Africa: The Greatest Show On Earth

Africa: The Greatest Show On Earth

Download Indonesian Subtitle

Release info

Africa S01E04 - Cape BluRay ID
A Commentary by cortex

Tags

BluRay
Published on: 2018-01-07
Downloads: 52
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 197 lines.

Tanjung Harapan, di ujung selatan Afrika.

Di sini, dua samudera besar bertemu. Yang satu, Samudera Hindia yang hangat,

yang lain, Samudera Atlantik yang dingin.

Dan saat berbaur, mereka menciptakan selubung kepulan

yang menutupi puncak Gunung Table.

Spektakuler meski demikian, selubung awan di gunung

hanyalah petunjuk dari pengaruh besar

bahwa kedua samudera yang sangat berbeda ini telah memperkaya kehidupan di sini.

Tak hanya di Cape,

tapi juga di seluruh Afrika bagian selatan.

Dua ribu mil arah utara Cape,

di bawah pantai berpasir ini, kehidupan baru bergejolak.

Ratusan bayi penyu hijau

bermunculan bagai arus deras dari sarang mereka yang aman.

Masing-masing, yang hanya berukuran tujuh sentimeter,

harus berlari cepat menuruni pantai sejauh seratus meter.

Dari saat menetas,

mereka terdorong insting untuk bergegas lari menuju laut.

Beberapa hewan memulai hidup dengan berbagai rintangan untuk sukses,

bertubi-tubi mendera mereka.

Burung elang paruh-kuning.

Gagak belang.

Tapi begitu banyak bayi penyu yang muncul bersamaan,

sehingga predator tak bisa menangkap mereka semua.

Terakhir keluar, bayi ini mungkin tampaknya akan bernasib na'as.

Tapi terlambat keluar bisa memberinya peluang.

Burung gagak tampak belum puas.

Bahkan mereka yang mencapai laut masih belum aman.

Betina ini harus bergegas untuk mencapainya.

Ia masih dalam bahaya, tak hanya dari udara.

Kepiting hantu memang lebih kecil dari bayi penyu,

tapi ia punya kekuatan untuk menyeret si bayi ke sarangnya.

Tidak kali ini.

Akhirnya, laut.

Ia harus menarik nafas jika tak tenggelam,

tapi hempasan ombak membuatnya kesulitan.

Di bawah ombak, air lebih tenang,

tapi, bahkan di sini, bayi penyu belum lepas dari bahaya.

Ia menyelam.

Tepat pada waktunya.

Hanya satu dari ribuan bayi penyu yang akan bertahan hingga dewasa,

tapi jika ia bertahan, hidupnya bisa mencapai 80 tahun.

Mulai kini, lautan tersedia untuk dieksplorasi.

Dengan menghilangnya bayi penyu ke kedalaman kaut,

ia berenang ke perairan di mana terdapat arus paling kuat di bumi.

Agulhas.

Arus Agulhas menyapu selatan menuju Cape,

mengangkut seratus milyar galon air hangat setiap hari.

Lautan tropis ini begitu hangat, menguap dalam skala besar.

Uap air naik hingga, pada ketinggian,

mendingin dan memadat menjadi awan.

Awan yang melayang ke daratan

membawa hujan ke salah satu sudut yang nyaris tak terjamah.

Pegunungan Mozambique.

Tempat terlembab di Afrika bagian selatan.

Perang sipil selama puluhan tahun menjauhkan para pendatang

dari daratan yang nyaris tak dikenal ini.

Pemetaan satelit mengungkap keseluruhan hutan yang tumbuh di sini,

jadi hutan ini dikenal oleh orang luar sebagai hutan hujan Google.

Ini juga bisa disebut sebagai hutan kupu-kupu.

Setelah hujan, kupu-kupu berkumpul dalam jumlah besar.

Segera setelah sayap mengering, mereka mengudara.

Tujuan mereka? Menemukan pasangan.

Caranya?

Mungkin ada ribuan yang berdekatan, tapi dedaunan begitu lebat,

sulit bagi mereka untuk menemukan satu sama lain.

Mereka punya solusi luar biasa.

