The first 200 lines.
Biar aku bawa tasmu.
Jangan, aku bilang, aku bisa bawa tasku yang hanya satu.
Maaf, aku membuatmu terbawa ke sini.
Beri waktu beberapa hari, aku akan urus semuanya,
lalu kita kembali ke rumah, oke?
Sebenarnya aku senang bisa pergi denganmu.
Lumayan, bisa pergi ke luar kota,
menghilangkan stress,
berada di tempat yang seperti terhenti waktunya.
Waktu berlalu dengan caranya sendiri di sini.
Tak ada yang berubah sejak aku masih kecil.
Ya ampun. Kambing juga tak berubah?
Mereka lucu sekali.
Ya, mereka sering membuatku jengkel saat aku masih kecil.
Itu bagus. Aku yakin kamu lucu saat masih kecil.
Ya, aku gila, seperti tornado.
Aku kira, tak banyak yang berubah.
Ya, jadi jangan macam-macam padaku.
Hey!
Bagus, bahuku sudah pegal.
Hey!
Halo!
Selamat datang! Vivien.
Senang bertemu denganmu!
Akhirnya kita bertemu juga.
- Halo, Laura. - Halo.
- Senang bertemu denganmu. - Aku juga!
Masuklah! Makan siang sudah siap.
- Kalian pasti sudah lapar! - Ya.
Benarkah?
Ya. Aku senang di sini.
- Itu dia. - Rumahmu indah sekali.
Terima kasih. Kenalkan, ini satu lagi bibi Roy.
- Concetta. - Vivien.
Senang bertemu denganmu.
- Kamu cantik. - Hidangan siap.
Parmigiana yang lezat.
Mereka tak bisa bahasa Inggris, bersabarlah.
- Maaf. - Semua sayuran berasal dari kebun kita.
Pamanmu ingin jadi besar.
Tentu, karena aku yang terbaik.
Aku dilarang masuk dapur.
Dia kira tahu segalanya.
Memang begitu. Harus bagaimana lagi?
Aku tahu segalanya dan tak pernah mengeluh.
- Caponata untuk tamu kehormatan kita. - Silakan.
Kalian sudah bertunangan?
Kamu mau beritahu dia?
Dia bilang apa?
Rahasia.
Tak adil, teman takkan saling merahasiakan.
Itu benar.
Roy, sudah lihat peternakannya?
Belum.
Bangunannya rusak. Setiap pergi ke sana, aku jadi gila.
Sebaiknya dijual untuk kebaikan kita.
Bagaimana kuliahmu?
Tidak selesai. Aku kehilangan beasiswaku.
Apa yang terjadi?
Aku dapat beasiswa dari tim renang.
Dan aku sudah keluar dari timnya.
Bisakah kamu cari kerja untuk membiayainya?
Kamu bisa ikut kerja dengan bapakmu di bengkel.
Biaya kuliah terlalu mahal.
Itu sebabnya aku ingin menjual peternakannya,
supaya aku bisa membayar kuliahku.
Terserah keinginanmu, Roy. Nenekmu mewariskannya untukmu.
Kenapa bangunan ini?
Dulu terjadi kebakaran.
Apinya menyebar ke rumah dan melalapnya.
Berapa usia bangunan ini?
Bangunan ini sudah ada sejak beberapa generasi.
Aku sebenarnya sedih kalau harus menjualnya.
Begitu banyak kenangan.
Kamu tumbuh besar di sini.
Ya, dan aku putuskan untuk pergi.
Hey! Kamu sudah sampai?
Kamu tak apa-apa?
Ya.
Siapa kamu?
- Sejenis benda? - Ya.
Ini bagian kesukaanku! Kamu bisa dipergunakan?
Ya, bisa.
Oke. Kamu dipergunakan oleh semua orang?
Oleh banyak orang, tapi tak semua.
Kamu peralatan rumah tangga?
- Tidak secara khusus. - Kamu peralatan dapur?
Bukan.
Kamu bukan selang air, 'kan?
Kamu penuh warna?
Ayolah.
Halo?
Hey!
Aku menggilas batu dan tergelincir.
Maaf, aku tak bisa bahasa Italia, bisa bahasa Inggris?
Ya, aku tak bermaksud mengagetkanmu.
Terima kasih.
Kamu tak apa-apa?
