The first 198 lines.
PERJALANAN SI HIENA
Astaga.
Jangan lupa kembaliannya.
-Sampaikan salamku pada ibumu. -Ya.
-Semoga damai menyertaimu. -Dan juga padamu.
-Bagaimana kabarmu? -Baik. Dan kamu?
Baik.
Tomatku berantakan di mana-mana.
Silakan ambil saja, tetangga.
Pak pos itu menyembunyikan sesuatu.
Tak ada surat dari Prancis. Anakku tak pernah menulis.
Kalau kau dengar saranku, takkan kau biarkan dia pergi.
Tak ada kebaikan datang dari Prancis.
Kau harus ke marabout agar dia mau pulang.
Anak-anak seperti dia tak pernah pulang dari Prancis,
atau mereka pulang bawa perempuan kulit putih beserta penyakitnya.
Anakku takkan melakukan itu.
Akan kubayar kalau suamiku sudah pulang.
Enak saja! Bayar sekarang.
Kapan kau akan bayar kami? Kami sudah muak dengan ini.
-Biarkan dia pergi. -Tunggu. Akan kubayar sekarang.
-Kau gadis tak tahu sopan. -Kau harus bayar!
Ibumu dan aku berteman baik. Tak pernah begini sebelumnya.
Bilang pada Mory untuk menemuiku di kampus.
-Hari ini dia naik motor atau sapi? -Enyah dari sini!
-Pergi sana dengan sepatu reyotmu! -Pergi!
Katanya kau mahasiswa, tapi tak pernah belajar!
Dengan celana aneh itu, kau takkan jadi apa-apa.
Mau kusampaikan pada Mory!
Aku tak suka dia.
Tak punya wibawa, tak tahu malu, tak punya pekerjaan, tak punya apa-apa.
Keliling naik motor dengan tengkorak sapi di depannya.
Sudahlah, kembali saja ke kampusmu.
Tempat itu seperti tontonan orang aneh.
Kalau mau air, dengar baik-baik.
Semua, antre satu-satu.
Bantu dia.
Baik, kita mulai.
Anak-anak, kalau tak ada urusan, pergi dari sini.
Hentikan!
Hei, kawan, revolusi masih harus menunggumu lama?
Begitulah nasib revolusi suci itu.
Yang dipikirkan gadis-gadis ini cuma soal lelaki.
-Mereka cuma buang waktu. -Dia tak suci.
-Lihat si tolol itu. -Kau kira ini sirkus?
Tolong, aku cuma mau menjemput Anta.
Sudah jelas.
Gara-gara kau dia selalu terlambat ke rapat kami.
Tunggu saja.
Aku paham. Dia berdandan seperti koboi agar bisa memata-matai kami.
Bunuh dia.
Tarik. Ayo.
-Hai, manis. -Tinggalkan aku.
Jauhi mahasiswi-mahasiswi berpantat rata itu.
Di mana Mory, Bibi Oumy?
Mungkin lagi muntahin nasi yang belum juga dia bayar padaku.
-Itu urusanmu. -Belum dengar?
Mory menjatuhkan diri dari tebing.
Sekarang sembelih kambingnya!
Besok ada kapal berangkat.
-Kita naik saja. -Punya uangnya?
Utang-utangmu saja belum lunas semua.
Itu bukan masalah besar. Kita kabur dan masuk Eropa secara ilegal.
Lalu bagaimana?
Tenang saja. Kita pasti beruntung.
Kita cuma butuh uang tunai. Lalu kita bisa menyuap orang yang tepat.
Kita harus berdandan rapi,
bersikap seolah kita tajir.
Kita bagi-bagikan franc ke semua anak yang kita temui.
Tak ada yang bakal curiga.
Saat kita pulang, aku sudah jadi orang besar di sini.
Mereka harus memanggilku Tuan Mory.
Kau bisa masuk Palang Merah. Kau tahu mereka, kan?
Mereka itu penipu, tapi duitnya banyak sekali.
Rayu saja salah satunya, kau bisa dijadikan presiden.
Belum pernah kulihat yang seperti ini! Kau berutang padaku!
Mau bunuh aku?
Kalau tak mau masuk penjara, bayar utangmu!
Bajingan! Kurang ajar! Brengsek!
Tak punya harga diri dan malu!
Semoga kau mati dan langsung masuk neraka!
Paris, Paris, Paris
Paris, Paris, Paris
Sedikit surga di bumi
Sedikit surga di bumi
-Lihat itu. -Apa?
Jimatan.
Jangan disentuh.
-Kata siapa? -Nenekku.
Siapa yang bilang padanya?
Lihat.
Macam-macam isinya.
Yang ini untuk patah hati.
Yang ini untuk sifilis.