Mereka mengikuti aliran ke hulu sungai, menuju dataran lebih tinggi.

Perjalanan membutuhkan berjam-jam penerbangan yang menentukan.

Pada akhirnya mereka berkumpul pada satu-satunya ruang terbuka di sana.

Puncak Gunung Mabu yang tak berpohon.

Di atas sini, terbebas dari kungkungan hutan,

mereka menggenggam dunia kupu-kupu.

Kini kupu-kupu memiliki segala ruang yang mereka butuhkan

untuk menarik calon pasangan.

Strategi pejantan cukup sederhana.

Terbang lebih tinggi dan lebih cepat dari pesaing,

dan mungkin bisa mendapatkan betina perawan.

Perkumpulan spektakuler ini, yang tak pernah terlihat pihak luar sebelumnya,

hanya berlangsung setengah jam setiap pagi

dan hanya beberapa minggu dalam setahun.

Setelah kawin, para betina kembali ke hutan hujan untuk bertelur.

Sebuah hutan yang terwujud berkat naiknya kelembaban

dari Arus Agulhas yang hangat,

ratusan mil jauhnya di Samudera Hindia.

Air hujan kini mengalir ke selatan, dari puncak tertinggi Mozambique

menuju dataran rendah di Eastern Cape.

Dan di mana dataran mendatar, arus sungai melambat,

menciptakan rawa besar sejauh 50 mil.

Inilah Gorongosa.

Di sini, segala jenis hewan datang untuk menangkap ikan.

Ikan lele berkumis bekerja sebagai tim.

Mereka menghirup udara di atas permukaan

lalu menghembusnya di bawah air untuk menciptakan jaring gelembung.

Dan jaring itu memerangkap ikan kecil.

Ada ikan untuk semuanya.

Masing-masing spesies punya teknik tersendiri dalam menangkap ikan.

Sangat berguna jika punya paruh besar,

tapi tetap saja kau harus tahu cara menggunakannya.

Pelican muda ini harus belajar banyak...

...dan tak butuh waktu lama melakukannya.

Mungkin, seperti ikan lele, kerja tim adalah jawabannya.

Itu jelas berhasil bagi kawanan ini,

dan pelikan ini tampaknya bisa menguasainya.

Tapi tentu saja ia tak bisa menelan ikan lele itu.

Mencobanya adalah kesalahan fatal.

Air hujan, yang turun sebentar di rawa Gorongosa,

kini diperkaya dengan lumpur dan pasir.

Di pesisir ini, sungai-sungai sarat-sendimen, Zambezi, Limpopo

dan Save, mengalir kembali ke laut

Di sanalah mereka bertemu dengan Arus Agulhas.

Dan apa yang terjadi dengan seluruh pasir itu?

Selama ribuan tahun, Agulhas membuatnya

menjadi pemandangan bawah laut yang kompleks.

Pahatan pasir yang luas ini adalah Kepulauan Bazaruto,

paling tua dari jenisnya di dunia.

Mungkin terlihat seperti surga, tapi hidup di sini tidaklah mudah.

Selama 100 ribu tahun, Arus Agulhas bertubi-tubi menghempas

bukit-bukit pasir ini dengan badai pasir bawah laut.

Tapi, di mana air cukup dalam untuk terhindar dari badai ini,

nutrisi yang terbawa dari pedalaman Afrika memicu ledakan kehidupan.

Pemburu laut yang langka berkuasa di sini.

Ikan kuwe gerong.

Sebesar manusia, berbobot setara, salah satu ikan terkuat di laut.

Meski berukuran besar, mereka sangat gesit saat berburu.

Biasanya kuwe gerong bersifat soliter.

tapi hanya dalam beberapa minggu setiap tahun, mereka berkumpul di tempat-tempat

seperti di Bazaruto dan bersiap melakukan perjalanan besar.

Perjalanan yang akan membawa mereka jauh ke pedalaman.

Sungai Mtentu.

Raja kuwe gerong memimpin mereka ke hulu.

Saat perjalanan lebih jauh memasuki perairan segar,

mereka tampak berubah, dari pemburu agresif menjadi peziarah yang setia.

