The first 200 lines.
Sepertinya aku ketinggalan pesawat ke Osaka. Aku telat?
Tidak, itu tertunda.
Tiga jam. Kau beruntung.
Kau lupa mengambil sesuatu?
Tidak. Aku tidak ingin pergi. / Sungguh?
Ini penerbangan 11 jam.
Kau pernah ke sana ? / Tidak, ini pertama kalinya.
SIDONIE DI JEPANG
Tolong tunjukkan paspormu.
Berapa lama di Jepang? / 6 hari.
Apa alasan perjalananmu? / Penerbitan ulang buku pertamaku.
Kau penulis? / Ya dan tidak.
Ada bukti? Bukti?
Ya. Bukti.
Ini.
Halo.
Selamat datang di Jepang, Sidonie San.
Halo. Kau bekerja untuk penerbitku?
Tidak, akulah penerbitmu.
Aku Kenzo Mizoguchi.
Maaf, tak kusangka kau jangkung.
Aku membayangkan kau sudah sangat tua.
Antara itu atau masih sangat muda.
Senang berjumpa.
Aku lebih suka membawa tas tanganku sendiri.
Aku lebih suka jika...
Terima kasih.
Ruangannya belum siap. Mereka sangat menyesal.
Itu saja? Kukira lebih parah. Tapi tidak masalah! Aku tidak capek.
Bagiku, ini masih jam enam pagi.
Jangan membungkuk, Sidonie San.
Aku tidak melakukannya dengan benar, bukan?
Boleh kutawari teh? / Ya.
Kau punya hubungan keluarga dengan pembuat film terkenal itu?
Sama sekali tidak. Mizoguchi adalah nama yang cukup umum di Jepang.
Sore ini, kita akan memulai wawancara.
Lalu, kita akan mengunjungi kuil.
Kau akan punya lebih banyak waktu besok.
Sempurna, aku akan jalan-jalan sendirian.
Kau tidak akan pernah sendirian, Sidonie San.
Aku sudah terbiasa sendirian. Tidak masalah, justru sebaliknya...
Tidak, aku akan selalu bersamamu.
Orang-orang Eropa memakai parfum, khususnya para wanita.
Wanita Jepang tidak.
Itu mengganggumu? / Tidak sama sekali.
Aku suka parfum wanita barat.
Itu mengingatkanku pada studiku di Perancis.
Itukah sebabnya kau bisa bahasa Prancis?
Diantara alasan lainnya. Ya.
Apa yang kau pelajari di Perancis?
Aku belajar sastra Perancis tiga tahun.
Aku tinggal di Motte-Picquet.
Kau di Sorbonne? / Ya.
Sidonie San, ini Noriko Tamaguchi.
Yang akan menjadi penerjemahmu hari ini.
Halo. Senang berjumpa.
Senang berjumpa juga.
Aku sangat mengagumimu.
Kubaca semua bukumu dan bahkan melihat dramamu La Femme de Papier.
Pertama di Paris, lalu di New York.
Itu melambangkan bunga sakura?
Ya, mungkin.
Kenapa kau memilih untuk menceritakan ini secara khusus?
Aku kehilangan orang tua dan saudaraku dalam kecelakaan mobil.
Aku berakhir sendirian, kesepian, seolah terperosok ke dalam lubang,
aku takut.
Meski buku itu terinspirasi oleh ceritaku, itu bukanlah otobiografi.
Itu fiksi.
Menulis bisa menyembuhkan?
Memang tidak menyembuhkan tapi mungkin membantuku bertahan saat itu.
Kubaca jika kau tidak ingin membicarakan bukumu lagi.
Jadi, kenapa kau setuju
datang ke Jepang hari ini, untuk edisi baru L'Ombre Portée?
Tuan Mizoguchi menulis surat luar biasa yang meyakinkanku...
..dan juga, buku ini punya tempat yang khusus bagiku
karena ini buku pertamaku.
Saat kecil, aku sering pergi ke rawa bersama orang tuaku dihari minggu.
Ada burung yang sama di Perancis.
Mereka di mana-mana di Kyoto.
Aku tidak ingin membangunkanmu. Kau terlihat sangat lelah.
Tanganmu indah.
Istriku juga mengatakan jika tanganku istimewa.
Itu merekmu?
Merek? Aku tidak mengerti.
Merek adalah ciri khasmu.
Itu yang membuatmu menjadi dirimu sendiri.
Misalnya, jika kau kaos polo Lacoste,
ciri khasmu adalah buaya hijau kecil.
Tapi aku bukan pakaian, aku seorang laki-laki.
Ayah! Ibu!
Guillaume!
Sido-ku!
Kupikir aku akan kehilanganmu.
Aku tidak bisa tidur.
Kau baik-baik saja, Kenzo?
Maaf.
Aku mabuk sedikit malam ini.
Kami suka minum wiski, tanpa es.
