A Tale of Winter

A Tale of Winter (Conte d'hiver)

Download Indonesian Subtitle

Release info

A Tale Of Winter (1992) [BluRay] INDONESIA by madeinheaven6666
A Commentary by madeinheaven6666
Akses Film Lainnya Dari Saya di Telegram: t.me/bymadeinheaven6666

Tags

bluray
Published on: 2026-08-15
Downloads: 1
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

DONGENG MUSIM DINGIN

Kamu ambil risiko.

36, rue Victor Hugo.

Mudah diingat.

Di Courbevoie, aku lupa kodenya.

Tidak apa-apa, dekat Paris saja.

Aku akan tulis surat begitu tiba, ya?

Tulis ya?

Kota Levallois.

5 TAHUN KEMUDIAN

JUMAT, 14 DESEMBER

Félicie!

Sudah jam 8.

Sudah!

Selamat pagi.

Malam ini ke tempat Nicolas, ya.

Aku makan malam di rumah Ibu.

Dan besok mungkin ke rumah kakakku sampai Senin.

Oke, semoga harimu menyenangkan.

Makasih, kamu juga.

Tentu. Itu terjadi setiap hari.

Tidak, tadi malam.

Kamu benar.

Aku memang tidak punya alasan untuk mengeluh.

Oke, Selasa kalau begitu.

Tidak, akulah yang berterima kasih!

Siapa itu?

Ada apa?

Sudah jadi!

Jadi apa? Juliette pergi?

Aku yang pergi!

Aku yang nyetir. Aku harus di sana 2 jam lagi untuk inventaris.

Sudah? Kamu tidak bilang-bilang!

Baru tahu tadi malam. Tidak bisa kuceritakan lewat telepon.

Lagi pula, kukira kamu sedang bersama si itu.

Sudah kubilang ini akan terjadi sebelum Tahun Baru, dan memang terjadi.

Kamu balik kapan?

Aku tidak balik. Aku akan tinggal di sana.

Aku tidak bisa tutup salon selama liburan.

Kalau begitu aku bagaimana?

Urus janji-janji di sini hari ini dan besok.

Selasa kamu harus di sini menyambut manajer baru.

Setelah itu... menyusullah sesegera mungkin.

Anak perempuanku bagaimana?

Ada sekolah di sana.

Kamu masih punya waktu mendaftarkannya selama liburan Natal.

Juliette sudah tahu?

Kuberitahu kemarin.

Dia tidak...

Tidak. Kukira dia akan ribut, tapi sama sekali tidak,

dia yang mengusirku.

Bagus untuknya.

Aku lebih suka begitu. Aku berkemas dan pergi ke hotel.

Kalau aku tidak mau pergi? Kamu akan sendirian.

Kenapa bilang begitu? Kamu pasti mau.

Aku belum bilang ya.

Kamu mau pergi dari Paris. Sebagian juga untuk kamu aku pindah.

Sebagian. Sebagian kecil.

Jangan bohongi aku.

Kamu meragukan cintaku!

Kamu meragukan milikku, makanya kamu tidak percaya, tidak mengajakku berdiskusi.

Kita sudah bicara berbulan-bulan!

Hanya samar-samar.

Tidak samar-samar untukku.

Untukku iya!

Kamu takut?

Aku belum bilang ya, tapi aku juga belum bilang tidak.

Karena aku harus mengambil keputusan...

aku bilang... ya!

Aku pun terkejut betapa cepatnya semua ini terjadi.

Aku ingin kita bisa pergi bersama.

Aku tidak bisa pergi sebelum Natal: ada Elise, Ibu, kakakku...

Mungkin aku bisa turun sebentar hari Minggu. Jauh tidak?

Dua jam naik kereta.

Kamu berangkat Sabtu malam dan balik Senin siang.

Kenapa aku tidak kepikiran itu?

Sekarang aku harus buru-buru.

Kamu bawa mobil. Aku tidak melihat.

Jangan sampai masuk angin.

Sampai Sabtu.

Hati-hati, jalanan bisa licin!

- Apa kabar? - Baik, kamu?

- Aku terlalu awal? - Sama sekali tidak.

Sini jaketnya.

Seharusnya kita sudah buka, tapi anak yang satunya terlambat.

Ini Armelle.

- Mau saya highlight? - Kalau mau.

Maxence sudah berangkat ke Nevers.

Salon barunya. Mulai Selasa.

Kalau kamu?

Aku di sini dulu. Nanti kuceritakan.

Maxence pergi?

Tapi salonnya tidak tutup.

Kamu tetap di sini?

Tidak, aku yang pergi.

- Halo, Ibu. - Halo, sayang.

Elise sudah tidur?

Baru saja. Cepat, lampunya masih menyala.

Cium yang keras dong.

Aku punya padaboom-boom-boom besar.

Aku udah selesai tidur.

Gimana hari ini?

