The first 200 lines.
Aku punya impian...
...memiliki kebun strawberry sendiri.
Hati-hati.
Perlu tambah sedikit kecap?
Oke, cukup.
Kenapa kau menyuruhku memasak?
Padahal masakanmu lebih enak.
Karena seandainya,
...aku sudah tiada.
Kau bisa urus diri sendiri.
Jangan Tun.
Lain kali jangan bicara seperti itu lagi.
Sayang, menulis surat buatmu itu hal yang menyenangkan.
Kau adalah penggerak hidupku.
Apa kini, Mat sudah kuat?
Semoga Mat bisa mengurus rumah.
Ketika aku pulang.
Aku bisa lihat dirimu yang kuat.
Bukan wajah yang penuh air mata.
Jangan cemaskan aku.
Aku tak pernah meninggalkanmu.
Lihat sekeliling.
Kau akan merasakan?
Aku selalu berada di sisimu.
Menunggu hingga kau kuat.
Aku takkan tinggalkan kau di desa yang dingin ini.
Percayalah.
Mat...Mat.
Aku mau ke kota, kau mau titip apa?
Tunggu sebentar.
Maaf, baju sekolahmu rusak lagi.
Tak apa-apa.
Jika sembahyang sudah selesai, tunggulah di depan.
Oke.
Mencintaimu selamanya.
Tun.
Selamat pagi, Ayah.
Aku sekolah dulu Bu...
Tan, hujan, ayo masuk, kau bisa sakit.
Cepat
Kenapa Ibu menyuruhku masak?
Masakan Ibu kan lebih enak.
Selamat ulang tahun.
Kau suka, nak?
Suka.
Ibu Tan, apa kabar?
Tan bolos sekolah, malah corat-coret di tembok, dia harus dihukum.
Ibu guru, terima kasih.
Tan.
Aku tak suka sekolah.
Sayang.
Sudah makan?
Aku merindukanmu hari ini.
Jaga diri
Aku tahu, aku tak berada disana.
Kau pasti merasa kesepian.
Semoga surat ini bisa menguatkanmu.
Agar ada tenaga untuk hadapi kesulitan.
Kau harus tegar.
Aku selalu berada di sini
Di sisimu selamanya
Timeline Jod Mai Kwam Song Jum
Ayah.
Semoga anakmu bisa masuk universitas.
Dia tak usah tinggalkan rumah,
...setelah lulus kuliah bisa teruskan usaha ayahnya.
Halo, Bank.
Terakhir aku tanya, kau sudah bicara dengan ibumu?
Belum, aku tak bisa bicara.
Jangan lupa, kau masih tunggu apa lagi?
Sebentar, nanti aku bicara.
Sebenarnya, aku mencemaskan ibuku
Kau pikirkan saja sendiri.
Kemarin aku ke universitas lagi, ada banyak gadis cantik.
Tan.
Tan, apa yang terjadi?
Kenapa kau terdaftar di fakultas jurnalistik Universitas Bangkok?
Hubungi staf sekolahmu, pasti ada yang keliru.
Ibu, tidak keliru.
Aku tidak daftar di fakultas pertanian.
Kenapa kau berbuat ini?
Aku tidak mau kuliah di sini.
Aku mau ke Bangkok.
Kenapa kau tidak membahasnya dengan Ibu?
Kau diterima di situ.
Jika kau ngotot mau ke sana,
...aku akan mendukungmu.
Kurasa ibumu memahamimu.
Ayah, aku sangat menyayangi Ibu.
Tan, makan yang banyak.
Di Bangkok, mungkin sulit makan ini.
Maksud Ibu, aku diizinkan kuliah di Bangkok?
Ya.
Terima kasih, Ibu.
Aku juga senang. Makan dulu!
Halo, Paman Wat.
Kata ibumu, kau mau kuliah di Bangkok.
Masuk fakultas jurnalistik.
Bagus.
Suka?
Kuberikan sepeda ini sebagai kado untukmu.
Saat kau berangkat...
...kuantar sepeda ini ke stasiun.
Dan helm.
Kau harus pakai helm, disana berbahaya.
Tapi mungkin Ibu tak setuju.
Aku akan bicara padanya, dia pasti setuju.
Terima kasih, Paman Wat.
Aku bantu.
Taruh di dalam.
Terima kasih, Paman Wat.
Senang bisa membantu.
Bisnya mau berangkat.
Bu, aku pergi dulu.
Paman, Bibi, tolong jaga ibuku.
Nanti kubawa ibumu menengokmu di Bangkok.
Rajin belajar dan jaga diri.
Jangan lupa doakan Ayah, dia akan menjagamu.
Jangan khawatir, aku takkan lupa.
Cepat, aku sudah lapar sekali.
Cepat duduk.
Bagaimana?
Aneh sekali.
Kau makan daging?
Ya.
Aku panggangkan untukmu.
Begini cara orang Bangkok makan.
1 2 3
Bank.
Pakaiannya ketat, menurutmu bagaimana?
Ini sudah model, yang longgar tidak keren.
Semuanya begini?
Ya, jangan kampungan.
Yang ini keren.
Cepat ganti baju.
Tidak ada waktu lagi untuk bertemu teman-teman baru.
Kemana?
Bank, sini.
Apa kau merasa beruntung menjadi temanku?
Kita mau segera pulang?
Aku sering merayu gadis di facebook, ada banyak gadis di sini.
Besok pagi ada ospek mahasiswa baru, kau masih bisa minum?
Baru minum sedikit, tak apa-apa.
Harus puas minum dulu.
Ayo minum.
Pahit.
Minum saja, lama-lama biasa. Gampang sekali.
Terlambat.
Stop.
Jadwal masuk jam berapa?
Jam 6.
Kau telat, apa kau masih mau kuliah di sini?
Ya.
Katakan yang keras.
Ya!
Katakan dengan melihat semua temanmu!
Lihat semua.
Datang satu lagi.
Kebetulan sepasang.
Ulurkan tangan.
Cepat. ulurkan.
Oke, semua makan dulu.
Usai makan, ada dua kegiatan.
Kenapa kau tak bangunkan aku?
Sial! Kau sudah kubangunkan, tapi kau tak ada reaksi.
Kubangunkan beberapa kali.
Masih bangunkan dia?
Kalau aku, kutendang saja.
Lihat apa dia masih tidur.
Oke, dia dapat kucing sebagai partner.
Kucing? Namaku June, bukan kucing.
Hei ngobrol apa?
Kalian mau pulang? / Ya...
Sebelumnya, aku harus ada relawan untuk pertunjukan.
Jika bagus, kalian boleh pulang awal.
Oke.
Yang penting ada pertunjukan kan? / Ya.
Beri tepuk tangan.
Bantu rias mereka.
Aku tak bisa menari.
Kita sudah bersama, bantulah.
Menari yang bagus.
Mau belajar menari dengan mereka?
Ya.
Aku tak bisa.
Tolonglah, aku mau pulang.
Kita mau menari.
Ayo tepuk tangan, siap, 3 4.
Tunggu, aku baru mau menari.
Kau harus menari.
Ya.
Siap, 3 4.
Kau mau kemana?
Mengejar kereta, mau jalan-jalan.
Sendirian?
Teman-temanku pada tidak bisa.
Jika menunggu, tidak ada waktu lagi.
Hari ini menyenangkan.
Aku pergi dulu.
Dah.
No comments yet. Be the first to leave one.