The first 200 lines.
Makanlah.
Ternyata kau lapar sekali.
Bagus.
Ulangi.
Selamat siang, Tuan.
Selamat siang juga.
Ada urusan apa Anda ke Hewlands?
Saya mengajar anak-anak di sini.
Si guru bahasa Latin itu.
Saya pernah dengar tentangmu.
Apa yang membawamu ke tempat ini?
Emm...
Itu cuma pertanyaan, Pak Guru.
Ya, saya tadi...
Saya rasa udaranya segar di sini, dan...
saya melihat Anda bersama burung itu.
- Ini elang. - Ah.
Boleh saya lihat?
Jangan terlalu dekat.
Dia belum kenal Anda.
Oh.
Halo, tampan.
Ah.
Dia menyukaimu.
Siapa namamu?
Aku takkan memberitahumu.
Kau akan memberitahuku.
Tidak mau.
- Kau harus bilang. - Tidak mau.
Kau akan memberitahuku saat kita berciuman.
Apa yang kau lakukan?
Agnes.
Namaku Agnes.
Kau asal mana?
Apa saya salah bicara?
- Hah? - Tidak.
- Kau tidak tahu siapa saya. - Tunggu, aku ingin...
Kau tak boleh menemui saya lagi.
Oh.
Dari mana saja kau?
Aku di ladang membantu Bartholomew.
Ada anak domba yang sakit.
Tapi aku ke ladang tadi.
Aku tak melihatmu di sana.
Aku di sana. Beritahu dia, Bartholomew.
Dia tadi di sana.
Kalian sudah lihat guru Latin baru itu?
Putra perajin sarung tangan itu.
Anak-anak bilang dia pergi begitu saja.
Harusnya dia mengajar mereka
untuk melunasi utang ayahnya.
Aku tidak melihatnya.
Yah, sudah kuduga.
Seperti ayah dan anak.
Kalian tahu, aku yakin kalian adalah
gadis tercantik di daerah ini.
- Memang benar. - Suatu hari nanti,
aku harus bersiap menghadapi
semua pelamar yang akan datang untuk kalian.
Agnes anak sulung. Dia yang akan menikah duluan.
Takkan terjadi kalau dia terus kabur ke hutan
seperti orang gipsi.
Dari mana saja kau?
Kami menunggumu berjam-jam.
- Tadi aku... - Lalu?
Tadi aku bekerja.
Duduklah.
Makan malammu sudah dingin.
- Hei, kalian! - Berhenti.
Makanannya cukup untuk semua.
Bagaimana pelajaran di Hewlands?
Anak-anak itu tak punya bakat belajar.
Aku heran kenapa mereka harus sekolah.
Belajar Latin padahal cuma akan jadi peternak domba.
- Itu cuma pamer saja. - Tidak!
- Sudah cukup! - Baiklah, Gilbert.
Dengar kata ibumu. Masih cukup untuk semua.
Kau menghina anak-anak di Hewlands.
"Tak punya bakat belajar."
Tapi kuberitahu satu hal,
mereka jauh lebih jantan darimu.
Mereka melakukan pekerjaan jujur, tak sepertimu.
Tak berguna, tak punya keahlian, cuma gaya saja.
Punya pendidikan tinggi,
tapi tak punya akal sehat.
Aku mengajar untuk melunasi
utang Ayah pada keluarga itu, kan?
Utang Ayah yang tak terhitung jumlahnya.
- Aku tidak... - Berhenti!
Bagaimana dengan keluarga lain di Hewlands? Kau sudah bertemu mereka?
Baru ibunya saja.
- Bukan putri sulungnya? - Belum.
Kabarnya gadis itu adalah anak dari penyihir hutan.
Aku pernah melihatnya di jalanan sepi
membawa elang di lengannya.
Ada elang di Hewlands?
Ya.
Katanya dia sering ke hutan sendirian.
Tapi kau yakin, Eliza?
Putri sulung memelihara elang? Bukan sekadar pelayan?
Ya, benar.
Agnes.
Halo.
Sedang apa kau di sini?
