The first 110 lines.
Salah.
Bunuh?
Salah.
Pura-pura
mati?
Salah.
Jangan bertarung melawan tukang jagal, barulah benar.
Tidak masuk akal.
Aku pun telah beberapa kali mengambil nyawa orang
di dalam permainan.
Secara umum, aku juga
termasuk tukang jagal, kan?
Tujuan permainan ini bukan membunuh,
tapi bertahan hidup.
Dan hanya itulah fokus kita selama ini.
Tapi, tukang jagal tidak begitu.
Dunia mereka berbeda.
Jangan pernah melawannya.
Andaikan, satu-satunya cara memenangkan permainan
adalah bertarung melawan mereka,
aku harus apa?
Latihan selesai.
Pikirkanlah sisanya sendiri.
Kalau buah pinus itu dilempar
oleh "tukang jagal" yang dimaksud Hakushi,
berarti selama ini
dia telah dibuntuti.
Tidak mungkin.
Mustahil Hakushi seteledor itu.
Tapi, cuma itu penjelasan yang masuk akal.
Gawat.
Aku malah kepikiran hal tidak penting.
Saat ini, fokuslah pada satu hal.
Yaitu...
Bertahan hidup.
Achan?
Kalau gagal jadi angsa, bagaimana nasibnya?
Eh?
Anak bebek.
Kalau setelah dewasa
tetap jadi bebek,
dia harus bagaimana?
Menurutmu, seharusnya bagaimana?
Eh?
Menurutku,
kalau tetap jadi bebek setelah dewasa...
Oh, tapi,
aku lebih suka bebek daripada angsa.
Begitu, ya.
Berarti, tetap jadi bebek pun bukan masalah.
Meski gagal jadi angsa...
Meski
tidak berdaya...
Meski begitu...
Justru karena itu...
Kita cuma bisa
berjuang.
Sebentar lagi, hari pertama memasuki pukul 17.00.
Semuanya, mari kita pulang.
Sebentar lagi, hari pertama memasuki pukul 17.00.
Semuanya, mari kita pulang.
Sejauh apa pun dia terbang,
Matahari tak kunjung mendekat.
Seraya makin kecil dan makin jauh,
Matahari pun berkata,
"Kamu Burung Cabak, ya.
Ya, aku paham penderitaanmu.
Terbanglah di langit malam ini
dan mintalah ke bintang-bintang.
Sebab, kamu bukanlah burung siang hari."
Moegi.
Syukurlah kamu selamat.
Kudengar ada pembunuh berantai di tim kelinci.
Jangankan soal permainan,
kita mungkin tidak pulang, kan?
Ya.
Aku takut sendirian.
Untung kita bertemu.
Meski situasinya kacau, mari bertahan hidup.
Ya.
Mungkin, permintaanku kurang ajar.
Begini...
Aku kehabisan senjata.
Boleh minta cadangan senjatamu?
Boleh.
Terima kasih.
Satu peluru, cukup, kan?
Sudah pukul 17.00.
Gerbang dibuka kembali besok pagi pukul 6.00.
Sudah pukul 17.00.
Gerbang dibuka kembali besok pagi pukul 6.00.
Aku bertemu kelinci.
Gadis itu bagaikan hantu.
Eh?
Jam terbang kami terlalu jauh.
Apa pun usahaku, gadis hantu itu tetap lebih unggul.
Kalau terus begini...
Kalau membunuh orang tuaku.
Kalau mampu membunuh orang tuaku,
aku
mengira bisa jadi seperti Kyara.
Aku tahu.
Burung Cabak tidak akan bisa jadi paus.
Aku tahu...
Aku tahu itu...
Aku mencintaimu.
Bagi Moegi, kalimat itulah yang terdengar dari napasnya.
Aku mencintaimu.
Karena dari dulu, dia belum pernah mendapatkannya dari siapa pun.
Entah apa sebenarnya hal itu...
No comments yet. Be the first to leave one.