The first 179 lines.
Hoshimiya.
Natsuki-kun.
Maaf, ya. Tiba-tiba datang begini.
Kau bilang kabur dari rumah... Itu betulan?
Aku habis ada masalah dengan papaku.
Aku merasa sudah tak sanggup.
Maaf, ya. Aku...
Tidak apa-apa, Hoshimiya.
Jangan cemas.
Tapi sekarang harus bagaimana?
Kereta terakhir sebentar lagi berangkat.
Kalaupun naik, pergi ke mana...
Mau mampir ke rumahku dulu?
Permisi.
KAITAN ANTARA MIMPI DAN RAHASIAMU
Baru kali ini aku masuk ke kamar cowok.
Ternyata lumayan rapi, ya.
Iya, kan?
Dia sendirian tengah malam di kamarku.
Berduaan dengan cewek yang kusuka...
Memangnya aku ini lakon novel ringan?
Lihat rak buku orang lain seru, ya.
Jadi tahu hobinya...
Kalau teliti begitu, jadi malu.
Jadi kau memang otaku, ya.
Baru sekarang aku betulan sadar.
Abang!
Pinjam lanjutan manga ini...
Selamat malam.
Anu...
Maaf sudah ganggu.
Dia siapa? Pacarmu?
Bukan begitu!
Dia sedang ada masalah.
Mungkin malam ini dia akan menginap di sini.
Kalau bukan pacar justru lebih gawat, kan?
Intinya masalahnya rumit!
Dia teman sekolahku.
Siapa sangka kau bawa cewek ke sini.
Selain itu, dia imut banget...
Memangnya kau ini lakon novel ringan?
Apa aku harus lapor ke Ibu?
Tidak usah.
Menjelaskannya juga repot, sebaiknya jangan.
Ibu bilang tak akan pulang sampai besok karena kerja, kan?
Baiklah.
Serahkan padaku, Abang!
Ayah juga lagi kerja.
Selama bocah ini tak aneh-aneh...
Abang.
Begini, malam ini aku boleh tidur di ruang tamu?
Soalnya, kalau nanti kedengaran ada suara...
Sudah kubilang dia bukan pacarku!
Jadi, hubungan kalian cuma untuk begituan?
Memangnya kau lakon gim erotis?
Kau memang adikku, ya.
Adikmu sudah bisa dibujuk?
Ya, sudah.
Jadi gerah, ya.
Kita tadi jalan kaki dari stasiun.
Kau pasti mau mandi, kan?
Handuk dan baju gantinya nanti kusiapkan.
Aku bawa baju ganti.
Begitu kabur dari rumah, niatku mau menginap di hotel.
Niatku pergi jauh naik kereta,
tapi malah ingat padamu...
Mengandalkanku bukan masalah.
Temanku sedang kesusahan.
Wajar kalau dibantu, kan?
Handuk mandinya kutaruh di sini, ya.
Terima kasih banyak.
Gede!
Hoshimiya sekarang sedang rapuh.
Makanya dia mengandalkanku.
Jangan memikirkan hal aneh-aneh.
Aku harus jadi tempat dia bersandar.
Terima kasih sudah meminjamkan kamar mandinya.
Oh, tidak apa-apa...
Futon buat tamu sudah kusiapkan, mau dipasang di mana?
Di kamar ibuku atau di sini juga tidak apa-apa.
Aku ingin tetap bersamamu.
Teh Barli.
Terima kasih.
KAU LAGI DI MANA? ANGKAT TELEPONNYA
Telepon dari Papa banyak banget.
Tapi, jangan cemas.
Aku sudah kirim pesan ke Mama sedang di rumah teman
dan tak perlu cemas.
Begitu...
Hari ini, setelah aku pulang ke rumah.
Aku sampai tepat sebelum jam malam.
Lalu Papa marah dan tanya habis dari mana...
Aku bilang padanya habis menulis novel di kafe
dan juga bersama teman.
