The first 200 lines.
Purnawirawan Hakim Vishesh Ishkaran Parashar meninggal dunia.
Jasadnya ditemukan dalam keadaan mencurigakan.
Polisi sedang memeriksa sejumlah orang yang menarik.
Nyalakan sakelar ketiga di sebelah kanan
dan matikan telepon seluler.
Kenapa kau berkeringat?
Meski tidak panas.
Aku tidak memilih tempat ini
untuk memaksamu mengaku.
Lebih baik kau memberitahu dengan sukarela.
Katakan saja kebenarannya
atau kau akan dapat masalah.
Apa yang bisa lebih buruk dari ini?
Aku diinterogasi polisi di saat ini
saat aku hampir sampai liang lahat!
Lakukan sesukamu, Pak.
Kau pandai berkata-kata, Bansilal.
Tapi, kau tidak bisa mempengaruhiku.
Bersihkan keringatmu dan duduklah.
Ceritakan tentang Hakim Parashar.
Pak, kami semua memiliki satu orang
yang menjadi sistem pendukung.
Itulah Hakim Vishesh Ishkaran Parashar bagiku.
Kematiannya membuat kami menjadi yatim piatu.
Kami?
Ya, kami sangat mencintainya.
Siapa yang sungguh mencintainya
dan siapa yang membencinya?
Kita masih harus menemukan jawabannya.
Sudah berapa lama kau menjadi petugas keamanan?
Sekitar 45 tahun.
Berapa lama kau berencana tetap bekerja?
Pak, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi di usia ini.
Kepentingan manusia berkurang seiring bertambahnya usia.
Orang hanya bisa berbaring terjaga
menunggu tidur atau kematian.
Kau tidak berbuat baik pada dunia dengan menunggu kematian.
Jangan ungkit ungkit emosiku itu.
Jadi, berapa tahun kalian bertemu?
Dia biasa memanggilku
ke kota mana pun yang dikunjunginya.
Dia akan memberiku pekerjaan sambilan.
Itulah jenis pertemanan yang kami miliki.
Kau juga mengunjungi temanmu Hakim Parashar kali ini?
Aku menemuinya setiap minggu.
Aku akan menyelesaikan pekerjaan jam 6 sore.
Lalu aku pergi ke toko minuman keras
dan membeli alkohol kesukaannya.
Lalu, kami mengobrol sambil minum.
Dia punya banyak cerita tentang kehidupan orang.
Dia akan bercerita sampai botolnya kering.
Lalu dia akan tidur
begitu juga aku.
Tapi Hakim Parashar terbunuh pada hari Selasa.
Tidak, Pak.
Kenapa ada orang yang tega membunuh orang yang begitu baik?
Aku tidak yakin dia terbunuh.
Kau punya pendapat yang kuat, kan?
Kenapa kau mengunjunginya pada hari itu, padahal hari itu bukan hari Sabtu?
Aku tidak bisa menahannya.
Dia memintaku membeli sebotol pada jam 12.
Jadi, aku melakukannya.
- Kau tidak tanya alasan? - Tidak kutanyakan.
Kenapa?
Pak, orang yang memberi perintah tidak suka ditanyai.
Sudah kubilang, matikan ponselmu.
Kau tidak mengerti?
Maaf, Pak.
Cucuku menelepon.
Dia khawatir kalau aku tidak memberitahunya informasi.
- Berapa umurnya? - 6 tahun.
Kami berusia 6 tahun saat aku pertama kali bertemu hakim tersebut.
Ayahku adalah pembantunya.
Dia memperlakukanku seperti keluarga.
Begitulah caranya kami menjadi teman.
Kami belajar di kelas yang sama.
Kau tidak punya teman selain Hakim Parashar?
Dia segalanya bagiku.
Selama dia hidup.
Sampai dia terbunuh.
Kudengar kau menyukai puisi.
Itu dulu, sekarang tidak lagi.
Bacakan beberapa baris.
Apa yang harus kubacakan?
Suatu hari hakim dan aku sedang mengobrol
sambil minum-minum.
Aku sampai pada kesimpulan itu saat itu.
Pertemanan ini lebih dalam dari hubungan darah.
'Aku hidup untukmu'
Wow.
'Dan aku tertawa untukmu'
Bagus.
Aku hidup untukmu'
- 'Dan aku tertawa untukmu' - Wow.
"Jika kau membutuhkanku, aku akan mati untukmu."
Wah. Bersulang.
Siapa yang bisa membunuh malaikat seperti dia!
Pasti ada yang memperoleh keuntungan dari kematiannya.
Orang idiot mana yang akan menang!
Sebaiknya kau tanyakan pada Tara.
Pasti.
