Первые 200 строк.
Selamat pagi, Mzansi.
Selamat datang di Good Morning Jozi. Aku Masechaba Ndlovu.
Pagi hari ini amat menarik di Johannesburg.
Kepolisian Jo'Burg menerbitkan buletin untuk para opsir
setelah akhir pekan maut di kota.
Tertulis juga dalam buletin bahwa pelaku penembakan geng baru-baru ini
bersenjata cukup kuat untuk menembus rompi antipeluru.
Saatnya pertunjukan, Bos.
Mari kita mulai.
Membuka kepada pasukan kepolisian topik jumlah senapan serbu
di jalanan Afrika Selatan.
Sebuah topik yang akan kita bahas dengan tamu studio kami pagi ini,
agen intelijen nasional, Jazmine Permen.
Yang lebih menarik lagi adalah Mogomotsi Masire,
salah satu anggota utama geng bersenjata
yang terkenal dan perantara pengiriman uang kontan Jo'Burg,
akan dibebaskan dari penjara hari ini.
Yakin, Bung?
Jadi, kini pertanyaannya, perlukah masyarakat kita takut?
Telah bergabung di studio, Bu Gumede. Selamat datang.
Jadi, faktanya tak berubah,
dari empat anggota geng, hanya satu
ditangkap dan dipenjara,
dan hanya karena dia menyerahkan diri.
Tiga lainnya tak pernah dipenjara.
Maaf, apa pertanyaannya, Masechaba?
Dengan kejahatan senjata yang kian menanjak, apa hukum kita gagal?
Menurutku tidak demikian. Penegak hukum melakukan tugasnya.
Mahograd Masire dituntut
dan dipenjara atas kejahatannya.
Kejahatan yang dia akui.
Aku berharap akan tiba harinya saat penjahat akan diadili,
bukan mengakali polisi, seperti yang sering terjadi.
Saat kami kembali, kami akan menyelidiki masalah kendali senjata di Afrika Selatan,
bersama tamu terhormat kami.
Rekamannya sudah bagus. Terima kasih.
Kau ini kenapa? Kita sudah sepakat.
Jangan bertindak kurang ajar.
Kau tahu? Ini terakhir kalinya kau mengolok-olok departemenku.
POLISI
Katamu tak ada senjata. Aku kenal mereka. Jangan ada korban.
Itu hanya akan memotivasi mereka.
Baik. Waktumu sepuluh menit
sebelum penjaga kembali dari istirahat.
Setelah itu, waktumu lima menit sebelum bantuan datang.
Dan kotaknya?
Kotak paling berharga yang terdekat dengan brankas.
- Ya. - Baiklah.
- Lemari besinya terbuka? - Ya.
Tak mungkin kau bisa masuk.
Ada tiga tahap pengamanan, dua tahap pertama itu sensor panas.
Begitu kau masuk, sistemnya mendeteksi suhu tubuh.
Setelahnya, ada sistem lain, Red Ants, pasukan…
- Sedang apa kau? - Harus tampak seperti sungguhan.
Buka.
- Ya, santai. - Nenek-nenek saja ingin menantangnya.
Bukan, Bung. Sampai nanti.
Bilang pada si pria.
Diam.
- Di mana berliannya? - Di sini.
- Kau yakin soal ini, Bos? - Buka lemari besinya.
Kami tak akan pergi tanpamu, Bos. Ke mana kau pergi, aku ikut.
Dia beri umpan, tapi tak disambut.
Begini, intinya adalah menekan sampai dia mengamuk.
Aku juga tak paham bagaimana dia bisa.
Jika aku jadi dia, aku pasti sudah menembak seseorang.
Kapan berita menjadi soal rating?
Aku sungguh bahagia karena dia tak begitu.
Kita diawasi dengan ketat.
- Kantor Presiden? - Ya. Presiden menuntut ada penangkapan.
Walau Muzi George menjengkelkan, itu membuatku berpikir.
Aku ragu George yang membuatmu berpikir.
Apa pun itu, Kapten, itu sudah lama mengganggumu.
Ini bukan tentang Mo Masire?
Simon Masire.
Ya, pebisnis terbaik tahun ini, dipilih oleh rekan-rekannya.
Bajingan licik.
Hati-hati, Pak. Kekagumanmu yang mendalam
kepada Masire yang lebih menawan bisa kentara.
Pak, kantor pusat Lapis Baja Afrika baru dirampok.
Berengsek.
- Di mana Detektif Permen? - Tak ada yang lihat sejak wawancara.
- Hubungi dia. Ayo pergi. - Ya, Pak.
Hai. Terima kasih sudah berhenti. Kau penyelamat.
Tak masalah. Kau mau ke mana?
- Belum tahu. Kau ke arah mana? - Kau yang butuh tumpangan.
Ini sepertinya salah.
- Maaf, seharusnya aku tak berhen… - Aku tahu ini terdengar aneh.
Tolong percaya padaku.
Bagaimana bisa aku percaya penumpang yang tak punya tujuan?
Seharusnya aku tak berhenti. Phumzi, kau…
Aku akan blak-blakan.
Tolong jangan tinggalkan aku.
