The first 200 lines.
Ini obrolan antara kau dan aku, antara sesama pria.
Lalu?
Kupikir kau dan Mizuki sedang berpacaran, tapi rupanya tak begitu.
Aku hanya berniat untuk menghormati
peranmu sebagai pelindung bagi anak itu.
Jangan sentuh dia!
Melihat caramu mengambil paksa bocah yang sudah jatuh itu,
kupikir, sepertinya aku butuh izin darimu dulu...
Boleh aku ambil dia, 'kan, kakak pelindung?
Terserah dia mau berhubungan dengan siapa, itu bukan urusanku.
Tapi, kalau dengan dirimu, itu beda cerita.
Aku dibenci, ya.
Mumpung lagi dibenci, aku mau bertanya satu hal.
Yang tadi itu kata-kata sebagai pelindungnya...
Atau itu perasaanmu yang sebenarnya?
.
Hei, Mizuki!
Ada apa, Tamami?
Aku merasa sudah berusaha dengan sangat keras, tahu.
Seperti bersolek mati-matian agar terlihat manis,
atau mengenakan pakaian yang sekiranya akan disukai oleh pria...
Namun...
Namun, padahal aku sudah berusaha sekaras itu!
Kenapa dia sama sekali tidak peka juga?
Apa Izumi itu sudah mencapai tingkat dewa dalam hal ketidakpekaan?
Ku-kurasa tidak begitu...
Makanya aku berpikir untuk mencoba bertanya
tentang isi hati laki-laki kepada Mizuki.
Aku?
Aku berpikir untuk menyatakan perasaanku kepada Izumi.
Bagaimana menurutmu Mizuki?
Ke-kenapa kau berkonsultasi kepadaku?
Izumi pernah bilang,
satu-satunya orang yang tidak membuatnya merasa lelah
meskipun sudah bersamanya dalam waktu yang lama, hanyalah kau.
Ada apa denganmu?
Begitu, ya. Menurut Sano begitu, ya...
Pernyataan cinta, ya...
Tak pernah sekalipun aku memikirkannya.
Andai saja aku tetap menjadi seorang perempuan,
mungkin aku akan bertemu dengannya secara normal dan jatuh cinta, Sano?
Tapi, kalau aku perempuan,
kami tak akan bisa punya hubungan seperti sekarang.
Makanya, meski aku tak bisa mengatakannya langsung
seperti Tamami bahwa aku menyukainya...
Kira-kira apa yang Sano pikirkan tentang Tamami, ya?
(EP. 9: APAKAH TIDAK APA-APA JIKA TETAP SEPERTI INI?).
Bersih-bersih bagian sini sudah selesai.
Di sini juga, ayo kita istirahat sebentar.
Ya.
Kebetulan sekali.
Tolong jaga adikku sebentar.
Apa?
Ka-Kagurazaka?
Aku ada janji kencan dengan gadis yang aku ajak kenalan kemarin!
Aku titip dia, ya!
Sampai nanti!
Kakak macam apa dia!
Wah, kelihatannya kau suka, ya.
Kiyomi, rasanya enak?
Ya.
Kau tahu tidak, Kiyomi?
Ini namanya pistol air.
Mau mencobanya?
Kalau bagian ini kau tekan kuat-kuat,
- nanti airnya bakal keluar. - Bagaimanapun juga
Nakatsu orangnya memang suka peduli dengan orang lain.
Hei! Apa yang kau lakukan Kiyomi?
Airnya masuk sampai ke dalam hidungku, tahu!
Apa yang kau tertawakan Mizuki?
Maaf.
Hei, Makita!
Oh, rupanya kalian.
Kau baru pulang dari berbelanja?
Aku sedang kerja paruh waktu.
Omong-omong, bagaimana dengan cewek itu?
Cewek berambut panjang tahun lalu itu.
Bodoh! Jangan tanya hal begitu pada orang
yang ganti-ganti cewek setiap tahun.
Apa? Kau sudah mencampakkannya?
Konyol sekali!
Tapi, cewek tahun ini jauh lebih cantik.
Apa? Kau sudah mengincarnya?
Begitulah.
Dia manis sekali!
Di otaknya cuma ada niat buruk saja.
Bedebah sialan itu...
Aduh, dinginnya!
Kau jadi basah kuyup!
Oi!
Lho? Sano?
Dasar bodoh!
Kau, 'kan baru saja pingsan!
Jangan biarkan tubuhmu kedinginan!
Lagi pula pakaian dalammu jadi terawang karena air.
Tapi, hari ini mataharinya sangat terik, jadi..
Jangan banyak alasan!
Tak perlu marah-marah begitu, 'kan!
Benar!
