The first 200 lines.
STASIUN UTARA
KAU TIDAK SENDIRIAN
Hei, Pak.
Pak.
Pak, boleh aku bertanya sesuatu?
- Apa kau punya uang? - Sedikit.
Bukan hanya untukku, tapi juga kawan-kawanku.
- Untuk kami. - Aku tidak punya apa-apa.
Dia tidak mau berbagi dengan saudara-saudaranya.
- Jaketnya kulit, tapi dia tidak punya apa-apa? - Tidak perlu yang mewah.
- Sebenarnya, aku mau semuanya. - Semuanya.
Aku punya sepuluh euro dan tiket trem.
- Sepuluh euro dan tiket trem. - Bagus.
Berikan.
- Aku butuh keduanya. - Lihat mata anak anjing ini. Ayo, bung.
Dia punya nyali, kuakui itu.
- Pak... - Berhenti.
Dompetmu dan ponselmu, brengsek.
Aku tidak punya ponsel.
Ya, mengerti.
Bangun.
Ayo, kita jalan-jalan.
- Apa maksudmu, dia tidak punya apa-apa? - Tidak, dia tidak punya apa-apa.
- Ayo, pukul dia. - Ayo.
Pukul dia, pukul dia.
Hei, Bashir. Ayo, pukul dia.
- Cepat pergi dari sini. Ada polisi. - Ciao, ciao.
Dasar bajingan.
MARKAS138 Kandang Para Juara
Hei. Kau berdarah.
- Kau mengeluarkan cairan. Tak boleh ada darah di lantaiku. - Maaf.
Mohon maaf.
Sialan, bung. Lihat apa yang kau lakukan.
Dilarang meludah, kencing, atau muntah. Dan yang pasti, jangan sampai ada darah di lantaiku.
Tempat ini terlihat seperti rumah jagal yang mengerikan.
Enam euro dan 50 sen. Aku tidak punya uang kembalian.
Uang pas atau kartu bank.
JIMAT KEBERUNTUNGAN
Simpan kembaliannya.
Semoga beruntung.
Apa?
Kirina?
Aku Dylan.
Dylan dari kelas sembilan.
Apa ini anakmu?
- Haruskah aku memanggilnya? - Ya, panggil Pierre, Nak.
Bajingan keparat.
Dylan?
Dylan Devuyst?
Ya, kau. Kemari.
- Ayo sapa aku. - Koboi.
Kau senang melihatku?
- Apa yang terjadi? - Aku menabrak tembok.
Tembok?
Meminjam uang juga membutuhkan harga, ya Dylan.
- Atau kakimu. - Apa itu kesukaannya akhir-akhir ini?
Setidaknya sekarang aku punya tempat duduk ke mana pun aku pergi.
Dan kau? Apa semua itu?
Kau terlihat seperti habis tertabrak trem. Apa ada gigimu yang copot?
Hei... selamat datang kembali, kawan.
- Ya? - Dia dalam perjalanan, Pierre.
Oke. Paham.
Pierre?
- Ya? - Apa ada kunci baru di pintuku?
Tidak.
Buang saja ke Sungai Scheldt. Atau ke suatu tempat di Waasland atau semacamnya. Ya.
Setelah melewati Lillo, saat mereka menemukannya,
DNA-nya pasti sudah hilang. Kuharap begitu demi kebaikanmu.
Karena aku tidak bohong pada polisi. Oke? Bagus.
Oh.
Selamat ulang tahun, bung.
Kau lihat, aku tidak melupakan itu.
Kau senang berada di luar?
Dan juga pagi-pagi sekali.
Kau pasti sudah melakukan sesuatu untuk itu, 'kan?
Ulang tahunku besok.
Aku tidak terlalu meleset, 'kan?
Apa sudah ada rencana?
Tidak ada rencana.
- Aku hanya mau berhenti dari semua ini. - Tentu.
Apa kau yakin tidak punya kebiasaan buruk di penjara?
Hanya yang bagus, Pierre. Hanya yang bagus.
Apa badannya besar?
Tidak. Tapi ada lima orang.
Itu tidak menghentikanku di masa mudaku.
Apa yang terjadi pada Cowboy?
Tidak ada apa-apa.
Aku membantunya berhenti minum alkohol. Itu saja.
- Dan memberinya pil, aku yakin. - Hanya pil yang bagus.
Ayo kita lihat. Nah. Seperti baru lagi.
Terima kasih.
Apa kau tidak menyesalinya?
Tato-tato jelek itu?
Ada hal-hal yang lebih buruk untuk disesali, Pierre.
Benar.
Itu sangat benar.
Apa dia menderita?
Ibuku. Apa dia menderita?
Ini. Kunci barumu.
Kau tahu kan kau masih punya hutang yang harus dibayar?
Apa kau punya ide bagaimana caranya?
Aku akan mencari tahu apa Staelens mencari karyawan.
Staelens?
- Staelens sudah bangkrut selama dua tahun. - Atau di tempat lain.
Mereka selalu mencari orang yang mau bekerja.
Ini bagus sekali. Aku suka menonton ini.
Apa kau tahu berapa banyak hutangmu?
Beberapa ribu atau lebih?
22.124 euro.
Tapi akan kubulatkan.
Misalnya, 23.000 euro agar lebih mudah.
Yah... aku membantu ibumu membayar sewa.
