The first 200 lines.
Tayangan berikut mengandung gambaran bunuh diri
Pemirsa diharap bijak
REVENANT
KARAKTER, TEMPAT, ORGANISASI, DAN KEJADIAN DALAM DRAMA INI HANYALAH FIKSI
ADEGAN MELIBATKAN AKTOR CILIK DIREKAM DALAM SITUASI AMAN
TAKSI PREMIUM
YANG TIDAK TERELAKKAN
Kaukah itu, Gangmo?
AKSESORI RAMBUT
Apa yang terjadi?
Apa yang salah?
ROH JAHAT ITU HANTU REMAJA
Mustahil...
Gangmo, buka pintunya!
Ada di luar.
Ia terus mengikutiku. Aku takut setengah mati.
Cepat buka pintunya!
Kau di dalam?
Kau...
membuka pintunya.
Kau baik-baik saja, Gangmo?
Ya, Pak.
Haruskah aku berhenti dan berbisnis saja?
Rapat dengan pembeli pekan ini diadakan pukul berapa?
Kuhabiskan uang untuk itu saat akhir pekan.
Lagi? Jangan terlalu boros.
Cuacanya bagus sekali, aku jadi ingin berhenti kerja.
Halo?
Ya. Ini pelanggan yang menuju Sihyun-dong, bukan?
Ya, aku hampir sampai.
Ayo, kita minum lagi.
Mari makan sesuatu yang lezat.
Aku sungguh ingin berhenti bekerja.
Aku mendapat bonus bulan ini.
Kau mau makan apa?
Aku ingin istirahat selama tiga hari.
Sampai nanti.
TELAH TERJADI KASUS TERBURUK DARI AKSI PENGELABUAN SUARA
Ada tangan tidak terlihat di balik kasus bunuh diri.
Ada peraturan untuk "kematian karena intimidasi" di Pasal 322
dalam kitab hukum Dinasti Joseon awal, Daemyeongryuljikhae .
Sudah cukup pelajaran sejarah kunonya.
Kau pamer pengetahuan sebagai profesor folklor?
Dengarkan saja, materi ini mahal.
"Kematian karena intimidasi",
hukum yang dibuat untuk orang-orang terancam dan teraniaya,
lalu bunuh diri saat rasa ketidakadilan sudah terlalu berat untuk ditanggung.
Mereka membalas dendam kepada orang-orang yang menyebabkan kematian mereka.
Mereka pikir ada tangan yang tidak terlihat,
pelaku sebenarnya di balik kasus bunuh diri.
Jadi, zaman sekarang dan dahulu,
banyak orang bunuh diri karena ketidakadilan.
Aku mengerti.
Tapi bisakah kau berhenti datang ke sini?
Tidak ada yang berubah, meski kau selalu duduk di sini seperti orang gila.
Kau tahu itu.
Mulai lagi.
Hei! Kau sudah gila?
Kau gila, ya?
Apa yang kau lakukan?
Apa-apaan kau?
Ada pria aneh di sini.
Hei, Pak. Pak!
Astaga. Apa yang kau lakukan?
Tidak!
Tidak, jangan!
Tidak!
- Astaga. - Kita harus bagaimana?
- Kita harus apa? - Hubungi 119!
Kurasa seseorang baru saja melompat. Nanti kutelepon lagi.
Halo, 119?
Aku di Jembatan Seogang
dan seseorang baru saja melompat.
Ya, tolong cepat.
Sanyeong, mereka menangkap pelaku pengelabuan suara yang mencuri uang kita!
Di sini, Sanyeong!
Kenapa banyak orang? Katanya pelaku sudah ditangkap.
Kita tidak bisa mendapatkannya kembali.
Apa maksudnya?
Uang kita.
Mereka sudah menghabiskan semua uang kita.
Kita harus bagaimana, Sanyeong?
Bagaimana ini?
- Dasar orang-orang jahat! - Teganya kalian melakukan ini.
Hanya uang itu yang kumiliki!
Hei, Pencuri!
Kembalikan uangku, Pencuri!
Ada yang ingin kau katakan kepada para korban?
Tolong kembalikan uangnya kepadaku. Kumohon!
Dasar pencuri! Uangku...
- Astaga. - Kau baik-baik saja?
Sanyeong!
Kau tahu apa yang kulakukan untuk mendapatkan semua uang itu?
Hei!
Hei, Berengsek!
GU GANGMO
Jika aku mati, tolong bantu putriku.
Namanya Gu Sanyeong.
Astaga, dasar berandal...
Kenapa Ibu mengirim
semua tabungan kita tanpa memeriksa dahulu?
Bagaimana dengan kenaikan deposit?