Dan yang ini, jimat pembawa keberuntungan.
Kartu ini menang. Yang ini kalah.
Boleh kulihat?
Yang ini kalah.
-Kau pikir bisa pilih yang menang? -Cuma memastikan.
Baik, ayo pergi.
Kau benar-benar pikir dia bisa melakukannya?
Hitam menang. Merah kalah!
Coba peruntunganmu. Yang ini menang. Yang ini kalah.
Balikkan.
Balikkan.
Hitam. Kau menang.
Kau belum main. Balikkan.
As menang.
Ratu kalah.
-Aku pasang sepuluh. -Sepuluh.
Kau harus pilih as.
-Apa? -As.
Aku pasang 100.
Ayo. Main 100 franc.
Kalau tak mau cari uang, jangan main.
As menang.
Ratu kalah.
Kocok, selesai.
Mau main? Ayo. As menang.
Seperti kubilang, ratu kalah.
Kocok, selesai. Pilih satu.
1.000 franc. 1.000.
Taruhan kecil saja.
-1.000. -Apa? Kau nemu dompet?
Duduklah.
Mari lihat hasil kemarin.
Nih. 1.000.
Pilih yang ini, kau menang.
Pilih yang ini, kau kalah.
Kocok, selesai.
Pilih satu.
Kau kalah, sobat.
Kau kalah.
Mana 1.000-mu?
Tahan dia!
Maling!
Kasih aku rokok, Nak.
Bajingan-bajingan itu pikir aku nyolong 1.000 franc.
Mereka belum lihat apa-apa.
Tunggu saja.
Kau sadar kita duduk di atas tambang emas?
Apa?
Arena gulat ini menghasilkan banyak uang tiap Minggu.
-Paham? -Ya.
Aku penasaran di mana mereka simpan uangnya.
Hari ini hari besar bagi Senegal.
Hubungan lama mengikat Prancis dan Senegal.
Suku Lebou menggelar acara hari ini di Stadion Iba Mar Diop
untuk memberi sumbangan besar
bagi pembangunan monumen Jenderal de Gaulle.
Ini acara yang luar biasa.
Para tetua, perempuan, laki-laki, dan anak-anak berkumpul di sini hari ini.
Ousmane Ngom akan menghadapi Robert Diouf dalam pertandingan hari ini.
Itu polisi yang tadi, bukan?
Iya, dia orangnya.
Hari ini dia tak akan ganggu siapa pun. Dia punya sebungkus rokok penuh.
Cuma ada satu masalah.
Menurutmu uangnya ada di peti yang mana?
-Yang hijau di atas. -Yang hijau?
Bukan, yang biru. Makanya yang lain ditaruh di atas.
-Aku yakin di yang hijau. -Jangan bantah aku.
Aku bosnya di sini.
Ada di yang biru. Ambil saja lalu pergi.
Suku Lebou menggelar acara hari ini di Stadion Iba Mar Diop
untuk memberi sumbangan besar
bagi pembangunan monumen Jenderal de Gaulle.
Semua uang ini untuk monumen Jenderal de Gaulle?
Harusnya mereka bangun lebih banyak lagi.
Boeing, Concorde atau Caravelle — Paris, aku datang.
Siapa pun yang menghalangiku akan menyesal.
Menara Eiffel, Notre-Dame, Champs-Élysées, Arc de Triomphe,
yang besar itu.
Aku akan masuk pergaulan elite, menggoda gadis-gadis blasteran.
Di sini kau cuma bisa hitam atau putih. Aku muak.
Wah, kejutan sekali, Saudara.
Kau polisi?
Malam itu, tepat setelah kau pergi,
tempat itu digerebek polisi.
Aku lolos cuma karena pergi beli rokok.
Pergi sana. Kita tak pernah kenal. Jangan rusak karierku.
Sok pintar.
Nona, meski aku menikmati kebersamaan denganmu,
yang mana dari rumah-rumah megah ini rumahmu?
Terus saja jalan. Aku mau ke rumah keduaku, rumah pedesaanku.
Tempat ini tak kelihatan bagus, banyak kucing.
Ini benar tempatnya? Aku jadi takut.
Bagaimana kau bisa tahan di sini, Nona? Pohon-pohon diterpa angin begini.
Aku turunkan kau di sini lalu pergi.
Tempat ini bikin merinding.
Kau punya suami?
Kau pasti berani tinggal di sini.
Tuhan tolong kami.
Tuhan jauhkan kami dari tempat seperti ini.
Tempat ini buruk.
Benar-benar menyeramkan.
Kau pasti bukan orang Wolof.
Hanya orang kulit putih yang bisa tinggal di sini.
Perahu itu ngapain di sana?
No comments yet. Be the first to leave one.