Aku baru dibebaskan dari penjara.
Jangan takut. Aku tak mau melukaimu.
Aku butuh bantuanmu, aku tak tahu harus ke mana.
Di mana keluargamu?
Aku tak punya keluarga.
Kau bisa menurunkanku di dekat kota. Kumohon?
Aku anak tunggal di rumah, dan ibuku sakit parah.
Aku turut prihatin.
Jangan jawab, dengarkan saja.
Aku berupaya keras memastikan ibuku dapat pengobatan yang dia butuh.
Dia hanya punya aku. Jika kau bunuh aku,
seorang wanita tua tak akan bisa minum obat,
dan dia bisa mati.
Tidak, aku…
Aku banyak berbuat buruk dalam hidupku, tapi membunuh tidak.
Aku tak mungkin mulai membunuh dari orang yang sudah baik padaku.
Terima kasih.
Terima kasih.
Kau sungguh cantik.
Bukankah kau penuh kejutan?
Aku merindukanmu.
- Apa Tlotlo tak ada? - Dia mengemasi tasnya dan pindah.
Mo dibebaskan hari ini.
Ya, aku berusaha menjauhkannya dari TV,
tapi itu ada di berita pagi.
Kita perlu yakinkan dia bahwa semua tetap sama.
Bukan, kau yang harus meyakinkannya.
Kau harus yakinkan dia dan aku bahwa tak akan ada yang berubah.
- Ya. - Baik.
- Terima kasih sudah mengantar. - Dengan senang hati.
Aku tahu kau bilang tak punya keluarga, tapi aku tak percaya.
Aku yakin ada seseorang.
Aku punya kakak laki-laki,
dan adik perempuan.
Mereka meninggalkanmu saat kau di penjara?
Aku sangat prihatin soal itu.
Kau punya istri, anak-anak?
Aku punya putra…
dan mantan istri.
Kurasa mereka juga tak mengunjungimu di penjara?
Istriku menceraikanku saat aku di penjara.
Wow. Apa hubungan kalian tak kuat untuk bertahan selagi kau dipenjara?
Aku amat bersyukur atas bantuanmu untukku.
Tapi aku harus pamit.
Tak masalah. Ini tokoku. Kau bisa datang jika butuh sesuatu.
Oke.
Kuharap kau bertemu kembali dengan keluargamu.
Kita semua butuh seseorang, terutama keluarga.
Dan…
Tak banyak, tapi kuharap itu membantu.
Ambillah.
- Terima kasih. - Senang bertemu.
Terima kasih.
Hanya satu penjahat yang bisa membobolnya
dan kabur dengan berlian bernilai jutaan,
dengan begitu tepat dan anggun.
Tapi itu mustahil.
- Tak peduli krunya seandal apa. - Bagaimana bisa?
Bagaimana manusia bisa masuk ke lemari besi itu,
keluar tanpa terdeteksi? Hewan kecil pun tak bisa melakukan itu.
Tiap jengkal lemari besi itu dilengkapi sensor termal, seluruhnya.
Sampai nanti.
- Halo. - Ya, Bung.
Boleh kupinjam ponselmu?
- Terima kasih. - Silakan.
Hai. Apa kabar?
Aku baik, terima kasih. Aku mencari Tlotlo Masire.
Ya, aku teman lama. Aku hanya mencari nomornya.
Terima kasih. Bisa bantu catat?
Tunggu sebentar. 0-0-7-1…
Astaga.
Halo.
Halo. Bicaralah. Apa-apaan?
Hai. Tlotlo.
Ini aku, ayahmu.
Aku akan menyampaikan hal yang semua orang justru bungkam.
Bebaslah.
Mo sudah keluar.
Dan dia belum mengontak kita.
Kawan, aku tak bisa bilang itu tidak aneh.
Tuan-tuan.
Ingat, kita menelantarkannya di bui selama ini
tanpa berkomentar,
tanpa membelikannya rokok, atau mengiriminya uang.
Jika kau di posisinya, kau akan apa?
Apa akan mengontak?
Sobat, aku pasti marah.
Aku pasti jadi ancaman, dan persis itu maksudku.
Kita harus memperlakukan Mo sebagai musuh,
sampai Mo membuktikan sebaliknya.
Jadi, kita bagaimana?
Apa kita tunggu saja dia bergerak?
- Bukankah kita harus lebih proaktif? - Maksudmu menyerang?
Simon, Mo saudaramu.
Ini pasti tak mudah bagimu.
Kita bukan hewan, tapi kita harus cerdas di sini.
Yang kutahu hanya ini saudaraku.
Jangan lupa, kita bebas karena dia berkorban untuk kita.
Kalau begitu, kau jelaskan kami harus apa. Apa kau akan menghalangi kami dan Mo ?
Karena kita tahu betul kemampuan Mo,
terutama saat dia termotivasi.
Kita punya anak, Simon. Punya keluarga.
Menurutmu ini bisa membahayakan kita?
Aku harus jawab ini. Tlotlo.
Di mana kau? Ibumu khawatir.
- Kurasa kau harus menemuinya. - Siapa?
Memang menurutmu siapa?
No comments yet. Be the first to leave one.