The Breadwinner

The Breadwinner

Download Indonesian Subtitle

Release info

The Breadwinner 2017 All BluRay x264 ID- indonesia
A Commentary by Tonizola

Tags

BluRay
x264
Published on: 2019-04-14
Downloads: 99
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Diterjemahkan dari explosiveskull oleh Tonizola

Ini barang bagus dijual!

Apapun yang tertulis! Apapun yang terbaca! Pashto dan Dari!

Ini barang bagus dijual!

Apapun yang tertulis. Apapun yang terbaca.

Pashto dan Dari. Ini barang bagus dijual.

Aku melihatmu melayani seorang wanita!! Aku melihatnya dengan mataku sendiri!

- Uh, Aku pikir itu bukan... - Iya kau!

Apapun yang tertulis. Apapun yang terbaca.

Pashto dan Dari. Ini barang bagus dijual.

Parvana.

Ini satu-satunya barang berharga yang kita punya.

Aku tidak pernah memakainya. Tidak sekali pun.

Dimana kau akan memakainya, Parvana?

- Ayo lanjutkan belajarnya. Baik? - Ya, Baba.

Sekarang, apa yang bisa kau ceritakan tentang "Silk Road(Jalan Sutra)"?

Silk Road(Jalan Sutra).

Baba, Aku tidak ingat tentang Silk Road(Jalan Sutra).

Mungkin kalau kita menganggapnya seperti sebuah cerita.

Cerita tetap ada di hati kita bahkan ketika semua hal lainnya hilang.

Orang-orang kita selalu bercerita, dari sangat awal,

ketika kita adalah Parthia dan Khorasan.

Retakan tanah di garis pegunungan Hindu Kush,

hangus oleh fiery eyes(mata api) di gurun pasir utara,

black rubble earth melawan ice peaks. *aneh kalo diartiin secara harfiah

Tanah kita adalah tulang-belulang raksasa yang membatu.

Kita adalah Ariana,

tanah leluhur dan mulia.

Kita adalah jalan dari segalanya,

membawa barang dari timur ke barat.

Kita mempelajari bintang-bintang

dan mulai terlihat ketertiban ditengah-tengah kekacauan.

Kita adalah ilmuwan, filsuf, dan pendongeng.

Pertanyaan mencari jawaban dan kemudian lebih banyak pertanyaan.

Kami mulai melihat tempat kami di alam semesta.

Tapi kita berada diakhir kerajaan yang berperang satu sama lain,

karena perbatasan telah ditentukan dan ditentukan kembali...

selama ribuan tahun.

Dari penguasa besar ini datang Cyrus Agung dari Persia.

Lalu Alexander yang Agung dari Macedonia.

Munculah Kerajaan Mauryan,

Genghis Khan,

dan seterusnya dan seterusnya.

Setiap kali ada pertumpahan darah,

dan setiap kali juga ada yang selamat.

Sebuah pola berulang tanpa henti.

Saat aku muda, Parvana,

Aku tahu seperti apa rasanya kedamaian itu, disini di kota ini.

Anak-anak pergi ke sekolah, wanita pergi ke perguruan tinggi.

Semua kerajaan melupakan tentang kita,

setidaknya untuk sementara.

Tapi ini tidak berlangsung lama.

Tanah menjadi rapuh di bawah kaki kita,

selalu tidak pasti.

Pertama terjadi sebuah kudeta, lalu terjadi invasi,

kemudian terjadi perang saudara.

Dalam kekacauan,

beberapa orang melihat kepada mereka siapa yang mungkin memulihkan ketertiban.

Tapi dengan biaya yang besar.

Kami telah menentukan martabat khusus untuk wanita!

Wanita seharusnya tidak pergi keluar dan tidak perlu menarik perhatian!

Jika seorang wanita menunjukkan dirinya, dia akan dikutuk oleh Syariat Islam

dan seharusnya tidak pernah berharap untuk pergi ke surga.

Semua telah berubah, Parvana.

