The first 200 lines.
Pak Pos, bisa kirimkan ini?
Sawaki, sekalian bawa ini juga.
Apartemen 201...
Shuji Noguchi
Permisi.
Permisi. Saya ada kiriman surat.
Permisi!
Saya ada surat.
Saya tidak pesan apa-apa.
Noguchi...
...yang dari SMA Minato?
Sawaki?
Sudah kuduga.
Masuklah.
Kau tidak apa-apa?
Wajahmu pucat sekali..
Aku sudah minum obat bius. Sekarang mendingan.
Tapi tetap saja...
...darahmu mengucur deras.
Serius?!
Duduk sana.
Apartemennya luas juga.
Karena masih kosong.
Kerjamu apa?
Aku Yakuza.
Terus, ada perlu apa ke sini?
Oh iya, kau tukang pos.
Ngantar surat sampai larut tiap malam pasti capek ya.
Yah begitulah.
Jadi tukang pos seru tidak?
Tidak, tapi ini pekerjaan.
Jadi Yakuza itu seru.
Motong jari sendiri dan kesakitan itu seru?
Belakangan ini kau merasa hidup?
Jantungmu berdegup kencang seperti waktu kecil dulu?
Lewat usia tiga puluh, sensasi seperti itu jarang ada.
Tapi kalau jadi Yakuza, kau merasakannya.
Sensasinya datang bertubi-tubi.
Apa gunanya banting tulang kalau akhirnya cuma kena peluru di perut.
Tak akan meninggalkan jejak kalau hidup sebagai orang payah tanpa harga diri.
Aku akan meninggalkan jejakku...
...di sisi gelap.
Baiklah, aku pamit dulu.
Surat-surat ini masih harus kau antar.
Banyak juga kerjanya.
Besok mampir lagi lebih lama.
Ada pria bersepeda ke arahmu. Ganti.
Diterima.
Dia pakai setelan hijau tua, topinya senada...
Dia juga pakai dasi merah dan naik sepeda merah. Ganti.
Baik. Lanjutkan pengawasan terhadap tersangka.
Diterima.
Antar surat jam segini malam. Aneh juga...
Sejak kapan tukang pos masuk ke rumah orang yang dikirimin surat?
Sudah jelas.
Dia kurir.
Ini bisa jadi perkara besar.
Aku bisa mencium baunya.
Bau busuk kejahatan itu.
Sepertinya kau benar.
Sebut saja firasat...
Itu dia...
Memang kelihatan seperti tukang pos.
Berani juga dia.
Periksa identitasnya.
Jantungmu berdegup kencang seperti waktu kecil dulu.
Omong kosong ala preman murahan.
Sial...
...aku lupa ambil uang.
Amplop berisi uang.
Diskon 50%.
Diskon!
Banyak juga minumnya untuk satu orang.
Jangan-jangan ada orang lain di atas?
Hubungi Letnan.
Siap.
Ini Maeda. Dia kembali membawa banyak bir.
Kami menduga mungkin ada orang lain di apartemen itu. Ganti.
Dengarkan baik-baik... dia pasti akan bertemu seseorang. Tetap awasi.
Kami kembali ke kantor untuk menyusun strategi. Baik.
Diterima.
Orang lain ya...
Salam. Setahun berlalu seperti mimpi... hiruk-pikuk jalanan dengan obral akhir tahun...
Aku menitikkan air mata sendu saat kembali teringat tempat ini, pagi ini di kota Singapura.
Ah, sial.
Tulisan tangan perempuan.
Salam...
Saat surat ini sampai padamu mungkin aku sudah tiada.
Surat putus cinta...?
Aku sudah menulis beberapa kali dan merasa cemas karena tak mendapat balasan.
Semoga kau baik-baik saja.
Sepertinya ditelantarkan...
sering terjadi...
Aku ingin sekali meminta maaf untuk terakhir kalinya.
Maafkan aku karena sudah merepotkanmu meski kau adalah bibiku.
Bibinya...?
Walau kau satu-satunya keluarga yang kupunya, tolong maafkan aku karena sering meminta uang dan sebagainya.
Masalah uang ya...
Aku tak akan meminta apa-apa lagi.
Sebenarnya, hidupku tak akan lama lagi.
Aku mengidap kanker... Dokter yang bilang begitu.
Aku tak akan menjalani perawatan lagi.
Kamar 12, Sayoko
Green Heights, apartemen 210
Mitsuko Kitagawa
Pindah?
