The first 181 lines.
(Nasib Dunia Lain Bergantung pada Budak Korporat)
Ba-Baguslah, Kakak.
Tuan Seiichiro! Tuan Seiichiro, sadarlah!
Kenapa? Padahal tidak kena.
Tuan Ist, kenapa bisa begini?
Ah, ternyata pelindungnya hilang.
Muah.
Gagal, ya.
Tu-Tuan Ist! Apa yang Anda lakukan di tempat suci dan di saat darurat ini?!
Kurasa memang lebih cepat jika dilakukan orang yang sama.
Energi sihir Tuan Pendeta juga banyak.
A-Anda bicara apa? Kita harus ke klinik medis!
Ah, tidak boleh.
Jika disembuhkan dengan sihir, Kondu bisa mati.
Jadi, bisakah Anda memeluk Kondu?
Hah?
Bukankah Anda tadi membuat pelindung untuk Kondu?
Ya.
Apa Anda tidak tahu
kalau Kondu lemah terhadap energi sihir?
Saat ini, Kondu sedang sakit sihir berat.
Jika energi sihirnya tidak diselaraskan, energi itu akan lepas kendali di tubuhnya.
Kalau begitu, tadi...
Ya. Namun, lewat mulut saja tidak cukup.
Selain itu, energi sihir pengguna adalah yang paling mudah masuk,
jadi, tolong salurkan energi sihirmu ke dalam tubuhnya.
I-Itu...
Saya mengerti.
Tidak perlu!
Aresh!
Akulah yang bertarung jawab atas dirinya!
Serahkan dia!
Serahkan? Tuan Seiichiro bukan barang.
Selain itu, kondisinya sangat lemah.
Saya tidak bisa.
Tu-Tuan Aresh...
Tuan Seiichiro! Anda sudah sadar?
Seiichirou!
Syukurlah.
Kamu baik-baik saja.
Siegvold.
Pangeran.
Aresh sudah sering mengurus Kondou.
Kita bisa mengandalkan Aresh.
Serahkan saja.
Baik.
Apa Tuan Seiichiro akan baik-baik saja?
Kurasa dia akan baik-baik saja. Aresh sudah terbiasa melakukannya.
Eh?
Quellbus!
Aku pinjam kamar belakang!
Tempat ini bukan penginapan bebas.
Dia sudah pasti kena sakit sihir, tapi aku ingin berjaga-jaga saja.
Jika ada orang yang paham kondisinya,
itu mempermudah penjelasan dan penanganan.
Penjelasan, ya?
Aresh.
Kamu minum berapa botol ramuan pemulih energi sihir?
Satu botol.
Jangan bohong!
Kamu juga meminumnya sambil merawat Kondu dalam perjalanan, kan?
Dalam keadaan bergantung pada obat,
jika kamu nekat menyembuhkannya, efek negatifnya akan sangat besar.
Aku tahu itu. Makanya aku ke sini.
Jangan khawatir.
Aku memahami betul kapasitas energi sihirku.
Aku mohon. Jangan melakukan hal sembrono.
Panas...
Kepalaku... Seluruh tubuhku terasa sakit.
Rasanya mirip seperti saat aku kena influenza.
Aku tidak istirahat sampai demam dan tumbang.
Saat tidak masuk pun, aku tetap dikirimi data,
dan suhu tubuhku naik hingga 40 derajat.
Kesadaranku sekarang terasa lebih jauh dari saat itu,
tapi aku tidak merasa gelisah.
Aku justru merasa hangat.
Rasanya begitu nyaman seperti berendam di air hangat.
Aku mengingat sensasi ini.
Tuan Aresh...
Akhirnya kau sadar.
Ya ampun.
Ini masih akan lama. Dasar bodoh dan gegabah.
Kapan kamu kembali?
Pagi ini.
Kudengar kau berada di gereja, jadi, aku langsung pergi ke sana.
Akhirnya aku sempat menolongmu.
Kau memang merepotkan.
Kau sangat bandel
dan tidak peduli pada tubuh sendiri.
Ditinggal sebentar saja, langsung begini.
Selain itu, kau tidak pernah memberi kabar,
dan akhirnya, kau jatuh pingsan di pelukan laki-laki lain.
Jika bukan karena kejadian itu, aku tidak akan memaafkanmu!
Tuan Aresh.
Selamat datang kembali.
Aku pulang.
Ya. Dia sudah baik-baik saja.
Aku mau pulang dulu.
Jika Seiichirou sudah sadar, tolong awasi dia dengan baik.