Itu istriku.
Kau tahu kenapa hubunganku dan istriku tidak berhasil? Sidonie San?
Itu karena aku absen dan membosankan.
Dan kau tahu alasannya, Sidonie San?
Karena kau terlalu banyak bekerja?
Ya, dan saat kami bersama,
kami jarang bicara.
Sudah lama sekali kami tidak saling membicarakan sesuatu.
Tidak ada.
Nol.
Semua kekacauan ini apa?
Bagaimana kau menghadapi ketenaranmu di usia muda?
Aku cukup beruntung bisa bertemu pria yang akan menjadi suamiku sejak dini
dan dia sangat melindungiku.
Tolong, Noriko, apa aku punya waktu mencari udara segar,
atau kita lanjut lagi?
Kau ingin kita lanjut?
Sidonie San, kau butuh sesuatu?
Maaf, aku...
Tidak.
Terima kasih.
Itu kue istimewa yang kami makan saat bulan purnama.
Bulan penting di Jepang? / Ya, sangat penting.
Bukumu memberi kekuatan untuk hidup setelah seluruh keluargaku meninggal
dan meninggalkan suamiku karena dia ingin tinggal dekat Fukushima.
Aku dan putriku pindah ke daerah lebih aman.
Bagaimana dengan suamimu?
Kami berpisah.
Itu kisah menyedihkan.
Ini pemisahan iklim.
Kau selalu ingin menulis?
Tidak. Menulis terjadi saat kau tidak punya apa-apa lagi.
Yang ada cuma keputusasaan.
Tapi kadang, hal itu tidak ada.
Tidak ada.
Kau sudah mengungkap segalanya, Sidonie San.
Tidak, tidak semua.
Tapi kucoba.
Kami tidak terbiasa dengan itu.
Di Jepang, kami memendam perasaan.
Tidak selalu.
Kau menceritakannya padaku kemarin malam.
Ya.
Tapi cuma kita berdua.
Bagaimana? Cocok untukku?
Jika kau suka, itu yang penting.
Ya, aku suka. Aku tak pernah melihat seperti ini di Prancis.
Hampir tidak nyata. Keberadaanku di sini.
Aku sangat ragu sebelum menerima undanganmu.
Aku takut, kurasa.
Dengan yang tidak diketahui.
Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku.
Mungkin karena sudah lama sekali aku tak pergi sejauh ini.
Dan karena kukenali semua di sini.
Lift, lampu, jalan.
Tapi tidak ada yang cocok seperti di Eropa.
Semua aneh, konsistensi makanan yang kita makan pun berbeda-beda.
Aku merasa termodifikasi.
Semua hal baru ini membuatku kewalahan.
Tolong jangan menangis, Sidonie San.
Ini air mata kebahagiaan, bukan kesedihan.
Kenapa kau tidak lagi menulis, Sidonie San?
Setelah kematian suamiku, Antoine,
itu menguras energiku cuma untuk mencoba tetap berdiri.
Waktu berlalu dan aku bahkan tidak sadar tidak lagi menulis.
Tahun-tahun berlalu.
Tapi kau mencobanya kemudian?
Ya, aku mencobanya, tapi aku kembali terjerumus ke pengulangan hidupku dan
dari sebuah buku yang telah ditulis untukku, L'Ombre Portée...
Kata-kata yang sama.
Aku merasa itu tidak tertahankan.
Bagaimana suamimu meninggal?
Seperti keluargaku.
Kami kecelakaan mobil.
Suamiku meninggal di tempat dan sekali lagi, aku selamat.
Aku bangun tanpa goresan, bahkan tidak ada luka.
Utuh.
Kau hidup, Sidonie San.
Kau harus menerimanya. Kau tidak punya pilihan.
Kau punya anak?
Tidak. Kau?
Tidak. Aku tidak punya dan tidak menginginkannya.
Menurutku dunia ini tidak masuk akal.
Kata-katamu seperti gema rahasia dalam ceritaku.
Kau kehilangan orang kau cintai?
Keluarga Ayahku meninggal di Hiroshima.
Cuma ayahku yang selamat hari itu.
Dia menemui temannya di kota lain.
Belakangan, saudaraku dan istrinya tinggal di Kobe.
Aku meninggalkan Kobe saat gempa yang menewaskan mereka terjadi.
Ini seperti sebuah cerita
yang terus berulang.
Jadi, karena itu kau menulis jika orang-orang seperti kita punya tanah rahasia yang sama.
Ini makam Junichirō Tanizaki dan istrinya.
Sangat minimalis.
Aku tidak tahu dia dimakamkan di Kyoto.
Apa tulisannya?
"Tidak ada"
dan "diam".
Semua kabel itu gila.
Di Prancis kau tidak pernah melihat sebanyak itu, dikubur.
Kabarnya karena gempa bumi.
No comments yet. Be the first to leave one.