The first 200 lines.
Ayo, Salomon!
Kita sebenarnya mau ke mana?
Ayo balapan, kawan-kawan. Ayo!
Oh, aku tahu kita mau ke mana.
HAMBURG, JERMAN MUSIM SEMI 1941
Ayo! Lompat, dasar pengecut.
Kita tak harus lakukan ini.
Ini idemu.
Tadi itu ide bagus... saat aku masih di bawah.
Helmuth takut rambut indahnya rusak.
Tenang!
Baiklah. Aku lompat kalau kau lompat. Hitungan ketiga. Satu.
Hei, tunggu, tunggu!
Kalian benar-benar penakut.
Kau juga belum lompat.
Dua!
Kau juga sama.
Whoo! Haha!
Itu belum seberapa! Lompat, Rudi!
Oh, sialan. Tiga!
Lompat, pengecut!
Ayo pergi!
Helmuth! Helmuth!
Apa yang kupikirkan?
Helmuth! Helmuth! Helmuth! Helmuth!
Helmuth!
Satu Bangsa! Satu Reich!
Satu jembatan--
Salomon! Kau ikut kami menjemput Gerhard?
Entahlah, kapan keretanya tiba?
Sabtu, jam setengah tujuh.
Ah, sang kakak pulang.
Nanti kulihat apa aku bisa ikut.
Uh-oh.
Kalian sudah sangat terlambat.
Sangat terlambat? Aku tahu kami telat, tapi tidak "sangat terlambat".
Di mana seragammu, Karl?
Masih di-laundry, Rolf.
Seperti minggu lalu? Catat itu.
Apa yang kau tertawakan?
Tidak ada.
Tidak ada?
Kalau begitu, kau harus minta maaf padaku karena sudah tertawa.
Tanpa sebab.
Kenapa kau tak bicara padaku, Rolfi?
Tutup mulutmu.
Pacarmu ini baru saja mau minta maaf padaku.
Maaf.
Bagus, dasar banci kecil.
Tak ada yang boleh menyebut temanku banci.
Minggir.
Akan kulaporkan kau, Karl! Kau dengar aku?!
Kau akan menyesal!
Sayang, sudah siap!
Kau mau ikut?
Pagi.
Bagaimana sif malamnya?
Oh, kau tampak tampan sekali.
Ibu, tolong, air liurnya muncrat.
Pagi, Hugo.
Pagi.
Akan kuberikan padamu setelah selesai.
Hari besar, ya?
Hari pertama Helmuth magang di Balai Kota.
Apa kata mereka?
Tenaga magang termuda yang pernah mereka terima.
Kau gugup?
Tidak juga.
Maksudku, sedikit, kurasa, tapi aku merasa siap.
Kau sudah tulis pernyataan patriotikmu?
Jerman tak pernah terasa lebih sebagai Tanah Air bagi kita,
dibandingkan saat ini.
Di zaman keemasan ini,
fajar milenium Nasional-Sosialis.
Lihatlah wajah-wajah tanpa cela yang berpapasan di jalan,
postur tubuh mereka yang tegap.
Sikap penuh kerja keras yang mereka tunjukkan.
Enyahlah kaum plutokrat. Aristokrasi yang gila harta.
Enyahlah perkebunan luas milik kaum borjuis yang dekaden.
Mereka siap menemuimu.
Hari ini, bangsa kita berdiri gagah dan tegap
di atas pundak Führer kita, Adolf Hitler.
Saat kita menyimpulkan inti dari pernyataan sebelumnya,
muncul dua pertanyaan.
Pertama, apa yang mengangkat kita di atas negara industri lainnya,
dan... poin kedua...
atau... uh... atau pertanyaan kedua.
Bagaimana kita bisa sampai di titik peralihan sejarah yang agung ini?
Jawaban untuk kedua pertanyaan itu adalah satu dan sama.
Tak lain adalah kegigihan Jerman kita,
darah kita, jati diri kita.
Tadi itu sangat bagus. Dan umurmu enam belas?
Ya, Pak.
Bagus sekali.
Kami akan memuat pernyataanmu di buletin kantor.
Bagaimana menurutmu?
- Itu akan-- - Sempurna!
Tinggalkan saja catatanmu pada Fräulein Kluge.
Dia yang akan mengetiknya.
Uh... atau bisa saya--
Selamat datang di Administrasi Tingkat Tinggi.
