The first 200 lines.
Memanggil semua hantu dan vampir! Waktunya makan malam!
Kalianlah tamunya, yang pertama.
Beristirahatlah dalam damai.
Jaga cahayanya, kalau tidak, mereka berkeliaran di malam hari.
Hampir saja! Entah apa yang harus kulakukan jika kalian kabur.
Ini satu untukmu.
Untukmu.
Dan untukmu.
Satu dua tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan.
Delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu.
Mereka semua lengkap.
Permainan selesai. Tenang saja, ini aku!
Dasar bodoh!/ Kau benar-benar ketakutan.
Kau bisa keluar, ini aku!
Guru, tolong!
Guru, tolong!
Apa yang terjadi?/ Guru, di dalam!
Guru, ini aku!
Kau memukulnya dengan telak. Benar-benar langsung lemas.
Biar ku-urus yang ini.
Biar aku saja...
Jangan ambil risiko./ Giginya!
Lihat keadaan vampirku. Apa yang harus kulakukan?
Bantu aku!
Idiot! Aku tak keberatan ada sedikit kesenangan, tapi biarkan mereka!
Bukan aku./ Cukup! Aku pergi.
Haruskah pergi begitu cepat?/ Ya, aku harus...
Pokoknya, sampai ketemu lagi.
Langit biru.
Malam yang gelap.
Jalan panjang menuju rumah.
Cepatlah keluar dari kamar mayat.
Ayo!
Kenapa masih di sini? Bibimu pasti mencarimu. Pulanglah!
Ayo, biar kubantu.
Pagi!/ Pagi, Paman Khaw!
Kau terlihat senang. Ada apa?/ Guru mengajakku minum teh.
Kau sebaiknya pergi!
Guru, apa aku harus ikut bertemu Tn. Yam bersamamu?
Apa masalahnya? Kau tak membuatnya tersinggung, kan?
Tidak, hanya saja aku belum pernah minum teh ala Barat sebelumnya.
Aku takut malah melakukan sesuatu yang bisa mempermalukanmu.
Bijaksana sekali.
Kau tak ingin mempermalukanku? Kalau begitu tak usah datang saja.
Aku juga belum pernah minum teh Barat. Bisa jadi aku malah bikin kesalahan.
Aku harus bawa Man Choi, biar dia yang lakukan pertama kali.
Man Choi./ Aku datang!
Guru, kau memanggilku?
Karena perilakumu baik hari ini, aku akan membawamu.
Asyik!/ Ayo.
Apa sudah pesan tempat, Pak?/ Pesan apaan?
Kami diundang Tn. Yam minum teh./ Tn. Yam? Kalau begitu, ikuti aku.
Lewat sini.
Paman Khaw./ Tn. Yam. Silakan duduk.
Ini Tn. Yam./ Tn. Yam.
Silahkan duduk.
Kudengar putrimu sudah kembali dari kota. Di mana dia?
Dia sibuk sekali dengan kelas kecantikannya sekarang.
Harus seperti itu, jika tak ingin terlihat seperti ayahnya.
Itu dia.
Ayah./ Ini Paman Khaw.
Paman Khaw./ Silahkan Duduk.
Dia sudah tumbuh besar.
Ya, besar!
Mau minum apa?
Kopi saja./ Yoi.
Kopi?
Boleh kuminta kopi?/ Aku juga.
Guru, pesan apa?
Kopi juga./ Yoi.
Guru, aku tak mau kopi, boleh ganti pesanan?
Tidak, kau minum kopi.
Jadi Paman Khaw, apa sudah tentukan tanggal penggalian kuburan ayahku?
Tapi sepertinya kau harus pertimbangkan kembali untuk menggali tubuhnya.
Sudah kupertimbangkan baik-baik.
Tapi peramalku bilang penguburan ulang akan memberiku banyak keberuntungan.
Tak usah percaya peramal./ Apa kami bisa percaya kalian?
Dia benar juga.
Jangan menyela kami, Nak.
Baiklah, jika kau bersikeras, kami lakukan tiga hari lagi.
Apa yang harus dibawa?/ Uang, tentu saja.
Berapa banyak memangnya?
Tak masalah, sebutkan saja berapa.
Tn. Yam, Tn. Wong sudah datang.
Aku menyapa temanku dulu. Silahkan nikmati jamuannya.
Bawakan Tart Custard.
Guru, yang mana dulu harus kuminum?
Aku tak bisa bantu.
Maaf, Paman Khaw.
Minum kopinya, mumpung masih panas.
Silahkan.
Silahkan.
Paman Khaw, kau pesan kopi hitam?
Ya, aku suka kopi hitam.
Ayah, mau campur susu?/ Ya.
Ayah, aku mau beli make-up dulu.
Baiklah, nanti kita ketemu lagi.
Silahkan.
Aku bisa menahan diri./ Perhatikan perilakumu.
Tn. Yam, gulanya berapa sendok?
