The first 200 lines.
Baginda, bagaimana bisa anda menjadikannya selir?
Ini sungguh lelucon bagi pelayan istana rendahan.
Lelucon apa? Dia mengandung keturunan Kaisar.
Menganugerahinya gelar selir, itu tidaklah cukup, Kaisar.
Kenapa denganmu tiba-tiba? Cepatlah bangun!
Apa yang kau lakukan? Cepat panggil tabib kerajaan.
Apa dia akan baik-baik saja?
Buatlah keputusan, Baginda.
Benar, Kaisar. Tolong keluarkan dekrit.
Dia takkan terkena penyakit tak tersembuhkan, kan?
- Baginda? - Apa kau mendengarku?
Ya.
Jadi, apa keputusan kalian?
Keputusan? Justru kami menunggu keputusan Kaisar.
Aku akan ikuti keputusan kalian...
- Baginda. - Kaisar.
Gol Ta, apa kau diluar?
- Cepat, tuangkan air untukku. - Ya, Baginda.
Baginda, sebelum saya mati, saya takkan mengijinkan.
Ingatlah itu.
Kaisar, kau tidak perlu persutujuan Empress.
Jadikan Selir Pak sebagai istrimu. Apa kau mengerti?
Aku mungkin terlihat lemah dan rapuh, dan kau berani meremehkanku?
Ibunda Ratu, kau terlalu meremehkanku.
Kita lihat saja nanti.
Gadis kurang ajar! Beraninya dia mengajariku.
Suatu saat kau pasti akan berlutut dan memohon pengampunanku.
Aku hampir mati karena disiksa dua wanita itu.
Saya akan siapkan obat untuk memulihkan tenaga anda.
Tidak perlu.
Dibanding dengan itu...
Itu...
Cari tahu bagaimana kondisi gadis yang pingsan di tempat panahan.
Baginda, apa mungkin anda menyukainya?
Apa maksudmu menyukainya?!
Jangan pernah bicara macam itu lagi!
Aku takut Empress akan mendengarnya.
Lalu kenapa anda begitu peduli pada gadis rendahan itu?
Tidak, itu... itu...
Bukankah aku bilang kalau dia mirip seseorang yang menyelamatkanku di Goryeo?
Saat aku melihatnya, aku merasa bisa bernafas lega.
Karena sudah seperti ini, bagaimana jika dia menjadi pelayan Baginda?
Memindahkan musuri dari Istana Selir ke Balai Utama?
Musuri Balai Utama memiliki sedikit tugas dan bayarannya lebih tinggi.
Banyak orang yang berusaha ditugaskan disini, Baginda.
Dia pasti akan sangat senang.
Tentu saja, dia akan berterima kasih pada baginda. DIa akan sangat berterima kasih.
Oke. Kalau begitu, lakukanlah.
Dia akan sangat berterima kasih padaku...
Baginda!
Baginda!
Apa kau menyimpan aksesoris pemberianku dengan baik?
Tentu saja, Baginda.
Hamba takkan pernah lupa kebaikan Baginda.
Apakah "takkan lupa" itu sudah cukup?
Tidak.
Bahkan jika hamba tercabik dan hancur, hamba akan tetap setia pada Baginda.
Tak perlu hancur berkeping-keping, setia padaku, itu sudah cukup.
Berkah anda sungguh berlimpah, Baginda.
Berkah anda sungguh berlimpah, Baginda.
Berkah anda sungguh berlimpah!
Berkah anda sungguh berlimpah!
Jika dia adalah Sung Nyang, itu pasti akan bagus.
Sung Nyang hidup dengan baik, kan?
Anda datang, Kepala Kasim.
Apa dia masih sakit?
Dia tersadar sebentar dan tertidur lagi.
Di Istana Kerajaan, jika kau tak peduli pada tubuhmu, itu dianggap ketidak-setiaan.
Setelah dia tersadar, laporkan padaku segera.
Ya, Kepala Kasim.
Yang Mulia.
Kau dimana?
Aku merindukanmu, Yang Mulia.
Malam ini, akan kuambil kepalamu.
Yang Mulia.
Serangan akhirnya dimulai.
Kembali ke posisi masing-masing!
Jenderal.
Musuh menyerang lebih dulu.
Mundur!
Jangan kejar mereka terlalu dekat.
Jaga persimpangan. Musuh pasti akan kembali kesana.
Saya mengerti.
Ini jebakan! Ini jebakan!
Balik arah! Cepat balik arah!
Ada jebakan!
Sekarang. Lepaskan!
Serbu!
Darimana suara itu berasal?
Itu dari timur pegunungan.
Apa mereka berperang?
Dengar. Teriakan tak ada hentinya.
Siapa yang berteriak sebenarnya? Apakah Turks atau pasukan buruh?
Sepertinya Mantan Raja jatuh pada jebakan mereka, selagi mengejar mereka.
Dasar bodoh.