Awasi dia?
Hei, Aresh!
Setelah itu, aku disuruh rawat inap selama tiga hari.
Ini adalah hari keduaku di sini. Aku belum bertemu Tuan Aresh.
Aku benar-benar kaget! Saat dengar kamu pingsan!
Tidak usah dibahas lagi. Mana dokumennya?
Eh?
Padahal aku ingin menjengukmu. Aku jadi seperti menyuruhmu kerja.
Bicara soal menjenguk, tidak lama setelah aku sadar...
Tuan Seiichiro, saya minta maaf!
Oh, tidak. Tidak ada yang perlu dimaafkan.
Tolong berhentilah menunduk.
Tidak.
Meski saya sudah tahu kondisi Anda,
tapi saya menempatkan Anda dalam bahaya.
Masalah kesehatan saya waktu itu disebabkan karena saya kurang tidur.
Saya juga ke ruang ibadah karena keputusan sendiri.
Selain itu, tanpa pelindung Anda, mungkin saya sudah mati seketika.
Terima kasih atas pertolongannya.
Tentang itu, sebenarnya...
Kondu, ada pengunjung untukmu.
Kalau begitu, aku pergi dulu. Jangan memaksakan diri, ya.
Pak Valtom.
Bagaimana keadaan Anda, Tuan Kondu?
Aku sudah pulih berkat Tuan Aresh,
tapi aku disuruh beristirahat sampai besok.
Senang mendengarnya.
Tuan Aresh akan menjemput Anda saat pulang nanti.
Begitu, ya.
Tuan Kecil menjalani masa pemulihan di rumah.
Beliau terlalu banyak
minum ramuan pemulih setelah kehabisan energi sihir,
dan kondisi fisiknya memburuk.
Setelah ekspedisi pemurnian, beliau juga membasmi hewan magis.
Begitu sampai di rumah, beliau menyalurkan energi sihir.
Meski memiliki banyak energi sihir,
tapi itu cukup membebaninya.
Begitu rupanya.
Aku memang merasa janggal.
Aku dibawa ke klinik, bukan ke rumah.
Biasanya, dia membawaku pulang dan mengawasiku dengan ketat.
Tuan Kondu.
Saya sudah mengenal Tuan Aresh sejak beliau masih kecil
dan merawat beliau.
Ini memang lancang karena saya hanya pelayan,
tapi saya menyayangi beliau seperti anak saya sendiri.
Karena itu, Tuan Kondu.
Pendapat saya ini tidak akan sejalan dengan keinginan Tuan Kecil.
Saya mengutamakan kesehatan fisik Tuan Kecil.
Ya.
Sejak bertemu Anda, Tuan Kecil mulai berubah.
Meski biasanya acuh tak acuh, sekarang beliau tampak antusias.
Saya merasa sangat bahagia karena beliau merasakan cinta,
dan saya sangat berterima kasih pada Anda
karena Anda memberi semangat hidup untuk Tuan Kecil.
Namun, kesehatan Tuan Kecil tetaplah yang utama.
Menjaga perasaan Tuan Kecil memang penting,
tapi sebelum itu, saya harap kesehatannya dalam kondisi baik.
Bisa dibilang, ini adalah pemikiran orang tua.
Tidak. Bapak benar.
Aku terlalu mengandalkan Tuan Aresh.
Aku sering memprioritaskan kerja dan mengabaikan kesehatan sendiri.
Sebagai akibatnya, tubuh Tuan Aresh juga kena efeknya.
Belum lagi, dia nekat membasmi hewan magis.
Dia jadi sering membahayakan diri karena satu penyebab.
Aku.
Maaf. Ini karena kelalaianku.
Anda tidak perlu minta maaf.
Pemusnahan hewan magis adalah keputusan Tuan Kecil
untuk pamer kekuatan di depan Anda.
Namun, meski harus dibenci Tuan Kecil,
saya akan selalu menjaga kesehatan beliau.
Tolong ingat baik-baik bahwa ada orang yang susah
jika Anda jatuh sakit.
Bagaimana keadaanmu?
Aku merasa lebih baik. Aku juga cukup beristirahat.
Hei, kamu menyuruh orang membawa dokumen kerja, kan?
Aku hampir tidak bekerja, kok.
Bagaimana biaya perawatannya?
Ah, tidak usah. Soalnya kamu pejabat.
Aku menemukan keuntungan bekerja di istana.
Kau tampak lebih segar.
No comments yet. Be the first to leave one.