Chasing Ice

Chasing Ice

Download Indonesian Subtitle

Release info

Chasing Ice [BluRay] -YIFY-
A Commentary by Ikude

Tags

BluRay
Published on: 2013-11-27
Downloads: 47
Hearing Impaired: Yes

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Sulit tidak terkesan saat kau lihat seluruh rumah

tersapu oleh banjir di wilayah Barat.

Kebakaran menyebar di sepanjang Texas ke daerah sekitarnya.

Angin tornado-- lusinan tornado terlihat.

Kaum liberal akan bilang: dingin, pemanasan global,

bersalju, pemanasan global, panas juga pemanasan global--

tak ada bukti jelas dari pemanasan global.

Perkiraan membangun kembali Irene,

habiskan 7 milyar dolar.

2011 menjadi--

tahun bencana alam termahal yang pernah terjadi.

Kekeringan parah melanda Nepal.

Musibah amukan api menyerang Rusia lagi.

Mereka bilang tak pernah melihat itu sebelumnya.

16 dari 20 tahun terakhir menjadi rekor terpanas.

- Sains tak ada disini... - Memang ada.

- Stuart sudahlah. - Perdebatan belum selesai.

Tidak!

Dunia sedang mendingin dan itu sejak 2002.

Kesepakatan yang tak ada titik temunya.

Maksudku bagaimana kau tak... pemanasan global ini nyata!

Kau meledakkan diri disini.

Lapisan es, kutub, takkan mencair,

lautan takkan membanjiri pantai--

Aku janji, 20 tahun dari sekarang, Aku salah satu yang akan tertawa.

Yang buruknya, aku bisa basah jika cuma diam di tempat.

Tidak, kau jatuh saat lari, membenturkan lutut ke es,

dan lututmu cedera.

Aku harus ambil gambarnya.

Saat pertama aku bekerja dengan James, ada hal

yang jelas terlihat padanya.

Baik, cepatlah!

Cahaya ini takkan berlangsung lama.

Ia punya dorongan, ia mencari sesuatu.

- Kau punya tali di mobil? - Ya.

- Kembaliah dan ambil tali itu. - Oke.

Baik, aku, hampir basah, oke?

Ini pasti basah, aku akan melepas sepatu.

Dan sungguh menarik karena ini pertemuan pertamaku

bisa melihat es seperti itu.

Ia benar-benar jatuh cinta dengan itu.

Alam semesta ini terbatas dari luar sana.

Itu...

cuma sebagian dari dunia lainnya.

Seni pahat, arsitektur...

gila-gilaan, kekonyolan yang indah.

Dan saat itulah kupikir, oke, ceritanya ada di es.

Entah bagaimana.

Saat itu umurku... sekitar 25 atau lebih, kurasa.

Dan aku sedang menyelesaikan S2 di Geomorfologi.

Dan, aku mencintai sains,

tapi aku tak tertarik jadi seorang ilmuwan.

Dunia sains modern itu tentang statistik

dan pemodelan komputer dan itu bukan bidangku.

aku tak punya kontak di dunia foto,

Aku tak punya pengetahuan soal dunia foto.

Tapi, rasa penasaran bisa membawamu jauh,

membuat sesuatu terjadi-- jadi, itulah cara kerjanya.

Kupikir bahwa hal yang paling kuat

di masa kita adalah interaksi manusia dan alam.

Dimulai dengan melihat orang yang sedang berburu gambar.

Tapi itu sungguh, gambaran yang mengerikan,

sulit untuk menemukannya saat ini.

Maka, saat aku punya pemikiran satwa liar yang terancam punah,

Aku menyadari perlu untuk menunjukkan hal-hal

dengan cara yang lebih menggoda.

Aku perlu melihat dengan cara

yang bisa membuat orang terlibat.

Dia selalu mengambil pandangan besar.

Dia tak mengincar yang kecilnya.

Dia ingin tahu apa yang manusia lakukan

dari sudut pandang yang sangat besar.

Di bukunya - ia memaksamu menganggap alam dengan caramu

tak biasa melihat alam.

Dia memaksamu berpikir. Dia memaksa aku berpikir.

Itulah yang kusukai dari pekerjaan James.

Ansel Adams adalah ayah

dari fotografi pemandangan dan ia ciptakan pergerakan

disekitar belantara yang hanya dihasilkan dari gambar.

Dan sekarang kau punya James dengan mata yang sama.

Ia bisa lakukan lebih banyak dengan teknologi.

Ini bukan sekedar pergi

mendaki gunung dan memanjat tebing.

Ia punya kemampuan memotret dengan caranya dan mengkomunikasikannya.

Mengamati dan mengetahui ialah salah satunya,

dan berbagi secara efektif dapat mengubah dunia.

Aku lakukan beberapa tahun penelitian tentang perubahan iklim,

mencoba menemukan apa yang bisa difoto tentang perubahan iklim

dan bisa membuat foto menjadi menarik.

Dan aku menyadari bahwa satu-satunya yang...

bagiku terdengar bagus, yaitu es.

Dia datang ke kami dengan usulan membuat

profil gletser (sungai es) di Islandia.

Kami balas balik, dan bilang,

kenapa tak buat saja cerita yang lebih besar?

Itu ada di sampul majalah.

Paling populer, yang sering dibaca dalam 5 tahun terakhir.

