The first 165 lines.
Maafkan saya.
Kukira siapa.
Lama tidak berjumpa, Maki.
Ayah...
Kau sedang apa di sini?
Tentu saja sedang main, ya.
Soalnya kau sudah SMA.
Bukan, aku sedang belanja.
Kalau tidak salah, terakhir kita bertemu sebelum libur musim panas, ya?
Maaf.
Seharusnya Ayah lebih sering meluangkan waktu untuk menemuimu.
Setelahnya, pekerjaan Ayah semakin padat.
Apa hari ini juga?
Begitulah.
Kebetulan, tempat ini jadi lokasi proyek berikutnya.
Lalu, sekarang sudah mau pulang.
Kelihatan berat. Apa tubuh Ayah sanggup?
Tidak perlu cemas.
Soal stamina, Ayah percaya diri.
Kepala Departemen Maehara.
Maaf mengganggu obrolan Bapak.
Karena Bapak tak kunjung kembali.
Maaf membuatmu menunggu.
Minato, ini anakku, namanya Maki.
Anaknya Bapak...
Salam kenal. Nama saya Minato Kyoka.
Nama saya Maehara Maki. Salam kenal.
MASIH BELUM? - MAKI, DAGINGNYA
Teman yang datang bersamamu?
Baiklah, karena pekerjaan Ayah tampak padat,
aku akan pulang dulu.
Sampai nanti.
AKTA CERAI
Kenapa kau selalu saja begitu?
Kenapa kau diam saja?
Ayah...
Maaf, Maki.
Maki! Kau cukup lama. Apa tersesat?
Kurang lebih begitu.
Umi gelisah sekali menunggu kedatanganmu.
Tidak perlu basa-basi. Ayo segera pergi!
Ayo, Maki juga ikut!
YAKINIKU RATU MAKAN PUAS DUA JAM
Maki, kau mendengarkan?
Maki!
- Hei! - Sakit!
Padahal aku sudah repot-repot menanyakan mau pesan apa.
Tetapi kau selalu berikan jawaban sekenanya.
Kalau sendirian tidak masalah.
Tapi itu terkesan lancang kalau sama orang lain.
Maaf.
Sepertinya aku agak lelah.
Kau baik-baik saja?
Jangan memaksakan diri.
Masih aman.
Aku hanya melamun, dan perutku tetap lapar.
Oke, aku pilih lidah sapi irisan tebal.
Boleh juga.
Aku pilih bagian perut kualitas premium.
Kalau Yuu?
Kalau aku tentu saja pilih iga bertulang.
Lalu, ayo sekalian pesan sosis atau paket makanan laut.
Yuu, kau sudah memesan es krim?
Meski ini makan sepuasnya, bukankah porsimu kebanyakan?
Umi juga kayak anak-anak. Mencampur kola dengan soda putih.
Es krimku masuk jalur perut yang berbeda, jadi tak masalah!
Maki juga sependapat, kan?
Sepertinya kalian sama saja.
Umi, kau disindir juga.
Sudah jelas yang kayak anak-anak itu Yuu!
Aku hanya iseng mencampur satu gelas saja.
Baik Umi dan Amami, jangan lupa makan sayurnya.
Ada Umi, dan juga Amami.
Tahun ini pasti akan menjadi kenangan indah.
Makanya, aku akan melupakan hal yang terjadi tahun lalu,
dan mulai berpikir untuk ke depannya.
Kurang lebih begini.
Hai.
Karena dingin, jadi tolong ajak aku masuk dulu.
Ini, maaf lama.
Terima kasih.
Barusan kau melihat kakiku, kan?
Soalnya, aku merasa kau sedang kedinginan!
Memang dingin.
Sebelum sampai rumahmu, sejujurnya aku agak menyesali keputusanku.
Kalau begitu, jangan terlalu memaksakan.
Sesuai perkataanmu.
Namun, selagi bisa, aku ingin kau melihat sisi manisku.
Itu...
Karena kau teman cowokku yang paling akrab.
Berarti, alasan bertemunya di rumahku...
Aku memang takut merepotkanmu.
Namun, aku ingin kau segera melihatnya.
Dari sudut pandangmu, bagaimana penampilanku hari ini?
Bagaimana...
- Bercanda. - Hal seperti ini...
Meski agak memalukan untuk mengatakan ini...
Kau cantik, Umi.
Sejujurnya, aku terpesona.
Benarkah? Terima kasih.
Berarti, ada hasil dari jerih payahku.
Begini. Karena kita sedang kencan.
Ayo jalan sambil begini.
Soalnya hari ini juga dingin.
Tapi tanganmu sangat berkeringat.
Berarti, tidak usah.
Ditolak.
Kami adalah sepasang murid SMA biasa yang mencoba tampak dewasa.
Ini semua berkat Umi yang berusaha mendandaniku.
Tampangku memang tidak bisa diubah, dan aku tak keberatan kalau diejek.
Namun, aku tak ingin Umi, yang berkata sangat menyukaiku,
juga ikut ditertawakan.
Ada apa?
Mulai ke depannya, aku akan senang jika diberi tahu banyak hal.
Aku akan berusaha.
Itu...
Demi Umi.
Kenapa begitu?
Rasanya, Maki hari ini terlihat jauh lebih manis dan menggemaskan.
Apa aku harus senang dibilang begitu?
Normalnya, itu perkataan kurang baik,
tetapi kalau itu dariku untukmu, kau boleh merasa senang.
BIOSKOP JOTO
Begini, Umi.
Kursi ini untuk pasangan, kan?
Soalnya hari ini kencan, jadi kurasa tak masalah.
Benar juga...
Begini, Umi.
Apa?
Kenapa saat duduk langsung merangkul lenganku?
Soalnya ini kursi pasangan.
Lihat, mereka yang duduk di kursi sama, kebanyakan juga sepertiku.
Atau mungkin kau tidak suka melakukan ini denganku?
Aku tidak keberatan.
Maki memang tidak bisa jujur. Elus, elus.
Ayo fokus, filmnya segera dimulai.
Iya.
Hei, Maki.
Sekarang ada apa?
Bagaimana kalau ada teman sekelas yang melihat kita di tempat ini?
Tidurku pulas!
Film baru jalan 30 menit, kau langsung tertidur pulas.
Soalnya, filmnya sangat membosankan!
Karena momennya tepat, aku tidak baca bocoran apa pun.
Tak kusangka, di momen penting, aku malah salah pilih film!
Suka duka menonton film.
Itu dia!
Seharusnya aku tak memilih film lain,
dan fokus menonton "Hiu Raksasa Pemakan Manusia versus Gustav Terkuat
versus Kraken versus Android Pembunuh.
Edisi Pertempuran Lintas Ruang dan Waktu."
Apaan itu? Yang bagus kumpul semua!
Aku kembali!
- Wah! - Wah!
Maki, bagaimana?
Semua makanan, sampai penutupnya terasa enak.
Tetapi ada satu yang membuat tak puas.
Aku juga merasa seperti itu.
Mau mengatakannya bareng?
Satu, dua!
- Porsinya sedikit! - Porsinya sedikit!
Sudah kuduga.
Begitulah.
Agak aneh bilang begini setelah makan.
Mau makan hamburger?
No comments yet. Be the first to leave one.