The first 200 lines.
Pada suatu masa ada sebuah kota di mana penduduknya hanya pangeran atau gelandangan.
Di antara dua dunia itu
hanya ada anjing-anjing liar.
FILANTROPICA
"Kau tahu betul...
bahwa saat aku berkata 'ini berakhir'
aku sebenarnya tak berkata apa-apa.
Aku tak tahu dari mana aku menemukan kekuatan
untuk tersenyum saat kau pergi.
Tapi hari ini, ketika aku terbangun dari mimpi buruk itu,
dan yang kulihat hanya kehampaan yang kau tinggalkan...
hari ini... aku bertanya pada diriku bagaimana aku bisa hidup tanpamu,
bagaimana bisa kubiarkan kau pergi.
Tak mungkin... orang lain tak mungkin memiliki yang terbaik yang dulu kumiliki.
Tak mungkin..."
"...khusus untuk Tuan Relu Baron, tamu kita malam ini..."
"...tak mungkin..." -Oh, sangat mungkin!
"Katakan padanya bahwa meski dia telah mengambil semua yang kupunya,
aku tetap akan memberinya apa pun yang dia mau
karena semua itu tak berarti apa-apa, jadi...
Tolong sisakan aku harapan, dan temani aku di saat terakhirku
...tak mungkin, aku takkan membiarkanmu."
Terima kasih, dan kami harap Anda datang lagi.
Semoga hiburan kami berkenan.
Sangat. Sayang, ada masalah?
Laura?
Permisi... Tolong segera bayar tagihannya.
Saya tak bisa menunggu, sebentar lagi saya pulang.
Kalau ingin tambah pesanan, rekan saya akan melayani.
-Um, sepertinya ada kesalahan. Di nolnya. -Di sini, di...
Tidak, Pak. 3.200.000. Betul kok, silakan lihat sendiri.
3.200.000? Untuk makan dua orang?
Baik, kita hitung. Anda pesan:
Satu Cinzano - 60.000, ditambah Scotch 50, jadi 130.
Satu foie gras, dua - 80. Hidangan pembuka - 330, Champagne Prancis - 1.800.000.
Itu 2.130.000. Lanjut:
Chateaubriand - 200, Val Doftana - 180, Pinot Noir 500.000 - sudah saya bilang mahal.
Total 3.100.000. Ditambah dua kopi dan dua es krim jadi tepat 3.200.000.
Dan Anda juga melukai perasaan Nona Laura, padahal dia menyanyi begitu indah...
Maaf bertanya, tapi harga macam apa ini?
Harga restoran, seperti di daftar. Tapi harga di daftar itu per ons, bukan per porsi.
Permisi sebentar...
Dengar, bagaimana kalau saya bilang saya tak punya uang sebanyak itu?
Jangan bilang begitu, tolong...
Baiklah, misalnya saja, secara hipotetis...
Saya tak percaya, Pak. Anda ini seorang gentleman...
Saya cuma bertanya, apa yang akan Anda lakukan?
Apa yang akan saya lakukan kalau Anda bilang begitu? Saya pura-pura tak dengar.
Belum pernah kejadian?
Oh, tentu saja, kadang klien terkenal iseng pura-pura tak bisa bayar...
tapi tak pernah terjadi, astaga, tagihan tak dibayar.
Oh...
Dengar, kau akan marah kalau kubilang aku benar-benar dalam masalah?
Jangan bilang begitu, tolong, jangan bilang begitu...
-Saya dan istri saya sama-sama bekerja... -Kenapa Anda ingin membuat saya kesal, Pak?
...dan digabung pun sebulan kami tak menghasilkan sebanyak ini.
Lalu kenapa makan di restoran? Hah?
Ini kesalahan...
Kalau kesalahan, itu buruk, karena kesalahan mahal harganya.
Cangkirnya tambah 50.000, dan Anda membuat si nona menangis.
Saya tak tahu akan semahal itu.
Mari kita baik-baik saja, kita buat kesepakatan. Saya bayar cicil...
Saya kelihatan seperti orang bodoh?
Begini, saya punya 500.000, saya berikan. Sekarang dari mana dapat 3.000.000?
Kalau nadanya begini, cara bicaranya juga beda.
Bukan nada beda, saya cuma menjelaskan situasi...
Sandu, panggil Mugurel dan Andone sekarang juga!
Sayang, tahu tidak? Besok kita jual mesin cuci.
Jual saja ibumu! Mesin cucinya rusak!
-Lihat caramu bicara padaku... -Maafkan aku...
Tolong, Sayang, maafkan aku. Kadang aku kalap. Maafkan aku, aku tak bermaksud...
Jadi sekarang bagaimana? Tunggu sampai pagi? Anda mau bayar atau tidak?