Kini, bermil-mil jauhnya dari rumah alami mereka,

dan dalam menanggapi isyarat asing, mereka berhenti dan mulai berputar-putar.

Hewan laut lain yang bermigrasi ke hulu sungai biasanya dalam rangka

berkembang biak, tapi tak ada bukti ikan-ikan kuwe gerong ini bertelur di sini.

Bukan juga untuk berburu. Jadi apa yang mereka lakukan?

Sebenarnya, tujuan dari perilaku aneh ini masih belum diketahui.

Dalam beberapa minggu,

mereka akan menelusuri perjalanan kembali ke laut.

Kehidupan kuwe gerong, seperti halnya penyu, kupu-kupu

dan pelican, dipengaruhi oleh Arus Agulhas.

Tapi pengaruh itu hanya bisa sampai sejauh ini.

Dan inilah alasannya.

Pegunungan Drakensberg.

Di sini, warga lokal mengatakan, burung bangkai membumbung begitu tinggi,

mereka bisa melihat masa depan.

Tebing curam ini menjulang lebih dari 3.000 meter,

menahan awan hujan yang memuncak,

dan akibatnya, dataran di baliknya kekurangan air.

Ini hamparan pasir terbesar di dunia.

Gurun yang tampak tak berujung ini

merupakan pusat tandus yang luas di Afrika Selatan.

Ribuan mil ke arah barat,

di mana gurun bertemu dengan Samudera Atlantik, arus lain mendominasi.

Tapi Arus Benguela, yang melonjak naik di sisi barat Afrika,

memiliki karakter yang sangat berbeda.

Sangat dingin, berlimpah nutrisi dan dipenuhi dengan kehidupan.

Seekor hiu putih.

Mereka bisa menaikkan suhu tubuh mereka hingga 10 derajat,

di atas suhu laut di sekitarnya.

Tapi untuk melakukannya dibutuhkan sejumlah besar bahan bakar bermutu tinggi.

Jadi, bangkai paus adalah keuntungan besar bagi mereka.

Bangkai ini akan menarik setiap hiu putih pada jarak bermil-mil di sekitarnya.

Dan di sini, di lepas pantai Cape Town, terdapat banyak hiu.

Alih-alih bersantap dengan cara berebut,

hiu-hiu ini memiliki tatakrama bersantap yang halus.

Mereka berenang berdampingan untuk mengukur satu sama lain.

Masing-masing kemudian mengambil gilirannya.

Betina ini berukuran paling besar, jadi ia yang pertama kali makan.

Berikutnya hanya boleh makan saat si betina memberi jalan.

Perairan Benguela begitu berlimpah,

mereka lebih mendukung hiu putih daripada di laut lainnya di bumi.

Dan di sini sangat dingin,

menarik beberapa hewan mengejutkan ke pesisir Afrika ini.

Penguin.

Penguin Afrika.

Betina ini kembali untuk membantu pasangannya.

Tentu saja tak ada es di sini,

tapi bebatuan ini bisa sangat licin.

Tapi ada rintangan yang lebih serius dibanding bebatuan yang licin.

Giliran si jantan yang mencari makan, jadi ia tinggalkan si betina menjaga telur-telur mereka.

Kini si betina harus mengatasi masalah yang tak dialami penguin jenis lain.

Dalam sepuluh hari ke dapan, ia harus melindungi telur-telurnya

dari sengatan matahari Afrika.

Mantel bulu padat

yang membuatnya tetap hangat di lautan dingin, kini menyesakkannya.

Di bebatuan yang terbuka ini,

ia harus menaungi telur-telurnya, bukan membuatnya tetap hangat.

Segalanya di sini tampak tak sesuai keinginan.

Bagi sebagian, kenaikan suhu terlalu berlebihan.

Seekor tetangga meninggalkan sarangnya.

Telurnya takkan bertahan.

Ia bukan satu-satunya yang menyerah.

Pada beberapa tahun, tak satu pun anak yang dibesarkan.

Penguin beradaptasi untuk menahan suhu 40 derajat di bawah nol,

More Indonesian subtitles for Africa: The Greatest Show On Earth

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left