The first 200 lines.
Mereka menabur angin, dan menuai angin puyuh.
Batang tanaman yang tak punya kuncup, tidak akan menghasilkan tepung.
Seandainya itu menghasilkan, orang asing yang akan habiskan itu.
- Saba? - Ya.
Polisi akan datang.
- Jadi kau tahu? - Mereka tak bisa menangkapmu.
Oke.
Ayo pergi.
Berhenti!
Itu takkan baik denganmu.
Ayo.
Hei!
Opa.
Bos.
Kau sudah menerima paketku?
Anak-anak itu mati.
Tapi apa kau terima paketnya?
Ya.
Tidak masalah.
Hubungi aku saat kau mencapai Parakou.
Tapi bos, aku sudah bilang,
Akan ada titik pemeriksaan hari ini.
Dan jalanan tidak aman.
Bukankah kau yang butuh uang?
Jadi anak-anak itu hanya menyia-nyiakan hidup mereka?
Semua orang akan mati, oke?
Itu Opa yang membunuh anak-anak itu.
Opa juga akan mati. Mati bagian dari pekerjaan.
Oke? Bawakan paketnya padaku.
Jalan denganku.
Kota hilang Atlantis.
Itu yang Leo Frobenius katakan saat pertama melihat pusaka di Ife.
Dia terpukau dengan karya seni yang dilihatnya.
18 Kepala Perunggu yang megah.
Tentu saja dia mengambil beberapa.
Kemudian Inggris mengambil beberapa,
Lalu semuanya menjadi samar.
Itu pertempuran yang kacau untuk benda menawan ini.
Darah, tulang, usus, tertumpah begitu saja.
Kenapa aku di sini?
Kau tahu Nigeria?
Si bodoh ini, Ibrahim,
Dibayar untuk menjebol museum dan dapatkan aku kepala itu.
Itu tujuh minggu yang lalu.
Tuhan hanya butuh tujuh hari untuk ciptakan semesta.
Si bodoh ini jelas melakukan permainan bodoh.
Ciptakan kekacauan, kegaduhan, pembakaran, aku tidak peduli.
Tapi dapatkan aku Kepala Perunggu itu.
Apa? Apa ini?
Aku mengerti.
- Ayah, apa yang terjadi? - Kembali ke dalam!
- Apa yang terjadi? - Ayah bilang masuk!
Tenanglah. Apa Saba sudah datang?
Saba tak bisa diandalkan.
Jangan menunggu dia,
Jika kau harus pergi ke suatu tempat.
Oke, biar aku periksa kau.
Tak apa. Kau bisa berbaring, pak.
Terima kasih.
Terima kasih.
Halo.
Saba, kau di mana?
Ayahmu harus segera dioperasi.
Aku akan datang dengan uangnya. Hanya ada sedikit halangan.
Semoga itu tidak serius.
Jangan khawatir soal itu. Aku datang dengan uangnya.
Cepatlah.
Aku tak bisa terus menyuntik dia.
Dan kau belum bayar untuk suntikan yang terakhir.
Aku sudah bilang jangan khawatir. Aku akan bayar semuanya.
Aku akan hubungi kau nanti. Aku sedang bekerja.
Siapa yang berkeliaran di sana? Pergilah!
Arike?
Arike?
Aku takkan melukaimu.
Tolong jangan bunuh aku.
Apa kau tuli? Kubilang aku takkan melukaimu.
Berlutut.
Berlutut.
Aku punya perban dan antiseptik.
Kau tidak serius.
- Dia adikku. - Bergabung dengan dia.
Kau kehilangan darah.
Aku tidak buta.
Profesor?
Profesor?
Siapa dari kalian yang profesor?
- Siapa dari kalian yang profesor?! - Aku.
- Pergilah! - Tolong jangan lukai dia.
Aku pergi!
- Selamat malam, pak. - Selamat malam.
Bagaimana kabarmu?
Aku mengetuk cukup lama.
Aku harap semuanya baik. Ini sudah larut malam.
Hanya pencegahan.
Kau ada perhatikan sesuatu?
- Sesuatu seperti? - Seseorang yang lari?
