The first 200 lines.
Apa yang akan kau lakukan?
Hukuman.
Mari kita...
...putus.
Kapan...
...kau tahu itu?
Kau sendiri, Pengacara? Kapan kau tahu...
...soal ayahku?
Baru-baru ini.
Lalu kenapa tak beritahu aku?
Kenapa kau menderita sendirian?
Because it doesn't matter to me.
Apa yang tidak penting bagimu?
Tak ada yang penting bagiku.
Bagiku, tidak penting orang seperti apa...
- ...ayahmu dulu. - Bagaimana jika itu penting bagiku?
Aku bertanya padamu.
Bagaimana jika itu penting bagiku?
Baik. Mari kita dengar. Beritahu aku.
Aku ingin tahu apa yang penting bagimu...
...dan apa bedanya itu?
Ini menyakitkan.
Apa?
Melihatmu menderita karena aku,
itu berat bagiku.
Baik, aku takkan menderita.
Apa lagi?
Ayahku bukan tipe orang yang kau pikirkan,
tapi aku bahkan tak bisa bilang begitu.
Okay. Mari kita pikirkan itu.
Lalu apa lagi?
Aku hanya tidak suka situasi ini.
Kau tak paham ucapanku? Aku mau putus denganmu.
Jangan merubah pikiranku, dan biarkan aku pergi.
Aku tidak suka.
Aku tak paham apa yang kau bicarakan.
Apa pun yang kau katakan padaku,
aku takkan membiarkanmu pergi.
Aku tidak mau.
Takkan berhasil bahkan jika kau coba menghentikan aku.
Tak peduli seberapa keras usahamu, aku akan pergi.
Kerja bagus. Aku melakukan hal yang tepat.
Bagaimana jika aku...
Tidak.
Aku melakukan hal yang tepat.
Ke mana aku harus pergi?
Siapa?
Siapa?
Apa ini?
Kau kenapa di sini?
Boleh aku menginap di sini?
Hey.
Hey, apa-apaan kau?
Dari mana kau tahu tempat tinggalku?
Tidak susah mencari tahu alamat rumah seseorang.
Astaga, kudengar kau baru saja pindah.
Tempatmu bagus.
Izinkan aku tinggal di sini beberapa hari.
Apa katamu?
Apa masalahmu?
Ini menerobos masuk namanya.
Aku tahu itu.
Tapi karena masalah pribadi,
aku tak punya tempat tinggal.
Hanya ada satu kamar di tempat ibuku.
Dan aku sudah mulai hidup mandiri,
jadi aku tak bisa kembali ke rumahnya.
Aku terlalu tua untuk itu, bukan?
Ya, benar.
- Tidak. Tapi... - Lihat?
Tapi kenapa kau harus tinggal di tempatku?
Hey, ini yang kubutuhkan.
Kau bisa tidur di tempat tidurmu.
Maaf. Dari awal, tempat tidur itu milikku,
sofa ini juga milikku.
Astaga, nyaman sekali.
Hey.
Kau...
...benci aku, kan?
Ya, aku sangat membencimu.
Aku juga. Aku sangat membencimu.
Ya, aku tahu.
Tapi kenapa kau mau tinggal di tempatku?
Pergi, tinggal dengan orang yang kau suka.
Kalau aku ke rumah orang yang kusuka, bertanya apa aku bisa tinggal di sana,
itu akan sangat tidak sopan, bukan?
Syukur kau tahu. Itu sangat tidak sopan.
Lalu kau pikir kenapa aku tinggal di tempatmu padahal aku benci kau?
Apa?
Hey, kau sekarang mau balas dendam?
Ini balas dendam dan hukumanmu.
Kau berutang banyak padaku.
- Hey! - Haruskah aku tulis...
...semua perbuatan jahatmu padaku?
Tidak.
Tapi kau benar-benar berguna.
Aku sangat menderita...
...dan tertekan.
Setelah aku menyakitinya,
aku bertanya-tanya seharian...
...aku melakukan hal yang benar atau tidak.
Aku tak tahu apa aku waras atau gila.
Aku cuma benar-benar...
