Первые 200 строк.
Boleh aku pergi sekarang?
Selamat tinggal! - Dadah.
Definite, kemari.
Masuklah.
Dia baru saja pergi...!
Isi penuh tangkinya.
Ayo pergi...
Hei, Faizal...
Seseorang baru saja menembak ayahmu.
Seseorang menembak ayahmu.
Danish... tunggu, Nak.
Masuk, Ibu! - Aku ingin ikut.
Kau harus tetap di rumah.
Takkan terjadi apa-apa pada Ayah. Shama, bawa dia masuk.
Biarkan aku ikut denganmu, Nak.
Bukankah kau harus bersama Ayah, keparat?
Aku ketiduran. - 'Ketiduran? Ketiduran?'
Sialan!
Kau selalu teler di teras rumah Fazlu.
Seperti saat kau menindih kakak ipar di kamar.
Cukup!
Cepatlah!
Kami sedang minum teh...
...saat mobil Tuan Sardar Khan datang.
Kami mengenalinya karena dia sering ke sini.
Tiba-tiba ada tembakan keras dan beberapa pria bermotor...
Ayah!!
Siapa yang membunuhnya?
Siapa bajingan yang membunuh ayahku?
Tuan, mereka telah menangkap salah satu penembak.
Keluar, bajingan!
Keluar...!
Dengar, kau tak bisa... - Mundur.
Kubilang mundur!
Habisi saja keparat itu!
Bicaralah, keparat! Bicara.
Dia baru saja pergi...!
Hei, Faizal...
...mari bawa pulang jenazah Ayah.
Tapi... kami sedang dalam penyelidikan...
Tutup mulutmu!
Ini mayat ayahku, dan dia akan langsung dibawa pulang.
Persetan dengan penyelidikan kalian.
Paham?
Ayo, angkat dia...
Kabar luar biasa, Tuan Singh!
Petugas kita akhirnya bisa bernapas lega setelah 12 tahun.
Sepertinya takkan lama.
Sardar Khan telah tiada, tapi dia meninggalkan 4 anak.
Lima. - Maaf?
Lima.
Empat dari istri pertama, dan satu dari istri kedua.
Anak kedua adalah juru masak di tempatku.
Temui anak kelima Sardar Khan.
Siapa namamu?
Definite. - Kenapa 'Definite'?
Karena aku punya misi pasti dalam hidup.
Yaitu?
Kematian Sardar Khan.
Tapi dia sudah mati.
Berapa roti yang sudah siap? - Sekitar 8.
Cepatlah... mereka sedang menunggu.
Kusajikan kari dulu kalau begitu.
Bagaimana kalian bisa makan?
Aku juga bagian dari keluarga Kak Sultan.
Kalian sekarang keluargaku.
Lalu orang tuaku?
Mereka orang tuaku juga.
Tapi bagaimana dengan ucapan ibumu tadi?
Kau kesal karena orang lain yang menghabisi ayahmu, bukan kau.
Kak Saggir memanggilmu...
Ya, sebentar, Bu...
Pergi ke neraka, pecundang!
Kau harus selalu waspada setiap saat.
Fazlu membiusmu dengan ganja dan melapor ke Sultan bahwa Ayah pergi sendirian.
Sultan ada di sana bersama Saggir dan satu orang lagi.
Dan seperti orang bodoh kau terus bergaul dengan 'sohib'mu!
Mau bermain dengan pengkhianat, belajarlah memakai topeng.
Besok pagi, di pusat perbelanjaan.
Beri tahu aku jika kau tak bisa melakukannya, Faizal.
Duduk.
Dia tidak ada di sini.
Tapi Faizal bilang dia akan tiba jam 11 pagi.
Jam berapa sekarang?
Ayo... kita pergi, Nak.
Sekarang apa yang kau lakukan?
Jauhi gadis berambut panjang di sekolah.
Lihat kutu gemuk ini.
Masuk ke kamar, Nak.
Di mana Shama?
Boleh aku bertanya sesuatu? - Ya.
Tak bisakah kau tinggalkan pertumpahan darah ini dan urusi keluarga?
Memohon nyawa untuk saudaramu, hah?
Tidak... nyawamu.
Dengar Shama Parveen, jangan pernah campuri urusanku.
Paham?
KANTOR POLISI DHANBAD
Aku menyerahkan diri... karena mencuri kayu.
Tenang saja, Kawan!
Ada polisi di sini.
Persetan dengan mereka.
Ya, aku marah dan sempat mengancam akan membunuhnya...
...tapi aku bahkan tidak ada di pusat perbelanjaan pagi itu.
Kenapa kau menyerahkan diri kalau begitu?
Aku sempat berhenti dan menurunkan kayu dari kereta.
