The first 200 lines.
Tinggalkan anak malang itu, selesaikan saja di sini.
Kita tahu bagaimana ini berakhir.
Kau mau kami menyanyikan seluruh lagu
dan menari?
Ini akan jauh lebih mudah jika kau
mangatakan namamu, iblis.
Oke, Bapa tidak punya pilihan selain
menjalani rutinitasnya.
Atas nama Kristus Tuhan kami,
aku memintamu mengungkapkan namamu.
Kami punya kekuatan besar untuk mengajukan permintaan, Mason Harper.
Benarkah?
Tidak apa-apa.
Atas nama Bapa Yang Mahakuasa.
Kau dan aku sesama penjelajah.
Aku suka mereka menertawakan leluconnya sendiri.
Atas nama Bapa Yang Mahakuasa...
- Bagaimana dengan... - Aku meminta
Bapa Yang Mahakuasa?
Sekarang kau membuatku jengkel.
Dengan kuasa Kristus, beritahu kami namamu.
Tenang, Daniel.
Kau sudah tahu namaku.
Dengan kuasa Kristus, Roh Kudus, meminta...
Daniel! Daniel!
Menjauh.
Jangan ada lagi permintaan.
Kau seharusnya menjadi salah satu dari elit Tuhan.
Sekarang kau tak lebih dari seorang pengecut,
tidak punya keberanian mempertanyakan keyakinannya sendiri.
Selamat tinggal, Bapa.
Kau tidak bisa menyakitiku.
Kenapa?
Banyak yang diperintahkan untuk melindungiku.
Aku mengusirmu!
A L I H B A H A S A K U D A L U M P I N G
Bapa Harper pada Bapa Gabrielle.
Berhasilkah kau mengusir setan itu?
Dengan harga yang mahal...
Bapa Scott...
Bapa Scott terbunuh saat ritual tersebut.
Jangan ceritakan ini pada orang lain.
Apa yang terjadi?
Apa lagi yang kau pelajari dengan kehadirannya?
- Aku tak bisa mengenalinya. - Ia mengaku mengenalku.
Kita harus merahasiakannya. Kau mengerti?
Mengerti apa?
Bapa Scott adalah
pengusir setan keenam yang terbunuh hari ini.
Tunggu, tunggu, tunggu, tunggu.
Hei, orang asing.
Hei, orang asing.
Hei, orang asing.
Butuh tumpangan?
Jadi aku akan memberimu kartu,
tapi jangan ada bagian yang bertahan hidup dari aliran sesat
kemudian dengan aliran agama lainnya.
Oke, ada apa?
Kembali ke sini ide yang buruk?
Aku sungguh berharap aku tidak melibatkanmu.
Tidak, tidak, tidak, bukan itu.
Tidak, bukan itu.
Vatikan memberiku pemberitahuan darurat.
Tapi bukan itu yang mengganggumu, kan?
24 jam terakhir sungguh aneh.
Kau mau sedikit lebih spesifik?
Pertama-tama, kupikir aku melihat ayahku.
Apa?
Aku tahu.
Dia berdiri di sana, tepat sebelum kau menjemputku.
Dia berdiri di sana, siang hari.
- Mace, kita melihatnya mati. - Aku tahu.
Aku tahu ini gila.
Apa yang sedang dia lakukan?
Melompat dari jembatan.
Aku melihat ke bawah, tapi dia tidak ada di sana.
Jadi kau membayangkannya.
Aku tidak yakin itu lebih baik atau lebih buruk.
Baiklah.
Aku sudah lama sekali tidak bertemu dengan seorang pun anggota jemaat.
Aku tidak percaya sudah berapa lama sejak terakhir kali aku kembali ke sini.
Oh ya.
Aku tidak bisa menyalahkanmu, tidak setelah apa yang kau alami.
Apa yang kita alami.
Aku tidak akan berhasil keluar jika bukan karenamu.
Kau kembali ke suatu tempat di mana
kau menderita trauma emosional dan fisik yang berkelanjutan.
Tentu saja, hal itu akan memicumu.
Aku selalu melihatnya pada pasien PTSD-ku.
Ditambah lagi, kau kelelahan.
Maksudku, jika kau merasa seburuk yang kau dengar,
aku heran kau tidak melihat hal-hal aneh lagi.
Ada trauma Tanis yang kutahu dan cintai.
Aku merindukanmu, Mace.
Tidak cukup hanya bertemu denganmu setahun sekali.
Bicarakan hal ini dengan Paus.
Betapapun aku suka mengejarmu keliling dunia,
kupikir akhirnya pulang ke rumah mungkin bisa memberimu ketenangan.