Saat aku menyuting cerita itu, aku mulai dapat perasaan yang kuat

kalau ini merupakan misi pantauan untuk sesuatu yang

jauh lebih besar dan itu perlu waktu lama untuk terungkap.

Bentuk dari Gletser Solheim dan gletser Sunhouse,

saat pertama kali aku mendapatkannya.

Gletser itu telah menyusut ratusan meter pertahun

itu banyak sekali.

Normalnya kau temukan sedikit perubahan di musim dingin,

sedikit mundur di musim panas

tapi saat kau saksikan perubahan besar,

itu ada di luar keadaan normal.

Ada firasat nyata kalau gletser akan segera habis

sama seperti manusia, yang kau tahu,

jatuh ke dalam bumi dan sekarat. Itu sangat menggugah, sangat emosional.

Sebagai orang yang sering mendaki selama hidupku,

dan pernah mempelajari ilmu bumi,

aku tak pernah membayangkan

kau bisa melihat benda besar ini menghilang

dalam periode waktu yang singkat.

Tapi saat kulihat itu... dan kusadari, astaga,

ada sejarah bagian kuat yang berlangsung

di gambar ini, dan aku harus kembali ke tempat yang sama.

Jadi, aku mengatur sejumlah besar posisi kamera

di sekitar gletser tempatku kembali dan memotret satu frame.

Satu di bulan April, satu di bulan Oktober,

dan kami menyaksikan bagaimana gletser berubah dalam 6 bulan.

Disana esnya dekat Svav. Ada disana.

Disanalah letak esnya. Tepat disana.

- Benar kan? Ganti. - Benar, ini dimana...

Gletser yang berubah drastis,

Aku tak bercanda, 3 jam, kami berdiri disana,

melihat cetakan 6 bulan yang lalu,

melihat gletsernya berubah, kami pasti salah,

kami pasti salah tempat.

Gletsernya memang ada disana.

Saat kulihat itu, seperti cahaya padam,

aku sadar, pihak publik tak ingin mendengar

lebih banyak tentang statistik penelitian, pemodelan komputer,

proyeksi-- yang mereka butuhkan ialah dapat dipercaya,

dimengerti lewat bukti visual--

sesuatu yang dapat dicerna.

Jadi kubuat proyek ini dengan sebutan Extreme Ice Survey atau EIS.

Tujuan dasarnya untuk menempatkan 25 kamera selama 3 tahun.

Dan akan memotret setiap jam pada siang hari.

Kami akan sering mengunduh tiap kamera

dan mengubah tiap frame menjadi video

yang akan menunjukkan padamu bagaimana bentangan itu berubah.

Kupikir awalnya, kau tinggal beli semua peralatan ini,

membantingnya dan meletakkannya di luar sana.

Aku terlalu naif dengan itu.

Ada kustom komputer yang perlu dirakit

dan ada ribuan detail mesin yang

perlu dikerjakan dan banyak uji coba,

karena banyak orang tak membuat ini sebelumnya.

Dan sudah jelas, itu perlu kerja sama tim.

Aku tak mengerti fotografi,

tapi aku membujuknya datang kesini dan melihat sistemnya.

Karena aku penasaran dan ingin melakukan yang kubisa

untuk dapatkan kesempatanku.

Svav adalah asisten lapangan di Islandia.

Kau siap?

Siap sebisaku.

Ini lebih menarik karena kupikir ini lebih berpotensi,

dan masih gletser besar.

Jason punya segudang pengalaman

tentang gletser Greenland, tentang logistik Greenland,

tentang keadaan gletser.

Tad ahli gletser, dia kakeknya,

sang Godfather di basis ahli gletser di Alaska.

Ruang lingkup dan skala EIS lebih besar daripada

proyek lain sejak aku mengenalnya.

Mereka kerja seharian,

memakai garasi kami, disulap jadi bengkel kerja--

sampai jam 11, 12 malam.

James memberiku daftar perlengkapan

yang belum pernah kudengar, kapak es dan sepatu es--

semua perlengkapan pendakian yang tak pernah kupakai sebelumnya.

Seingatku, aku tak pernah ingin melakukan pendakian es atau

hal berbau es, itu berbahaya, aku bisa mati,

tapi tentu saja, aku tetap pergi dengan James ke Islandia.

- Astaga... - Apa?

Cuma bisa bilang astaga.

Cuma menegaskan betapa buruk cuacanya.

Ya, aku tak butuh cuacanya.

Aku tahu.

Esensi sistem kamera didasarkan oleh penempatan elektronik super rumit

dalam kondisi paling keras di planet ini.

Kameranya harus tahan badai angin.

Suhu negatif 40 derajat.

Bukan lingkungan yang bagus untuk menempatkan teknologi disana.

Dapat.

Apapun bahayanya, tempat itu lebih baik dibandingkan ini.

Kami menemukan tempat untuk menyembunyikan kamera

dan itu kabar baiknya.

Kabar buruknya kita punya proyek rekayasa besar untuk diuji

dan punya hal yang berlabuh dan mendukung.

Ini masih goyah.

Lihat betapa lembut ini.

Pasti sudah jadi bagian disini.

Putar sebaliknya.

Awas batu!

Ini fantastis! Lihat ini.

Persis dengan yang kita inginkan.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left