Первые 200 строк.
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
DRAMA INI DIBUAT BERDASARKAN KISAH NYATA.
BEBERAPA NAMA DAN KEADAAN DIUBAH UNTUK TUJUAN DRAMATIS
DAN MENGHORMATI KORBAN DAN KELUARGA MEREKA.
SEMUA DIALOG IALAH REKAAN.
Pada tahun 1997, kru berita AS melacak Charles Sobhraj ke Paris.
Dia bebas tinggal di sana.
Apakah kau pria berbahaya?
Pertanyaan pertama ialah apakah aku membunuh.
Apa kau melakukannya?
Berdasarkan putusan pengadilan… tidak.
Aku telah menjalani sidang.
Aku telah dituduh.
Pengadilan memutuskannya.
Pertanyaanku belum terjawab, 'kan?
Itu jawabanku.
Ada yang mengatakan bahwa kau lolos dalam kasus ini.
Itu menurut majalah Time.
Mungkin itu benar.
Padahal aku tak bisa lagi disidang…
di mana pun di dunia.
Saatnya berpesta, para gadis.
Ayo.
Tunggu.
Alain!
Dia Alain, yang kuceritakan tadi.
- Selamat datang di Kanit House. - Hai.
- Beri mereka minuman, Ajay. - Baik.
Sepertinya ini malam menyenangkan.
Seperti biasanya, Sayang.
Tenanglah, biar demamnya turun.
Aku mau pulang.
Bisa bawakan tasnya kemari?
PEMERIKSAAN PASPOR
Kami dari Bangkok,
namun musim panas nanti, kantor akan dibuka di Paris dan Zurich.
Jaringan pengiriman barang kami ada di Asia dan Eropa Barat.
Jadi, kami bisa menawarkan harga menarik.
- Maaf. - Tak apa-apa.
Untuk siapa kau berbelanja?
Aku tak sungguh berbelanja.
- Kau orang Belanda? - Ya.
Namun bukan orang Eropa asli, 'kan?
- Kau seperti diriku. - Ya, ayahku dari Indonesia.
Ayahku dari India,
dan ibuku dari Vietnam.
Namun logatku mirip Prancis. Terkadang orang jadi bingung.
- Aku Alain. - Willem.
- Wim. - Istriku, Monique.
- Hai. - Salam kenal.
- Wim. - Ingin tahu harganya?
Baiklah.
Yang itu.
Itu pasti untuk seseorang.
- Ya. - Siapa namanya?
- Lena. - Lena?
- Wah, apa dia seorang profesional? - Ya.
Barangmu dilihat oleh seorang pakar.
Berapa harganya?
Jika kau mau, aku bisa menawarnya jadi… begini?
Terima kasih. Maaf, aku…
Aku harus pergi. Maaf.
Teman?
Berapa lama kau meninggalkan rumah?
- Setahun. - Dan uangmu belum habis?
Tidak, kami… berhemat.
Padahal kau mau menyampaikan rasa cintamu kepada Lena.
Ya, tentu saja.
Biar kuberi tahu…
Aku bisa membantumu mengubah batu safir itu menjadi berlian
di cincin platinum dengan setengah harga dari yang kutunjukkan,
bagaimana menurutmu?
A. GAUTIER, PEDAGANG PERMATA
Kita tak datang demi perhiasan.
DIBUAT DI BELANDA
Kita bisa ke Kathmandu, bahkan Kabul dengan uang itu.
Suatu saat kita harus pulang.
Kau mau pulang?
Apa pun boleh untuk kita.
Apartemen?
Rumah perahu, mungkin.
Seperti pasangan tua, ya?
Pasangan tua?
- Halo, Wim. - Lena.
- Hai. - Hai.
Astaga! Kau cantik sekali.
Ini tidak harus dibeli.
Cobalah.
Wah.
Ini masih mahal.
Kami mengerti.
Kau tak harus memutuskannya sekarang. Iya, 'kan?
Tentu saja.
Kita akan bertemu lagi di Bangkok, 'kan?
Yah, baiklah.
Yakin ingin kami menginap?
- Tentu saja. - Rumah kami selalu terbuka untuk teman.
Biarkan dia membelikanmu cincin, Lena.
Bolehkah?
- Yakin? Tidak… - Ya, tentu saja.
Ayo berdansa!
DUA BULAN KEMUDIAN KEDUTAAN BELANDA, BANGKOK
- Ya? - Pak Knippenberg?
Ya, Lawana?
Jam berapa staf lain pulang?
Selama itu, ya?
Pria yang bernama Pak Hilgers ini,
meminta bantuan untuk mencari saudari iparnya, Helena Dekker
dan Willem Bloem, pacar saudari iparnya.