Dia lari ke barak musuh karena dibutakan dengan kemenangan.
Yeom Byeong Su juga bersama mereka, kan?
Ya, Jenderal.
Bahkan jika Mantan Raja diberkahi langit dan bertahan hidup...
dia akan mati oleh pedang Yeom Byeong Su.
Tapi, akankah mereka mengarah kemari?
Dasar brengsek! Siapa yang mengambar peta ini?
Setelah mereka terdesak, mereka pasti akan mengarah kemari.
Itu Batoru.
Batoru... Aku sendiri yang akan memenggalmu.
Serang!
Ada mayat disini.
Kelihatannya semua telah dihabisi.
Semuanya mayat pasukan Turks.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Apa teriakan tadi malam dari Pasukan Turk?
Jen... Jenderal.
Kami terlambat karena mengumpulkan senjata.
Darimana kuda ini berasal?
Ini kuda yang ditumpangi Jenderal Batoru.
Batoru?
Apa dia juga terbunuh?
Jenderal!
Prajurit yang terbunuh lebih dari seratus.
Tapi, kenapa Bang Shin dan Jombak tidak terlihat?
Mereka mati sebagai pahlawan.
Mati.
Ini benar-benar berita bagus...
Baginda. Apakah anda sehat belakangan ini?
Lama tidak berjumpa, Jenderal Dang Gi Shi.
Ada masalah apa anda memanggilku kemari?
Apa kau masih ingat Sung Nyang?
Saat aku kembali ke Yuan, aku memintamu melepaskan Sung Nyang.
Ya, Baginda. Saya ingat.
Jika kau tahu sesuatu tentang Sung Nyang,
beritahukan padaku semuanya.
Entahlah apa dia mendapat istri.
Dimana dia dan apa yang dia lakukan.
Menurut utusan Goryeo,
dia hidup dengan baik bersama saudaranya.
Begitukah?
Tapi, kenapa anda tertarik dengan hal ini?
Tidak ada. Aku tiba-tiba penasaran dengan kondisinya.
Baginda, anda adalah Kaisar negeri ini.
Lupakan tentang masalah Goryeo.
Sebelum Kaisar mengetahui, aku harus cepat membawa Sung Nyang menjauh.
Kaisar telah tiba.
Kau yang disana.
Yang kumaksud adalah kau. kau!
Apa kau tidak dengar panggilan Baginda?
Apa kau masih menyimpan aksesoris pemberianku?
Hamba menghilangkannya.
Kau ini. Beraninya kau membiarkan...
Aku ingin ke Istana belakang. Suruh dia menyiapkan teh.
Ya, Baginda.
Baginda secara khusus memilihmu sebagai musuri Balai Utama.
Apa kau tahu?
Saya tahu.
Apa begitu saja?
Hei, kau sudah menerima menerima kebaikan baginda...
Sudahlah. Apakah sulit bekerja di Balai Utama?
Katakan saja, apapun keinginanmu.
Maaf, tapi hamba ingin kembali ke Istana Selir.
Ka... Kau tidak su... suka disini?
Hamba lebih senang bekerja di Istana Selir.
Teh macam apa ini? Ini sudah dingin!
Hamba akan membawakan yang baru.
Sudahlah. Singkirkan tehnya dari sini.
Apa yang terjadi?
Apa? Kau bilang dia akan berterima kasih? Aku seharusnya...
Itu benar. Aigoo... Kenapa aku tak berpikir dengan hati-hati?
Baginda, apa anda sudah bangun?
Tunggu. Kalian semua keluarlah.
Kau. Kau, kemarilah.
Hei, pelan sedikit.
Saya akan memakaikan lotion sekarang.
Aduh, aduh.
Dasar gadis ini.
Sekarang. Pijatlah!
Bagaimana bisa kau seperti ini?
Kenapa kau tidak suka di Balai Utama?
Kudengar dibanding Istana Selir, pekerjaan disini lebih ringan dan bayarannya tinggi,
Tapi kenapa kau memaksa ingin kembali...
Sakit!
Baginda.
Hamba pantas mati, Baginda.
Kenapa sebagai wanita, tanganmu begitu kuat?
Saya akan memberinya pelajaran.
Tidak perlu. Kau boleh pergi dulu.
Sepertinya dia harus dikembalikan ke Istana Selir.
Tiap pergerakannya benar-benar mirip dengan Sung Nyang.
Aku punya cara untuk mengatasi gadis macam ini.
Ini begitu panas!
Sekarang, tidak panas.
Sangat panas.
Dingin.
Kenapa tiba-tiba panas lagi?
Ini terlalu dingin.
Ini terlalu dingin!
Apa? Kau bahkan tak bisa melakukan sesederhana mengipasi?
Tak bisa membunuhmu saat ini,
itu benar-benar menyiksaku.
Ekspresimu terlihat sangat tidak sopan.
Ekspresi hamba memang seperti ini.
Begitukah?
No comments yet. Be the first to leave one.