The first 200 lines.
Semoga aku bahagia.
Semoga aku bebas dari penderitaan.
Semoga aku bebas dari permusuhan.
Semoga aku bebas dari aral merintang dan bahaya.
Semoga aku hidup dalam damai dan kebahagiaan.
Jaga kemurnian dalam tubuh dan ucapan.
Bebas dari segala penderitaan dan bahaya.
Apa yang membawamu kemari? Apa yang telah kau lakukan?
PULAU RAMPA, CHONBURI, 1976 M
Aim!
Apa kabar? Sehat?
Aku belum kemari sebulan, aku sudah merindukanmu!
Di sini, setiap orang bertanggung jawab atas dirinya.
Aku punya kabar baik.
Kata Bunda aku segera bebas.
Sungguh?
Dokumennya sedang diurus.
Sampai saat itu, kau akan menjemputku dari sini, 'kan?
Cepat berbaris.
Bunda sedang turun.
Namaku Nona Pritsana. Aku yang bertanggung jawab di sini.
Semua memanggilku, "Bunda."
Perkenalkan dirimu kepada teman-temanmu.
Aku Ingkhwan. Dari panti remaja Darunphorn.
Ingkhwan, orang Utara sejati.
Diam! Kalian tertawakan apa? Kita di depan Bunda, ingat itu.
Kita di pulau ini dan cuma ada kita di sini.
Sangat penting punya aturan.
Aku ingin kalian semua membantu Ingkhwan
agar terbiasa dengan peraturan kita di sini.
Tolong jaga dia, Aim-orn.
Baik, Bunda.
Tolong jaga dia, Maprang. Aku akan kembali.
Kembali bekerja sekarang!
Nuch, bawa siswa baru ke gedung.
SEKOLAH PINITKHUN TEMPAT PEMBINAAN SIKAP REMAJA
Tidak ada perahu kecil cadangan di sini seperti yang kau kira.
Aku menerima apapun.
Beri aku makanan dan ranjang, dan aku akan baik-baik saja.
Tapi radio yang kuminta kau perbaiki terakhir kali.
Kau tidak bisa memperbaikinya.
Tapi kau meminta tinggal.
Jika ada keadaan darurat, itu akan menjadi masalah bagi semua orang.
Perahu berikutnya datang setelah badainya selesai.
Untuk sementara, kau bisa tinggal di mercusuar.
Terima kasih, Bunda.
Masuklah.
Kalian berdua boleh pergi.
"Nona Ingkhwan Pornraksa, usia 17, dikirim kemari karena...".
Aku tidak peduli yang telah kau lakukan dulu.
Di sekolah ini,
kami siap memberi setiap orang kesempatan mengubah hidup.
Kau ingin awal baru, bukan?
Pemerintah menutup penjara pulau rahasia.
Misteri di pulau: Puluhan tahanan ditemukan tewas.
Menteri Dalam Negeri berencana mengubah penjara
menjadi sekolah pembina untuk pelaku kejahatan wanita muda.
SEKOLAH PEMBINAAN PINITKHUN
MALAIKAT PELINDUNG SEKOLAH PINITKHUN
Tugasmu sekarang menyalakan lentera asrama setiap malam.
Isi ulang airnya setiap hari.
Semua wajib bangun sebelum matahari terbit.
Masuk kelas tepat waktu.
Berada di asrama paling lambat pukul 19.00 tepat.
Mau melanggar, silakan saja.
Andai asrama punya listrik bukannya lentera.
Aku iri dengan kamar Bunda dengan lampu yang layak.
Kalau tidak suka, silakan tidur di lantai.
Tidak ada yang melarangmu.
Tapi karena kau sendirian,
lebih baik berhati-hati.
Terutama di malam hari.
Siapa di situ?
Jangan lupa cuci, itu kotor sekali!
Ini tidak berlebihan?
Pekerjaan kotor jalang ini? Menggali kotoran untukmu sekarang.
Setiap piring nasi dan suap makanan, jangan sia-siakan, itu amat berharga.
Banyak orang kelaparan.
Selalu ingat semua anak-anak yang kelaparan.
Saat merangkai karangan bunga, hati-hati dengan setiap bunga.
Satu tidak pada tempatnya, seluruh kalung bunga takkan terlihat sempurna.
Ayo, kubantu.
Kalau kau tidak sanggup, kenapa tidak minta tolong?
Kalau kau ada waktu, mampirlah ke ruang kesehatan.
Oleskan antiseptik di luka...