Mana mungkin tidak Ibu kirim saat mereka bilang kau diculik?
Hanya kau yang Ibu punya.
Kau juga tak menjawab telepon, jadi...
Sudah kubilang, aku bekerja!
Astaga, jangan berteriak. Jantung Ibu berdebar.
Ibu...
sudah minum obat?
Ayo masuk.
Makanlah.
Ibu tidak pantas makan.
Makan saja.
Ibu harus makan sesuatu agar bisa minum obat.
Haruskah Ibu
mulai bekerja paruh waktu lagi?
Jangan pikirkan soal pekerjaan, tetap di rumah dan istirahat saja.
Aku akan mencari cara untuk mengumpulkan uang lagi.
Kau meremehkan Ibu karena tidak becus bekerja, bukan?
Siapa bilang aku meremehkan Ibu?
Jelas sekali dari matamu. Kau meremehkan Ibu.
Aku tidak meremehkan, hanya saja...
Ibu tidak ingat membayar ratusan ribu won
untuk kulkas yang Ibu rusak saat bekerja di toserba?
Itu hanya sekali.
Bukan hanya itu.
Dua tahun lalu, saat bekerja di restoran barbeku,
Ibu menumpahkan sup kimchi ke tas seharga 10 juta won pelanggan.
Itu sup pasta kedelai.
Ibu.
Ibu.
Meskipun tidak menjalani hidup stabil,
kita selalu dan sedang menjalani hidup yang baik.
Mari terus jalani hidup yang baik.
Aku akan bekerja sangat keras,
jadi, Ibu hanya perlu tetap di sisiku
tanpa melakukan apa pun.
Tetap saja, kau bekerja sekeras ini. Sebagai ibumu, mana bisa Ibu...
Hentikan!
Aku sayang Ibu!
Ibu, aku sangat menyayangi Ibu,
jadi, tolong jaga kesehatan Ibu.
Kesehatan Ibu yang paling penting bagiku.
Ibu sehat dan menyayangi...
Astaga, kaget aku.
Telepon dari induk semang?
Bukan.
Ya, silakan bicara.
Baik, aku mengerti.
Telepon dari siapa?
Kau harus pergi ke suatu tempat dengan Ibu hari ini.
Hari ini? Sekarang?
Aku harus menjadi sopir pengganti.
Kita harus ke sana. Cepatlah.
Sekarang juga?
Ibu sungguh tidak mau bilang kita pergi ke mana?
Kau ingat ayahmu?
Ayah?
"Sang ibu tiri dan putranya membayar dosa mereka,
lalu hantu dua bersaudari, Janghwa dan Hongryeon,
melepaskan kebencian mereka dan pergi ke surga."
Sudah selesai? Itu akhirnya?
Kau ingin tahu sesuatu?
Ya!
Peristiwa dalam Kisah Janghwa dan Hongryeon benar-benar terjadi.
Selama pemerintahan Raja Hyojong di Dinasti Joseon,
seorang pria bernama Jeon Dongheul menuliskan pengalamannya
saat menjadi perwira di Cheolsan.
Seperti yang pernah Ayah bilang...
hantu itu memang nyata.
Aku tidak terlalu mengingatnya. Dia meninggal saat aku masih kecil.
Tapi kenapa Ibu tiba-tiba membahas Ayah?
Ibu tidak pernah suka membicarakannya.
Ayahmu tidak meninggal.
- Apa? - Dia tidak meninggal.
Kami bercerai saat usiamu lima tahun.
Kita sudah sampai.
Ibu baik-baik saja?
Ibu tidak enak badan?
Apa karena kasus pengelabuan suara itu?
Ayah...
meninggal dalam kecelakaan tabrak lari saat berangkat kerja pagi-pagi sekali.
Benar, 'kan?
Bisa katakan sesuatu?
Ibu mengarangnya...
karena kau terus bertanya.
Bagaimana dengan upacara peringatan yang kita adakan untuknya selama ini?
Kau terus meminta untuk mengadakannya, jadi, kita lakukan di sebarang hari.
Bagaimana dengan laut tempat kita menaburkan abunya?
Tempat dengan ganjang gejang lezat itu. Apa itu juga bohong?
Ya.
Berhenti sebentar.
Jadi, Ibu bilang Ayah sudah meninggal, meskipun dia masih hidup
dan sehat selama ini?
Kenapa?
Kenapa Ibu membohongiku?
Karena Ibu tidak pernah berencana menemuinya lagi.
Lalu kenapa Ibu memberitahuku semua ini sekarang?
Kini ayahmu benar-benar meninggal.
Kau putrinya, jadi, setidaknya kau harus berpamitan untuk kali terakhir.
No comments yet. Be the first to leave one.