All That Jazz

All That Jazz

Download Indonesian Subtitle

Release info

All That Jazz (1979) [BluRay] INDONESIA by madeinheaven6666
A Commentary by madeinheaven6666
Akses Film Lainnya Dari Saya Di Telegram: t.me/bymadeinheaven6666

Tags

bluray
Published on: 2026-07-25
Downloads: 4
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 179 lines.

Oke, sekali lagi dari awal.

Enam ketukan, ya?

Satu, dua, tiga, empat. Satu, dua...

Berada di atas kawat itulah hidup. Selebihnya hanya menunggu.

Itu sangat teatrikal, Joe.

- Ya, aku tahu. - Kamu yang bikin itu?

Andai saja iya.

- Kamu suka? - Yah, lumyanlah.

Showtime, semuanya!

"Autumn." Itu nama aslimu?

Ya, Pak.

Tidak mau ganti nama?

Kalau Bapak kasih aku pekerjaannya, aku akan ganti.

"Victoria Porter."

Ini nomor... nomor rumahmu?

Kamu pernah main di The Wiz?

Aku belum pernah main di pertunjukan mana pun seumur hidup.

Aku terpaksa isi sesuatu. Aku butuh kerja banget, jadi aku bohong.

Tidak apa-apa. Aku sendiri juga sering bohong.

Ah, persetan dia. Dia tidak pernah pilih aku.

Aku sudah tidur sama dia, dan tetap saja dia tidak pilih aku.

- Kamu pernah main di Traffic Jam? - Ya, Pak.

Siapa sutradaranya Traffic Jam?

- Bapak sendiri, Tuan Gideon. - Oh. Bagaimana penampilanku?

- Luar biasa. - Dan siapa koreografernya?

- Bapak sendiri, Tuan Gideon. - Bagaimana?

- Fantastis. - Begitulah caranya dapat pekerjaan.

Ya ampun! Semoga dia tidak pilih dia.

Mukanya lebih jelek dari hantu.

Ungkapannya adalah "sedingin hantu."

Mana kamu tahu? Kamu belum pernah lihat dada perempuan.

Sst! Diam.

Baik. Terima kasih semua. Audisinya luar biasa.

Tetap berbaris dulu.

Nah, itulah yang kusebut hidung peminum sejati.

Dan kamu pasti tahu, karena kamu peminum sejati, kan?

Ya.

- Juga ketergantungan amfetamin, kan? - Ya.

Dan tidur dengan banyak perempuan juga.

Bikin mundur, ya?

Justru sebaliknya.

Soal laki-lakinya aku putuskan nanti, tapi perempuan yang aku mau sudah jelas...

Candy, Casey, Rima, Jennifer, dan Victoria Porter.

- Yang pakai baju senam pink mencolok? - Ya.

Coba tanya siapa yang mau jadi penari cadangan.

- Dia fals total, Joey. - Dengan kaki seperti itu, siapa peduli?

Joey, aku tahu kamu buru-buru.

- Aku cuma mau cek jadwalmu. - Sama seperti biasa.

Joey? Joey, kita bicara sebentar boleh?

- Joey... - Ada apa?

- Bagaimana dengan Diane? - Kamu biarkan aku lagi tanpa sopran!

Paul, tolong, tolong, biarkan aku yang urus ini ya?

- Bagaimana dengan Diane? - Bagaimana dengan Diane?

- Dia sudah main di tiga pertunjukanku. Dia hebat. - Dia memang hebat.

- Dia butuh sopran. - Kamu tinggalkan aku tanpa sopran. Aku harus punya sopran!

Para tuan, Tuan Gideon akan memutuskan...

Penari jangkung di panggung kanan itu...

yang pakai eye shadow biru... dia bisa pukul nada tinggi.

Tovar, Narin-Smith...

Lima perempuan yang sedang bicara sama Murray adalah yang aku mau. Oke buat kamu?

Perempuan jangkung itu, Victoria... Aku suka dia, Ayah.

Mm, dia lumayan.

Oh, aku benar-benar merusak pernikahan itu.

Karena aku selingkuh. Ya ampun, aku selingkuh setiap ada kesempatan.

Oke buat kamu, Audrey?

Oke, tidak masalah. Bagaimana dengan akhir pekan ini bersama Michelle?

Ya ampun! Aku lupa. Aku harus kerja akhir pekan ini.

Oh, Joe, kamu sudah janji padanya!

Aku tahu aku sudah janji, tapi mau bagaimana lagi?

Tidak apa-apa.

- Maaf ya, Michelle. - Tidak apa-apa.

Kalau ada perlu, aku ada di ruang editing.

Dia sudah janji padaku.

Dasar ayah brengsek!

- Keluarga? - Berantakan.

- Kerjaan? - Itu satu-satunya yang ada.

Kalau aku jadi Tuhan, bung...

kadang aku pikir aku memang Tuhan...

Tergantung sampah apa yang kamu hisap.

Mm, oke.

Kalau aku jadi Tuhan, bung...

semua orang akan hidup selamanya.

