99 Names of Love

99 Names of Love (99 Nama Cinta)

Скачать Indonesian субтитры

Информация о релизе

99 Nama Cinta 2019 NF WEB-DL
Комментарий от Putra14
Netflix Retail.

Теги

Web-DL
web-dl
web
WEB-DL
Опубликовано: 2020-08-05
Загрузки: 17
Для слабослышащих: No

Предпросмотр субтитров (Indonesian)

Первые 196 строк.

Dunia politik dan hiburan telah lama berdampingan.

Bibir Talia dan tim investigasi

akan mengungkap fakta dari narasumber yang terpercaya secara eksklusif

hanya di Bibir Talia , bukan sekadar gosip.

- -

- - Berhenti! Talia boleh duduk.

Durasi?

- Mbak, maaf, ini genting. - Iya. Kenapa?

Mbak Villy merajuk, tidak mau direkam. Bagaimana, Mbak?

Tidak mau direkam bagaimana? Tidak bisa!

Berapa durasinya?

Sebentar lagi kita mengudara.

- Ayo, kita pulang! - Mbak.

- Ibu Villy sudah mau pulang. Bagaimana? - Jangan.

Kasih teleponnya ke Candra sekarang.

- Mbak. - Mbak, sebentar.

Kamu pasti yang suka kucek-kucek, jemur, jemur.

- Satu menit. - Ya, Mbak ?

Can, aku tidak mengerti.

Kamu sudah biasa melakukan ini. Kamu mengerti caraku bagaimana.

- Ya, tapi... - Mas, cepat.

- Mbak Villy! - Sudah! Ayo!

Bohongi dia, paksa, tarik, dorong dia ke kamera.

Yang penting aku mau dia sekarang direkam. Mengerti?

Mbak Villy-nya kasihan.

Ini cuma bisnis, Can. Tidak usah pakai perasaan.

- Masa makan siang saja tidak ada. - Sepuluh menit saja, Bu.

- 30 detik. - Aku tidak mau tahu, pokoknya bereskan.

Kalau kita sampai disalip program lain, itu semua salahmu.

- Mengerti, kamu? - Iya.

- Sepuluh menit? Aduh. -

Sebentar saja, Mbak.

Baik, kita sudah terhubung langsung dengan istri sah Pak Bambang, Ibu Villy.

Selamat siang, Ibu Villy.

Selamat siang, Ibu Villy. Apa kabar?

- Halo, Mbak Talia. Kabarnya baik. - Baik, Bu Villy.

Terima kasih sudah bergabung di Bibir Talia pada hari ini.

- Sekarang ada yang mau bicara dengan Ibu. -

Yaitu adalah

- narasumber kami. - Bisa saja.

- Ini siapa? - Halo, Mbak Villy.

Katanya Reza Rahardian.

Saya Shasha.

Kamu siapa, ya?

Saya istri Pak Bambang, suami Mbak Villy.

Oke, Aryo, musik sedih. Tahan.

Saya mau kasih tahu Mbak Villy

kalau saya sudah menikah dengan suami Mbak Villy

dua tahun lalu secara siri.

Apa?

Saya ke sini untuk menuntut hak-hak saya pada suami Mbak.

Mungkin Mbak Villy tidak percaya,

tapi lihat foto ini.

Ini foto kami sedang akad.

Apa?

Acara apa ini?

Kalian tidak punya hati!

- Parah! - Halo? Ibu Villy?

- Parah kamu! - Ibu Villy,

- saya masih terhubung dengan Anda? -

Wah, hilang sinyalnya. Hilang lagi.

Sepertinya ada gangguan teknis.

Dan terima kasih Sasha sudah bergabung bersama kita.

Jangan ke mana-mana, Pemirsa. Tetap di Bibir Talia . Lebih dari gosip.

Terima kasih banyak, tim, untuk kerja keras kalian hari ini.

Khususnya Mlenuk.

Sudah berhasil membuat Mbak Villy direkam.

Jadi, bagaimana, Mlenuk, sampai akhirnya Villy mau direkam?

Jadi, Mlenuk bilang ini sama Mbak Villy. Kita mau kasih kejutan untuk Mbak Villy.

Mbak Villy dapat kesempatan langsung untuk mengobrol dengan

- Reza Rahadian! -

- Serius? - Iya, serius. Dia percaya, Mbak.

Ya Tuhan, Mlenuk.

Tapi aku acungi jempol. Usahamu keren sekali.

- Terima kasih, Mbak. - Itu, Can.

Bagaimana, Can? Malu, Can.

Kamu sebagai produser lapangan,

masa kalah dari anak bagian kreatif seperti Mlenuk ini.

Lain kali, lebih spontan, ya.

Kalau seperti ini, 'kan, malu jadinya.

Ya?

- Kamu kirim surel ke aku, ya. - Di depan ada tamu.

- Iya, Bu. -

Maaf, Mbak. Ada tamu mau ketemu Mbak Talia.

Siapa?

- Siapa? - Tidak tahu!

Tidak tahu, Mbak.

Ha? Kenapa bisa tidak tahu? Laki-laki atau perempuan?

Laki-laki, Mbak.

