terbaik dari kalimat terbaiknya.
...dasar bajingan.
Benar.
Tapi kau mau sepedamu kembali, 'kan?
Ya, tapi kelihatannya mustahil.
Kenapa kau berpikir begitu?
Meski terkesan optimis,
sejujurnya aku juga pesimis.
Tunggu.
Takahashi mungkin bisa menemukannya.
Menyebalkan sekali.
Di titik ini, aku tak peduli sepedanya. Aku hanya mau
membenamkan kepalanya ke lumpur.
Aku juga akan menginginkan itu.
Tapi entah bagaimana akhirnya,
tapi kurasa kami bisa dapatkan sepedanya kembali.
Masih terlalu dini untuk menyerah.
- Membenamkannya ke lumpur? - Bukan, sepedamu.
- Jadi, itu? - Ya.
- Menurutmu kita bisa menemukannya? - Tentu.
- Terima kasih. - Tenang.
Tapi sungguh, si sampah ini mulai membuatku kesal.
PREFEKTUR YAMANASHI KANTOR POLISI FUJI-ASADA
- Terima kasih. - Sama-sama.
Maaf tak bisa ikut.
- Tidak apa-apa. Selamat bekerja. - Terima kasih.
- Sampai jumpa. - Sampai jumpa.
Kebetulan,
aku akan bertemu Takahashi nanti. Aku akan tanyakan.
Kalau tak salah ingat...
ada saus di kulkas.
Atau lebih tepatnya, semoga ada.
BAHAN PELENGKAP
Hampir tak bersisa.
TOFU
TOFU
Tapi ada tofu.
Sial.
Aku mulai bekerja pukul 15.45.
- Terima kasih atas kerja kerasmu. - Terima kasih atas kerja kerasmu.
- Selamat sore. - Selamat sore.
RUANG GANTI
Kuantarkan kopernya.
Baik.
- Selamat datang. - Selamat datang.
Setiap tahun selama periode ini,
mahasiswa menginap di hotel demi belajar untuk ujian.
Hari ini dingin, pakailah baju hangat.
- Terima kasih. - Dia sudah di sini sepekan.
Sepertinya besok adalah hari ujiannya.
Besok adalah harinya.
- Maksudmu, ujian? - Ya.
Jika lolos, dia akan menjadi juniorku.
- Benarkah? - Ya.
- Kuliah di mana? - Universitas Kaibun.
- Benarkah? - Ya.
Aku lupa, kau kuliah di mana?
Yamanashi. Jurusan Kedokteran.
Apa, kau kuliah di Yamanashi?
Ya, Kedokteran.
Apa? Kalau begitu, kau memang pintar.
Itu bukan suatu kehebatan.
Tunggu. Apa kau memakai kemampuanmu?
- Ya, tentu saja. - Itu curang.
Curang bagaimana? Itu kemampuanku.
Mungkin kau ada benarnya.
Tapi kau tak menjadi dokter meski kuliah Kedokteran?
Aku keluar.
Apa? Sayang sekali. Kenapa bisa?
Pada akhirnya, meski aku belajar keras untuk ujian,
aku tak bisa mempertahankan kecerdasan itu selamanya.
Ya, sepertinya masuk akal.
Ada peningkatan pengetahuan sementara,
tapi aku tak bisa mengandalkan kemampuanku setiap hari.
- Tubuhmu tak sanggup mengatasinya? - Betul.
Kulit kepalaku juga.
- Kulit kepala? - Ya, sepertinya begitu.
Jika aku meningkatkan otakku, efek sampingnya rambutku rontok.
Benarkah?
Itu sebabnya rambutku agak tipis, 'kan?
Benar.
Aku tak botak alami.
Tidak botak alami?
Aku begini karena kemampuanku.
Jadi, itu maksudmu.
Bukankah berendam di air panas membantu?
Aku tadinya berpikir begitu, tapi tidak dalam kasus ini.
Benarkah?
Menurutku, itu begitulah alaminya manusia
bisa menyembuhkan diri dari luka dan penyakit,
tapi penipisan rambut tak begitu.
Baik. Sumber air panas tak berlaku untuk kebotakan.
Kurasa demikian.
Baiklah.
Mungkin itu yang namanya penuaan dini
dan meski dia tak pakai kemampuan,
rambutnya akan tetap rontok. Itulah yang ada di pikiranku,
tapi aku memutuskan tak mau tahu lebih jauh.
Tunggu.
Kau berpikir aku akan tetap botak, hanya saja ini terjadi lebih dini.
- Tidak. - Kau jelas berpikir begitu.
Lantas kenapa diam dan canggung?
Hei.
- Aku memang berpikir begitu. - Aku tahu.
Bisakah tak memikirkanku begitu?
Sungguh bukan itu sebabnya.
Maaf.
No comments yet. Be the first to leave one.