...ingin mati.
Tapi setelah melihatmu,
aku ingin mulai hidup lagi.
Ini seperti keinginan untuk bertarung.
"Bahkan dia masih hidup, jadi aku juga harus terus hidup."
- Hey! - Jangan berteriak padaku.
Aku sangat sedih sekarang.
Ini gila.
Kita...
...tidak boleh putus, Bong Hee.
Bahkan jika aku menyuruhmu pergi,
jangan pergi.
Hey.
Ah, bikin kaget saja.
Bisa taruh tanganmu di atas dahiku dan lihat apa aku demam?
Kau tahu, aku jarang...
...sakit.
Sepertinya aku demam.
Tunggu.
Ini.
Tapi, Jaksa Na.
Kau punya mobil?
Kenapa?
Kau tak butuh supir pribadi?
Aku jago parkir. Aku menyetir dengan sangat baik.
Aku tak butuh supir.
Hey, ini 37°C. Apa ini normal?
Kau bikin ribut saja. Itu cukup normal.
Cuma demam ringan.
Oh ya?
Kau yakin?
Sepertinya tidak.
Waktu meeting dijadwal ulang sampai pukul 10.30.
Dia mau aku menghadiri meeting.
Terus?
Dia menyuruhku bekerja...
...setelah apa yang terjadi.
Itu bagus.
Omong kosong.
Bagaimana bisa aku pergi kerja seperti ini?
Kau sangat berani...
...untuk seseorang yang tak punya apa-apa.
- Apa? - Kau tak paham?
Kau pikir kau bisa dapat pekerjaan di tempat lain...
...selain firma hukum yang aneh dan gila itu?
Dalam mimpimu.
Lupakan saja harga diri dan pergilah bekerja.
Aku tak peduli dengan kisah cintamu atau tertarik,
tapi kau butuh uang untuk berkencan dengan siapa pun.
Apa kau akan terus menjalani hidupmu...
...dengan mengandalkan orang lain?
You're like a crazy bedbug. My gosh.
Sampai jumpa.
Astaga.
Ikut aku.
Yang lain lagi pada pergi?
Ya.
Aku datang untuk menyampaikan ini.
Sejujurnya, aku begitu hancur...
...soal aku harus mengajukan ini atau tidak.
Tapi...
Tapi?
Seperti inilah kesimpulanku.
Aku minta maaf.
Dan terima kasih untuk semuanya.
Menekankan itu hanya buang-buang waktu.
Ini kontrakmu. Ini jelas menyatakan...
...masa kontrakmu adalah 2 tahun.
Jika kau ingin pergi, kau bisa lakukan setelah akhir kontrakmu.
- Tapi... - Kupikir kau setidaknya tahu...
...untuk memisahkan perasaan pribadi dari pekerjaan. Apa aku berharap terlalu banyak?
Pengacara.
Mari kita bicarakan pekerjaan saja hari ini.
Aku belum siap membahas apa yang terjadi di antara kita.
Eun Bong Hee, kau anggap pekerjaan ini lelucon?
Bukan begitu. Tapi situasinya...
Aku suruh kau menarik garis antara pekerjaan dan perasaan pribadi.
Jangan...
...mudah melepas pekerjaan.
Mejamu di sana.
Jangan pikir mudah untuk dapat tempat itu.
Jangan khianati mereka yang kau percayai...
...dan mereka yang mempercayaimu.
Bijaksanalah,
aku minta maaf.
Tapi tak mudah untuk tetap bekerja seolah tak ada yang terjadi...
...dalam situasi seperti ini.
Takkan mudah juga bagimu.
Setiap kali kau lihat aku, kau akan memikirkan ayahmu.
Dan setiap itu terjadi, kau akan merasa bersalah padanya dan aku.
Ini akan menyakitimu.
- Jadi? - Jadi...
...aku beritahu bahwa itu alasanku berhenti.
Tidak, kau melampaui batasmu saat ini.
Itu masalahku, dan aku akan cari tahu apa yang harus dilakukan. Jadi kau...
...pikirkan saja...
...masalahmu.
No comments yet. Be the first to leave one.