Release info

The Young Girls of Rochefort (1967) [BluRay] INDONESIA by madeinheaven6666
A Commentary by madeinheaven6666
Akses Film Lainnya Dari Saya Di Telegram: t.me/bymadeinheaven6666

Tags

bluray
Published on: 2026-03-15
Downloads: 36
Hearing Impaired: No
FPS: 23.976

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

GADIS-GADIS MUDA ROCHEFORT

Skenario, Dialog, dan Lagu oleh JACQUES DEMY

JUMAT PAGI

Kita pasang di sini?

Cukup sampai di sini, anak-anak.

Selamat siang, Bu.

Dan jangan lupa kostum kalian besok.

Delphine, lihatlah. Mereka sudah datang.

Mereka sedang bersiap di alun-alun.

Anak-anak belum siap. Kita latihan hari Minggu saja.

- Tak perlu. - Kau yakin?

Kami sepasang saudari kembar lahir di bawah rasi Gemini

Mi fa so la mi re Re mi fa so so so re do

Kami dua gadis manis yang sejak dulu terpikat para pria

Mi fa so la mi re Re mi fa so so so re do

Ibu kami membesarkan kami seorang diri

Bekerja keras sepanjang hidupnya

Agar pikiran kami bisa berkembang tinggi

Ia habiskan waktunya di balik gerobak kentang goreng

Ayah adalah seseorang yang tak pernah kami kenal

Namun saat kami berganti pakaian ada satu hal yang pasti

Di punggung bagian bawah kami, tepat di tempat yang sama

Ada tahi lalat yang sama seperti di wajahnya dulu

Kami sepasang saudari kembar lahir di bawah rasi Gemini

Yang gemar lagu jenaka, permainan kata dan senda gurau

Kami berdua gadis muda ceria

Menanti kebahagiaan yang dibawa cinta

- Saat darah berdesir - Saat jantung bergetar

Kami siap meneriakkannya dari atas atap rumah

Kami jiwa-jiwa lembut, dua jiwa romantis

Jatuh cinta pada seni, musik, dan tingkah lucu

Di mana dia? Pria yang kami nanti

Tuan yang tepat… sedikit cela tak kami peduli

Kami sepasang saudari kembar lahir di bawah rasi Gemini

Meski kaki berpijak di bumi angan kami terbang tinggi

Mengajar piano membuatku pucat pasi

Aku sudah muak dengan nada-nada fals ini

Aku bosan dengan kehidupan kota kecil ini

Parislah tujuanku di sanalah seni berseri

Pelajaran tari mulai membuatku letih

Kesempatanku ada di Paris juga, bukan di kota ini

Mengapa mengajar plié dan pirouette sepanjang hari

Padahal aku bisa di Balet Opera?

Kami sepasang saudari kembar lahir di bawah rasi Gemini

Dua hati, empat mata siap meluapkan rasa

Jam sebelas kurang seperempat! Aku terlambat.

Delphine, bisa jemput Booboo?

- Kau tak bisa? - Nanti pukul empat saja.

Aku tak bisa pakai ini! Ah, bisa saja... Tidak, tak bisa.

Guillaume pasti sudah menunggu.

- Dia mau apa? - Mau menemuiku.

Biar saja dia menunggu.

Kau pulang makan siang?

Ya, tapi tidak sebelum jam satu.

Bedakku di mana? Nah, ini dia.

Kami memainkan cello, terompet, dan banjo

Kami suka lagu yang ceria, permainan kata dan senda gurau

Meski kaki berpijak di bumi angan kami terbang tinggi

Kami sepasang saudari kembar lahir di bawah rasi Gemini

Sampai nanti.

- Mau ke mana? - Ke kafe.

Tunggu kami.

Kentang goreng?

Dua porsi kentang goreng.

- Lagi musim pasar malam? - Kami baru tiba.

- Pasti dagangan laris. - Belum tentu.

- Kami mau jalan-jalan. - Jangan sekarang!

Kami tidak sedang bertugas.

Dasar malas-malasan!

- Begini caramu memperlakukan gadis-gadismu! - Mereka bukan gadis kami... bukan begitu maksudnya.

Penari?

Si pirang menari shimmy ala India, si rambut merah shimmy ala Tiongkok.

- Itu lebih sulit. - Menarik sekali.

Dia bosnya. Aku tangan kanannya, montir.

- Halo, Yvonne. - Halo, Maxence.

Halo, Josette. Halo, Kek.

- Masih abstrak? - Lebih dari sebelumnya.

Memang begitu orangnya.

Tiga hari lagi masa tugasku selesai.

- Clacquesin. - Sudah habis.

Sudah, kan? - Dia bisa pesan yang lain.

Bir saja.

- Jadi, sudah kau temukan? - Belum, tapi aku bisa menunggu.

Satu bir untuk Maxence.

- Sudah dia temukan? - Belum.

- Apa yang hilang? - Sosok wanita idealnya.

Dari awal pun dia belum pernah menemukannya.

Dia melukisnya. Dia pelukis, juga penyair. Dia ditempatkan di sini.

Kita semua mencari sosok ideal kita. Bukan hanya dia.

Jangan murung begitu, Maxence. Gadis ada di mana-mana.