Saat kutahu itu ilegal, aku memutuskan menyerahkan diri.
Apa kau punya saksi lain?
Tidak, Yang Mulia.
Kau dibebaskan dengan denda 500 Rupee.
Jika tidak dibayar akan berakibat...
...15 hari kurungan penjara.
Lari... lari, keparat!
Kebaikan hati ini...
Belas kasih ini...
Kebaikan hati ini...
Belas kasih ini...
Butuh waktu bertahun-tahun bagiku...
Butuh seumur hidup untuk membalas budi kalian.
Guddu.
Cinta harus dibayar dengan harga yang mahal.
Namun setiap kali mereka bicara tentang cinta atau kesetiaan...
Cinta harus dibayar dengan harga yang mahal.
Namun setiap kali mereka bicara tentang cinta atau kesetiaan...
...dunia akan mengenang nama kita...
...dunia hanya akan menceritakan kisah kita.
Kebaikan hati ini...
Belas kasih ini...
Butuh waktu bertahun-tahun bagiku...
Butuh seumur hidup untuk membalas budi kalian.
Dia benar-benar tidak bisa diandalkan.
Narkoba telah membuatnya tidak berguna.
Kepedihan kehilangan di usia muda...
...dan Danish adalah anak sulungku.
Tenanglah... aku mengerti...
Faizal...
...kapan darahmu mendidih, Nak?
Ayahmu membayar kecanduanmu dengan nyawanya.
Sekarang saudaramu yang menanggung harga keteledoranmu.
Jadi kapan kau akan menarik pelatuknya, Nak?
Kapan kau tinggalkan para pecandu itu dan balas kematian ayah dan saudaramu?
Lihat matamu... mati karena narkoba.
Cukup, Nagma...
Jika tangan kotor itu hanya bisa makan, biar kuberi makan kau, keparat!
Sekarang apa yang kau tatap?
Di mana pisau itu?
Hentikan. Apa kau sudah gila?
Sini... biar kupotong jari-jari tak berguna itu.
Cukup, Ibu. - Akan kupotong mereka.
Ini gila, Nagma!
Tutup mulutmu!
Kau jangan ikut campur.
Ayah, kakek, saudara... anakmu Faizal akan membalaskan semuanya.
Jangan menangis, Ibu tua.
Ibu tua ini tak sanggup melihat anak mudanya mati di depannya.
Terus teler takkan membantumu melupakan kematian Danish.
Siapa yang ingin lupa, Paman?
Sudah sebulan sejak kita memakamkannya.
Aku tahu itu.
Lalu apa yang kau lakukan soal itu?
Sama sepertimu...
...menghitung hari!
Hidup Fazlu Ahmed!
Fazlu Ahmed...
Hidup pemimpin pemuda baru Wasseypur!
Mau ke mana kau?
Fazlu menang pemilihan hari ini.
Bawa Asgar bersamamu.
Dia temanku.
Aku akan memberinya selamat sendiri.
Makanlah sesuatu, Sayang.
Sampai kapan kau akan menyalahkan diri sendiri?
Hidup Kak Fazlu! - Tutup mulutmu, keparat.
Fazlu...
Hei, Faizal...
...sohibku datang. Menyingkir sana.
Dari mana saja kau, Sobih?
Kami berpesta karena aku menang... dari mana saja kau?
Semua orang meludahi diriku di rumah.
Dan orang-orang menertawakanku di luar... para bajingan itu.
Kenapa?
Karena para keparat itu merasa...
...Faizal mengorbankan darahnya sendiri demi persahabatan.
Ibu tuaku bilang jika aku tidak lahir, takkan ada dukacita di rumah Sardar Khan.
Apa maksudmu?
Maksudku... ini, sulut dulu ganjanya.
Ini sangat kuat, Kawan.
Kenapa menatapku begitu, Kawan?
Aku tadinya pikir akulah Pahlawan muda penuh amarah yang lahir di sarang penjahat...
...tapi ternyata aku hanya peran pembantu yang bisu.
Ternyata orang lain yang jadi Pahlawannya.
Siapa?
Aku datang...!
'... dia bermain batu. Dia berputar dan melompat...'
'...terbuat dari tetesan embun. Dan hanya singgah di tempat suci!'
Kematian Fazlu menjadikan Faizal kekuatan yang diperhitungkan.
Orang-orang takut padanya setelah pemenggalan kejam itu.
Semua pedagang besi ilegal juga ketakutan dan segera menjadi sekutunya.
Bahkan seons besi pun tak bisa dipotong atau dijual tanpa izin Faizal.
Bahkan polisi pun terlibat.
Setiap kantor polisi ada dalam daftar gajinya...
No comments yet. Be the first to leave one.