Первые 200 строк.
Ini aku, namaku Sun, dan aku punya kekuatan istimewa.
Aku bisa mendengar pikiran orang.
Haruskah disebut istimewa?
Jika dengar banyak pikiran orang lain,
aku akan stres dan sakit kepala seolah
kepalaku akan meledak berkeping-keping.
Jadi, aku tak mau dekat dengan siapa pun.
Itu membuat orang sekitarku, termasuk klub penggemarku,
menjulukiku…
si Angkuh.
SEHARI SEBELUMNYA
Hei, ayo!
Pengikut kita bisa tinggal dua.
Minimal tiga.
Kau, aku, dan Keuan.
Sun, kendalikan dirimu.
Berapa tahun kita kerjakan "Tiap Hari bersama Sun"
sebelum sampai sejauh ini?
Kau bilang tak mau kerja tetap,
tak mau bertemu banyak orang
karena bisa dengar pikiran orang,
jadi memintaku membuat laman ini
di YouTube dan Facebook.
Kini setelah pengikutmu banyak,
kau praktis lari. Kenapa?
Aku tak mau dengar suara pikiran mereka,
jadi sakit kepala. Aku tak suka.
Jadi, kau akan terus lari?
Kau mau jadi si Angkuh?
Penggemarmu jadi anti,
jumlah subscriber mungkin sudah negatif.
Coba kutanya,
antara subscriber, penonton, dan aku,
mana yang lebih berharga?
Penonton!
Karena itu uang,
jika tak ada penonton, aku berhenti dan cari kerja lain.
Kenapa mengomel terus?
Kini aku bersamamu membuat konten agar ditonton.
Kau di sini, tetapi tak sungguh di sini.
Aku bisa dengar.
Aku tahu. Tak mau aku mengomel?
Dengar langsung saja.
Berhenti berpikir! Aku jadi sakit kepala!
Berpikir yang benar.
Suka mendengarkan ini?
Dengarkan saja, musik atau sesukamu!
Naiklah.
Ayo.
Tolong berhenti!
Terima kasih mau berhenti.
Mobilku mogok.
Bisa antar aku ke desa?
Ini Sun! YouTuber angkuh itu.
Dia manis. Sayang tidak ramah.
Angkuh, sangat angkuh, masih angkuh.
Aku banyak tersenyum, masa kau tidak?
Temannya? Tampak sama payahnya.
Atau punya bensin?
Aku harus punya?
Bagaimana mereka ke sana?
Banyak mobil di sini, pasti bisa temukan satu.
Keuan!
Sun! Pete! Bagaimana bisa kemari?
Naik mobil.
Brownie.
Kau kenapa?
Aduh! Kau gila? Minggir.
Maaf. Apa kencang?
Apa yang kencang?
Jijik!
Apa beda aku dan Sun?
Semuanya. Minggir!
Sun, aku Brownie penggemarmu.
Halo.
Aku rindu kau.
Aku juga.
Lama tak bertemu. Apa kabar?
Lama sekali.
Baik.
Bagus.
Ayo kuajak berkeliling.
Kenapa tak bilang mau datang?
Hei!
Tubtab.
Bagaimana kau kemari?
Telur pecah!
Telurnya langsung pecah.
Apa kena kau?
Ambil. Ih!
Ih! Jorok.
Kubilang mereka akan sampai.
Dia juniorku di kampus.
Dia menulis tesis soal cara komunitas
dan minta bantuan informasi.
Tak tahu dia penggemarmu.
Senang ada orang lain,
jadi dia bisa terbiasa.
Kalau kau? Punya ide konten?
Seperti ke bendungan atau berkeliling desa?
Bendungan bukan masalah,
tetapi dia yang harus dipikirkan.
Membuatnya lebih ramah,
mudah didekati, bukan YouTuber angkuh begini
sangatlah sulit.
Sangat sulit!
Ya, tetapi harus kulakukan.
Jika tidak, laman kita ditutup,
lalu kita harus berpisah.
Kau ahli mengancam.
Baiklah.
Akan kulakukan apa pun.
Kecuali dua hal.
Kau bilang apa pun.
Hanya dua hal.
Baiklah.
Satu, Keuan.
Kau harus jadi MC bersamaku.
Dua,
aku tak mau bersama lebih dari lima orang.
Setuju! Ayo mulai.
Keuan, ajak temanmu makan.
Apa menunya, Ayah?
Terserah, asal jangan pegang satu sama lain.
Ayahmu bilang, "Jangan pegang satu sama lain."
Bagaimana ayahmu tahu aku mau memegangnya?
Bagaimana dia tahu aku mau memegangmu?
Apa? Kau mau memegangku?
Jangan bilang kau bisa baca pikiranku.
Aku tak sepertimu,
aku bisa kendalikan diri.
Halo, Semua!
Kenapa kalian di sini?
Tubtab.
Kau sudah bersih?
Kenapa? Kalau belum, kalian bertiga mau bantu aku?
Kenapa kau ada di Bangkok?
Aku belum melihatmu pulang.
Aku tak mau,
akan kuberi tahu posisi kerjaku di sana.
Dengarkan.
Aku manajer penulis baru
dengan nama pena Penulis Indra Keenam.
Karyanya tak membuatmu melihat hantu,
tetapi saat membaca,
kau jadi tersihir dan terobsesi.
Kau manajer?
Aku juga.
Aku manajer YouTuber terkenal.
- Semua video kami menghantam… - Sungguh?
Ya, menghantam lantai.
Jangan katakan.
Kau dengar padahal pakai headphone?
Semua bilang MC-nya angkuh.
Apa benar?
Kenapa, ada masalah?
Tidak.
Aku hanya mau bilang orang seperti kita butuh dukungan dari penggemar.
Jika sikapmu angkuh begini,
tak heran kau gagal.
Baik laris atau gagal,
angkuh atau ramah,
itu urusanku, bukan urusanmu.
Hari ini, warga desa Mae Rawan.
Kita akan belajar soal menggiling beras merah, dengan dukungan
dari EGAT di Bendungan Bhumibol.
Sun, lakukan.
Aku tahu kau tak suka diganggu saat rekaman,
jadi aku bersorak dari sana.
Bagus kau tahu.
Tolong lakukan tesismu di sana
dan menyingkir.
Mulut jahat.
Kalau bukan teman Sun, kau akan menghadapiku.
Bagus, aku suka menghadapimu.
Lucu sekali. Ayo mulai.
Apa?
Orangnya jauh lebih banyak.
Abaikan saja.
Ya?
Sun,
lima, empat, tiga, dua, mulai.
Halo, kita di komunitas Mae Rawan,
di sekitar Bendungan Bhumibol.
Kudengar beras di sini bagus.
EGAT membeli beras dari warga desa
untuk restoran di Bendungan Bhumibol
dan ada juga yang dijual kepada turis.
Jadi, ini pemasukan berkelanjutan bagi komunitas.
Ya, benar.
Kita lihat peragaan mesin penggiling berasnya.
Mari kita lihat.
Berikutnya.
Permisi! Boleh temanku coba?
Tentu! Mari.
Tidak mau.
Lakukan. Sekali saja. Kau bisa.
Beri tepuk tangan.
Hei, Sun.
Apa dia kena serangan panik?
No comments yet. Be the first to leave one.