The first 200 lines.
Ayahku bilang semua lukisan adalah proses melihat.
"Awalnya hanya ada cahaya dan kekacauan, Nicholas."
"Warna."
"Bentuk."
"Perlahan-lahan, sebuah kemunculan."
"Dan yang terakhir..."
"Kau melihat."
Kau tak pernah bertemu ayahku.
Hal terdekat dia dari pulaumu adalah lukisan yang dia buat,
Melihat ke arah sana.
Tapi karena dia...
Dan karena lukisan itu,
Aku temukan kau dan makna hidupku.
Dublin, 1971
Selama 17 tahun pertama hidupku,
Ayahku seorang pegawai negeri.
Hingga di suatu sore yang kosong,
Tuhan bicara padanya untuk pertama kalinya.
Ia berkata pada ayahku agar menjadi pelukis,
Dan tanpa mengatakan satu kata pun.
Tn. Coughlan?
Tn. Coughlan!
Barat Irlandia
Sesaat Tuhan memasuki hidup kami,
Di pulau barat di sisi jauh negeri,
Dia meninggalkan pulaumu.
Aku membayangkan pulau itu sebelum aku melihatnya.
Kau, putri penyair,
Dan saudaramu,
Di hari akhir masa kecil...
Bersedia... Siap...
- Ya. - Mulai!
Hei, hei, hei, hei! Hei!
Kembali kemari. Hei, Issy.
Issy, kau terlalu dekat ke tepian. Ayo. Kembali.
Mainkan. Mainkan.
Mainkan satu lagu untukku, Seanie.
- Aku mau bersenang-senang hari ini. - Kau gila.
Mainkan satu lagu untukku, Seanie!
Yang meriah! Lebih keras!
Lebih keras, Seanie.
Lebih cepat! Lebih cepat!
Seanie?
Seanie...
Ayah?
Ada apa?
- Apa yang salah? - Tidak ada.
Tidak ada yang salah.
Lalu kenapa kau sudah pulang?
- Makan malam bahkan belum siap... - Bette. Bette, duduk.
Tolong duduklah.
Aku takkan kembali ke kantor.
Aku selesai bekerja di sana.
- Apa? - Aku akan melukis.
Kau tidak serius.
Aku akan menjual semua lukisan.
Aku tak percaya denganmu.
William?
William?
Apa aku tak boleh berpendapat soal ini?
Orang tidak tiba-tiba pulang ke rumah suatu hari...
...dan bilang mereka tak akan kembali bekerja.
Kau tidak bisa.
Kau tak bisa mengatakan itu dan bersungguh-sungguh.
Aku bersungguh-sungguh.
Selama ini aku menjalani kehidupan yang salah.
Tapi sekarang aku mendapat kesempatan.
Aku tak tahu apa yang kau katakan.
- Apa aku salah? - Tidak...
Apa Nicholas salah?
Tidak.
Kalian satu-satunya bagian dariku yang benar.
William, kau membuatku takut.
Aku tak bisa mendengar ini. Aku akan membuat teh...
Bette. Bette, kemari.
Kemari, Bette.
Kemari.
Aku harus.
Aku harus melukis. Kau mengerti?
Itu yang harus aku lakukan.
Kenapa?
Aku tidak tanya.
Karena aku seorang anak yang tak bisa bicara dengan ayahnya.
Ada rasa sayang,
Namun tak ada bahasa diantara kami.
Aku akan kirim kau surat setiap hari.
Aku akan pulang saat aku bisa, dan...
Aku akan ceritakan rahasiaku hanya kepadamu.
Aku akan pergi sekarang.
Aku akan pergi sekarang dan kau akan membaik.
Rasanya kita seperti mengusir dia.
Kita...
Kita bisa meminta dia tetap tinggal setahun lagi.
Aku bisa bilang jika kita butuh dia di rumah.
Itu tidak terasa benar.
Meski setelah dia pergi sekolah,
Dia takkan pernah sama.
Mereka semua begitu.
Mereka tinggalkan masa kecilnya di sini,
Kembali hanya untuk mengunjunginya.
Berarti kita akan pertahankan dia.
Selama setahun.
Kita tak bisa melakukan itu.
Itu hidup dia.
Berarti dia harus pergi.
Dan kau jangan berikan dia pidatomu.