Kucari dia ke mana-mana mengarungi tujuh samudra

Dari Venesia ke Jawa, dari Manila hingga Angkor

Ada Jeanne dan Victoria, Venus dan Mona Lisa

Namun belum juga kutemukan dia dan kucari semakin gigih

Aku tak tahu seperti apa dirinya namun bayangnya begitu terang

Sudah kupunya namanya suaranya terngiang di telingaku

Telah kugambar siluetnya, wajah yang selalu kuimpikan

Potret yang kulukis itu adalah gambaran cinta itu sendiri

Ia seanggun seperti hanya gadis romantis bisa

Kecantikan ala Botticelli dengan mata dan sikap seanggun itu

Dalam siluet ia bagai para perawan mitologi

Yang menghantui galeri museum dan mimpi para remaja

Langkahnya mengingatkanku pada kenangan masa kecil

Yang melintas di benakku mengalun lirih, penuh lamunan

Rambutnya mengalir di dahinya bagai curahan emas murni

Yang diperebutkan angin, laut, dan mentari berebut ingin menyentuhnya

Bisa kuceritakan padamu tentang tangannya, tentang matanya

Bisa terus kuberkisah hingga fajar menyingsing

Dialah satu-satunya cintaku, namun apa guna sebuah mimpi?

Sudah kucari ke mana-mana, namun ia tak pernah tampak

Ia bisa bercerita pada kita tentang tangannya, tentang matanya

Ia bisa terus berkisah hingga fajar menyingsing

Dialah satu-satunya cintanya, namun apa guna sebuah mimpi?

Sudah ia cari ke mana-mana, namun ia tak pernah ditemukan

Apakah ia jauh? Atau justru dekat denganku?

Aku tak tahu, namun aku yakin ia ada

Apakah ia gadis yang nakal? Atau berdarah bangsawan?

Asal-usulnya tak berarti, karena aku seorang seniman

dan cinta satu-satunya kuasa

Potret bagus, tapi tak ada yang seperti itu di sini.

- Tidak, tak ada. - Aku lebih suka yang berambut merah.

- Astaga! Kau lihat Delphine? - Tidak, Bu.

Pasti dia lupa menjemput Booboo.

Bisa kau pergi, Maxence?

Aku sudah terlambat untuk latihan.

Aku harus menata meja.

- Maaf. - Tak apa.

Dah, Kek.

Bisa kalian berdua yang pergi? Sekolahnya dekat sekali.

Tentu, kami tak keberatan.

Baik sekali kalian. Tanya saja Booboo.

- Siapa? - Booboo. Anak bungsuku.

Aku tak pernah bisa keluar.

Aku terkurung di akuarium ini.

Padahal aku ditakdirkan hidup di udara bebas di tepi Pasifik...

mendengarkan musik indah dan membaca puisi.

Yvonne, lemku habis.

Bisa belikan lem sekalian di jalan? Terima kasih.

Hai, Delphe!

Kotor sekali! Lihat dirimu! Padahal pakai celana baru!

- Kau Booboo? - Memangnya kenapa?

Kami datang menjemput Booboo.

- Atas perintah siapa? - Ibu di kafe itu.

- Beraninya! - Kami tak punya niat buruk.

Kami ikut rombongan karnaval.

Oh, tentu saja.

- Kau cantik sekali. - Katanya begitu.

- Gaunmu bisa robek. - Diamlah.

Jadi, kita bawa anaknya?

- Aku mau ikut mereka. - Kalian penculik, ya?

- Kalau kami penculik, memangnya kami bakal ngaku? - Pintar sekali kau!

Sebenarnya cocok juga buatku, karena—sudahlah.

Jaga sikapmu.

Dah, manis kecil.

- Bibimu menyenangkan sekali. - Dia kakakku.

Manis sekali dia!

Aku mau permen.

Kita mau berdiri di sini seharian?

Halo, mawar manisku.

Cantik sekali kau, jiwaku. - Maksudmu tubuhku, bukan jiwaku.

Kau benar sekali, sayangku.

Kalau aku tak begitu mencintaimu, pasti aku cemburu.

Tapi aku mencintaimu, dan itu membuatku bangga...

dan penuh gairah, karena aku menginginkanmu.

Jadi aku membangkitkan sisi liar dalam dirimu.

Dan kerakusan serta nafsu.

Dan ocehan. Kau suka mendengar suaramu sendiri.

Suaraku dan suaramu. Aku mencintaimu.

Itu sebabnya kau ingin bertemu denganku?

Kau tak mencintaiku, tapi kau akan menikah denganku.

Sudah kubilang tidak, Guillaume.

- Lalu kenapa kau datang? - Kau menghibur sekali.

Tapi kalau kau mau, aku berhenti datang.

Lho, itu aku!

Ya, mawar manisku.

Sejak kapan kau jadi model untuk tentara?

Tentara? Omong kosong apa ini?

Siapa yang melukis itu? - Sudah kubilang: seorang tentara.

Katanya dia pelukis dan penyair. Mengerti maksudku? Kau kenal dia?

- Mirip sekali, bukan? - Kebetulan belaka.

- Tapi itu benar-benar aku! - Tidak, itu cuma simbolis.

Kau ini terlalu spiritual, jiwaku.

Lukisan tak berharga, khayalan semata.

Dengan rendah hati ia menamainya Ideal Perempuan.

Dia pasti benar-benar mencintaiku sampai membayangkanku seperti ini. Seperti apa dia?

Membosankan, tak berarti.

Aku ingin bertemu dengannya.

Maaf. Dia baru saja berangkat ke Paris.

Lagipula dia bukan tipemu.

Kau kira kau mengenalku Kau gemar banyak bicara

Padahal kau tak tahu apa-apa, tak tahu, tak tahu...

Kau tak tahu rasaku Andai tahu, kau kan terguncang

Kau takkan pernah tahu

Aku tahu caramu berpikir

Kau takkan pernah tahu apa yang membuatku berbunga, berbunga, berbunga

Apa yang membuatku menari atau mengapa aku bermimpi siang dan malam

Aku hanya boneka di galerimu

Apa sebenarnya yang kau lihat dariku?

Kau anggap ocehanku membosankan dan konyol

Tak sedikit pun kau peduli aku ceria atau murung

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left