The first 200 lines.
"Kisah-kisah Luar Biasa" -- Berdasarkan cerita karangan Edgar Allan Poe --
Wah...
Bukankah ini temanku, Sang Pujangga.
Tak kusangka akan melihatmu di tempat ini.
Makam siapa yang kau kunjungi hari ini?
Siapa disana?
Menangis di makam yang sama berulang kali?
Mengapa kau tidak memilih yang lain?
Ligeia, Annabel?
atau Berenice?
Tapi pasti Virginia yang mungkin akan kau pilih
untuk perjalanan siksaan hari ini.
Tak usah kau sangkal rasa cintamu padanya.
Bagaimana puisimu itu?
"Bertahun-tahun yang lalu
“Hiduplah seorang gadis yang pasti sudah kau kenal
“Dan si gadis ini hidup tanpa ada pikiran lain...
“Selain untuk mencintai dan dicintai olehku."
Apa yang sudah kulakukan?
Aku membacakan puisi pada sebuah patung!
Aku pasti sedang mabuk.
Atau gila.
Atau keduanya.
Aku sedang berhalusinasi.
Bisakah aku menjawabnya dengan salah satu dari bait puisimu?
"Semua yang kita lihat atau yang kelihatan
“Tidak lain hanyalah mimpi dalam mimpi..."
Tetap saja kau tidak tahu siapa aku.
Aku adalah bayanganmu, jiwamu.
Sebuah obyek akan obsesimu.
Apa kau sudah gila?
Obsesiku?
Sudah mengenaliku sekarang, Pujangga?
Apa kau merasa kesepian?
Merindukan kembali rasa kehilangan?
Diam!
Aku kemari untuk kesunyian.
Bukan karena kesepian.
Subyek yang bagus untuk bahan tulisanmu.
Itu bukanlah obsesi
hanya sekadar inspirasi yang mendorongku untuk menulis.
Aku tidak akan menjelaskan padamu siapa aku sebenarnya.
Masih ingat dengan Roderick Usher?
Dorongan obsesinya akan kepergian adik perempuannya Madeline
telah membuat batinnya bergejolak
yang menuntunnya kepada kematian.
Itu hanyalah kasih persaudaraan, bukannya obsesi.
Obsesi, takhyul,
Kasih tak berbalas.
Kau ingin meyakinkan siapa?
"Kejatuhan Keluarga Usher"
Ada sebuah tempat ajaib yang memenuhi masa kecilku
dengan penglihatan yang mengaduk imajinasiku.
Dan sekarang, disaat semuanya dipenuhi
dengan kesuraman, kegelapan, dan hari tanpa suara
disaat musim gugur bertahun setelahnya,
Aku sendiri, berjalan menyusuri
suramnya jalan pedesaan;
hingga akhirnya berakhir
di Rumah Keluarga Usher yang sayu.
Aku tidak tahu apa itu; tapi dengan sekilas pandanganku
akan rumah itu setelah bertahun lamanya,
hawa kesombongan nan suram tiba-tiba saja
melanda jiwaku.
Ada apa sebenarnya?
Yang membuatku heran
yaitu kondisi Rumah Keluarga Usher?
Tidak lain adalah pemiliknya, Roderick Usher,
yang adalah seorang sahabat di masa mudaku;
tapi setelah bertahun-tahun sejak pertemuan kami yang terakhir.
Suratnya,
belum lama ini aku terima saat sedang bepergian
ke luar kota.
Aku melihat lebih dekat
akan kondisi sebenarnya bangunan ini.
Rumah itu tampaknya
telah menua dengan cepatnya.
Si penulis bercerita tentang penyakit akut yang ia derita,
yaitu gangguan kejiwaan yang membuatnya sangat tertekan,
karena itu ia sangat berharap dapat bertemu denganku,
sebagai satu-satunya,
sahabat karib yang ia miliki, dengan tujuan
untuk meringankan penyakit yang dideritanya;
dan saya oleh karena itu,
memutuskan untuk mengabulkan permintaannya
yang menurutku sangat ganjil
dan terasa menakutkan.
Aku melihatnya dengan perasaan setengah kasihan, setengah kekaguman.
Frederick!
Teman baikku,
Aku sudah lama
menunggu kedatanganmu!
Awalnya saya merasa itu
seperti keramah-tamahan yang berlebihan.