Untuk membantu kita, dia juga mengirimkan sebuah paket
foto liburan dan surat ke sini.
Tetapi paket itu belum sampai.
Bagaimana kita menemukan mereka tanpa foto?
Boleh biarkan aku mengurusnya?
Tentu saja.
Apa kata mereka, Yotin?
Mereka membahas soal Komunis, Pak.
Di Vietnam, Laos, Kamboja.
Soal apakah revolusi bisa terjadi di Thailand.
Mungkin itu bisa mengatasi kemacetan.
Bunga melati, Pak?
Tidak, terima kasih.
Sial.
Yotin, mereka mulai pukul 16.00. Kita sudah telat 15 menit.
Jalan kaki saja? Ini Jalan Athidhaya. Jarak klub atletik 3 atau 4 blok di utara.
- Tetapi Pak… - Aku tak bisa duduk saja.
Maaf.
- Herman! - Hai.
Kau baik-baik saja?
Pak Dubes. Maaf, jalanan macet sekali.
Kami terjebak selama 30 menit, dan hujannya…
Ini Knippenberg, Sekretaris Ketiga.
Knippenberg, ini Giles Easton, Dubes Inggris.
- Apa kabar? - Selamat sore.
- Pukulan bagus! - Pak, boleh aku bicara…
Itu Bu Knippenberg.
Kusuruh Angela bermain dengan De Jongh karena kau telat.
- Kau tak bilang dia bisa bahasa Thai. - Sungguh?
Dia bisa bicara dalam empat atau lima bahasa.
Jika dia bukan dari Jerman, sudah kutawari dia pekerjaan!
Jika kau bukan dari Belanda, akan kuterima.
Pak Dubes, boleh aku bicara sebentar soal masalah konsuler?
Kukira kantornya ditutup.
Tentu saja, tetapi ini agak mendesak.
Ini soal dua pelancong muda beransel dari Belanda.
Pihak keluarga tak dikabari selama dua bulan lebih.
Kapan terakhir kali kau mengabari ibumu?
Apa dia menulis surat pernyataan orang hilang?
Diplomat tak bertugas mencari gelandangan hippie.
Ini tugas polisi Thailand. Laporkan kepada mereka jika kau khawatir.
Baiklah, Pak Dubes.
Pukulan bagus.
Sekali lagi, Belanda mengalahkan Inggris.
Ya, tolong!
Hei, Herman.
Selamat.
- Halo. - Ada masalah apa tadi?
Ada dua warga Belanda yang hilang.
Keluarga mereka cemas. Biar polisi menanganinya.
Ibuku sudah memperingatkanku.
Bahwa kau terlalu serius bekerja,
dan takkan sempat bercinta denganku
di lantai 15 hotel Siam Point.
Namun di sana cuma ada delapan lantai. Jadi, secara teknis, dia benar.
DUA BULAN SEBELUMNYA
HONG KONG - PESAWAT TIBA
HOTEL SANTA CRUZ
Kenapa kau menulisnya? Kita boleh menginap di tempat Alain.
- Aku sungkan. Dia terlalu baik. - Tetapi Alain menunggu kita.
Kita bisa menjenguk mereka nanti.
KANTOR BANDARA
Wim!
Lena?
- Benarkah itu kalian? - Ya.
Aku Ajay.
- Alain mengutusku. Aku karyawannya. - Bagaimana kau mengenali kami?
Ada warna oranye di sini.
Dan harus ada… ini, tentu saja.
- Biar kubawa tas ini. Kalian ditunggu. - Kami mau pergi ke Santa Cruz dahulu.
Hotel Santa Cruz?
Alain takkan membiarkannya. Tidak untuk temannya.
Hotel itu makin jelek.
Air mandinya berasal dari kanal.
Tamunya dirampok.
- Kami tak mau pergi ke… - Tidak.
Selamat datang di Bangkok. Ayolah.
Lihat siapa ini.
- Hei. Selamat datang. - Lena!
Kalian sudah sampai.
- Senang bertemu lagi. - Aku juga. Selamat datang.
- Selamat datang di Kanit House. - Terima kasih.
- Bagaimana perjalanan? - Lancar.
Ini Frankie.
- Teman kita, Dominique. - Halo.
- Ini untuk kalian. - Terima kasih.
- Handuk baru. - Terima kasih banyak.
Enak sekali.
Biar kubawakan tas ini.
Ayo. Kami akan mencuci pakaian kotor kalian.
- Namun semuanya kotor. - Tak masalah.
No comments yet. Be the first to leave one.