Tidak ada kematian, bung!

Tidak ada yang perlu diratapi oleh siapa pun.

Yah, ada beberapa orang, seperti manajerku yang memasukkanku ke lubang comberan ini.

Kenapa dia ngomong bergumam begitu?

Akan kuberi tahu kenapa: karena aku si bodoh yang membiarkan dia bergumam begitu.

- Betul. - Sst! - kematian dan penyakit.

Sejauh ini aku berhasil menghindari salah satunya.

Tahu tidak, bung, kematian itu sedang jadi tren sekarang.

Tapi kita semua punya perasaan yang berbeda soal itu.

Misalnya, bagi orang Katolik, kematian itu promosi jabatan.

Permisi sebentar, Stacy.

Perempuan.

Uh...

harapan?

Ada banyak omong kosong soal kematian yang bermartabat.

Tahu apa itu kematian yang bermartabat? Kamu tidak ngiler.

Saatnya ganti suasana. Ada permintaan. Ayo.

Vic O'Dante. Hei!

Cantik?

- Kamu suka menggoda. - Mm-hmm.

Ah, aku suka, aku suka, aku suka.

Buku-buku, artikel majalah, acara TV...

Ken dan Barbie yang bersepakat bunuh diri bersama.

Berapa kali kita harus melihat hal yang sama?

Sampai dia mendapatkannya seperti yang dia mau.

Ada perempuan di Chicago, bung, yang menulis buku...

Dr. Kubler-Ross, dengan tanda hubung.

Perempuan ini, bung...

tanpa pernah mati sendiri...

berhasil membagi proses kematian menjadi lima tahap...

kemarahan, penolakan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan.

Kedengarannya seperti firma hukum Yahudi.

"Selamat pagi. Kemarahan, Penolakan, Tawar-Menawar, Depresi, Penerimaan."

Kemarahan.

"Ya Tuhan!

Sialan semua keparat bajingan brengsek!

Oh, bah!"

Tawar-menawar.

Apa kataku? Kemarahan, penolakan, tawar-menawar, depresi, penerimaan.

Kalau kebetulan kamu sampai di penolakan...

penolakan... "Tidak.

Tidak, itu bukan aku, bung. Tidak. Oh, ha-ha!

Orang lain mungkin, tapi bukan aku. Oh, tidak.

Kamu salah orang... Bagaimana kalau ibuku, bung?

Dia sudah tua, aku sudah mandiri, sudah bisa ke toilet sendiri. Aku tidak butuh dia lagi.

Selamat tinggal, Ma. Kamu luar biasa. Aku sayang kamu, tapi bukan aku!"

Ibu.

Agak gemuk. Dan ceria.

Dan seksi.

Tawar-menawar! Masih ingat dia?

"Bisakah kita duduk dan bicara soal ini seperti orang bisnis?

Negosiasi, oke? Tidak ada lagi narkoba keras.

Mungkin sedikit ganja, tapi itu saja.

Oke? Dengar, aku janji tidak akan pamer di kereta bawah tanah lagi, oke?"

Orang ini memang keras kepala.

Depresi.

Hai, Katie.

"Aku sekarat!

Ya Tuhan, aku sekarat!

Mau makan malam bersama sebelum aku ke teater?

- Tidak bisa. - Dokternya tidak sekarat!

Boleh aku mampir ke apartemenmu nanti?

- Ya, boleh. - Ayah?

Pembohong, penipu, playboy. Pasti kamu menyukainya.

Tunggu sebentar. Kita mungkin bekerja sangat larut malam ini.

- Tidak apa-apa. - Ya.

- Kita bicara nanti. - ...untuk kamar rumah sakit ini!

Dengan harga segitu, bung, siapa yang sanggup terus hidup?

Jadi...

penerimaan.

- "Aku menerima..." - Tahan.

- Tahan, Irv. - Sudah selesai, atau mau diputar lagi?

Tidak, aku tidak mau memutar lagi, terima kasih. Kita sudah selesai.

- Terima kasih, Irv. - Ada yang punya ide?

Aku suka, Joe. Menurutku ini benar-benar lucu.

Siapa yang tanya kamu, Stacy?

Terlalu panjang. Entahlah.

Mungkin masih bisa kita pertahankan.

Kira-kira Stanley Kubrick pernah depresi tidak ya?

- Kamu mau kerja malam ini, Joe? - Tidak. Andai bisa...

tapi aku harus garap pertunjukannya.

Baiklah.

Aku sangat ingin jadi bintang film.

Oh?

Sejak aku masih kecil...

aku ingin melihat wajahku di layar...

selebar 12 meter.

Oh ya?

"Aku selalu bergantung...

pada kebaikan orang asing."

Kamu memandangi hidungku, kan?

- Hmm? - Bengkok.

Miring ke kiri. Lihat?

Maksudku, aku selalu bisa memperbaikinya, begitu saja.

Menurutmu aku bisa tidak?

- Hmm? - Kamu tahu lah.

Jadi bintang film, maksudku.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left