- Ya? - Kamu kirim siapa lagi ke kantor?

- Siapa? - Ini sepupumu yang mana lagi ?

Banyak sekali sepupumu yang mau dikenalkan.

Tidak.

Bukan sepupumu? Yang benar?

Bukan, maksudku, sepupuku sampai Jakarta akhir pekan nanti.

Hari Sabtu rencananya baru aku kenalkan ke kamu. Memang kenapa?

Ya sudah. Baik kalau begitu.

Aku usir saja dia. Tidak jelas.

Dia tersinggung.

Talia?

- Silakan duduk. - Terima kasih.

Bagaimana? Ada perlu apa ini?

Saya datang kemari karena diminta untuk mengajari kamu mengaji.

Saya?

Betul.

Diajari mengaji, ya?

Wah, kalau mengajar mengaji,

kebetulan studionya bukan di sini karena ini studio gosip.

Yang biasa mengadakan Kuliah Subuh itu di sebelah...

- Bukan. - Yang biasa mengajar mengaji.

Talia ini putri dari Ibu Dahlia, 'kan?

Ya.

Ibu kamu yang meminta saya ke sini.

Ibu saya?

Kenapa bisa tahu nama ibunya si Bos?

Mungkin diajak taaruf.

Mungkin saya akan konfirmasi ke ibu saya nanti.

- Tapi... Nuk! - Cepat!

Hari ini, saya sedang sibuk sekali. Kebetulan jadwal sedang padat.

Jadi, lebih baik saya permisi dahulu, ya?

Talia.

Nanti saya bereskan dengan ibu saya. Oke?

Terima kasih, ya, Pak Ustaz.

- Ya. - Sama-sama.

Assalamulaikum.

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

- Halo, Bu. - Hei.

- Masih kerja saja, Bu. Sudah malam. - Ya.

Bu, masa aku punya cerita lucu.

Tadi di kantor, tiba-tiba ada orang datang. Laki-laki.

Eh, mau mengajari aku mengaji.

Oh, ya?

Tidak tahu. Dia mengakunya kiriman Ibu.

Ganteng, tidak?

Ganteng itu relatif, ya.

Ya, badannya tinggi, kekar, kulitnya sawo matang.

Penampilannya seperti Pak Haji begitu. Yang pakai sorban, peci, baju koko.

Berarti

persis seperti tamu yang ada di bawah itu.

Ha? Siapa?

Tidak ada saat aku lihat di bawah tadi.

Ada di ruang keluarga.

Bu, itu siapa? Ini tidak benar.

Itu orang yang tadi mempermalukan aku di kantor.

Itu siapa?

Kiblat. Masa kamu tidak ingat?

Anaknya Kiai Umar, sahabatnya Ayah.

Dahulu, 'kan, kamu sering ketemu waktu masih kecil?

Bu, lalu kenapa dia harus di sini dan mengajariku mengaji?

'Kan, aku tidak pernah minta aku diajari mengaji?

Sudah, ah.

Ibu sedang sibuk,

mau menyelesaikan desain kedai kopinya Ibu Elly.

Ibu sekarang bicara saja dengan dia. Daripada aku yang turun.

Kamu apa-apaan?

- Ya sudah. Kalau begitu, aku yang turun. - Eh!

Talia.

Kiblat.

Maaf, sepertinya Talia belum bisa malam ini.

Tidak apa-apa, ya?

Ya, tidak apa-apa, Bu. Saya mengerti Talia butuh waktu.

Terima kasih sudah datang.

- Saya antarkan ke depan. - Ya.

Talia?

- Ya, Bu? - Ayo, diskusi.

Ibu mau bercerita pada kamu.

Tentang wasiat Ayah.

Ayah dan Ibu dari kecil bersahabat dengan ayah dan ibunya Kiblat.

Kita sudah seperti saudara.

Kamu tahu, tidak?

Nama kamu, "Talia", itu pemberian ibunya Kiblat.

Yang benar, Bu?

- -

Talia dari kata "tali".

Dan "a" adalah amanah.

Maksudnya supaya tali persaudaraan di antara kita tidak pernah putus.

Dan itu jadi amanah kita bersama.

Waktu itu, sudah puluhan tahun yang lalu,

Mas Umar sedang menyelesaikan pembangunan pesantren.

Tapi ternyata mereka kekurangan dana.

Ayah dengan senang hati membantu.

Kamu ingat waktu kamu masih kecil,

kita suka liburan ke kebun cokelat milik Ayah.

- Ingat? - Ya, Talia ingat.

Itu ikut diwakafkan juga.

Untuk bantu ekonomi pesantren.

Ayah kamu,

walaupun dia tidak belajar agama secara mendalam,

tapi dia cinta ulama.

Cinta ilmu.

Maka dari itu, dia mau bantu dengan apa pun yang dia bisa.

Yang paling istimewa dari cerita ini

waktu Mas Umar bertanya sama Ayah,

bagaimana cara mengembalikan uangnya.

Ayah kamu bilang, biar suatu saat nanti

dibayar dengan ilmu.

99 Names of Love subtitles in other languages

More Indonesian subtitles for 99 Names of Love

Комментарии

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left