Aku main sama Anna.

Kita main Ayah dan Ibu,

tikus kuning, tikus pink sama tikus hijau,

aku main tukang pos yang nggak dateng, sama pencuri.

Bagus. Sekarang tidur nyenyak ya.

- Baring dulu. - Aku mau lampunya dimatiin.

Tidur dulu baru kita matiin lampunya.

Apa?

Tidur, Elise.

Apa?

Jangan geli-geliin.

Iya, geliin!

Jangan ganggu kelinci aku nanti dia mukul kamu.

Oke deh.

Aku sayang kelinci aku!

Tidur ya, oke?

Belum Natal juga sih, tapi tadi aku kena macet.

Tenang aja, makan malam siap 5 menit lagi.

Kecuali kamu...mau ke tempat Loic.

Nggak malam ini.

Lagipula,

aku udah bikin keputusan. Kamu tau Maxence pindah ke Nevers kan.

Dia berangkat hari ini. Aku bakal nyusul dia.

Langsung sekarang?

Aku pergi hari Minggu buat liat-liat dulu tapi aku bakal balik lagi.

Setelah Natal, aku sama Elise pindah beneran.

Kukira kamu sama Max udah putus.

Nggak, aku nunggu sampai dia berhenti tinggal sama cewek itu.

Kamu nginep di tempat Loic.

Biar tetap panas. Ngapain biarin dia nginjek-nginjek aku?

Felicie, jangan ngomong gitu!

Itu bukan yang beneran kamu rasain, dan itu berat buat Loic.

Dia udah tau kamu bakal pergi?

Aku belum bilang ke dia. Aku aja baru tau tadi pagi.

Tinggal cari cara buat ngasih taunya.

Dia bakal hancur.

Kayaknya nggak.

Dia emang selalu udah nyangka aku bakal ninggalin dia,

jadi itu bukan hal baru.

Tapi ini juga nggak enak buat aku. Aku sedih harus ninggalin Loic.

Dalam artian tertentu, aku lebih suka dia daripada Maxence.

Kalau aku tetep di sini, aku pengen jadiin dia temen,

tapi dia nggak bakal terima itu.

Dia bener kok. Kenapa nggak nikah aja sama dia?

Kamu nggak bakal nemuin cowok yang lebih baik,

dia gila banget sama kamu,

Buat aku pribadi...aku jauh lebih suka dia

daripada tukang cukur kamu itu.

Buat kamu mungkin, tapi nggak buat aku.

Loic bukan tipe aku, baik secara fisik maupun mental.

Mental? Emang apa yang salah sama dia?

Nggak ada yang salah, tapi... dia terlalu kutu buku.

Itu oke buat temen, tapi bikin aku ngerasa kecil.

Nggak tau deh...dia terlalu manis.

Cowok manis itu enak. Mereka langka lho.

Nggak selangka yang kamu kira.

Dengan karakter kamu, kamu nggak suka didominasi.

Emang bener. Aku nggak suka orang yang bisa aku tiup jatuh gitu aja.

Aku nggak mau didominasi secara mental, tapi secara fisik aku suka.

Aku suka cowok kuat, bukan kutu buku.

Ada juga yang keduanya sekaligus.

Aku tau kok.

Charles tau banyak hal, bahkan lebih dari Loic.

Tapi dia belajar dari kehidupan, bukan dari buku.

Beda sama Maxence.

Maxence...

dia punya selera, dia suka hal-hal indah.

Dia suka perempuan cantik dan aku suka cowok ganteng.

Buat aku, kegantengan seorang cowok ada di kecerdasannya.

Dia nggak sebego yang kamu kira.

Kecerdasan dia mirip Charles, tapi lebih kasar, belum diasah.

"Belum diasah."

Diasah. Liat kan? Mungkin aku nggak lebih tajam dari dia.

SABTU, 15 DESEMBER

- Bawaan kamu dikit banget. - Buat 2 hari aja...

Kamu bisa tinggal lebih lama.

Ini kota lama?

Bukan, ini area belanja. Salonnya ada di sudut sana.

Lokasinya keren banget.

Cantik banget.

Elegan banget!

Gede banget!

Suka nggak?

Bagus banget. Muat setidaknya 5 orang buat kerja di sini.

Buat sekarang, kita cuma bertiga.

Kita bisa dekorasi nanti.

Aku suka. Gaya tahun 1900-an. Wastafelnya bagus.

Ada infra-merah juga.

Peralatannya lengkap banget.

Itu belum semua. Sini liat sarang cinta kita.

Aku bawain.

Naik duluan aja.

Aku kagum deh.

Aku tunjukin jalannya.

Luas juga.

- Suka nggak? - Suka banget. Kamu udah punya furnitur?

Mereka ninggalin beberapa. Kita bisa buang kalau kamu mau.

Nggak usah, ini nyaman kok.

A Tale of Winter subtitles in other languages

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left