Первые 200 строк.
KOMEDI SPESIAL NETFLIX
Sebelum mulai, peringatan kecil.
Acara malam ini berisi lelucon tentang hal buruk.
Hal buruk yang mungkin pernah memengaruhimu dan orang kesayanganmu.
Namun, ini hanya lelucon.
Bukan hal buruk itu.
Ada perbedaan besar tentang membuat lelucon tentang perkosaan…
dan melakukan perkosaan.
Kuharap begitu.
Atau aku akan dipenjara selamanya.
Ibuku selalu mengatakan,
"Jika tak bicara baik, diam saja, Keparat."
Aku rindu wanita gemuk itu.
Ada penyakit yang menyebar. Ada yang terkena COVID-19?
Banyak. Aku menghindarinya seperti wabah.
Kalian merasa reaksi kita berlebihan atas COVID-19?
Ya.
Banyak penyintas berpendapat begitu.
Ya.
Penyintas menganggap kita bereaksi berlebihan.
Kurasa jika kita bisa survei orang yang meninggal,
mereka akan bilang…
"Kita bisa berbuat lebih."
Aku tak kehilangan orang terkasih.
Maksudku, banyak kerabat lansiaku yang meninggal.
Namun, bukan yang aku sukai.
Mari bahas hal kontroversial. Vaksin.
Siapa tidak mau divaksin karena merasa itu berbahaya?
Angkat tangan.
Lalu, gunakan tangan itu untuk menampar wajahmu.
Dengar itu? Itulah suara nurani.
Penyebaran COVID terkait langsung pada betapa padatnya populasi.
Beberapa populasi memang cukup bebal.
Mungkin kau baca sesuatu. Ada banyak di luar.
Aku membaca COVID ternyata tidak nyata.
Itu kabar bohong. Itu konspirasi.
Kuberi tahu siapa yang akan merasa bodoh.
Mereka yang meninggal karena COVID.
Kita harus gali mereka dan beri tahu.
"Ayolah, keluar dari sana.
Itu tidak nyata dan menewaskanmu.
Dasar bodoh. Keluarlah."
Kita di tengah krisis obesitas.
Apa itu obesitas? Pada dasarnya,
itu penyakit pembengkakan yang hanya bisa didapat dari biskuit.
Kekasihku membuat kami jalani diet dengan satu hari curang,
yang menurutku bagus.
Ternyata hari curang tidak seperti dugaanku.
Dia pulang dengan girang.
"Aku memakan piza!"
Aku memakan vagina. Aku salah paham. Maaf.
Bagus kita akhirnya melihat model bertubuh besar di catwalk berguncang.
Aku cemas jika lakukan lelucon gemuk jangkauanku tidak melebar.
Jika kau gemuk dan tersinggung, berhati besarlah.
Ada penonton yang vegan?
Ada? Siapa namamu?
Silakan. Ada apa? Kau kehabisan tenaga?
Ya…
Baiklah, tahu tidak ada energinya.
Di mana si vegan? Siapa namamu?
- Ben. - Melambailah. Hai, Ben.
Orang sering bingung. Vegan, vegetarian. Apa maksudnya?
Jika kau vegan, Ben, kau membosankan diajak bicara.
Kaum vegan takkan membunuh apa pun selain sebuah percakapan.
Mengemudi. Siapa mengemudi? Semua mengemudi?
Ya!
Aku merasa itu makin membuat frustrasi.
Terutama di London Pusat. Tahun lalu terjadi insiden.
Bukan pengemudi marah, tapi hampir mirip itu.
Aku di zona 45 km/jam, wilayah padat bangunan, tengah hari.
Kecepatanku? Tentu 45 km/jam.
Berkendara. Berpapasan dengan orang jalan tak sampai 15 km/jam.
Apa tindakanmu? Kedipkan lampu, bunyikan klakson,
beri tahu, "Minggir atau tambah kecepatan." Benar?
Dia tidak lakukan keduanya. Akhirnya, aku si gila.
Lampu kukedipkan seperti orang gila dan menekan klakson itu.
Itu yang aku hadapi. Dia punya pelat khusus.
"Ibu tercinta" terbuat dari karangan bunga.
Bedebah, 'kan? Bedebah.
Apa?
Aku didenda karena parkir di tempat difabel.
Tidak termasuk jika hanya disfungsi ereksi.
Aku bilang "hanya". Sebenarnya seperti mempose agar-agar.
Seperti membobol kunci pakai marshmallow.
Seperti bermain biliar dengan seutas tali.
Aku butuh wanita muda cantik untuk bagian ini.
Bu, bisa carikan?
Aku jahat. Kau wanita muda cantik.
Aku yakin kau asing dengan pria yang bercinta tanpa ereksi.
Pikirkan. Tanya ibumu.
Aku tak suka menginap di rumah kawan.
Aku lebih mau menginap di hotel daripada di rumah teman.
Kalau menginap, paginya, "Bagaimana tidurmu?" Kau jelaskan,
"Aku merasa sulit masturbasi di rumah orang lain."
Aku tidak mencari porno lagi, tidak mencari pornografi internet.
Bukan perihal moral.
Aku hanya memilih tidak begitu karena baru saja aku tamatkan.
Luangkan waktu. Kau akan bisa.
Masukkan inisialku, muncul tulisan, "Minumlah".
