The first 200 lines.
- Oke. - Tunggu, kita harus tandai ini.
Hei, aku sangat lelah.
Hei, aku sangat lelah.
Oke.
Ini semua milikmu, jagoan.
Kau berhasil, sayang.
Apa di rumah ada orang?
Saudarimu tadi sempat ke sini.
Dia mungkin biarkan pintunya tidak dikunci.
Ya Tuhan. Semuanya sakit.
Ya Tuhan. Di sini bau.
Hanya sedikit apak.
Aku tidak percaya semua itu keluar dariku.
Itu seperti pipa meledak dari selangkanganmu.
Menjijikkan.
Tapi kemudian lihat apa yang datang.
Kemari.
Ya.
Ya.
Kau sangat menggemaskan.
Laba-laba kecil naik talang air
Hujan turun, laba-laba hanyut
Laba-laba kecil naik talang air
Laba-laba kecil...
- Hai. - Oke, baringkan dia.
Baringkan dia. Aku punya sesuatu untukmu.
Oke.
Baiklah. Ups. Benar begitu. Tidak, tidak, tidak...
Benar begitu.
Hanya... Ya.
Ya.
Sudah. Itu lebih baik?
Ini hadiah persalinan.
Aku diberitahu itu tradisi yang dilakukan laki-laki.
Terima kasih.
Aku rasa aku benar-benar menyentuh bagian airnya.
Apa?
Aku rasa aku menyentuh bagian airnya!
Apa yang kau lakukan kepadaku?
Kau bisa membuat origami dengan ini.
Berhenti khawatir. Itu normal.
Bagaimana perasaanmu jika penismu merenggang hingga ke lututmu?
Maksudku, aku akan menyukai itu. Itu contoh yang buruk.
Ibu-ibu di internet bilang kau akan kembali menyusut ke normal...
...dalam kurun waktu seminggu.
Apa yang ibu-ibu internet ketahui tentang vaginaku yang hancur?
Hei, hei, hei, hei, kita sudah bicara soal memaki.
Aku hanya tak mengerti kenapa kau membaca artikel itu di internet.
Karena aku mau belajar.
Dan para ibu-ibu ini lucu,
Tapi mereka juga seperti komunitas yang suportif.
Ya, komunitas. Lebih seperti kumpulan orang yang suka menilai.
Kita suka nama dia, 'kan?
Aku rasa begitu. Kau tidak?
Dia jelas seorang "Alex."
Jagoan kecil.
Apa maksudnya itu?
Dia tak mungkin seorang Alex. Dia masih belum berbuat apa-apa.
Kau tak bisa putuskan mengganti namanya satu bulan kemudian.
Aku tak mau kembali bekerja.
Apa kau akan baik saja tanpaku?
Ya. Tentu saja aku akan baik.
Aku tahu ini berat.
Mengurus dia di rumah dan menyiapkan makan malam.
- Makan malam? - Kau suka memasak.
Itu tak harus setiap malam,
Tapi kita harus memiliki semacam rutinitas.
Kita tidak butuh rutinitas sebelumnya.
Kita belum jadi keluarga sebelumnya.
Kau tahu apa yang aku rindukan?
Roti panggangmu.
Aku pikir kau merindukan ini.
Ya, kita berdua baik-baik saja, bukan?
Ya.
Oke. Oke.
Aku tidak tahu ada gundukan di sini.
Apa-apaan?
Beritahu aku apa yang membawamu ke sini.
Yang Dihadapi di Tahun Pertama
Bau.
Tidak, tidak, tidak, tidak!
Ya Tuhan, waktunya sangat tidak tepat.
Astaga, kau seperti selang.
Kau selang kesayanganku.
Hei.
Biar aku lihat senyuman itu.
Ya. Ya.
Bau.
Oke, ya.
Tentu saja. Ya.
Aku akhirnya bisa bersihkan itu dari kursi.
Astaga, ini bau.
Apa yang kau lakukan?
Gunakan ini.
Kau harus menopang dia.
Ya. Oke.
Selamat malam.