- Kau tidak ada melihat orang lain? - Tidak, pak.
- Kau tidak mendengar suara? - Pak, aku tak dengar apa-apa.
Aku tidak dengar apa-apa.
Oke. Tetap waspada.
Terus buka matamu.
- Oke, pak. - Oke?
- Selamat malam, pak. - Tunggu!
Darah!
Darah?
Petugas!
Kami hanya berdua di rumah ini.
Ada apa?
- Di mana dia? - Siapa?
Tidak ada orang lain.
Tidak ada orang lain? Lalu ini darah siapa?
Bukankah kau punya anak perempuan?
Dia sudah pergi.
Terima kasih.
Aku akan pergi sebelum fajar.
Kau butuh bantuan!
Ini hal kecil.
Itu bukan hal kecil.
Ada darah di mana-mana.
Oke, berikan itu padaku.
Tak apa.
Duduk.
Bajumu.
Bajumu.
Maaf.
Maaf.
Kau siapa?
Dan kenapa polisi mengejarmu?
Namaku Gideon dan aku seorang evangelis.
Ada urusan apa polisi dengan evangelis?
Tanyakan itu pada polisi.
Mungkin itu karena apa isi karungmu.
Isinya Alkitab.
- Giliranmu. - Aku masih punya beberapa gerakan.
- Kawan, terus tutup matamu. - Aku masih ikut bermain.
- Biar aku bermain seperti ini. - Aku akan tunjukkan pada kalian...
- ...jika aku yang terbaik. - Kami masih bermain.
Di mana Ibrahim?
Apa?
Di mana Ibrahim?
Dari mana datangnya orang dengan akses lucu ini?
Aku anak tunggal. Tolong jangan bunuh aku, pak.
Kau tidak terlihat seperti fotomu, Ibrahim.
Bos.
Aku tahu kau utusan Tn. François.
Kau tahu, aku mencoba menghubungi dia seharian.
Tentu saja.
Supirku harusnya tiba di perbatasan sebentar lagi.
Beritahu Tn. François jika dia bisa percaya kami.
Kami pasti akan selesaikan tugas
Hanya ada halangan tak terduga.
Tujuh minggu? Itu bukan halangan.
Itu keputusan yang menegaskan keburukanmu dalam bekerja.
Dia berada di Saki terakhir kami bicara.
Dia akan sampai di Parakou sebentar lagi.
Aku lihat kau sudah hubungi dia.
Benar, tapi dia tidak angkat teleponnya saat mengemudi.
Itu sebabnya.
Mungkin dia temukan pembeli lain.
Tidak.
Saba?
Dia karyawan terpercayaku. Aku yang melatih dia.
Dia setia. Sama seperti aku.
Dia tak bisa melakukan itu.
Dia akan kirimkan itu.
Tolong bantu aku yakinkan Tn. François.
Kami akan kirimkan itu besok di waktu yang sama.
Aku mohon.
Kau bilang dia di Saki menuju Parakou, benar?
Ya, benar.
Pak, aku tahu kau orang baik.
Kita bisa bersenang-senang bersama saat ini berakhir.
Kau tidak ganti baju?
Kau punya baju lain?
Biar aku cucikan itu.
Boleh aku lihat Alkitabnya?
Kenapa?
Apa kau sembunyikan sesuatu, Pastor Gideon?
Tidurlah.
Aku penasaran apa yang seorang pastor lakukan dengan Kepala Perunggu Ife.
Aku melihatnya sekilas.
Itu ada di berita.
Perampokan di Museum Ibadan.
Boleh aku melihatnya?
Tidak.
Bos.
Halo?
Kau di mana?
- Ini siapa? - Bosnya Ibrahim.
Pergilah membeli sebotol minyak sawit.
Di mana pintu belakangmu?
Pastor Gideon!
Pastor Gideon!
Pastor Gideon!
Pastor...
Bagaimana dengan Kepala Perunggu itu?
Aku beranggapan kau ingin menjualnya.
Aku bisa bantu kau menjualnya jika itu yang kau inginkan.
Aku punya kenalan yang mau membeli itu.
No comments yet. Be the first to leave one.