Pidato apa?
Pidato kepala sekolah yang kau berikan ke setiap anak yang meninggalkan pulau.
"Tunjukkan mereka betapa spesialnya kau."
"Tunjukkan mereka seperti apa seorang penghuni pulau."
Kau juga jangan menangis di hadapan dia.
Itu sudah cukup sulit untuk dia meninggalkan Seanie.
Ada scone yang masih hangat.
Jangan biarkan ayahmu yang habiskan semuanya.
Kapal ferinya takkan menunggu.
Kau... Kau adalah penghuni pulau.
Kau seorang gadis pulau.
Kau tidak sama seperti mereka.
Akan ada gadis-gadis dari kota di sana,
Tapi kau akan tunjukkan mereka.
Aku tahu.
Aku belum mampu menulis puisi apapun sejak...
...di sini.
Pastikan kau kirim surat ke ibumu.
Kau tahu bagaimana ibumu.
Bunda Superior adalah namaku, anak-anak.
Ini Suster Agnes.
Jika kau ikuti dia, dia akan tunjukkan kau harus ke mana.
Lewat sini, anak-anak.
Ini adalah putriku, Isabel.
Sangat bagus.
Tuhan ingin ayahku untuk melukis.
Tapi bukan sekedar gambar kecil dan rapi yang pernah dia buat sebelumnya.
Ini harus menjadi karya hidupnya.
Tidak kurang dari ekspresi luhur dari cinta yang agung.
Tapi di sebuah rumah di pinggiran Dublin,
Tak ada ekspresi seperti itu yang bisa ditemukan.
Dan suatu pagi, dia tinggalkan kami untuk barat yang mistis.
Di sana, lukisannya akan datang.
Selama tiga bulan, aku dan ibuku...
...tinggal di bayangan dari kekosongan ayahku,
Dan menyadari Tuhan itu tidak ada.
Karena kepingan demi kepingan, hidup kami hancur berantakan.
Itu yang terjadi terhadap pikiran ibuku.
Menyatu bersama laut dan langit
Tapi kau suka dia, 'kan, Ayah?
Dia tuliskan aku surat cinta.
"Kau harus tahu bahwa aku tak bisa bayangkan hidupku tanpamu."
"Aku melihatmu berdiri di bawah lampu jalan,"
"Dan itu terlihat seolah aku kesulitan bernapas."
"Semua yang ada di dunia ini,"
"Keindahan itu bagiku adalah terikat denganmu."
Kami kehilangan arah.
Kami berdua dikurung di penjara dari satu pertanyaan.
Bagaimana jika dia tak kembali?
Kau baik-baik saja?
Ya.
Kau butuh bantuan?
Tidak.
Baiklah.
Kau akan bantu aku atau tidak?
Letakkan tanganmu di bahuku.
Keduanya.
Melompat dari sana.
Baiklah.
Kau yakin tak butuh tumpangan?
Cuacanya dingin.
Aku tak keberatan mengantarmu ke mana pun kau mau pergi.
Ke mana saja?
Ayo, semuanya.
Ayo, anak-anak. Ayo.
Ayo. Ayo!
Ayo...
Semoga Tuhan membantuku, anak-anak.
Halo! Halo.
- Maaf. Mereka tidak... - Tidak, mereka cantik.
Kau pasti tahu itu.
Kau akan berlutut di sini hingga lilinnya mati.
Hingga kau pertimbangkan konsekuensi dari tindakanmu.
Dan merasa sangat menyesal.
Halo, Nicholas.
- Bagaimana kabarmu? - Baik.
Tentu saja kau baik.
Lukisannya masih belum selesai.
Seperti apa di barat?
Suatu hari kau akan melihatnya.
Di mana ibumu?
Dia tidur di kamarnya sekarang.
Aku bisa panggilkan dia.
Tidak, tunggu.
Dia pasti ingin tahu jika kau pulang.
- Ya. - Mungkin melihat lukisanmu.
Ya. Ini.
Pergilah membeli kue.
Selama dia pergi, aku benci ayahku.
Di saat dia kembali,
Aku memaafkan dia.
Sekarang kami akan dilepaskan kembali ke kehidupan normal.
Cintaku...
Aku mohon...
No comments yet. Be the first to leave one.