Di mana kau menemukan ini?
Oh, aku selalu memilikinya.
Itu ada di sana.
Itu pertama kalinya kau mencoba meyakinkanku
meninggalkan peternakan.
Itu pertama kalinya kita melakukan banyak hal
yang tidak kita bicarakan.
Apa yang kulakukan?
Sesuatu yang sudah lama mau kau lakukan.
Aku tidak bisa.
Kenapa?
Ayolah, Tanis.
Karena kau melakukan ritual yang
bertindak sebagai pengobatan psikosomatis
untuk kondisi mental tertentu?
Tidak, aku tahu, sebagai psikiater...
Tidak, sebagai orang yang rasional
kau harus melihatnya seperti itu.
...aku harus memikirkannya seperti itu.
Kau tidak melihat apa yang kulihat.
Aku pernah berjuang.
Aku ingat betapa menderitanya kau di rumah kelompok.
Dan aku mengerti.
Seminari tiketmu keluar, sama halnya dengan militer bagiku.
Tapi aku memperluas wawasanku.
Tidak.
Tidak, itu bukan tiket keluar.
Tidak.
Hubunganku dengan sang ilahi selalu nyata.
Dunia menjadi terlalu rumit
membagi menjadi baik dan jahat.
Atau mungkin menjadi lebih sulit membedakan satu dari lainnya.
Atau mungkin beberapa orang menolak untuk mencari tahu
jawaban untuk dirinya sendiri.
Tanis, imanku adalah baju zirahku.
Jika ada kelemahan di dalamnya,
lalu hal-hal yang harus kuhadapi
akan menggunakannya untuk melawanku.
Mason...
Seorang anak yang menjadi tanggung jawabku, dia mati saat ritual
tadi malam.
Kepalanya pecah di lantai di hadapanku.
Sekarang, apa itu cukup nyata bagimu?
Karena aku tidak akan membuat diriku rentan, Tanis.
Bahkan untukmu pun tidak.
Tidak ada satu cangkir pun di rumah.
Angin mulai bertiup kencang.
- Salju akan turun. - Ya.
Kau bisa mengatakannya lagi.
Hei, aku mengenalmu?
Tidak.
Kukira tidak.
Ya, tentu.
Bukankah kita dulu sekolah di SMA yang sama?
Tidak, itu bukan aku.
Aku bersumpah.
Kupikir kau salah orang.
Aku hanya sekadar lewat.
Tuhan Yang Maha Kudus akan kembali melaluiku.
Aku akan menjadi wadahnya.
Dia bicara padaku sekarang.
Dia memberitahuku dia memilih anak lelakiku satu-satunya, Mason, untuk menggembalakan dia
ke dunia ini.
Ya.
Ya, aku mendengarkanmu, Tuhan.
Seperti Abraham sebelum aku, aku akan menghadiahkan padamu keturunanku.
Dan Tuhan akan menyatakan pada Mason, siapa yang akan
melaksanakan tugas suci ini.
Tapi dosa-dosanya harus dimurnikan lebih dulu melalui rasa sakit.
Sama seperti kita akan dibersihkan oleh Tuhan
saat dia kembali.
Dengan demikian akan dimulailah zaman penghakiman terakhir.
Sepertinya aku melewatkan pesta yang bagus tadi malam.
Sepertinya aku melewatkan pesta yang bagus tadi malam.
Oh.
Maafkan aku karena pergi.
Tidak.
Tidak, itu salahku.
Yang sebenarnya terjadi adalah
aku sedang berjuang.
Aku banyak berjuang akhir-akhir ini.
Aku melihat sekeliling, dan aku melihat banyak kegelapan.
Aku punya iman.
Sudah berapa lama kau merasakan ini?
Aku melihatnya lagi.
Apa? Siapa?
Angus.
Oh.
Mace, hal yang berhubungan dengan ayahmu,
jauh di lubuk hati, kupikir itu hanya rasa bersalah.
Aku sangat paham tentang konsep rasa bersalah.
Kau bilang rasa bersalah menyebabkanku melihat orang yang
sudah mati sejak kita masih anak-anak?
Kulihat apa yang dia lakukan padamu.
Jika aku tahu apa yang aku tahu
aku bisa menolongnya.
Ayahmu tidak kerasukan, Mason.
Kemungkinan besar, dia menderita skizofrenia.
Dia seorang narsisis.
Pengampunan adalah bagian dari deskripsi pekerjaanku.
Kau belum memaafkannya.
Kau pun tidak perlu memaafkannya.
No comments yet. Be the first to leave one.