The first 163 lines.
Pertama kali aku merasakan niat membunuh orang lain
adalah sesaat sebelum Ayah dan Ibu pergi dari desa.
Pelakunya mungkin bandit.
Saat pergi berburu bersama Ayah,
aku hampir dibunuh.
Hawa penolakan yang seolah berkata,
"Dunia tidak membutuhkanmu."
Terasa menyusup lewat pori-pori,
menembus kulit, lalu menusuk langsung ke daging dan organ dalamku.
Yuru!
Yuru!
Kamu aman?
Ada yang terluka?
Ini...
Darah orang itu.
Maaf.
Semua ini karena aku lengah!
A-Apa itu tadi?
Yuru, ingat baik-baik.
Itu namanya niat membunuh.
Mungkin sesekali... Tidak.
Selama masih hidup, kamu akan terus mengalaminya.
Jangan beri ampun pada siapa pun yang mengincarmu.
Kamu sudah lebih tenang?
Setelah bermalam di gunung ini, ayo pulang.
Tenangkan hatimu.
Tarik napas dalam-dalam,
buang perlahan.
Ya, buang gejolak batinmu bersama embusan napas.
Hati yang goyah bisa berujung maut.
Apalagi bagi pemburu seperti kita
yang bertaruh nyawa dengan para hewan.
Tenanglah dan amati situasinya.
Selalu pikirkan harus apa dan bagaimana cara bertahan hidup
dengan apa yang ada.
Kematian bisa datang saat hatimu goyah.
Ingatlah, Yuru.
Jangan bilang ke warga desa bahwa kamu diserang.
Kenapa?
Bagaimana kalau rekan bandit itu menyerang desa?
Warga harus diberi tahu.
Tidak, desa pasti aman.
Jangan bilang-bilang, bersikaplah biasa saat kita pulang.
Seolah tidak terjadi apa pun.
Tetaplah tenang.
Mine.
Kami pulang.
Syukurlah.
Aku sempat khawatir karena kalian tidak pulang semalam.
Maaf.
Kami mengejar mangsa terlalu jauh.
Karena bawa Yuru, aku memutuskan bermalam di gunung.
Berburu semalaman tanpa hasil?
Tumben kamu begitu.
Namanya juga hidup.
Mine!
Kyouka, kami pulang.
Syukurlah.
Yuru juga ada.
Kami khawatir sebab kalian tidak kunjung pulang.
Ada yang terjadi di gunung?
Tidak ada, kami cuma kejauhan mengejar mangsa.
Kamu terluka?
Itu darah tikus makan malam kami.
Duh, aku lapar.
Tikus tidak bikin kenyang.
Nagisa bersama Asa?
Iya, dia di dalam.
Oke, ayo kita sarapan, Yuru.
Iya.
Nagisa.
Ibu, kami pulang.
Selamat datang, aku cemas karena kalian tidak kunjung pulang.
Maaf.
Maaf, Asa, kami pulang terlambat karena berburu terlalu jauh.
Kalian tidak terluka?
Kakak baik-baik saja?
Aku baik-baik saja.
Aman.
Yah, tidur di luar bikin aku grogi sampai susah tidur.
Jadi agak lelah.
Kakak.
Jaga kesehatanmu, ya.
Padahal sedikit lagi dapat.
- Ukurannya sangat besar. - Nagisa.
Lain kali Kakak pasti berhasil.
Kamu benar.
Iya, aku tidak sabar melihatnya.
Tidak lama setelah itu,
Ayah dan Ibu pergi dari desa meninggalkan kami.
Aku pikir begitu.
Ternyata cuma aku yang ditinggalkan.
Ayah dan Ibu kabur dari desa sambil membawa Asa.
Orang yang kuanggap Asa selama sepuluh tahun ini,
ternyata palsu.
Warga Desa Higashi menipuku selama sepuluh tahun.
Itulah kesaksian orang yang mengaku Asa asli ini.
Orang ini juga bilang...
Aku pernah mati sekali.
Oleh pembunuh Desa Higashi.
Setelah lolos dari berbagai pengejaran,
kukira kami aman saat dilindungi Klan Kagemori.
Tapi, Ayah dan Ibu menghilang.
Tahun lalu saat berusia 15 tahun, aku diculik oleh pembunuh.
Di situlah aku dibunuh
dan mendapatkan kekuatan Kai.
Ini kekuatan Tsugai yang berada di perbatasan dunia kematian
dan dunia manusia.
Aku bertemu Tsugai pemilik Kai.
Wah, ada daging datang.
Lo?
Bukannya aku ditikam pembunuh...
Lalu mati.
Kamu sudah mati.
Jadi, ini neraka?
Memang tidak terlihat seperti surga, sih.
Tapi, kenapa kamu bisa seyakin itu
akan masuk neraka setelah mati?
Seperti apa hidupmu di dunia sana?
Tempat ini perbatasan antara dunia kematian dan dunia kalian.
Eng, di mana, ya?
Nah.
Ketemu.
Kalian menyebut tempat ini Yomotsu Hirasaka.
Sama seperti cerita Ayah.
Menurut legenda desa,
saat siang dan malam setara di sebuah desa Timur,
anak kembar laki-laki dan perempuan yang lahir
akan mengunjungi alam baka dan jadi penguasa para Tsugai.
Cerita mulut ke mulut memang suka melenceng.
Tepatnya, ini di ambang alam baka.
Orang Desa Higashi
benar-benar membunuhku.
Soalnya harus mati dulu buat bisa kemari.
Jadi, bagaimana?
Eh?
Orang yang ke sini punya dua pilihan.
Mau mati atau menerimaku?
Kalau mau mati, jatuh saja dari jalur itu.
Kalau mau hidup, ambil aku...
Ambil Kai dan kembalilah ke duniamu.
Praktis, lo.
Kamu bisa memenggal pemimpin musuh asal dia masuk garis pandangmu.
Perang bisa kamu akhiri sendirian.
Kamu bisa jadi pahlawan kalau eranya tepat.
Dan banyak kegunaan lainnya.
Sebagai gantinya, banyak yang akan mencoba memanfaatkanmu.
Kamu bisa saja merasakan neraka selagi hidup.
Hingga kematian akan serasa lebih enteng.
Mungkin nerakaku sudah dimulai.
Aku kehilangan arah semenjak Ayah dan Ibu diculik.
Ayah dan Ibu begini karena aku terlahir.
Tunggu!
Kakakku juga datang kemari?
Apa dia dibunuh?
Entahlah, kalaupun mati dia akan datang ke tempat Fuu.
Bukan ke sini.
Aku tidak tahu bagaimana nasib kakakmu.
Aku belum boleh mati.
Kakak masih tertinggal di desa.
Entah dia masih hidup atau tidak.
Jangan-jangan dia dibunuh juga?
Aku harus menolongnya.
No comments yet. Be the first to leave one.