Apa yang bisa kau ceritakan tentang Tara?
Aku pertama kali bertemu dengannya saat dia 7 tahun.
Sang hakim membesarkannya dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Aku merasa pusing.
Bersiaplah untuk kelas
tapi jenisnya berbeda.
Duduk.
Maaf Pak.
Kau sibuk jadi kupikir...
Semoga kau tidak takut.
Tidak, Pak. Kenapa?
Tidak ada petugas perempuan di sini. Hanya aku.
Tidak, Pak.
Kau tampak seperti seorang lelaki sejati.
Aku aman bersamamu.
Jawaban cerdas
tapi orang yang terlalu cerdas tidak membuatku terkesan.
Kau akan ke Australia?
Ya, Pak. Aku sudah mengajukan permohonan visa.
Tidak banyak waktu jadi aku mempersiapkan diri untuk wawancara.
Wawancara ini akan menentukan apa kau akan ke Australia atau penjara.
Bisa aku minta air?
Bagaimana kalau teh?
Mungkin gin dan tonik.
Dunia tidak akan meliriknya, kecuali ia berbunga.
Setelah penantian yang lama, bunga pun mekar
dan tiba-tiba menjadi sesuatu yang indah.
Semua orang berlomba-lomba mendapatkan tanaman itu
untuk hal pribadi.
Jangan khawatir, Tara.
Ayo.
Ceritakan tentang hubunganmu
dengan Hakim Parashar.
Dia adalah Hakim Parashar untuk dunia
tapi bagiku dia adalah ayahku.
Sebenarnya aku merasa seperti anak takdir saat dia menemukanku.
Apa maksudmu dia menemukanmu?
Dia seorang hakim pengadilan wilayah saat itu.
Dia menjatuhkan hukuman pada ayahku.
- Dia dihukum karena kasus kekerasan. - Aku tahu.
Dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Dia mati di penjara, kan?
Ya, Pak.
Ayah tidak tahu penjahat itu punya anak perempuan.
Seorang anak yang ibunya sudah tidak ada.
Ayah mengetahuinya dari koran dan membawaku pulang.
Jadi kau mulai hidup dengan Hakim Parashar.
Tidak, Pak. Dia memasukkanku ke sekolah biara yang bagus.
Aku tinggal di asrama.
Ayah mengirim Yusuf setiap minggu untuk menjemputku.
Yusuf?
Sopir ayahku.
Ayah sangat menyayangiku.
Kakiku patah beberapa tahun lalu.
Aku tidak bisa berjalan dengan baik.
Saat aku demam,
dia memberikan segalanya demi merawatku siang dan malam.
Kau merawatku.
Dia tidak mau meninggalkanku sendirian.
Pertemuan terakhirmu dengan Hakim Parashar terjadi setelah jeda yang lama.
Kau bertemu dengannya pada hari dia meninggal?
Ya, Pak.
Aku mengambil kursus keperawatan.
Itu sangat diminati di luar negeri.
Kenapa kau menemui Hakim Parashar hari itu?
Salah satu kerabat bibiku
- mau menikah denganku... - Langsung ke intinya.
Kenapa kau menemui Hakim Parashar hari itu?
Aku akan ke sana, Pak.
Salah satu kerabat bibiku mau menikahiku.
Jumlah uang muka yang dia dapatkan dari transaksi tanah
hilang dari rumahnya.
Pak! Menurutmu?
Aku akan membunuh ayahku demi 500.000?
Ayah sangat mencintaiku.
Yang harus kulakukan hanya minta uang dan dia akan menurutinya.
Aku tidak tahu tentang orang lain
tapi Yusuf dan aku rela mati demi dia.
Dan membunuhnya juga, kan?
Apa yang kau katakan, Pak?
Yusuf dan aku sangat disayanginya.
Dia bahkan tidak akan mengunjungi rumah pertaniannya tanpa Yusuf.
Dia akan meminta Yusuf menarik uang dari bank.
Tidak ada gunanya meneteskan air mata.
Kau boleh pergi. Aku akan memanggilmu nanti.
Yusuf Mohammad Sheikh.
Di mana kau tinggal sekarang?
Di Bihar, Pak.
Kau sopir Hakim Parashar, kan?
Itu saat dia menjadi pengacara.
Lalu, dia mendapat promosi.
Dia diberi kendaraan pemerintah beserta sopirnya.
Jadi, dia menugaskanku untuk pekerjaan rumah.
Kenapa kau berhenti?
Karena istriku.
Aku harus kembali ke Bihar karena suatu alasan.
Berapa lama kau bekerja untuknya?
Aku menjadi sopirnya selama 11...
Chandigarh, Simla 5...
No comments yet. Be the first to leave one.