Sandu, kubilang kirim dua orang ke sini!
-Kami di sini, Pak. -Jangan dibesar-besarkan, ini memalukan.
Arrrgh!
Lepaskan dia!
Tolong lepaskan saya. Pak, biar saya jelaskan.
Saya dan istri merayakan 10 tahun pernikahan. Saya pikir kami bisa makan di luar.
Biasanya tak mampu.
Saya guru SMA, dia teknisi. Anda tahu sendiri gaji kami...
Benar, kami salah hitung kemampuan kami.
Pak, bagi perempuan itu penting. Mungkin Anda juga menikah, pasti paham...
Begini saja: dia tinggal di sini, Anda pergi dan kembali bawa uang satu jam lagi.
Ke mana saya harus pergi, Pak? Tengah malam, dari mana dapat 3.000.000?
Suruh saya apa? Hajar orang? Mencuri, membunuh, merampok bank?
Kita hajar saja?
Roulade! Sini, ke sini, ke papa.
-Tunggu sebentar, Baron, ada sedikit masalah... -Kemarilah, gelandangan, sekarang!
-Ya, Pak... -Masukkan saja ke tagihan saya.
Demi Tuhan, Baron, dua orang ini tak pantas Anda bayari...
Sudahlah, tak lihat mereka begitu miskin?
Kalian beruntung malam ini. Sudah, anak-anak, tagihannya lunas.
-Dibayar bagaimana? -Baron sedang berbahagia malam ini.
Lain kali ke restoran, bawa uang!
Kalau anak-anak saya yang menangani, kalian pasti bayar mahal ke dokter gigi!
Bagaimana aku bisa sampai di situasi seperti ini...
Itu yang kupikirkan.
-Mau kuberitahu? -Ceritanya panjang?
-Tergantung. Saya bisa menemani Anda lebih jauh, Nyonya. -Tak sebaiknya kau berhenti memanggilku Nyonya?
-Baru 10 tahun menikah, masih terlalu cepat... -Berhenti bercanda dan mulai ceritanya.
Baiklah, kita mulai. Usia 17. Aku benci usia itu.
Aku benci murid-muridku. Sampai 10 hari lalu, hidupku seperti ini...
Setiap pagi, wajah-wajah yang sama, penuh jerawat. Aku menghitungnya.
Ada 246 jerawat di kelas 10 dan 197 di kelas 11.
Bucescu, bolehkah aku mengganggumu sebentar?
Aku peduli padamu, kau peduli padaku? Kenapa kau kesal?
Sudah kubilang matikan ponsel! Jelas?
Apa yang kukatakan? Aku bilang kau pelacur karena kau pakai riasan dan menggoda si "Pincang".
Kadang aku mulai berpikir dengan bahasa mereka. Sekolah itu "brengsek", Lova itu "seksi"...
...pelajaran itu "garing", hidupku "kacau".
Bucescu, maukah kau berbaik hati memberiku sedikit perhatian?
20 tahun lalu aku seusia mereka. Tapi di zamanku sekolah bukan bahan lelucon.
Para penyair abad ke-19 pertama kali melihat kontradiksi antagonistik...
...dalam masyarakat kapitalis.
Kontradiksi macam apa yang mereka lihat?
A... antagonistik.
Sebutkan judul puisi yang memuat kontradiksi itu.
Kini aku mengajar sastra Rumania di SMA ternama ini...
...yang hanya menerima murid dari latar belakang tertentu.
Aku baru menerbitkan buku pertamaku. Kumpulan 10 novelet, edisi terbatas.
Dan semua biayanya kutanggung sendiri.
Uangku nyaris tak cukup untuk ongkos bus, tapi...
...aku bangga melihat karyaku di rak toko buku.
Permisi, tadi ada buku berjudul "Tak Ada yang Mati Gratis". Sudah habis?
Orang-orang berebut, Pak! Terjual tepat 3 eksemplar.
-Dan sisanya? -Saya kembalikan ke penerbit.
-Kenapa? -Tidak ada permintaan...
-Tidak ada permintaan? Saya memintanya! -Sudah tak bisa, sudah dikembalikan.
Apakah buku itu menghabiskan udara Anda?
Bajingan itu mati keesokan harinya.
Kubunuh dia, penuh penderitaan, di halaman ketiga novel baru yang sedang kutulis.
Titik. Baris baru.
"Malam merayap pelan ke dalam kota..."
Masalahnya, aku terjebak di kalimat itu...
...berhari-hari, dan tak mampu melanjutkan, meski sudah berusaha keras.
Masih dengar lagu Natal? Ini bulan September!
Kami tahu. Tapi kalau jatah pensiun kami kau makan terus, entah aku hidup sampai Natal!