Membayar harga pemakamannya. Persidanganmu.
Semuanya masuk akal, 'kan?
Dan aku belum menyebutkan semua hal yang hilang karena tindakan bodohmu itu.
Butuh waktu untuk mendapatkan itu, Nak.
Jika aku...
- Jika aku menyisihkan 500 setiap bulan... - Aku sudah menunggu selama lima tahun.
Aku tidak akan menunggu empat tahun lagi.
Tapi aku punya solusinya. Kau bahkan tak perlu berpikir. Lakukan saja. Ayo.
Dengar. Aku sedang melayani klien.
Seorang lelaki kecil dengan masalah judi yang besar.
Dia berutang padaku.
Dia bekerja di restoran di Zandmarkt.
Dan bosnya sangat menyukai uang haram.
- Kenapa klienmu tidak membayarmu... - Sialan, itu bukan urusanmu.
Terserah. Berikan ponsel itu dan amplopnya dengan nomor di atasnya.
Ayo. Aku akan segera meneleponnya.
Aku akan bilang dia berutang beberapa ribu lebih sedikit padaku...
jika dia lupa menyetel alarm malam ini.
Onkologi St. Vincent.
Setidaknya ada 50.000. Kau tinggal bawa uang itu ke sini.
Beri aku 23.000 dan kita bagi sisanya. Selesai.
Itu saja.
- Pierre... - Tidak. Jangan macam-macam.
Dengan segala hormat, aku mencoba menghentikan omong kosong ini.
Dan aku baru bilang, aku tidak mau menunggu empat tahun, demi Tuhan.
Oke, pergilah makan, amati tempatnya dulu.
Menjelang tengah malam, semua orang akan keluar, kau bisa ambil kesempatan.
Pierre, aku tidak pernah memintamu membayar sewa, harga pemakaman,
- melakukan semua itu. Itu tidak mungkin... - Benar. Itu benar sekali.
Tapi aku tidak pernah memintamu menembak separuh kota ini.
Dan dengan revolverku, sialan.
Dengan revolverku.
Apa kau menyadari apa yang kau lakukan?
Lalu apa yang seharusnya kulakukan?
Mengusir ibumu?
Apa kita harus mengusirnya ke jalanan?
Apa itu kesalahannya karena dia duduk sendirian di sana?
Hancur karena berduka.
Hancur karena berduka ya.
Dengan uang pensiun janda yang hampir tak ada artinya.
- Maksudku... satu anak di penjara, yang lainnya... - Restoran yang mana?
Papillon.
Oke, tiga puluh detik untuk alarm dan empat puluh detik untuk polisi.
Astaga.
- Ini bukan pertama kalinya bagiku. - Tidak, tapi ini pertama kalinya bagiku.
Dylan, alarmnya.
Hitungan mundur sepuluh detik. Sialan.
Astaga. Satu-satunya saat aku memintamu untuk ikut serta...
- Buona sera. Selamat malam. - Selamat malam.
- Apa kabar? - Baik.
- Apa kau sudah memesan tempat? - Belum.
Aku sendirian.
Maaf, kau perlu reservasi.
Aku tidak akan berlama-lama. Hanya hidangan utama dan aku akan pergi.
Aku mau sekali, tapi restoran kami penuh. Aku tak bisa berbuat apa-apa.
- Apa yang penuh? - Apa yang penuh?
Kau mengajukan pertanyaan yang bagus.
Jika tidak ada tempat lagi untuk orang, lihat sekeliling. Apoa memang sudah penuh.
Bukankah selalu ada tempat untuk satu orang lagi?
Aku suka memberi orang yang berstatus sedikit ruang untuk bernapas, untuk hidup.
Aku menghargai itu.
Apa yang harus kulakukan?
Boleh kutawarkan minuman? Cava, Aperol, Campari, Martini...
Bir saja.
Bir biasa saja, tak masalah. Luca, bir saja untuk lelaki sejati.
Terima kasih.
Nona Dravet, ini dia. Aku punya Chardonnay Montrachet untukmu.
Tepat pada suhu yang kau sukai.
- Terima kasih. - Dan Coca-Cola untuk sang putri.
Kau tahu apa yang kubutuhkan. Aku akan menunggu suamiku memesan.
Tenang saja. Kita punya banyak waktu. Sampai jumpa, putri.
Luca, tagihan untuk meja 31.
Ya, Jeroen? Ya, kami sudah di Papillon.
Maksudmu, kau tidak bisa?
Ya, tentu saja kupikir itu sangat disayangkan.
Oke. Tidak, tidak.
Ya, aku mengerti. Sampai jumpa besok.
Ah. Lusa. Oke. Ya.
- Jeroen tidak datang, sayang. - Aku baru dengar.
- Kita bisa memesan sekarang. - Mungkin dia terlalu sibuk dengan kampanyenya?
Hanya beberapa jam lagi bekerja dan kemudian
dia akan pergi ke konferensi di Cologne.
Itulah politik. Tak akan berhenti sampai di situ...
Tapi itu artinya aku perempuan bebas malam ini.
Jika kau mau melakukan sesuatu, mungkin?
Tunggu sebentar. Apa kau mau kencan denganku malam ini?
Serius? Karena aku tak perlu memikirkan itu.
Aku pasti akan mengajakmu keluar.
No comments yet. Be the first to leave one.