The first 115 lines.
Kenapa kamu memakai baju tunggul?
Aku lebih suka baju longgar.
Memangnya kamu tidak malu memakai baju itu?
Moegi itu istimewa.
Kalian tidak berjumpa di labirin?
Dia sudah mati.
Oh.
Untuk apa berbuat sejauh ini?
Kamu tidak paham?
Dalam permainan, selalu ada peluang untuk membunuh, kan?
Meski tidak harus, sih.
Kamu pernah menendang kursi sekeras mungkin?
Untuk melampiaskan emosi?
Terasa lega, tidak?
Sekilas, iya.
Itulah maksudku.
Orang ini kalah
oleh sekadar pelampiasan?
Kamu lihat sendiri, kan?
Dia seorang veteran yang sudah bermain
95 kali, lo!
Dia lemah, kok.
Gerakannya pun tidak luwes.
Lihat itu baik-baik.
Organ dalamnya aneh, kan?
Padahal sebaiknya pensiun saja kalau sudah cukup kaya.
Sepertinya, dia kecanduan.
Hei.
Ada pelindungnya, lo.
Curang!
Kok kamu kepikiran buat datang tanpa perlengkapan?
Berusaha mengungguli musuh itu wajar, kan?
Percuma, sudah kutanam di banyak bagian.
Boleh juga. Langsung mengincar leher, ya.
Bagus, kamu lebih berbakat dari keroco yang berbaring di situ.
Jangan senang dulu.
Maniak bertarung sudah ketinggalan zaman, tahu!
Berkacalah sebelum bicara.
Jangan sok tahu tentangku.
Habisnya, kelihatan jelas, kok.
Kita sama-sama
merasa nyaman di dunia ini, kan?
Tempat ini luar biasa.
Tidak ada aturan nyeleneh.
Boleh membunuh orang menjijikkan.
Jangankan dihakimi karena berbuat sesukanya,
gadis-gadis cantik terkadang malah mengagumiku.
Cuma dunia ini yang kita punya.
Justru bagus kalau bisa mati di sini.
Dari lubuk hati,
kamu setuju, kan?
"Tidak."
Meski ingin bilang begitu,
sayangnya...
Yuki tidak punya
alasan kuat untuk membantah.
Sepertinya sudah waktunya turun panggung.
Lucunya,
tiada setitik pun penyesalan.
Apa alasanmu ikut bermain?
Mana kutahu.
Sudahlah.
Dari mana aku berasal...
Ke mana aku pergi...
Siapa sebenarnya diriku...
Aku adalah hantu.
Tidak terlahir di dunia ini.
Bahkan tidak bisa mati.
Cuma hanyut,
terombang-ambing ke suatu tempat.
Cuma akan menghilang
begitu saja.
Rasa ini
enak sekali.
Terima kasih.
Rasa ini
enak sekali.
Terima kasih.
Terima kasih.
Aoi...
Barusan pun sudah kubilang,
jangan terlalu disiplin.
Hiduplah demi diri sendiri,
bukan demi orang lain.
Nah, dengan jadi sedikit licik,
kamu akan lebih manusiawi.
Benarkah?
Iya, aku yakin.
Kinko...
Kinko...
Kinko...
Selanjutnya, permainanku yang ke-30.
Kamu percaya takhayul itu?
Ternyata kamu lumayan imut, ya.
Momono.
Beniya.
Momono.
Beniya.
Momono.
Beniya.
Beniya, kumohon.
Momono.
Aku mohon sekali.
- Aku tidak menyuruhmu hidup, - Aku cuma tidak mau mati.
- tapi tolong jangan mati. - Aku cuma tidak mau mati.
Aku cuma tidak mau mati.
- Selamat telah menyelesaikan permainan, - Aku cuma tidak mau mati.
- mau makan apa hari ini? - Eh, jadi...
Kenapa aku dinamai Shiori?
Sama seperti karpet itu,
supaya kamu jadi orang
yang menghargai kata-kata dan mampu memikul perasaan demi orang lain.
Sudah terkabul, kan?
Kurasa tidak ada salahnya.
Itu lebih baik daripada menyebut diri sendiri
No comments yet. Be the first to leave one.