Cerita mengingatkan kita akan hal itu.

Parvana, apa kau mendegarkannya?

Ya, Baba.

Kenapa kau tidak bercerita tentang nenek moyang kita seorang pengembara

dan bukit emas mereka?

Baik?

2,000 tahun yang lalu...

- Ya? - 2,000 tahun yang lalu...

ada seorang putri Baktria

yang memiliki mahkota.

Dan?

- Dan... - Parvana?

Pergi. Pergi sana dari barang-barangku.

Pergi. Aku bilang pergi, anjing bodoh!

Hei, kau! Apa yang kau lakukan?

Mengapa gadis ini berteriak?

Dia hanya anak kecil. Dia tidak bermaksud seperti itu.

Dia menarik perhatian!

Dia seharusnya berada di rumah, tidak menampakkan dirinya di pasar.

Aku tidak punya anak laki-laki di rumah, kecuali seorang bayi. Aku perlu bantuan anak gadisku.

- Berdiri ketika kita berbicara. - Aku orang yang ca...

Aku bilang berdiri!

- Aku kenal kau. - Ya, Idrees.

Aku pernah menjadi gurumu. Kau adalah murid yang baik.

Kau membuang waktuku, mengajariku hal-hal yang tak berharga.

Aku telah bergabung dengan Taliban dan sekarang Aku bertempur melawan musuh-musuh Islam.

Baik, jika Aku seorang musuh, maka untuk dosa-dosaku Tuhan telah mengambil kaki-ku.

Apa kau bergurau denganku, pria tua?

Aku kehilangan kaki-ku dalam perang. Perang yang kita perjuangkan bersama.

- Berapa umur gadis ini?? - Idrees.

- Dia masih anak-anak. - Dia sudah cukup umur untuk menikah.

Aku akan segera mencari seorang istri.

Dia telah dijodohkan.

Baik, dia harus menutupi dirinya dengan benar.

- Mungkin kau harus berhenti memandangnya. - Apa yang kau katakan?

Aku bilang berhenti memandangnya.

- Aku bisa membunuhmu! - Idrees.

- Perhatikan apa yang kau katakan! - Cukup. Ayolah.

Apakah kau baik-baik saja?

Ya, Baba.

Itu baru gadisku.

Mari sekarang kita pulang.

Parvana?

Kau bilang pada anak laki-laki itu Aku telah dijodohkan.

Apakah aku akan menikah?

Tentu saja tidak. Kau masih kanak-kanak.

Aku ingin Kau bermain dan bercerita.

Aku sekarang sudah terlalu tua untuk itu.

Terlalu tua untuk bercerita? Kau selalu menyukai cerita.

Apa gunanya?

Aku akan bicara dengan Mama-jan dan kita akan menyelesaikan semuanya.

Tolong jangan bicarakan tentang gaun.

Lalu aku tidak akan pernah mendengar akhir itu.

- Akhir dari apa? - Tidak ada, Mama-jan.

Kami tidak menjual gaun buatan Parvana yang bagus.

Baba, bukan itu yang aku maksud.

Kita butuh uang, Baba.

Kita tunggu sebentar. Aku pikir harganya akan meningkat.

Jika harganya naik, maka kita tidak perlu menjualnya, pasti.

Tapi langit itu jauh dan bumi itu keras. Kita harus segera menjualnya.

Baik, bagaimana dengan sedikit bercerita sebelum makan malam?

Dan kita akan melupakan tentang gaun untuk sementara waktu.

Mungkin Parvana ingin membaca sesuatu untuk kita?

Tidak sekarang, Mama-jan. Aku lelah.

Dia bukan anak kecil lagi, katanya padaku.

Jadi dia tidak suka bercerita.

Jangan terburu-buru untuk tumbuh dewasa, sayangku.

Mungkin tidak semua yang kau harapkan.

Kita kehabisan air. Kau tidak membawa cukup banyak pagi ini.

Tapi ada setengah ember di dekat pintu.