Jangan banyak bicara, pakai saja handuk ini!
Sampai celana dalamku basah kuyup!
Kalau begini, aku benar-benar bisa kena flu seperti kata Sano.
Hei, Sano di sini?
Bola lampu di koridor lantai dua...
Mizuki...?
Tidak mungkin!
Dia sudah melihatku!
Mizuki, kau...
Kak Io, kumohon!
Jangan bilang kepada yang lainnya!
Aku mohon!
Pokoknya pakai sesuatu untuk menutupi tubuhmu dulu.
Kita tidak bisa bicara kalau keadaanmu begini.
Kau mau menceritakannya, 'kan?
Ya.
Aku tidak habis pikir.
Jadi, kau sengaja datang dari Amerika ke Jepang
demi mengejar Sano?
Sampai memalsukan jenis kelaminmu segala?
Hebat juga kau tidak ketahuan oleh orang-orang sekitar sampai sekarang.
Tidak juga.
Dokter Umeda tahu, tapi dia membiarkannya
Lagi pula,
aku selalu menekan dadaku dengan rompi denim ini, jadi…
Begitu ya.
Jadi, itu penyebab kau pingsan beberapa waktu lalu.
Aku benar-benar tidak setuju dengan cara ini.
Orang tuamu pasti sudah sangat cemas membiarkanmu sekolah di Jepang,
kalau mereka tahu kau masuk sekolah khusus laki-laki,
mereka bisa pingsan.
Aku tahu.
Tapi, meski begitu, aku tetap ingin berada di samping Sano.
Tekadku sudah bulat!
Bagus!
Apa yang kukatakan tadi adalah pendapatku sebagai seorang ibu.
Tapi kalau pendapatku sebagai sesama wanita…
Kau hebat juga, ya!
Bisa membuat seorang wanita berjuang sampai sejauh ini,
laki-laki itu benar-benar beruntung, ya.
Ya!
Maaf! Kalau begitu, tolong rahasiakan ini…
Apa yang kau katakan?
Kalau kau ada kesulitan,
serahkan saja semuanya pada Kak Io ini!
Setangkai bunga yang mekar di kerajaan
yang isinya hanya laki-laki!
Luar biasa! Situasi yang sangat menguntungkan!
Kalau bisa bertukar tempat, aku ingin sekali merasakannya!
Ini adalah 'istana memikat' yang pasti diimpikan
setiap gadis setidaknya sekali seumur hidup, ya!
Benar juga.
Orang ini adalah kakak dari Dokter Umeda.
Tapi, dengar baik-baik Mizuki.
I-iya.
Kau tidak boleh lupa bahwa kau itu seorang perempuan.
Tak peduli seberapa laki-laki pakaian yang kau pakai,
atau seberapa maskulin perilakumu,
Kau tetaplah seorang gadis yang menyelinap ke sekolah laki-laki,
dan kau memikul risiko besar.
Selain itu,
kau tidak mungkin bisa terus begini selamanya, kan?
Tidak bisa
terus seperti ini selamanya?
Benar!
Lama-kelamaan dadamu akan tumbuh besar
sampai tidak bisa lagi kau sembunyikan dengan rompi itu.
Meski untuk sekarang mungkin masih bisa kau atasi.
Lagi pula kau menyukai Sano, 'kan?
Kalau begitu, ini malah makin sulit!
Apa kau mau terus seperti ini selamanya?
Sano? Kau sudah tidur?
Belum.
Anu...
Apa aku terlihat seperti perempuan?
Apa?
Apa Makita berkata seperti itu padamu?
Bukan begitu.
Kenapa malah mengungkit Makita?
Hanya saja, aku...
Apa kau mau terus seperti ini selamanya?
Tidak. Bukan apa-apa.
Maaf, ya.
Selamat tidur.
Entah apa lagi yang kau pikirkan sampai tidak bisa mengatakannya.
Tapi, kau harus tetap jadi dirimu sendiri.
Kalau kau tiba-tiba jadi seperti Nakatsu, itu malah menjijikkan!
Bicapa apa kau ini?
Mau kuhajar, bodoh?
Kalau sudah mengerti, cepatlah tidur.
Besok kita harus bangun pagi.
Ya.
Tapi, Sano...
Aku sempat berpikir bahwa begini saja sudah cukup.
Agar bisa terus berada di sisi Sano…
Tapi, bagaimana kalau aku tidak bisa terus seperti ini?
Apa yang harus kulakukan?
Sumpah ya, aku sebenarnya tidak peduli!
Kenapa juga aku harus mengupas kacang dengan orang-orang ini?
Mana kutahu.
Kagurazaka!
No comments yet. Be the first to leave one.