Catatanmu?
Sekarang?
Jadi kau si penulis berbakat
yang mereka bicarakan itu.
Si "tenaga magang termuda yang pernah kami terima."
Begitu yang kudengar.
Hah.
Ayo.
Ini mejamu.
Tapi untuk hari ini, semua ini harus diberkaskan dan diarsipkan.
Kami menyebut tempat ini "ruang bawah tanah." Setidaknya aku.
Tempat kami mengarsipkan segalanya hingga terlupakan.
Yang di belakang sana untuk pejabat publik tetap
dan pegawai negeri sipil.
Yang di sini untuk pegawai negara dan pekerja layanan.
Kronologis.
Di situ tempat kami menyimpan salinan arsip literatur terlarang.
Terkunci, karena alasan yang jelas.
Dan ini pembaruan kebijakan, baik regional maupun nasional.
Semuanya alfabetis, pada dasarnya.
Dan selebihnya itu hanyalah hal-hal administratif lain.
Nanti kau juga paham.
Selamat datang di Administrasi Tingkat Tinggi.
- Heil Hitler. - Heil Hitler.
Sudah sampai di titik ini, ya?
Masih merokok? Kukira Anne menyuruhmu berhenti.
Memang.
Istriku juga mencoba membuatku berhenti.
Dia wanita Jerman yang baik.
Sang Führer tidak merokok, jadi dia berhenti merokok.
Kau sudah menikah?
Aku bertanya apa kau menikah,
tapi kurasa aku tidak sepenuhnya jujur.
Kami membawa istrimu tadi pagi.
Hilde, bukan? Dan putrimu.
Mereka ada di ujung lorong.
Kami akan mengobrol dengan mereka sebentar lagi.
Tapi kau tahu itu, 'kan?
Kalau kami menangkapmu, kami juga harus membawa keluargamu.
Menginterogasi mereka.
Ya, kau pasti sudah memikirkan ini
sebelum merencanakan kudeta kecilmu itu, 'kan?
Oh, mungkin tidak.
Kenapa mereka selalu melupakan bagian itu?
Baiklah, jangan kita perlama ini, Albert.
Siapa yang menjual senjata padamu?
Aku menemukannya.
Hm.
Gerhard!
Hei! Lihat siapa yang akhirnya muncul!
Kenapa kau tak ada di stasiun kereta?
Bagaimana Prancis?
Konyol. Mudah sekali. Tapi makanannya enak.
Salomon, kau mau naik untuk makan pencuci mulut?
Tak mungkin kulewatkan, 'kan?
Tentu saja dia mau.
Jadi, bagaimana menurutmu soal Hugo?
Yap, sudah kuduga.
Tapi Ibu tampak bahagia, ya?
Masih masa bulan madu, kurasa.
Kau bisa jaga rahasia?
Dapat dari mana itu?
Ini radio gelombang pendek.
Aku tahu itu apa. Dapat dari mana?
Le Marché Noir. Pasar gelap Prancis.
Sst. Kecilkan suaranya!
Penerimaan sinyal benda ini luar biasa.
Kau bisa dapat berita dari mana saja. Rusia, Belanda, BBC.
Tunggu, tunggu. Kembali.
Mendelssohn.
Aku heran padamu.
Mendengarkan komposer terlarang di radio ilegal.
Itu pelanggaran berat.
Nah, ini... ini baru benar.
Ya. Musik Amerika terlarang. Jelas beda.
Ayo, bangun.
Aku tak bisa...
Ayo, adik kecil!
- Aku tak bisa. - Kau bisa.
- Gerakkan kakimu. - Aku tak suka...
Ya, kau bisa, ayo.
Itu dia!
Sst!
Ada keributan apa ini?
Kami sedang berdansa.
Apa?
Maksudku, cuma main-main saja.
Oh. Ya, baiklah, ini sudah larut,
dan ibumu pasti akan menyeret kalian berdua
ke gereja besok pagi, jadi kalian harus...
Benar. Akan kusuruh dia tidur.
Dan kau. Kau harus pulang. Sudah lewat jam malam.
Syukurlah kau kembali dengan selamat.
Aku juga.
Sampai jumpa di gereja.
Ya, aku akan datang.
Jangan terlalu bersenang-senang tanpaku.
Aku selesai.
Oh, terima kasih.
No comments yet. Be the first to leave one.