Ketika aku masih cukup muda untuk mengambil air, ember-ember tidak pernah kosong.

- Hei! - Gadis-gadis, berhenti.

Lebih baik kau pergi keluar dan ambil lebih banyak air setelah makan malam...

atau kau bisa mencuci popok kotor Zaki.

- Bagaimana perasaanmu? - Lebih baik.

Sekarang kau ada di sini.

Mungkin jika kau tidak sering mencuci rambut, kita tidak akan cepat kehabisan air.

- Parvana. - Kau harus memiliki rasa hormat.

Kenapa kau tidak makan, hmm?

Sesuatu selalu terlihat lebih baik saat perutmu kenyang. Ya, Maudar.

Zaki, Zaki, tunggu sampai aku menarik lengan bajumu.

Jangan, Mama-jan.

Ini. Ini dia.

Jangan makan semua kismis, Parvana. Sisakan itu untuk Zaki.

Kenapa kau tidak memberinya kismis besar di dagumu, Soraya?

Oh, tapi itu bukan kismis.

Itu tahi lalat yang besar dan berbulu.

Parvana, meminta maaf kepada Soraya.

Parvana?

Dia ada di sana! Aku melihatnya!

- Jika disana ada seorang wanita... - Baba?

Tutupi dirimu sekarang juga!

Itu orangnya. Musuh Islam.

Dia punya buku terlarang, dan dia mengajar para wanita dengan itu!

- Tinggalkan kami! - Dia tidak melakukan apa-apa!

Nurullah Alizai, kau harus ikut dengan kami.

Baba!

- Kau tidak bisa membawanya! - Baba!

Baba-jan!

Dibawa kemana dia?

Ke penjara.

Mereka akan mengajarinya pelajaran di Pul-e-Charkhi.

Baba!

Baba!

Mama-jan? Bisakah aku menyalakan lampu?

Hush, Parvana. Kau akan membangunkan Zaki.

Tapi jika mereka membiarkan Baba pergi,

dia akan membutuhkan cahaya di jendela untuk melihat rumah.

Bagaimana dia bisa pulang? Dia bahkan tidak ditemani dengan tongkatnya.

Kembali tidur. Ini akan baik-baik saja.

Bagaimana kau tahu itu, Mama-jan? Bagaimana kau tahu?

Diamlah, Parvana. Dia cukup khawatir.

Hei! Zaki, hentikan.

Bangunlah, Parvana. Berhenti bermain-main.

Kenapa? Apa yang sedang terjadi?

Kau dan aku akan mencari Baba.

Anak laki-laki itu mengatakan bahwa dia dibawa ke penjara Pul-e-Charkhi, jadi ke sanalah kita pergi.

Tapi kita tidak bisa pergi keluar tanpa Baba.

Soraya sedang menulis surat untuk gubernur penjara

untuk memprotes penangkapan Nurullah dan meminta pembebasannya.

- Setidaknya aku bisa memberi mereka itu. - Mama-jan, itu tidak diperbolehkan.

Kita mungkin baik-baik saja jika kita tidak menarik perhatian.

- Tapi kita tidak bisa... - Ayolah, Parvana.

Dan bawa tongkat Baba. Kita harus pergi.

Mama.

Hei.

Hei, kau!

Salaam. Bisakah kau memberitahu aku jalan untuk Pul-e-Charkhi?

Salaam. itu di timur, melewati sungai.

- Tapi itu jauh sekali. - Terima kasih, tuan,.

Dengar. Pergi melalui kota tua, atau kalian akan tertangkap.

Kenapa kalian disini sendiri?

- Di mana suami kau? - Aku tidak punya pilihan.

Tidak diizinkan berada di luar sini tanpa suami atau saudara laki-lakimu.

- Maafkan aku. Aku tahu. - Apakah kalian mengerti?

- Aku membawa surat protes penangkapan suami-ku... - Pulang saja.

More Indonesian subtitles for The Breadwinner

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left