Sangat sulit rasanya bagiku
untuk mengakui orang itu
sebagai sahabat masa mudaku.
Dia merasakan sesuatu yang diyakininya sebagai
Penyebab penyakitnya.
Makanan paling hambar tak dipedulikannya.
Bau semua bunga menyesakkan napasnya;
matanya tersiksa bahkan pada cahaya yang paling redup sekalipun.
Dan suara sekecil apapun
membawa kengerian dalam dirinya.
Aku mulai bertanya-tanya kelayakkanku
sebagai sebuah hadiah bagi sahabatku,
yang sekarang hidup dalam dunia dimana aku tidak memegang kuncinya.
Aku akan binasa!
Aku takut akan kejadian pada masa depanku!
Kurasa saat itu cepat atau lambat akan tiba
disaat aku harus meninggalkan
hidup dan alasan sekaligus,
dengan sedikit perjuangan
melawan khayalan yang suram...
...ketakutan.
Tapi apa yang kau takuti, Roderick?
Aku harus tahu apa yang menyiksa
dirimu setiap saat.
Aku akui
sebagian besar kemurungan yang melanda diriku mungkin juga yang menyebabkan
sakit parah yang berkepanjangan ini.
Aku bicara mengenai adikku tersayang, Madeline.
Satu-satunya yang menemaniku bertahun-tahun lamanya,
yang terakhir
dan juga satu-satunya keluargaku di dunia ini.
Roderick bercerita dengan penuh kepedihan,
yang membuatku ikut merasa sedih.
Aku sendiri juga mengerti
akan kepedulian terhadap adik perempuannya.
Madeline...
Penyakitnya
telah membuatku menjadi
Keturunan terakhir Keluarga Usher.
Suaranya bergetar
disaat Ia mengingat kembali bahwa di masa mudanya, Madeline sangat takut
akan dunia luar.
Roderick mengasihi adik perempuannya karena kepolosannya,
tapi ramalan akan kematiannya telah ditentukan.
Kehidupan keluarga Usher akan kesendirian juga berarti tidak akan adanya pewaris.
Tapi di penghujung malam saat kedatanganku
di Rumah itu,
Madeline telah termakan oleh kelemahannya
akibat si perusak.
Dia sudah mati!
Madeline sudah mati!
Dia telah meninggalkanku!
Atas permintaan Roderick Usher,
Aku secara pribadi membantunya
dalam mengatur pemakaman adiknya untuk sementara waktu.
Dan sekarang,
setelah beberapa hari dengan keduka-citaan yang pahit,
tampaknya telah mengubah
perilaku gangguan kejiwaan sahabatku.
Saat itu, sekali lagi, Aku diminta untuk membantu
semua tingkah-laku kegilaannya.
Aku dimintanya untuk menatap ruangan kosong
selama berjam-jam,
dengan sikap dan perhatian yang sangat dalam,
agar mendengarkan beberapa bunyi khayalan.
Tak diragukan lagi
kondisinya yang sangat ganjil itu membuatku merinding,
tentang pengaruh liarnya akan khayalan
dan juga takhyul.
Dan kau masih tidak bisa melihatnya?
Maka kau harus bisa!
Kau harus!
Kau harus bisa melihatnya!
Aku mendengarnya.
Kita telah menguburnya
hidup-hidup
di dalam makamnya!
Kuberitahu kau
aku mendengar
sayup-sayup bunyi gerakkannya
di dalam peti mati.
Aku telah mendengarnya, selama berhari-hari.
Namun aku takut,
Aku takut untuk menceritakannya!
Bunyi derik peti matinya,
dan bunyi jeruji besi dalam penjaranya,
dan juga usahanya
untuk keluar
dari dalam peti matinya!
Tenanglah.
Badai inilah yang membuat bunyi-bunyian itu,
Mengelabui kita berdua!
Apa dia datang terburu-buru hanya untuk mencelakaiku?
Aku tidak mendengar bunyi langkah kakinya menaiki tangga?
Apakah aku tidak bisa mengenali
bunyi yang mengerikan
dari suara
detak jantungnya?
Orang gila!
ORANG GILA!
Sekarang Dia sudah berdiri di balik pintu itu!
Penglihatan akan kejadian itu akan terus membekas
dalam jiwaku dan akan terus menghantuiku
sampai akhir hayatku.
Saat aku menoleh,
Rumah yang berdiri tegak itu.
No comments yet. Be the first to leave one.