Makanan busuk yang kau tinggalkan di kulkas itu jatah pensiunmu?
-Ibumu mati-matian memasak itu! -Karena kau tak pergi ke pasar beli apa-apa!
Si "penulis" itu sedang apa? Tidak ada!
-Kau bicara padaku? -Ya, padamu.
Setidaknya kau sudah baca bukuku?
-Akan kubaca, tenang saja. -Kapan?
-Setelah selesai buku yang sekarang! -Aku sudah lihat sekilas, bagus kok.
Ada yang tanya pendapatmu?
Kami keluarga yang kompak, hidup dalam Natal yang abadi.
Di luar, Vera menungguku. Dia punya satu gairah: anak-anak orang lain.
Aku akan menidurkannya, jadi tolong jangan bicara keras beberapa menit sampai dia tertidur, ya?
-Aku tak tahu kenapa minggu ini dia rewel sekali. -Yah, dia memang manis sekali...
-Kau tak merasakan apa-apa melihat anak semanis itu? -Ah, mulai lagi...
-Apa yang kau bilang? -Kubilang dia manis.
Kau kira aku bodoh? Mau mempermalukanku di depan teman-temanku?
-Aku tahu kau bilang, “mulai lagi”. Mulai apa? -Pembicaraan seperti ini yang tak tahan kudengar di depan umum.
Tak di depan umum? Ayo pulang! Memangnya kau punya rumah untuk kita tinggali bersama?
Tidak. Kenapa? Karena kau tak bisa! Kau tak bisa menikahiku, dan kita tak bisa punya bayi!
Vera, jangan berlebihan...
Kalau bagimu dewasa itu berarti omong kosong seperti, “Aku mau bayi, nanti beli saja.”
“Aku mau bayi buat main-main.”
-Ayolah! -“Sekarang! Aku mau bayi sekarang!”
Kau ini babi! Pergi sana... brengsek kau! Bayinya jadi bangun!
Itulah akhir hubungan dua tahunku dengan Vera, satu-satunya perempuan yang ingin punya anak dariku.
Padahal aku sudah punya sekitar 100 “bayi” di sekolah, dan semuanya membuatku muak.
Terutama satu orang.
Robert!
Kau menggoda dia? Kuhajar kau, bajingan!
-Aku? Menggoda makhluk jelek itu? -Dia menggoda aku dan mengancamku!
Kuhabisi kau!
Robert sangat terkenal di sekolah. Semua gadis kelas 9 sampai 11 memujanya.
Untungnya, dia jarang masuk kelas, dan biasanya dalam keadaan teler.
Aku lebih suka melihatnya sesedikit mungkin.
Meski begitu, kepala sekolah menekanku untuk mengeluarkannya...
Dengar, Pak Guru, katanya mereka mau mengeluarkanku dari sekolah.
Bagaimana ini?
-Aku tak tahu, Robert. Mungkin kau berbuat sesuatu. -Pak, kau tak akan membiarkan itu, kan?
Kita teman, kan?
-Apa yang bisa kulakukan kalau kau tak pernah patuh? -Dengar baik-baik:
Kalau mereka mengeluarkanku, dan kau membiarkannya atau tak membelaku...
...maka kau bukan temanku lagi.
Aku akan datang dan menyayatmu seperti sosis. Ya? Betul, kan?
Akan kupikirkan.
Tiba-tiba kusadari bahwa seorang anak muda sebenarnya masih sangat rapuh...
...dan hukuman tergesa-gesa bisa meninggalkan luka seumur hidup.
Robert pantas diberi kesempatan melanjutkan sekolahnya.
Aku meminta kepala sekolah mengizinkanku berbicara dengan orang tuanya.
Dan kuminta Robert mengajak mereka datang.
Aku hampir penasaran, seperti apa orang tua pembuat onar seperti dia.
Kau tahu, kadang dalam hidup sebuah pintu terbuka, dan setelah itu tak ada yang sama lagi.
Bayangkan saja pintu ruang 10B.
-Profesor Gorea? -Ya.
Saya kakak Robert Dobrovicescu. Seharusnya orang tua kami datang, tapi...
...mereka sedang di luar kota, jadi saya yang datang.
Senang bertemu Anda. Ovidiu Gorea.
Diana Dobrovicescu.
-Kakaknya Robert! -Ya.
Silakan duduk.
Terima kasih, tapi saya tak ingin Anda berdiri juga.
Saya tak tahu kalau Robert...
Jadi, kontradiksi apa yang dilihat para penyair abad ke-19?
-Antagonistik. -Apa?
Umm... saya tidak mengerti pertanyaannya.
No comments yet. Be the first to leave one.