The first 200 lines.
Sudah 40 tahun sejak pertama kali aku menulis tentang masa-masaku di Berlin,
dan buku yang sekarang sedang kutulis ini mungkin adalah usahaku untuk meluruskan ceritanya.
Ya, selurus yang mungkinlah.
Aku menghancurkan buku harian Berlin-ku, jadi sekarang banyak mengandalkan ingatan.
Soal kenapa aku pergi ke sana, temanku Wystan Auden sudah ada di sana dan menyuruhku ikut.
Aku juga bisa saja bilang aku pergi karena situasi politik waktu itu.
Tapi sebenarnya, aku pergi karena para cowok.
Buatku, Berlin itu identik dengan cowok-cowok.
Terima kasih, sayangku.
# Ada pria dengan tangan yang lembut
# Ada pria dengan tangan yang kuat
# Kalau aku memilih untuk menyerah
# Pilihanku pasti salah
# Mungkin aku akan menemukan kekasih idamanku
# Kalau kucari ke mana-mana... #
Tapi, sayang, itu jelas tidak masuk akal.
Kamu orang terakhir yang seharusnya pergi ke sana.
Berlin sama sekali bukan tempat yang cocok buatmu.
Maksudmu apa sih?
Itu Jerman, sayang.
Wystan Auden bilang itu tempat paling luar biasa.
Auden! Anak itu berantakan sekali!
Lagipula, bagaimana dengan sekolah kedokteran?
Tapi, Ibu, aku memang bukan orang yang cocok masuk kedokteran.
Itu juga yang kamu bilang soal Cambridge!
Christopher, kamu tidak bisa terus menghindar begitu saja.
Sudah waktunya kamu serius.
Aku ini novelis yang sudah terbit!
Tentu saja, sayang, tapi bukankah akan lebih baik kalau jadi dokter juga?
Menulis itu bukan sekadar hobi. Ibu normal mana pun pasti bangga.
Dan aku memang bangga, sayangku.
Kau tahu aku merasa novelmu sangat menarik.
Menurutku cerdas sekali caramu memakai rasa kesalmu padaku jadi sesuatu yang kreatif.
Tapi hidup tidak bisa selamanya jadi liburan.
Aku tidak ke sana untuk liburan, aku ke sana untuk menjauh dari Ibu.
Tidak bisa cari tempat yang lebih dekat? Seperti Isle of Wight?
Ibu!
# Aku tak tahu aku milik siapa
# Sayang sekali kalau akhirnya sendirian
# Kalau aku setia pada satu orang
# Yang lain pasti akan sedih dan sendirian
Tentu saja, kamu harus melakukan apa yang kamu mau. Dan memang itu yang akan kulakukan.
Wajar saja kalau kamu ingin pergi dari rumah,
sementara aku pasti akan makin kesepian.
Coba bayangkan apa saja yang kulalui untuk melahirkanmu!
Berbulan-bulan merasa tidak enak badan.
Ya sudahlah.
Kamu tidak akan lupa, kan, sayang,
kalau orang Jerman membunuh ayahmu?
SENAPAN MESIN
Ajak aku ikut.
Kamu harus tinggal dan jaga Ibu.
Tapi sampai kapan?
Aku tidak bisa menjawab itu.
# Kalau aku setia pada satu orang
# Yang lain pasti akan sedih dan sendirian
# Haruskah kecantikan seperti itu hanya dimiliki satu orang?
# Tidak, matahari dan bintang
# Itu milik kita semua
# Aku tak tahu
# Aku milik siapa
# Aku percaya
# Aku hanya milik diriku sendiri. #
TEPUK TANGAN Terima kasih. Terima kasih banyak.
Aku tadi ingin bertanya...
Oh, maafkan aku, Nak. Aku tak bermaksud mengejutkanmu.
Tidak, tidak. Boleh minta api?
Ya, tentu saja.
Sepertinya pemantikku hilang. Kurasa mungkin...
Terima kasih, Nak.
Mungkin dicuri. Boleh kalau aku...?
Oh, silakan. Baik sekali kamu.
Bisa jadi memang dicuri. Aduh. Sekarang ini memang harus ekstra hati-hati, ya?
Kamu sampai tujuan akhir? Maaf? Ke Berlin?
Ya.
Liburan? Aku berharap lebih dari sekadar itu.
Ah, begitu.
Berlin punya banyak hal untuk ditawarkan... dalam hal-hal tertentu.
Anda tinggal di sana? Untuk sementara.
Kita tak pernah tahu apa yang dibawa hari esok.
Semoga kamu tak menganggap aku ikut campur, Nak, tapi sudah ada tempat tinggal di Berlin?
Sebenarnya sudah, ya. Aku tanya begitu karena ibu kosku, wanita yang baik sekali,
sedang sangat butuh penyewa yang bisa dipercaya.
Pemilik gedungnya kejam. Kalau tahu kamarnya tak terisi penuh,
dia bisa langsung mengusirnya.
Aku punya firasat—dan meski mungkin tak pantas mengatakannya sendiri—
aku cukup peka soal beginian.
Kamu sepertinya cocok sekali.
Wah, baik sekali Anda, tapi seperti kataku...
Baiklah, akan kusampaikan padanya, ya?
Ini kartu namaku. Tuan Hamilton.
Oh, Gerald saja.
Dan siapa yang harus kukatakan akan datang?
Isherwood.
Christopher Isherwood.
PENGUMUMAN DI SPEAKER
Wystan!
Nah, ini dia aku! Ya, ini dia kamu. Perjalanannya lancar?
Lancar, terima kasih.
Kursinya menyiksa sekali.
Aku hampir tak merasa apa-apa.
Kita taruh dulu kopermu, lalu kuajak lihat-lihat kota.