Hei.
Sudah selesai. Sudah bersih.
Lihat? Kau tak perlu menangis.
Itu membuatku gila.
Seluruh keluarga bosku akan datang...
...dan aku harus pilihkan restoran yang ramah bagi anak-anak.
Mereka membawa anak-anak. Maksudku,
Aku harus bagaimana?
M? Halo? Apa kau mendengarkan?
Aku rindu Ibu.
Ya. Dia pasti bersedia untuk mengasuh Alex sekarang.
Ya, itu akan sangat bagus.
Dia pasti akan sangat bangga denganmu.
Memiliki anak dan lainnya.
Aku mau lihat wajah dia.
- Kalau begitu kemarilah. - Aku tak bisa hari ini.
- Kalau begitu besok. - Akan aku usahakan.
Bagaimana keadaan dia?
Dia baik. Dia mulai terlihat seperti kakek.
Mari berharap dia tidak sepenuhnya seperti kakek.
Hei, sampah apa yang melingkar di lehermu?
Diamlah. Ini bukan sampah.
Ini kado persalinanku.
Itu layak mendapatkan berlian.
Ayolah. Ini bagus.
Setidaknya itu bukan sepatu kuda.
Bajingan!
Apa? Ada apa?
M?
Meredith!
Bajingan, bajingan.
Halo?
M? Aku pulang.
Hei, hei.
Aku kehilangan semua.
Apa?
Akal sehatku. Temperamenku. Aku...
Aku menghancurkan detektor asap.
Apa dia lapar?
Aku sudah menyusui dia.
Kapan?
Entahlah. Sarapan, makan siang. Dia kenyang.
Oke. Mungkin popoknya perlu diganti.
Aku butuh istirahat.
Saat kau pulang, beri aku waktu sebentar.
Aku hanya bilang dia tak sebaiknya duduk di sana dengan popok kotor.
Lalu kenapa bukan kau yang menggantinya?
Oke, ya, biar aku saja. Dengan senang hati.
Hei, ya, mari membuatmu nyaman.
Mari menggantimu dengan pakaian bersih.
Ya.
Apa ada yang bisa membantumu? Orang tua?
Orang tuaku sudah meninggal.
Orang tuaku, kami tidak dekat.
Maaf.
Apa yang kau lihat saat kau melihat Alex?
Apa yang aku lihat? Aku...
Hei.
Aku tidak tahu apa yang aku lihat.
Aku melihat bayi tak berdaya.
Apa kau melihat pencapaian?
Beban? Anugerah? Masa depan?
Hei.
Kemari, sayang.
Astaga.
Oke.
Itu dia.
Ibu?
Alex?
M?
Ya.
Apa yang kau lakukan?
Kapan kau pergi?
Aku tidak tahu.
Kau tadi berteriak.
Benarkah?
Aku rasa dia lapar.
Tidak.
Aku melihat dia saat sudah menjadi anak kecil.
Aku mendapat visi dia saat sudah jadi anak kecil kemarin.
Dan dia bicara.
Itu terasa menyenangkan.
Itu sangat bagus kau melihat melampaui tahap melelahkan ini.
Itu artinya kau melihat masa depan di mimpimu.
Bukan itu yang terasa.
Aku akan memberimu sesuatu untuk dikonsumsi.
Itu akan sedikit membantu merasa seperti dirimu sendiri.
Aku tidak mengerti. Itu begitu mudah untukmu.
Kau bahkan tidak menginginkan ini.
Begitu juga denganmu. Tapi saat itu terjadi,
Kita ingin yang terbaik, benar?
Sekarang dia sudah lahir.
Aku menjadi ayah berkat kau.
Dan kau menjadi ibu berkat aku.
Hubungi aku jika kau butuh sesuatu.
Hanya kau dan aku, kawan.
Benar begitu.
Lihat? Kau tak perlu menangis.
Meredith.
Benar begitu.
Hei, hei. Lihat! Lihat apa yang ibu bawakan.
Hei.
Bajingan. Ayolah.
No comments yet. Be the first to leave one.