Sekarang dia ngapain?
Tidak tahu.
Tapi jelas dia kurir narkoba.
Bisa jadi ada pembeli lain selain Noguchi.
Kamar 12, Sayoko
Minato Central, 8...
Maaf.
Bisa kirimkan ini untukku?
Baik.
Tukang pos itu sedang berkeliling di rumah sakit.
Masuk akal. Makanya dia menyamar jadi tukang pos.
Tak ada yang akan curiga melihat tukang pos di rumah sakit.
Dan hampir semua pasien rumah sakit kelihatannya seperti kriminal.
Noguchi di mana?
Dia keluar pagi-pagi dari apartemennya dan menuju kantor kelompok Minato tempat dia bekerja.
Ada yang mengawasinya?
Petugas penyamaran.
Noguchi cuma preman kelas teri. Paling juga tak tahu apa-apa.
Pasti tukang pos itu dalangnya.
Tukang pos...
Sayoko Kitagawa
Mau besuk?
Ya.
Nona Kitagawa?
Oh, dia sedang tidak di kamar.
Tahu dia ke mana?
Sayoko naik ke atap.
Oh, terima kasih.
Terima kasih.
Aku menulis surat, tapi tak ada orang untuk kukirimi.
Hei... Perawat tadi mencarimu.
Oh, aku lupa.
Nona Kitagawa..?
Ya.
Oh, soal suratnya.
Akan kukirimkan.
Jam tiga waktunya minum obat.
Kau juga harus minum obatmu, kan?
Tak akan ada bedanya bagiku.
Ternyata gadis-gadis suka tukang pos.
Harusnya aku jadi tukang pos juga.
Kerjamu apa?
Aku pembunuh bayaran.
Pembunuh bayaran kok lagi pemulihan?
Ada apa denganmu?
Sel-selku.
Sel-selmu?
Ada pembunuh-pembunuh kecil di seluruh tubuhku... Sialan sel kanker.
Pembunuh bayaran dibunuh pembunuh-pembunuh kecil.
Seperti permainan lidah.
Sial!
Wah, jadi kamu pembunuh bayaran.
Jadi mereka benar-benar ada.
Tidak mudah menjadi pembunuh bayaran.
Kau tak akan dapat penghargaan atas kerja bagus. Dan kami bahkan tak boleh punya nama atau masa lalu.
Begitu ya.
Lagipula, pekerjaan juga tidak banyak.
Berapa banyak target dalam setahun?
Mungkin dua atau tiga.
Oh begitu...
Menurutmu ada berapa pembunuh bayaran di Jepang saat ini?
Tidak tahu.
Sekitar 800!
Delapan ratus!
Makanya sulit sekali dengan pekerjaan yang sedikit itu.
Lalu mereka bekerja apa?
Mereka kerja paruh waktu, jadi koki, atau antar mi dan semacamnya.
Dan mereka juga harus menyempatkan diri untuk berlatih.
Berlatih?
Seperti mengantar makanan diam-diam, tanpa disadari pelanggan.
Atau latihan menembak saat istirahat, pada anjing atau kucing liar di gang belakang.
Ya, itu biasanya yang tidak punya agen.
Agen?
Coba saja masuk ke kantor Yakuza dengan kartu nama...
lalu minta diberi pekerjaan. Kau bisa dipukuli sampai mati.
Ada agensi yang menangani urusan seperti itu.
Namanya apa?
Ace.
Ace...
Dan berapa orang yang bekerja untuk Ace?
Belakangan ada beberapa wajah baru, jadi mungkin sekitar 30 orang.
Jadi sekarang sedang libur?
Tidak... sedang menunggu hasil audisi.
Audisi?
Turnamen Kualifikasi Nasional Pembunuh Bayaran.
Kita akan memulai audisi ketiga dan terakhir.
Saya yakin kalian tahu bahwa pemenangnya akan mendapat hadiah sebesar
50 juta Yen, "Tur Pembunuh Bayaran" ke Italia, dan juga gelar "Raja Para Pembunuh".
Kita panggil peserta pertama. Tuan Leon, silakan masuk ke arena audisi.
Silakan mulai, jika Anda sudah siap.
Terima kasih banyak.
Dan sekarang untuk foto Anda.
Nona Brigitte Lin, silakan masuk ke arena audisi.
Lumayan bagus.
No comments yet. Be the first to leave one.