Lalu...
Berhenti menulis novel.
Kau harusnya melakukan kegiatan yang lebih berguna.
Jauhi teman-temanmu yang sekarang.
Ditambah soal pergi liburan juga.
Mungkin dia merasa aku dapat pengaruh buruk dari teman-temanku.
Tentu saja aku melawan.
Lalu dia bilang pilih salah satu...
Kalau aku yang dulu,
mungkin akan pilih menjauh dari teman-temanku.
Tapi sekarang, keduanya sama pentingnya bagiku.
Karena Yuino-chan selalu ada di sisiku,
aku bisa bertemu denganmu, Uta-chan, Reita-kun, dan Tatsuya-kun.
Tanpa sadar, kita semua jadi akrab,
dan jadi sayang kalian semua.
Mustahil aku harus menjauh sekarang.
Aku juga ingin tetap bersama kalian.
Tapi Sei-san tak mau mengubah pendiriannya.
Aku takut...
Sudah lama aku tak melawan Papa.
Pas kecil, tapi kali aku membantah, pasti dimarahi habis-habisan.
Sejak saat itu, aku selalu hidup sesuai kemauan Papa.
Selama ini, aku cuma bonekanya Papa.
Dulu aku anak pendiam dan murung.
Cuma cewek biasa yang tak menonjol.
Tapi, karena dia tak suka aku begitu,
aku harus pura-pura jadi anak perempuan idealnya.
Kalau ada keinginan, aku harus mengalah.
Aku jadi orang yang dia idealkan...
Selalu ceria, semangat, dan imut.
Siswi populer yang selalu senyum pada semuanya.
Lalu aku jadikan itu sebagai diriku.
Mungkin itu karena dari dulu aku suka menulis novel, ya?
Memerankan sifat yang kubuat sendiri ternyata tak begitu menyiksa.
Karena aku jadi sosok idealnya Papa,
aku jadi tak dimarahi lagi.
Lihat, ini agak memalukan.
Jangan-jangan, ini kau?
Ini diriku yang sebenarnya.
Waktu itu, satu teman pun aku tak punya.
Dunia novel jadi tempat pelarianku.
Tanpa sadar aku jadi suka baca novel.
Lalu mulai halu dan mulai menulis.
Lalu jadi suka menulis.
Ingin membuat orang yang membaca karyaku senang.
Ingin karyaku sampai ke banyak orang.
Lalu aku mulai bermimpi jadi penulis novel.
Natsuki-kun.
Masih bangun?
Apa?
Aku suka padamu.
Apa?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Barusan dia bilang suka!
Dia bilang begitu, kan? Aku tak salah dengar, kan?
Hoshimiya.
Kau juga sangat sayang pada semuanya.
Benar juga.
Maksudnya sebagai teman, ya?
Awalnya, aku kurang suka padamu.
Begitu, ya.
Kau kelihatannya tak mau berusaha,
tapi mukamu bilang "Aku bisa melakukan semuanya."
Itu membuatku kesal.
Tunggu dulu, bisa tahan sampai di situ?
Mentalku ini rapuh.
Tapi pas di atap sekolah,
saat aku melihatmu debat dengan Tatsuya-kun,
aku jadi merasa kalau kita berdua mungkin mirip.
Natsuki-kun.
Terima kasih sudah menolongku.
Sudah bangun? Pagi.
Malah tidur lagi.
Pagi.
Muka tidurmu imut, ya.
Kenapa? Mukamu merah.
Kau juga, hari ini imut.
Abang.
Kita sarapan apa?
- Selamat makan! - Selamat makan!
Omong-omong, apa kalian pacaran?
Kusarankan jangan.
- Natsuki-kun orangnya baik. - Aku senang Hoshimiya ada di sini.
Tidak, sebenarnya...
Tapi, dia tak bisa terus di sini...
No comments yet. Be the first to leave one.