Kalau ada yang mengusikmu, jangan sungkan beritahu aku.
Anggap saja aku temanmu.
Aku di sini untukmu.
Jadi kau pernah melihat hantu itu?
Siapa di situ?
Siapa di situ?
Cukup leluconnya!
Aku tidak takut!
Lain kali, habis kau.
Mengukir, adalah kerajinan yang butuh fokus dan presisi.
Karena itu bisa mengubah hal biasa atau tidak menarik
menjadi sesuatu yang indah.
Apa yang terjadi semalam?
Tidak ada, Bunda.
Mau mengurus ini, atau aku perlu menegakkan ketertiban?
Semalam, itu kau!
Apa?
Jangan pura-pura tidak tahu.
Kau yang dorong Aim dari tangga.
Akui saja! Kami tidak akan memberitahu Bunda.
Aku tidak melakukannya.
Akui saja kau melakukannya.
Lepaskan aku.
Lepaskan aku.
Kalian melihat itu, bukan? Dia yang melakukannya.
Tapi aku tidak melihat Ing melakukan apapun.
Tentu kau akan membelanya. Kalian berdua orang udik desa.
Jika kau tidak mengakuinya, semua orang akan menanggung akibatnya.
Tapi aku tidak melakukannya.
Tidak ada makanan untuk kalian semua malam ini.
Kembali bekerja sekarang.
Buat lebih banyak alasan dan mereka akan dihukum karenamu.
Maaf karena aku pengecut.
Kau boleh marah padaku.
Tapi aku percaya kau tidak melukai Maprang.
Kata Aim kau orang udik.
Kau juga dari Utara?
Ya.
Aku Ploy.
Kukira kau tidak mau bicara padaku.
Kau selalu menyendiri.
Memang begini di sini.
Yang sudah lebih lama di sini seperti Aim
selalu menindas pendatang baru.
Dan Bunda membiarkannya.
Tapi semua berpikir sama.
Jika menundukkan kepala,
setidaknya ada tempat tinggal.
Seperti yang kau tahu,
para gadis tidak punya rumah untuk kembali.
Aim, kenapa kau ada di sini?
Waktu kau jemput anak baru itu, kau bicara dengannya?
Kutanya nama dan asalnya.
Dia bilang apa?
Tidak ada.
Di daratan utama.
Pernah dengar Panti Darunphorn?
Panti Darunphorn?
Ya.
Itu panti asuhan.
Kulihat di berita. Ditutup tiba-tiba.
Perkenalkan dirimu.
Kampungan! / Kampungan!
Telanjangi dia.
Jangan.
Ada apa?
Kau, kemari.
Apa?
Lepaskan.
Lepaskan aku. / Jangan berontak.
Kampungan sepertimu tidak akan pernah kapok!
Tolong jangan sakiti aku.
Kumohon.
Tidak.
Masih ada kotoran di sini.
Tidak.
Tidak!
Aim, ada apa?
Apa yang terjadi?
Kau melihatnya, 'kan?
Apa?
Nenek-nenek.
Itu…
Hantu?
Omong kosong, Nuch.
Jangan menakutinya.
Dia terlihat pucat sekarang.
Apa yang terjadi, Aim?
Seseorang menyakitimu?
Kau mau mengatakannya?
Lepaskan aku.
Katakan!
Baik.
Sekarang, katakan.
Kau tahu sesuatu.
Aku tidak tahu, 'kan?
Aku…
Sepertinya hantu itu ada hubungannya dengan Ing.
Bagaimana?
Aku tidak mengerti.
Sesuatu menimpaku setelah kubuang kotoran padanya, kau tahu itu?
Apa kalian semua
pernah dengar tentang, "hantu Ibu Baptis"?
Saat aku masih kecil, kata nenekku setiap orang lahir, dibentuk oleh roh.
Kebanyakan orang Utara percaya bayi baru lahir dijaga oleh hantu
seolah itu ibu yang lain.
Jadi, bayi yang baru lahir itu seperti anak manusia dan anak hantu.
Jadi, kami ada ritual untuk menebusnya dari hantu.
Anak hantu tiga hari, anak manusia empat hari.
Siapapun pemilik anak ini, datanglah mengambilnya.
Datang! Ambil dan besarkanlah!
Aku mau menebus anak ini.
Bayinya kini milik manusia.
Tidak ada hantu yang bisa mengganggunya.
Tidak ada hantu yang bisa mengambilnya.
No comments yet. Be the first to leave one.