Ya. Aku tak apa-apa.
Benda itu berat. Bagaimana kamu bisa mengemudikannya?
Kamu tak melihat otot-ototku?
- Aku Vivien. - Aku Anna.
Sepertinya lukamu lumayan parah.
Ya. Ayo, kita ke tempatku,
kita bersihkan lukanya supaya tak infeksi.
Aku tak apa-apa. Aku tak mau merepotkanmu.
Tidak merepotkan, ayo!
- Kamu yakin? - Ya, tentu!
Kamu bisa bahasa Inggris!
Aku dulu pernah belajar di Amerika sebentar.
- Mau apa kita ke sini? - Ikuti saja!
Maaf, aku tak bisa apa-apa,
pemesanan tempatnya telah dibatalkan.
Astaga.
Hey. Apa yang terjadi?
Ya, salah seorang seniman tak bisa datang. Ini petaka.
Dia seharusnya datang pagi ini,
dan acara pameran jadi berantakan.
Aku turut sedih.
Sayang, ini...
- Roy, bukan? - Ya.
Roy, aku tak sabar menantimu. Aku Thomas.
- Senang berkenalan. - Senang berkenalan.
Maaf, aku harus bereskan kerjaku dulu.
Silakan. Aku sayang kamu.
Aku juga.
Di mana kamu bertemu dia?
Kami bertemu dalam satu pameran di London.
Dan kamu sudah bersama Vivien selama enam bulan?
Kurang lebih.
Dia juga manja sepertiku.
Jadi kalian tercipta untuk bersama.
Dengar...
ini dulu milik ibumu.
Kami dulu sering bicarakan soal menikahi cinta sejati,
dan Vivien...
aku yakin dia tak sabar untuk memakai cincin pernikahan. Jadi...
Terima kasih.
Jangan membuatku menangis!
Kamu tahu di mana aku bisa cuci cetak foto?
Tentu! Thomas punya ruang cuci cetak di galeri ini. Ayo!
Terima kasih sudah menolongku.
Tidak, justru kamu yang sudah menolongku.
Aku...
aku dan pacarku datang mengunjungi saudara pacarku, dan...
di sini aku sulit menemukan teman untuk berbicara.
Ya, maaf, memang...
banyak orang Italia tak bisa bahasa Inggris.
Ya, tapi kamu bisa. Kamu belajar di mana?
Di suatu tempat di New Jersey.
New Jersey, benarkah? Kami juga berasal dari sana.
Kamu mahasiswi jurusan farmasi?
Bukan, jurusan fisika.
Keren.
Dari dulu aku suka fisika, tapi aku sulit...
memahaminya.
Lalu...
bagaimana kamu kuliah kalau ada di sini?
Aku berhenti kuliah. Tapi aku akan mendaftar lagi secepatnya.
Dan aku sudah tak sabar,
karena tempat kuliahku,
memberiku tempat magang di perusahaan besar, jadi...
aku senang.
Sepertinya bagus.
Apa kegiatanmu?
Aku kerjakan banyak hal.
Sekarang aku mengerjakan 'vendemmia'.
Panen buah anggur.
Acaranya dimulai besok, dan kamu harus datang.
Tak bisa, aku berangkat besok pagi.
Aku ada ide.
- Ayo, kita pergi. - Apa?
Ini hari terakhirmu di tempat ini,
jangan habiskan hari mengurung diri sendirian.
Kamu suka tempat ini?
Hanya menyukai artinya merendahkan.
Tempat ini indah.
Aku jadi senang.
Ini salah satu tempat kesukaanku.
Senang bisa jalan-jalan di sini.
Ya.
Sambil berpikir.
Sepi sekali.
Memang di sini sunyi.
- Tak ada orang. - Ya.
Hanya kita berdua.
Kamu mau apa?
Aku mau berenang.
- Apa? - Ya.
Kamu mau berenang sekarang? Bukankah airnya dingin?
Tak pernah terlalu dingin di Sisilia, percayalah.
Airnya hangat!
Ya ampun, kita akan kedinginan!
Aku jago renang!
Ya! Kebebasan!
Hormatilah!
Jujur saja, tempat ini mengagumkan.
Sudah aku bilang, kamu pasti menyukainya.
Apa yang menimpamu?
Digigit ikan hiu.
No comments yet. Be the first to leave one.