Membawakan ini untukmu.
Apa itu?
Ini...
sarung tangan baru untuk burungmu.
Aku sudah punya.
Agnes.
Agnes, tunggu.
Aku tahu siapa dirimu.
Siapa aku?
Aku tidak mengenalmu, tapi aku dengar kabar...
Bahwa aku anak penyihir hutan?
Ya. Orang bilang begitu, tapi aku tak peduli...
Aku memang putri dari ibuku.
Aku belajar banyak hal darinya.
Apa yang kau lihat?
- Dirimu. - Kenapa?
Aku... - Kupikir kau pandai merangkai kata, Pak Guru.
Ya.
Bukan begitu?
Bicara dengan orang terkadang sulit bagiku.
Kalau begitu, ceritakanlah sesuatu.
- Cerita? - Ya.
Cerita apa yang kau suka?
Sesuatu yang menyentuh hati.
Baiklah.
Kau tahu kisah Orpheus dan Eurydice?
Orpheus adalah seorang pemusik.
Suaranya sangat indah.
Petikan kithara-nya, sejenis...
kecapi kuno yang merdu,
begitu mempesona,
hingga burung-burung,
hewan liar, bahkan batu dan pohon,
ikut menari mengikuti iramanya.
Lalu Orpheus jatuh cinta pada bidadari cantik, Eurydice.
Tak lama setelah mereka menikah,
Eurydice digigit ular berbisa,
racun menjalar ke seluruh tubuhnya,
dan dia pun mati.
Orpheus yang berduka mendalam,
pergi ke dunia bawah untuk membawanya kembali.
Dia menjinakkan Cerberus, anjing berkepala tiga.
Dia memikat Hades hingga akhirnya...
dia diizinkan membawa cintanya kembali
ke dunia orang hidup, tapi...
dengan satu syarat.
Apa itu?
Eurydice harus berjalan di belakangnya,
dan dia tak boleh menoleh ke belakang untuk melihatnya.
Saat mereka mulai mendaki keluar,
Orpheus tak mendengar langkah kaki istrinya. Dia pun menyimak...
terus menyimak dengan cemas.
Tapi yang terdengar hanyalah detak jantungnya sendiri.
Lalu semua menjadi sunyi.
Dan saat mendekati gerbang dunia bawah...
dia tak tahan lagi.
Dia menoleh ke belakang, dan istrinya pun...
terjebak di dunia bawah selamanya.
Hmm.
Cerita yang bagus.
Kau menyukainya?
Ingatlah mugwort, apa yang kau lalui,
apa yang kau siapkan di Regenmeld.
Kau disebut Una, tanaman purba.
Kau melawan tiga, kau melawan tiga puluh,
kau lawan bisa, kau lawan wabah udara,
kau lawan horor yang melanda negeri.
Dan kau, sang ibu tanaman,
terbuka ke timur namun perkasa di dalam.
Kereta melindasmu, wanita menginjakmu.
Kau bertahan, dan kau melawan balik.
Benarkah kau tahu segalanya tentang seseorang
hanya dengan menyentuh bagian sini?
Tidak semua hal.
Saat kau menyentuhku, apa yang kau lihat?
Aku melihat sebuah bentang alam.
- Bentang alam? - Mm-hmm.
Ruang, gua, puncak tebing,
terowongan dan samudra,
kekosongan hitam yang sangat dalam,
negeri-negeri yang belum terjamah.
Dia bicara...
Dia bicara, dia bicara.
Tapi, pelanlah,
cahaya apa yang muncul dari jendela itu?
Itu dari timur, dan Juliet adalah sang surya.
Dan padamkanlah...
rembulan yang iri.
Halo.
Halo.
Aku ingin bertunangan denganmu.
Tidak, aku harus bersatu denganmu.
Tak ada orang lain yang kuinginkan.
Aku akan bicara pada ibu tiri dan saudaramu,
mereka pasti takkan setuju, tapi...
aku tak peduli, karena aku tak punya bakat untuk menunggu.
No comments yet. Be the first to leave one.