Aku pernah membuat porno. Aku tampil di film porno.
Ini bertahun-tahun lalu, saat aku kecil.
Dia menatapku. "Sudah kuduga aku mengenalmu."
Mansplaining. Itu saat pria
mencoba jelaskan yang kau sudah tahu dengan cara mendominasi.
Saat seorang pria, itu aku…
mencoba memasukkan pikiran cerdas ke otak mungilmu.
Kau mengerti?
Kau mengerti.
Tentu saja. Kau gadis pintar. Kau sangat pintar.
Itu lelucon meta.
Bisa katakan "lelucon meta"?
Tidak percaya kau katakan itu.
Semua mencukur vagina mereka.
Terutama wanita. Semua mencukur vagina mereka.
Hipster masa kini berjanggut.
Masyarakat memiliki bulu sama banyak, hanya pada jalang berbeda.
Semua mencukur vagina.
Apa pun pendapatmu atas lelucon itu, itu pembukaan bagus.
Kita semua lebih suka permukaan kerja yang bersih.
Ada teori.
Orang bilang pria menikmati bagian bawah wanita yang dicukur
sebab itu terlihat mirip vagina gadis muda.
Andai saja demikian.
Saat kekasihku mencukur miliknya, lebih mirip kaki babi.
Dilema moral bagi kawan vegan-ku di sana.
Dia bingung ingin memakan itu atau tidak.
Aku suka cebol.
Tak boleh bilang "cebol", harusnya "orang mungil".
Aku tidak suka istilah "orang mungil".
"Mungil" agak mendominasi. "Orang"? Ayolah, itu memaksakan.
Dwarfisme masalah yang berkembang.
Orang katai menemuiku usai acara.
Tidak persis setara. Mungkin di sini.
Dia tidak marah, tapi sumbunya agak pendek.
Dia tidak senang.
Bukan bahan olokan. Ada kawanku yang katai, meninggal tahun lalu.
Dia menghabisi nyawanya. Ya, bunuh diri.
Lompat dari trotoar.
Ada yang membawa anak. Berapa usiamu, Bung?
Tujuh belas.
- Maaf? - Tujuh belas.
Tujuh belas.
Tujuh belas, tapi ini di Southend. Kau bisa saja ayah empat anak.
Kita tidak tahu.
Di sini berbeda, 'kan?
- Itu kekasihmu? - Ya.
Tujuh belas, kau punya kekasih?
Masih pakai jari atau sudah penis? Apa?
Jangan menghakimi. Aku bertanya.
Aku merusak malammu. Maaf.
- Siapa namamu? - Charlie.
- Charlie? - Ya.
Sesuai yang kau jual.
Itu Charlie Charlie.
- Apa pekerjaanmu? - Pekerja taman hiburan.
- Kau bekerja di taman hiburan. - Ya.
Saat bercinta, apa kau bilang, "Ingin cepat, teriak lebih keras"?
Aku pergi bersafari. Ada yang pernah bersafari?
Sedikit. Jika tidak, akan kuceritakan.
Pada dasarnya, safari adalah kebun binatang tak nyaman.
- Semua pernah ke kebun binatang, 'kan? - Ya.
Di kebun binatang, kau lihat hewan, tapi bukan di lingkungan alami.
Saat safari, kau berada di lingkungan alami.
Kekurangannya hanya tak bisa lihat hewannya.
Kau keliling dengan bedebah pakai jip yang berkata,
"Macan tutul itu nokturnal."
Aku tidak. Bangunkan dia.
Aku akan membahas rasialisme.
Ini pria kulit putih heteroseksual yang bicara, maka perhatikan.
Black Lives Matter terjadi dan menimbulkan pertanyaan sangat penting.
"Apakah aku rasialis?"
Jika kau penasaran, lakukan ini.
Tanyakan kawan dekat berkulit hitam. "Apakah aku rasialis?"
Jika tak punya kawan berkulit hitam…
Ini peraturan bagus, jika kau kulit putih dan akan membahas ras,
seharusnya tak melibatkan otot leher.
Jika merasakan dorongan sebelum bicara untuk melihat sekeliling...
tutup mulut saja.
Black Lives Matter, itu hal bagus.
Orang yang tak paham, ikut-ikutan dan berkata, "Semua Nyawa Berarti."
Yang benar saja.
Seperti, "Selamatkan Paus."
Lalu ada yang bilang, "Selamatkan Semua Hewan."
Ya, tapi orang menombak merpati bukanlah masalah besar, dasar dungu.
Ada penonton berambut merah?
Kita taruh mereka di belakang dalam gelap, 'kan?
Itu kualitas senjata, bukan? Apa…
- Siapa namamu? Baju biru? - Roger.
Roger.
Hai. Senang berjumpa denganmu.
Rambut merah bertemu disabilitas, 'kan?
Kau bisa parkir di tempat kau suka dengan warna itu.
Kulitmu seperti terbakar saat kau memeriksa ponsel.
Harus pakai 50 SPF kalau mau buka kulkas.
Apa pendapatmu tentang rambut merah, Roger?
Tidak apa-apa.
"Tidak apa-apa." Itu sikap yang benar.
Apa yang akan kau lakukan?
Aku tidak suka istilah "ginger".
Jika kau bilang "pirang" atau "brunette", itu penciri.
No comments yet. Be the first to leave one.