Terserah saja./ Mau tanpa gula?
Aku perlu gula.
Guru, terlalu manis.
Makan saja.
Aku mau ambil bahan makanan.
Seorang wanita muda dari seberang jalan akan datang untuk membeli make-up.
Jangan berlaku tidak sopan hanya karena dia seorang pelacur.
Tentu saja, Bibi. Pergilah. Aku tahu yang harus dilakukan.
Dimana bisa kubeli make-up?
Cantik sekali, tak kusangka dia pelacur.
Sayang sekali!
Silahkan pilih sendiri, Nona.
Bibiku bilang kau datang./ Siapa bibimu?
Wanita yang baru saja bicara denganmu.
Aku hanya bertanya di mana bisa beli make-up. Aku tak mengenalnya.
Dia pasti berbohong.
Sudahlah. Kenapa tidak coba saja ini?
Sejak kapan kau belajar untuk.../ Belajar untuk apa?
Kau tahu maksudku.
Ibuku mengajariku ketika umurku masih dua belas.
Apa? Ibumu yang mengajari?
Ya, tapi kemudian meninggal. Jadi aku ke kota untuk belajar.
Yang ini bagus, kan?
Berapa umurmu?/ Delapan belas tahun.
Dia sudah melakukannya selama enam tahun.
Apa kau pernah berpikir untuk berhenti?/ Tidak.
Aku masih bisa lakukan ini sampai umurku delapan puluh.
Apa ada yang memaksamu? Tak ada, aku suka sekali!
Setiap wanita menyukainya.
Apa kau pernah berpikir untuk pensiun?/ Tidak.
Aku ingin mengajari semua gadis di sini dengan apa yang kupelajari di kota.
Aku yakin mereka pasti suka.
Tak mungkin! Kau mengajak mereka jadi sesat.
Kau begitu konservatif!
Ini bukan tentang konservatif, ini tentang moralitas.
Aku tak mau uang harammu.
Kembali saja ke Taman Yee Hung tempatmu berasal.
Ada apa ini?
Di sini rupanya kau!
Ada apa?
Kau pernah ke Yee Hung Garden?/ Tidak!
Jadi bagaimana kau tahu dia?
Dia putri Tn. Yam, sang jutawan.
Apa itu Taman Yee Hung?
Sebuah kedai teh./ Rumah bordil.
Apa?
Rumah bordil./ Restoran.
Apa katamu?
Itu rumah bordil.
Kau pikir aku pelacur?
Nona...
...Aku benar-benar kaget.
Ayah! Aku pulang dulu.
Ting.
Tn. Yam./ Ting, Ting.
Ada apa?
Bodoh!
Berdoalah dengan segala ketulusan.
Paman Khaw.
Peramalku bilang tanah ini memang sangat langka.
Juga kuburan yang baik./ Aku setuju.
Untuk mengoptimalkan feng shui, kuburan gaya capung harus dipakai.
Dari panjang 3,4 yard, hanya 4 kaki bisa dipakai.
Dan dari lebar 1,3 yard, hanya 3 kaki bisa dipakai.
Memang rumit.
Dia dimakamkan secara vertikal./ Bagus.
Vertikal?
Guru, apa maksudnya secara vertikal? Semacam pemakaman orang asing?
Diam!
Paman Khaw, upacaranya sudah selesai?
Bisa mulai menggali sekarang?/ Ya.
Ayo cepat.
Guru, apa yang dimaksud vertikal?
Artinya dia dimakamkan berdiri.
Apa aku benar?/ Tepat sekali.
Nasib baikku tergantung penataan makam ayahku.
Bagaimana bisnismu?
Bisnis keluarga semakin buruk dan buruk.
Entah kenapa.
Ayahmu ada hubungan baik dengan peramal?
Maksudmu?
Apa ayahmu dan dia pernah berselisih?
Tanah ini dulunya milik si peramal.
Ayahku membelinya dengan mahal.
Kau yakin itu tidak lebih persuasif?
Pasti dengan sedikit paksaan.
Kalau tidak, dia takkan bilang padamu untuk melakukan hal ini.
Si peramal sengaja memberi petunjuk yang salah.
Maksudmu?/ Di sini tidak konkrit.
Semua capung ini, dia mengubahnya. Termasuk semuanya.
Seharusnya tak mungkin seperti ini.
Tapi tak seburuk itu. Setidaknya dia menyarankan penguburan seorang.
Dia hanya merusak setengah hidupmu, keturunanmu pasti baik-baik saja.
Peti matinya terlihat!
Cabut paku-pakunya.
Ayah Tn. Yam akan melihat matahari lagi.
Siapapun yang berusia 36, 22, 35 dan 48...
...dan siapapun yang bertanda shio Ayam dan Sapi, berbalik.
Kalian siap? Buka peti matinya.
Ayah./ Kakek.
No comments yet. Be the first to leave one.