Mulai saja seperti yang kita niatkan ke depan.
Aku memutuskan Gerbang Brandenburg bisa menunggu.
Tenang saja, mereka tak akan menggigit... kecuali kamu mau.
Mereka sangat kooperatif kalau kamu punya uang. Dan tak terlalu mahal,
kursnya masih sangat menguntungkan kita.
Ah, Pieps! Halo.
Selamat malam. Selamat malam. Imut!
Kalian bilang apa?
Apa tadi itu?
Kami ini semacam langganan tetap.
Ya, mungkin bukan yang utama, lebih seperti pemeran pendukung.
Aku tak punya ilusi soal risiko mencintai seorang pekerja seks.
Mereka semua kerja begitu?
Sebagian besar, ya. Kamu tak bisa bayangkan separah apa kondisi ekonomi sekarang.
Tapi mereka terlihat baik-baik saja.
Ya, mereka jaga tubuh mereka.
Bagus untuk bisnis. Dan mereka sangat peduli penampilan.
Fakta bahwa kita menganggap mereka menarik justru bukti betapa maskulinnya mereka.
"Mereka"? Maksudmu kita?
Kebanyakan mereka hetero tulen, dan uang dari kita dipakai buat perempuan.
Tapi jangan sampai itu bikin kamu mundur, mereka jago sekali soal itu.
Dia pakai nama apa?
Caspar.
Itu satu-satunya yang kupahami.
Mungkin sebaiknya kamu bantu aku ucapkan beberapa frasa Jerman,
atau aku bisa terjebak masalah besar.
Mungkin memang harus begitu.
Pertanyaannya, kamu bakal paham jawabannya?
Sepertinya aku sudah dapat tempat tinggal.
Oh ya? Ngobrol dengan pria di kereta itu? Dasar genit!
Katanya ibu kosnya butuh penyewa. Soal kuota kamar.
Kupikir tak ada salahnya mengecek.
Kamu tahu kamu selalu boleh tinggal di sini.
Bahkan aku akan senang sekali kalau kamu tinggal.
Aku butuh kamar sendiri, Wystan.
Kalau nanti mulai mengajar
untuk dapat uang tambahan sambil menulis...
Dan kamu tak bisa menulis puisi kalau aku terus berisik di sekitarmu.
Ya, kamu benar.
Jadi, sepertinya kamu akan bertemu lagi dengan si Caspar itu?
Ya. Semoga saja.
Aku merindukanmu.
Aku suka pria Inggris, Herr Issyvoo.
Herr Hamilton pria yang sangat menawan! Dan Anda penulis! Sungguh kehormatan!
Anda bisa menulis banyak novel terkenal di sini.
Oh, Herr Issyvoo, kamar ini memang cocok sekali untuk Anda!
Bagus sekali kamarnya, Fraulein Thurau.
Oh, Herr Issyvoo!
Orang Inggris memang sopan sekali. Ya, khususnya pria Inggris.
Ada wanita Inggris di seberang lorong.
Dia memperlakukanku seperti budak. "Fraulein Ross,"
kataku padanya, "Aku dulu wanita terhormat. Aku tidak selalu menggosok lantai."
Ah, maafkan saya, Herr Issyvoo, itu ulah penyewa sebelum Anda.
Entah dia makan apa, nodanya tak mau hilang.
MEREKA BERBICARA DALAM BAHASA JERMAN
Pagi, sayang. Kepalaku rasanya mau pecah.
Siapa? Isherwood.
Siapa? Christopher Isherwood.
Ini aku, Christopher. Kita bertemu di kereta.
Aku jadi ambil kamarnya.
Oh, Christopher!
Maafkan aku, Nak, sekarang ini memang harus hati-hati sekali.
Sejak keluar dari penjara Brixton,
aku agak kehilangan kontak dengan tanah air.
Anda pernah dipenjara? Ya, karena mengungkapkan sentimen anti-Inggris.
Padahal bagaimana mungkin aku dianggap pengkhianat, sementara darah Irlandia mengalir deras di tubuhku?
Jadi Anda berbisnis di sini?
Kita harus punya banyak sumber pemasukan, Nak.
Zaman sekarang menegangkan sekali.
Ah! Heinrich! Buruh pelabuhan muda yang kutemui di Hamburg.
Dan Anda sedang apa di Hamburg?
Bukankah kita selalu hanya lewat di mana pun?
Hanya singgah, Nak.
Itu takdir kita,
selalu hanya singgah.
Dia memang memberi kesan kuat, ya? Yah, aku...
Selama bertahun-tahun, Christopher,
aku tak pernah bisa benar-benar santai secara seksual dengan orang dari kelas sosial yang sama.
Hubungan dengan yang setara secara sosial dan intelektual hampir mustahil, bukan?
Mungkin begitu.
Kamu datang ke kota yang tepat, Nak.
Tempat yang pas untuk bersenang-senang dengan pemuda kelas pekerja yang bersemangat.
Oh, astaga, miring ya?
Sedikit saja mungkin. Kita memang harus hati-hati.
Kita masih ilegal, dan kalau Nazi berkuasa, mereka bisa melenyapkan kita sepenuhnya.
Apa sikap Partai Komunis sekarang?
Setahuku, Lenin tak pernah bilang apa-apa soal itu.
Heinrich tersayang!
Baunya seperti rubah.
Nikmat sekali!
Kau belum pergi juga, Ludo?
Pakai sesuatu dong!
Nanti bikin orang kaget.
Dia orang Polandia.
"Dia sadar aku menatap wig-nya dan bertanya apakah miring.
'Sedikit,' kataku, lalu dia membetulkannya."
Kamu suka, ya? Ja. Pas banget.
TERENGAH-ENGAH
No comments yet. Be the first to leave one.